My 1st Month Quarter Life Crisis - And How I Deal with it?

“The late British-born philosopher Alan Watts, in one of his wonderful lectures on eastern philosophy, used this analogy: "If I draw a circle, most people, when asked what I have drawn, will say I have drawn a circle or a disc, or a ball. Very few people will say I've drawn a hole in the wall, because most people think of the inside first, rather than thinking of the outside. But actually these two sides go together--you cannot have what is 'in here' unless you have what is out there.' "
In other words, where we are is vital to who we are.”    - Eric Weiner 
 ---

Tulisan ini adalah tulisan pertama saya setelah saya menulis berhalaman-halaman dalam buku jurnal cokelat milik saya. Satu bulan terakhir, saya benar - benar melakukan percobaan pada diri saya sendiri. Jika seorang teman pernah mengkhawatirkan diri saya untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, mungkin satu bulan terakhir dan beberapa bulan ke depan adalah waktu yang tepat bagi saya untuk mengingat kenapa teman saya mengatakan demikian.

Singkat cerita, tulisan ini adalah ringkasan dari berbagai pikiran yang muncul dan mekar dikepala saya selama satu bulan terakhir. Saya berusaha agar tulisan ini singkat dan padat, mengingat dalam 1 jam ke depan saya sudah berada di pesawat yang membawa saya kembali ke tanah hitam -Ah, bandara memang tempat terbaik untuk menulis.



---
Bias Berpikir. 
Saya baru saja memahami sebuah terminologi baru dari dunia psikologi tentang bias berpikir atau cognitive bias. Begitu banyak hal yang membuat kita merasa bahwa kita sedang mengambil sebuah keputusan yang rasional, sementara hal yang terjadi adalah kita mengambil keputusan karena banyak pengaruh dari luar, dari sejuta informasi yang masuk ke dalam otak dan tanpa dicerna. Oleh karena itu sebulan lalu, saya kembali mencoba menon-aktifkan Instagram. Sebuah platform terbaik (setidaknya menurut saya) untuk mengetahui apa yang terjadi pada orang-orang yang kita kenal dan juga memperhatikan trend berbagai hal (kopi, traveling, fashion, etc). Selama satu bulan ke depan saya akan mengambil sebuah keputusan lainnya dalam hidup saya., dan karena itu, disaat pekerjaan yang juga sedang melimpah, saya tidak mau 'menyampahi' pikiran saya dengan confirmity bias (saya hanya mencari-cari gambaran di Instagram yang sejalan dengan pemikiran yang saya mau) atau social proof (saya melakukan hal-hal karena ingin membuktikan bahwa saya adalah bagian dari sebuah kelompok masyarakat).

Sangat penting untuk menghindari bias disaat kita tidak dalam kondisi mental yang baik dan sedang ingin mengambil sebuah keputusan.   

Cultural Misfit  
Ini adalah sebuah teori yang pertama kali saya baca dari buku karangan Eric Weiner "The Georgraphy of Bliss". Ia bercerita tentang pentingnya bagi kita untuk hidup dalam sebuah kebudayaan yang cocok. Tempat kelahiran dan tumbuh besar tidaklah menjamin kita akan bahagia hidup hingga akhir hayat disana. Sebuah pertanyaan menggelitik dari buku itu adalah, 

"a simple question to know where your true home is, ask yourself where you want to die?" 


