Terima Kasih, Mantan!

Tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan yang super egois dari sudut pandang seorang wanita lajang usia 25 tahun. Mungkin akan menjadi cerita usang tentang diri sendiri di mulai tiga tahun yang lalu. Tiga tahun lalu, wanita yang satu ini sedang terjebak dengan kekhawatiran berlebihan tentang menghabiskan waktu bertahun-tahun ke depan sendirian dan ilusi dari rasa keterikatan yang seperti ekstasi kehidupan.

Beberapa hari ke belakang, saya mencoba mengingat jauh ke belakang, tepat pada tahun 2015, saat hubungan saya berakhir (lebih tepatnya, mantan saya memutuskan untuk menyudahi hubungan on-off selama 2.5 tahun yang sudah masuk pada tahap persiapan pernikahan!). Oh iya, jangan terkejut, seorang Dwi hampir menikah saat usianya 'baru' saja 22 tahun!!! (mungkin saat itu aku sudah gila). 

Menikah.
Saya bukan orang yang romantis, tapi laki-laki ini sudah datang ke rumah dan berbicara serius dengan orang tua saya. Apa yang saya rasakan? oh saya tidak melonjak kegirangan. Saat itu, saya merasa, "Ah, mungkin sudah waktunya saya menikah. Lagipula, saya sudah mengenal laki-laki ini cukup lama. Apa salahnya?" ujar saya berulang kali dalam hati. Saat itu, saya kurang banyak membaca tentang menikah itu apa. Yang ada dipikiran saya tentang menikah adalah: Seseorang akan ada disana seumur hidup bersama saya membangun sesuatu dari nol. Pada waktu itu, saya juga sedang setengah mati bosan harus pulang pergi kerja ke Sudirman sebagai pegawai kantoran. Entahlah, otak saya tidak berfungsi dengan baik pada waktu itu. Karena waktu itu saya dan orang ini sudah mulai mempersiapkan pernikahan kami, maka saya mulai rajin menabung dan menghitung tanggal baik (tanggal saat tabungan sudah cukup untuk dihambur-hamburkan pada pesta yang tidak perlu?). Tanggal pernikahan kami sudah dihitung dengan kalender jawa, dan saya melakukan ritual rutin berkeliling wedding organizer. Ada sebuah konstruk "menikah" dalam kepala kami berdua bahwa menikah adalah "janji pasti kebersamaan".  Yang sekarang, bagi saya, konstruk itu terdengar seperti lelucon yang tidak lucu dan pas dilontarkan saat makan malam.Sangat pasti, formalitas menikah tidak menjamin keberlangsungan cinta dan langgengnya hubungan anda, setidaknya hubungan yang bahagia. Jika anda punya jurnalnya, saya akan sangat tertarik untuk membacanya ;)

Penolakan.
Setelah dua tahun bersama rasanya sedikit sekali orang diluar sana yang mengenal diri saya sebaik dia.Dia ada disaat saya sulit atau mudah. Ia yang memperjuangkan saya hingga naik turun Gunung Pangrango, ikut maraton, dan menunggui kesadaran saya kembali saat hilang akal. Mengerti bukan? Terkadang keterikatan terjalin karena kebiasaan, hingga kita melupakan masa dimana orang itu belum hadir dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa membayangkan akan ada orang lain yang lebih baik dari dia, atau kita terlalu lelah dan merasa tua untuk membangun sesuatu dari nol kembali. Kemudian kita berjuang habis-habisan bersama orang itu, bahkan energi yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan jika kita memulai sesuatu dari nol. Sampai kita lupa, terkadang berpisah lebih baik dibandingkan terus mempertahankan hubungan dan orang yang beracun (Oh, saat itu saya yang lebih beracun!).    

Akhirnya, kami putus. Ia yang sedang tidak memiliki pekerjaan, dan saya yang tidak stabil secara mental menjadi alasan utama dia meninggalkan saya. Tanpa berbicara apapun pada orang tua saya, orang itu menghilang begitu saja (yah baru beberapa bulan terakhir ternyata saya baru tau dia meminta maaf melalui telepon kepada kedua orang tua saya, alhamdulillaah ya bun!).