Where You want to die?
Saya pernah menulis dalam blog ini tentang kemungkinan Cultural Misfit  yang saya alami di Indonesia. Terkadang disaat saya berkelana sendirian, dan bertemu dengan orang-orang dari negara barat, saya menemukan pemikiran yang lebih serupa dan terbuka dibandingkan dengan lingkungan saya tumbuh besar. Sebagai contoh besar, salah seorang kakek saya adalah seorang professor Matematika di AS, ia memutuskan untuk berpindah warga negara dan hidup di negara bagian Iowa sebagai seorang Dosen (dan sedikit berladang). Suatu hari, ia berkunjung cukup lama ke rumah saya, waktu yang cukup lama bagi saya untuk bisa berdiskusi tentang hubungan aktuaria, bisnis dan matematika hampir setiap hari. Satu hal yang ia sampaikan kepada saya adalah saya harus sebisa mungkin untuk mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Asing, agar setelah selesai kuliah saya tak perlu lagi kembali ke Indonesia. Sedikit banyak dari ceritanya saya tau, orang-orang yang memiliki potensi besar untuk maju hampir tidak dihargai di sebagian besar pelosok negeri ini. Suka atau tidak suka jika ingin berkembang, kita harus keluar, keluar dari negara ini. Ia meminta saya segera 'menyelesaikan segalanya' secepatnya, seakan mengatakan bahwa tinggal lebih lama di Indonesia merupakan penyianyiaan waktu. Dalam artian, lingkungan akan benar-benar bagaimana kita bertindak bepikir dan mengambil keputusan. Saat kita mencoba melawannya, kita akan mengalami suatu perasaan bersalah melawan konformitas. 

Opportunity Cost 
Sedikit kembali ke belakang, Biaya Peluang adalah salah satu topik paling dulu yang saya pelajari saat menekuni ekonomi. Ini adalah prinsip dasar ekonomi kedua yang ditelurkan oleh seorang ekonom besar, George Mankiw: 

" Opportuinity Cost is whatever must be given up in order to obtain some item. or last best alternative forgone" - George Mankiw     

Jadi saat kita memilih suatu hal, akan ada peluang lain yang kita tinggalkan (gave up). Sebagai contoh, saat saya memilih untuk pergi ke Papua saya meninggalkan peluang saya memperbesar usaha saya sendiri. Atau saat saya meninggalkan karir saya di Manulife untuk usaha saya, berarti biaya saya membuka sebuah bisnis lebih besar daripada peralatan dan uang sewa, tetapi juga potensi nilai uang yang saya tinggalkan dari bekerja di Manulife. Untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup kita seperti berganti pasangan, berganti pekerjaan, berganti tempat tinggal, kita akan selalu mempertimbangankan peluang-peluang yang ada apabila kita mengambilnya. Pada suatu bahasan di cabang ilmu lain, tentunya peluang-peluang ini tidak selalu dalam bentuk monetary tetapi berbentuk nilai-nilai, well-being, dan kebebasan. Sebagai contoh, Cultural Misfit bisa menjadi salah satu faktor penentu 'biaya peluang' bagi orang yang ingin bertahan di suatu wilayah yang tidak sesuai secara kultur.  

Sebelum saya meracau lebih jauh dengan bahasa yang lebih sulit, saya akan merangkum paragraf diatas: Saya mempertimbangkan banyak biaya peluang disetiap saat saya mengambil keputusan dalam hidup saya.  Biasanya saya mendasarkan nilai peluang-peluang itu juga pada beberapa prinsip dasar hidup saya (yang sebisa mungkin saya buat sederhana, agar bisa diingat, dan meresap hingga ke alam bawah sadar). 

The principles 
The 5 Year Experience, Experience Over Materials 
Saat saya diterima bekerja di Manulife, saya masih ingat pidato penyambutan CEO saya waktu itu, kalimat yang paling saya ingat adalah: 

"If you just graduate, you got 5 years. 5 years to learn, to experience things, not to earn." 

Saya pun masih mengamini sebagian kalimat itu hingga sekarang, walaupun faktanya jika menelan bulat-bulat "not to earn (at all)" my life will be miserable - dan mungkin maksud CEO saya pun bukan 'at all' lol.   Jadi, sebagai seorang yang baru saja lulus dari perkuliahan dan menuju suatu tahap hidup yang baru, sangat penting kita memilih pekerjaan yang memberikan pengalaman. Suatu tambahan dari diskusi saya dengan salah seorang direktur saya waktu itu,  "Kamu tau nggak apa yang saya lihat dari kandidat baru yang mau bekerja dalam tim saya? Yah, walaupun kita harus melihat latar belakang kuliah dsb, tetapi ada hal yang lebih penting yang saya lihat, yaitu kemampuan berpikir kritis. Pada kenyataannya hidup bukan soal menghapal rumus kan, tetapi memberikan response dari hasil berpikir kritis." ujar salah satu pimpinan saya sore itu. Jika ditarik simpulan singkat, carilah pekerjaan yang memberikan kita pengalaman sehingga kemampuan berpikir kritis kita akan terasah. Ibaratnya:  

if you are critical enough, you'll find a way (why) 
(probably anywhere, anytime)