Ego saya meledak. Penolakan tidak pernah menyenangkan. Tidak adalagi ucapan selamat pagi, pesan-pesan yang menggembirakan, dan tong sampah pribadi. Saat itu, saya tidak mengerti kenapa dia tidak mau mempertahankan hubungan kami yang sudah sangat 'tanggung' ini. Intinya, kami berdua berhenti berusaha, dan saat dua orang dalam satu hubungan berhenti berusaha, itu artinya kita memiliki hal lain yang kita nilai lebih daripada hubungan itu. Ini adalah titik saya mulai belajar, bahwa terkadang apa yang kita nilai penting ternyata hanyalah bentuk dari perasaan takut delusional yang disebabkan keterikatan berlebihan. Lebih parahnya lagi, sebenarnya kalau saya ingat-ingat yang saya rasakan pada saat itu, sedikit lebih dalam, yang membuat saya tersakiti adalah ego saya sendiri. Saya sedih bukan karena merasa kehilangan, tetapi karena ego saya yang begitu tinggi (karena merasa saya dicintai sebegitunya) dibuang begitu saja. Ada rasa 'bangga' yang tiba-tiba direnggut. -oh tentang ego ini baru saja saya pelajari akhir-akhir ini.

Titik Balik.      
Saya tidak percaya dengan keajaiban. Dunia memang terbentuk untuk para pekerja, bukan para pemimpi disney. Dari manusia masih berbentuk sel tunggal hingga menjadi primata paling cerdas, setiap tahapan kehidupan, manusia melewati begitu banyak tangga evolusi untuk bisa bertahan 30.000 tahun lamanya. Homo sapiens butuh kerja keras untuk bisa bertahan hingga sekarang/

Walaupun saya tidak percaya dengan keajaiban yang datang begitu saja, saya percaya dengan momentum. Dan terkadang, kita diberikan kesempatan untuk membuat atau mengutilisasi momentum tersebut. Dua bulan setelah saya putus, saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya. Saya mengenali akar permasalahan hidup saya saat itu, saya tidak bahagia karena begitu banyak membuang waktu percuma diperjalanan pergi dan ke kantor. Terdengar remeh bukan? Namun begitulah masyarakat, membuat hal-hal yang penting tidak terlihat penting. Ditinggal oleh seseorang, membuat saya memutuskan untuk berbuat sporadik. Entah kenapa, kepala saya menjadi jernih membagi mana yang sebenarnya penting dan tidak.

"I have nothing to lose, I already lose my mind, I'm not happy as hell. There is nothing worse than life standing still. 
what can I lose anymore?" 


Karena saya batal menikah, saya jadi punya tabungan yang cukup untuk berbuat 'sesuka' saya.
Dan karena saya batal menikah, saya bisa menerima tawaran dari seorang teman laki-laki saya untuk mulai mempelajari sektor kopi. Saya ingin memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang menyenangkan.

Kedua hal ini adalah titik balik dalam hidup saya. Setelah tiga tahun, saya menyadari hal ini adalah awal dari berbagai keseruan dalam hidup saya:
Indonesia Timur. Dua minggu setelah putus, saya memutuskan pergi ke Ambon. Keputusan itu dibuat pada hari ke-2 idul Fitri, dan saya membeli tiket 10 jam sebelum penerbangan saya ke Ambon. Ini adalah kali pertama saya ke Indonesia Timur seorang diri.

Awal 2016, saya membuka sebuah kedai  kopi sendiri. dengan pengetahuan yang baru 3 bulan ini, saya nekat mencoba untuk membuka usaha sendiri. Mantan saya adalah orang yang tidak percaya dengan wirausaha, ia bilang jauh lebih menguntungkan bekerja sebagai pegawai kantoran. Pegawai kantoran memiliki banyak jaminan dan pendapatan yang stabil, sedangkan pengusaha terkadang bisa rugi besar dan tidak ada jaminan keberhasilan. Oke terdengar konyol, tapi saat itu saya merasa dia ada benarnya. Tapi mungkin dulu, waktu kelas kalkulus, mantan saya lupa ikut belajar materi bilangan eksponensial. Dan tentunya, dia bukan penggemar buku, jadi masyarakat berhasil membuatnya percaya menjadi pengusaha adalah penurunan derajat seorang sarjana. Seandainya saya menikah, saya tidak akan bertemu orang-orang baru yang dalam tiga tahun terakhir ini begitu sukses (dan menderita juga :P) dengan usaha mereka.

Mid- 2016. Perjalanan sebulan ke Flores. membangun sebuah kedai kopi mengantarkan saya pada dunia pertanian. Kopi mengenalkan saya pada begitu banyak peluang di pertanian. Keberhasilan pergi ke Ambon seorang diri membuat saya percaya diri untuk menjelajah flores hingga ke kebun-kebun di pelosok gunung kelimutu, Bajawa dan Ende. 26 Hari lamanya. Masih menjadi salah satu perjalanan paling indah dalam hidup saya.

End-2016. Pekerjaan di Papua. Dari pengetahuan saya menjalankan usaha kopi dan perjalanan saya ke Flores, saya mendapatkan sebuah pekerjaan di Papua, masih tentang pertanian. Sebuah penawaran yang tidak akan tiba pada saya, seandainya saya tidak bergulat di dunia kopi selama setahun terakhir. Banyak pertanyaan saat interview kala itu yang menyangkut bisnis kopi di hulu. Walaupun kemudian, untuk alasan yang aneh, saya tidak diberikan sektor kopi dan diminta mengerjakan sektor sayuran di Papua.

2017. 70 Flights, 200 Nights in 4*Hotel. Adalah bagaimana saya menghabiskan waktu saya selama 2017. Berkeliling hampir ke seluruh Papua Barat. Membuat perencanaan bisnis, bekerja dengan salah satu perusahaan benih sayuran terbesar di dunia. Bagian terbaiknya adalah, saya bekerja untuk petani miskin. Membuat sistem pasar menjadi lebih efisien sehingga petani bisa menikmati pendapatan yang lebih besar. Hal yang saya ingin pelajari tentang perilaku petani dan para pebisnis pertanian di sektor hulu dipenuhi oleh pekerjaan ini. Seandainya saya jadi menikah, tentunya saya akan menghabiskan waktu saya di tahun 2017 bersaing dalam pertempuran Management Trainee di perusahaan asuransi. Berusaha mendapatkan sertifikasi untuk peluang karir yang lebih baik. dan pastinya, masih terjebak dengan masalah komuter orang Jakarta yang tidak bisa dipungkiri. Oh dan Oktober 2017 adalah perkiraan saya seharusnya menikah, jadi kemungkinan besar saya bisa jadi sedang terjebak dalam hutang untuk membayar biaya pernikahan yang kurang itu. Hallelujah!     

2018. Pekerjaan Ke-4 & Himalaya.  Untuk ketiga kalinya saya berhenti dari pekerjaan saya. Ya, setidaknya yang satu ini bertahan paling lama: 1 tahun 3 bulan. I love my job dearly.  Saya kembali ke Jakarta untuk mengurus bisnis keluarga dan kembali sedikit-demi-sedikit ke industri kopi. Saya jauh tertinggal oleh teman-teman saya yang tetap bertahan pada industri kopi di tahun 2016-2017. Landscape perkopian di jakarta berubah dengan cukup dramatis.  Namun, tentunya saya suka momentum. Pada bulan Februari, saya memutuskan untuk pergi ke Nepal dan Bali selama 1 bulan lamanya. ini adalah momentum yang saya buat, sebuah titik balik lainnya yang harus saya ciptakan dalam rangka memulai sesuatu yang baru. Saya memutuskan untuk bertahan di Jakarta -apapun yang terjadi. Saya benci kota ini dan hampir sebagian besar isinya. Namun saya harus memberikan Jakarta kesempatan untuk tempat saya berkarya. Banyak hal yang bisa saya lakukan di kota ini -hal yang saya sadari setelah saya tinggal di Papua begitu lamanya. Nepal juga menjadi sebuah perjalanan paling indah dalam hidup saya, banyak hal yang saya pelajari, teruatama tentang terus berjalan maju walaupun sering kali kita harus melakukan hal yang kita benci.  Nah, apabila saya jadi menikah, tentunya saya sekarang sedang sibuk mengeluh tentang pekerjaan yang saya benci, uang yang kurang, dan oh, apa itu himalaya?