Nah, ini satu lagi, the why diatas saya sengaja miringkan dan tebalkan. Ada yang tau Simon Sinek? Salah satu pimpinan saya meng'hadiah'i saya buku berjudul "Start with why" oleh Simon Sinek. Katanya waktu itu, saat detik-detik sebelum hari terakhir saya bekerja di Sudirman, semua orang bisa melakukan hal yang sama, tetapi kenapa orang-orang melakukan hal itu bisa sangat jauh berbeda. "Seperti kamu yang memutuskan untuk meninggalkan perusahaan ini, 'Kenapa' adalah hal yang masih ingin saya tanyakan. Tapi nggak ada juga kan yang bisa buat kamu tetap disini? Yasudahlah, baca aja bukunya biar suatu waktu kamu lebih paham." ujar Bapak itu sembari tertawa pada saya. (Kalau diingat saya kangen juga dengan bos-bos saya di Manulife!). 

 Find the Why
Sebelum memutuskan sesuatu ada baiknya kita menanyakan 'kenapa?'. Mungkin saya belakangan ini agak gila karena sering kali berdiskusi dengan diri sendiri, tetapi hey! sejujurnya kita harus lebih banyak mendengarkan diri sendiri daripada orang lain. Dalam bukunya, Ross Robert menjelaskan konsep Impartial Spectator yang dibentuk oleh Adam Smith (duh lagi-lagi ekonom!), tentang bagaimana secara naluriah sesungguhnya manusia memiliki 'saudara kembar' dalam dirinya yang bisa menilai perbuatannya dalam konteks moral dan rasional jauh lebih jujur dibandingkan penilaian orang lain. Kenapa sebagian besar tidak mencuri walaupun ada kesempatan, diluar faktor ketuhanan dan agama, ya karena ada Impartial Spectator yang mengawasi kita dimanapun kita berada. Mungkin dalam artian lain, Impartial Spectator ini adalah naluri atau self-consciousness.    

Jadi memang seharusnya kita lebih sering berdiskusi dan bertanya 'Kenapa?'. Jika hal-hal dalam pekerjaan kita memaksa kita untuk berpikir rasional hingga ke akar permasalahan, kenapa kita tidak mengaplikasikannnya pada kehidupan kita sehari-hari. Itulah yang saya lakukan setelah saya menginjak umur 25 tahun, sejak 1 bulan lalu. 

Saya bertanya banyak hal tentang hidup saya. Tentang kenapa saya memilih dan melakukan hal-hal yang saya lakukan sekarang. Orang bilang usia 25 tahun adalah masa-masa kritis kita menemukan jatidiri, namun sepertinya bagi saya 'penemuan' itu sebetulnya sama sekali tidak ada, yang ada hanya kemampuan beradaptasi yang harus bertambah secara konstan dengan seiring bertambahnya usia dan kompleksitas perkara kehidupan. Iya, sama halnya seperti kebahagiaan. Tidak ada yang namanya 'Hidup Bahagia' dan 'Hidup Sengsara', kita tidak hidup dalam sebuah titik, tetapi dalam sebuah garis keseimbangan yang kadang condong ke kiri dan kadang ke kanan. Dan manusia, bergerak ke kanan dan ke kiri tanpa perlu mengejar salah satu titiknya. Hidup adalah sebuah kombinasi.  