Perubahan. 
Setelah hubungan saya dan mantan saya ini berakhir, saya banyak membaca tentang hubungan antara laki-laki dan wanita, tentang kebahagiaan, tentang spritualitas. Sungguh banyak pola pikir saya yang berubah sejak terakhir saya hampir menikah. Perubahan pola pikir saya tentang apa yang penting dan apa yang hanya coba ditanamkan oleh kultur dan masyarakat hipokrit.  Bahkan, definisi menikah bagi saya pun berubah. Menikah bagi saya tidak lebih dari institusi imajinatif yang dibuat oleh masyarakat sebagai jangkar untuk ketidakpastian.  Masyarakat yang begitu takut akan hidup dan mati sendirian, namun lebih memilih bersama orang yang salah dalam kesepian. Jika ditarik ke masa lampau, menikah bisa menjadi jaminan hidup seorang perempuan dan keluarganya, menjadi status seorang perempuan yang 'menjadi' mampu menafkahi keluarganya. Lalu apakah era sekarang kita masih butuh itu? Terlepas dari perintah agama, kita harus benar-benar mengerti kenapa kita ingin menikah. Setidaknya kita harus mengetahui rate kegagalan pernikahan di luar sana hanya karena dua pasang anak muda yang ingin menikah agar bisa memenangkan perlombaan "siapa cepat kawin-punya anak-punya rumah-punya cucu" diantara teman-temannya. Saya menghargai hubungan saya dengan laki-laki lebih besar dari pemenuhan kewajiban pada masyarakat dan agama. Dua orang harus benar-benar mengerti apa itu berkomitmen, apa itu mencintai, menghargai, untuk bisa dikatakan menjalin hubungan serius.

Setelah ratusan purnama (cieellah!), saya pun mendapatkan simpulan yang menarik dengan hubungan yang lebih serius. Saya akan menikahi orang yang walaupun kita tidak menikah ia akan bertahan bersama saya. Karena saya yakin (dari hasil membaca juga) cinta membutuhkan komitmen untuk bertahan. Ini adalah model psikologi robust yang pernah saya baca dari sebuah jurnal. Namun tentunya, jika kalian menganggap komitmen adalah saat kalian menandatangani buku nikah dan bertukar cincin, oh my darlin, that's fairy tale. commitment is beyond paper works. Apakah ia akan bersamamu saat wajahmu hancur berantakan karena sebuah kecelakaan? Atau, apakah ia akan bersamamu saat kamu jatuh miskin dan tidak lagi bisa membelikan barang-barang kesukaan? Atau, saat ia berubah menjadi orang lain, (people changed so fast lately) dia akan berusaha beradaptasi? Atau, saat ada orang lain yang lebih baik (dan saya yakin akan selalu ada!), ia akan lebih memilih bersamamu yang sedang sering menggerutu karena pekerjaan tiada akhir? Memang benar kata wejangan di pernikahan-pernikahan yang pernah saya hadiri, "Pernikahan adalah awal perjalanan panjang."

Sebuah tulisan menggambarkan secara utuh pandangan saya tentang suatu hubungan yang semestinya:
"I'd rather leave the door wide open for my partner than hold him legally obligated to stay. When I kiss him each morning, I want to know he's there because he wants to be. And I want to work for that." - Kris Gage

Namun, karena kita masih hidup dalam dunia NKRI yang sarat hukum agama, jadi mari kita menikah yang Sah dan menyenangkan semua pihak. Selain itu buffalo-gathering di Indonesia Raya ini sangat dilarang oleh Agama, jadi mari menikah sesuai syariat. Amin.

Anyway, jika kalian berminat untuk membaca kenapa menikah tidak lagi masuk akal, kalian bisa membuka link ini.  

Dan kembali lagi pada topik sebelumnya, tidak ada hal-hal diatas ini akan terjadi jika hubungan saya dan mantan saya tidak berakhir. Hidup saya akan benar-benar berbeda 180 derajat. Tidak akan ada kopi, papua, flores, dan bahkan Nepal. Jadi, terimakasih kepada mantan yang telah menjadi titik balik saya pada tahun 2015.

Hadiah Lainnya dari Mantan
Mantan saya juga mengajarkan sebuah poin penting, poin yang kadang luput dimata para perempuan karena semboyan "atas nama cinta". Poin penting tersebut adalah tentang kemampuan mengenali diri sendiri. Saya membaca tentang bagaimana otak pria bekerja dengan cara yang berbeda dengan wanita.

Memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga/diri sendiri secara mandiri menjadi vital bagi seorang laki-laki. Hal ini memberikan definisi bagi hidup seorang laki-laki. 

 Begitu seorang laki-laki tidak memiliki pekerjaan, tidak tau apa yang harus dilakukan untuk menghasilkan karya, kehilangan kemampuan untuk "providing", jangan berharap ia akan memikirkan tentang perempuan ke jalan yang lebih serius. Hanya ada dua kemungkinan: 

Pertama. Ia sudah terlalu pusing dan lelah dengan hidupnya, sehingga ia mencari perempuan untuk memberikan kesenangan biologis, mencari afeksi. Yap, laki-laki akan mengikuti naluri biologisnya, human is animal after all.  Perempuan diharapkan dapat memberi makan ego laki-lakinya yang sedang tercabik-cabik karena ketidakmampuannya menghasilkan, ketidakmampuannya memberikan definisi pada dirinya. (Sudah tau kan kenapa prostitusi tidak akan pernah habis dibantai selama laki-laki masih dilahirkan dengan ego besar?). Itu lah mengapa kebanyakan pria di tinder dan aplikasi sejenisnya mencari seks gratis, feeding the biology needs, but more importantly, feeding the ego. Smart girl will play the ego, trust me.  

Kedua, ia akan pergi menyendiri, menghindari wanita yang mungkin dicintainya sementara waktu.
Karena ia yang kehilangan definisi hidupnya, harus segera mencari apa yang bisa dilakukan untuk menemukannya kembali. Ini vital bagi laki-laki, gen laki-laki sudah terbentuk dari zaman pra-sejarah untuk ini. Tidak memiliki kemampuan ini sama saja mengingkari hakikatnya sebagai manusia. Ini adalah hal yang seringkali tidak disukai wanita, wanita sering kali berdalih "kita harus sama-sama melakukan ini, karena kita adalah pasangan."  Tidak bisa kawanku. Ini adalah hal yang harus ditemukan oleh seorang laki-laki sendiri (dan jika ia tidak bisa menemukannya, maka ia tidak pantas untukmu). Sebagai wanita, kita tergelitik untuk "Aku akan mengubahmu menjadi lebih baik." semangat nurturing  begitu mendarah daging hingga kita lupa: Laki-laki dari planet Mars! Biarkan ia dengan waktunya, namun jika kamu masih mencintainya, ada disana kapan saja saat ia benar-benar butuh untuk didukung (masa itu akan datang, wanita hanya perlu sedikit bersabar atas dorongan genetiknya) -dan tentunya jangan lupakan cost-benefit analysys, banyak laki-laki yang tidak pernah pantas untuk ditunggu. 

"I will wait for you, but not forever." - Kutipan dari seorang teman. 

Dari mantan saya, saya jadi belajar untuk mengenali laki-laki mana yang sudah pantas untuk dicintai atau tidak. Setidaknya secara dasar: Jangan mencintai laki-laki yang sedang limbung, dan ia tidak memiliki keinginan untuk keluar dari kelimbungannya. Perlu digaris bawahi, laki-laki yang tidak memiliki penghasilan bukan berarti ia laki-laki yang tidak punya tujuan hidup. Saya punya teman-teman yang berhenti dari pekerjaan kantoran mereka dan memutuskan untuk bergerilya di usahanya masing-masing yang belum tentu menghasilkan uang. Bertahan dengan apa yang dikerjakan untuk mencapai tujuannya, laki-laki harus mutlak memiliki tujuan hidup. Jika tidak, apalagi ia sudah melebihi usia 25 tahun, ah sudahlah tinggalkan saja! Terimakasih mantan, I learned it the hard way! 

---
Beberapa balasan dari story saya tentang "Why you should thanks your ex?"

"Gw ketemu ama pacar gw sekarang karena mantan gw ngajarin main tinder." @lutfitasiwi. 

"Because he taught me how to forgive, the hardway." @beatrix_monica

"Ciuman yang asyik." @baoons_

"Tanpa dia kita tidak akan pernah belajar dari yang namanya gagal suatu hubungan. Tanpa dia juga kita tidak akan tahu apa arti kata holy shit." @oondion 

well, sebagian besar yang membalas adalah teman-teman wanita saya, padahal jumlah teman pria saya lebih banyak dalam akun instagram saya. Apakah artinya wanita lebih mudah melihat 'the bright side'? Walaupun laki-laki lebih sering mengklaim bahwa mereka sudah 'move-on'? Yah, mungkin saja, ini hanya hipotesis bodoh saya di siang hari bolong. 

Adios guys! Semoga tulisan ini mencerahkan hari kamu! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)