"Sadness has a few beauties that happiness can never have. Sadness has depth, and happiness is shallow. Sadness has tears, and tears go deeper than any laughter can ever go." -  Osho, The Book of Understanding  

Lalu?
Sebagai anak manusia yang baru saja memasuki usia yang kritis (selalu kritis sih setelah keluar dari zona nyaman perkuliahan), sayapun mempertanyakan banyak hal tentang hidup saya yang belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Einstein yang menemukan teori relativitas pada usia ke 25 tahun atau Robyn Davidson yang berkelana sendirian di Gurun Australia dan disponsori National Geographic (juga saat usianya 25 tahun).  Setidaknya saya mencoba mempertanyakan "Kenapa". tentunya saya tidak mempertanyakan "kenapa hidup saya begini-begini saja?" karena saya tau hidup saya tidak pernah "begini-begini" saja, saya adalah orang beruntung yang diberikan begitu banyak kesempatan.  

Lalu apa hubungan dari segala hal-hal yang saya tulis diatas? 
Satu bulan terakhir ini, saya pun menanyakan satu hal, 

"Kenapa saya di Papua? Kenapa saya melakukan pekerjaan ini?" 

Sebelumnya pikiran saya tercecer kesana kemari, tidak bisa memisahkan mana kesenangan dan mana hal-hal esensial yang saya pelajari dari pekerjaan ini. Hal-hal yang menambah pengalaman saya dan kemampuan berpikir kritis. Saya yakin, jika kamu berada di usia 20 - 30 an (atau bahkan diatas 30!) tidak jarang pertanyaan ini mampir dalam kepala kamu. Namun kemudian, kita berusaha mengatakan pada diri kita bahwa ini adalah a-non-sense questions hanya karena kita sudah memberikan waktu begitu banyak pada pekerjaan yang kita lakukan dan semboyan kuno yang mengatakan bahwa "Perseverance Is the key to success!".  (ah ini namanya sunk cost bias -lagi-lagi bias berpikir!) 

Saya menuliskan semua alasan kenapa saya memilih pekerjaan ini, saya menuliskan segala kekhawatiran saya (dari yang sangat penting hingga yang sangat tidak penting). Saya menulis jurnal beberapa malam sekali untuk merekam perubahan keputusan yang saya ambil dalam berbagai mood. Saya mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Tidak hanya soal pekerjaan, saya juga menuliskan hal-hal yang saya inginkan dan masih belum tercapai (ternyata sedikit sekali kalau ditulis!), lalu juga mempertanyakan kenapa saya menginginkan hal-hal itu. 

Suatu hal yang menjadi pemahaman baru saya adalah: saya mengenal diri saya lebih jauh. Saya seperti menonton seorang wanita bernama Dwi Uli yang sedang dihadapkan sebuah pilihan dan berbagai biaya peluang. Saya mengenal lebih jauh apa yang bisa dilakukan oleh wanita itu dan apa yang sebenarnya ia takutkan. Sebuah prinsip-prinsip dasar hidup yang selama ini ia pegang, menjadi sebuah alat yang mempermudah bagi ia untuk mengambil keputusan. Dari sudut pandang orang ketiga ini juga saya menemukan bahwa dari segala hal yang saya pelajari dan pahami tentang permasalahan dalam kehidupan ini, segalanya harus dimulai dengan sebuah penerimaan. Menerima bahwa Seorang Dwi Uli juga memiliki berbagai (banyak!) kekurangan dan ketakutan. 

Saya menulis satu-persatu ketakutan itu, salah satu diantaranya yang paling konyol adalah :
"not be able to taste decent coffee anymore." 
tetapi ada juga hal penting yang saya tulis: 
"Life stops being generous to me, stops pouring great amount of luck." 

List ketakutan dan kelemahan itu bertambah setiap harinya, tak luput dari mata saya juga setiap harinya. Membaca halaman per halaman, bahwa saya mungkin tidak sedewasa yang saya kira, atau sepintar yang saya pikir. Kemudian saya berlanjut dengan merunutkan alasan kenapa saya takut? kenapa saya khawatir? apakah ketakutan ini nyata? atau kah tingkat ketakutan ini hanyalah cerminan semu dari tekanan sosial? Apakah jika tidak ada masyarakat di dunia ini, tidak ada orang di dunia ini, saya akan merasakan hal yang sama? 

Hal yang saya temukan adalah, seringkali ketakutan kita ternyata tidak sebesar yang kita kira. -Jika kita terus menantangnya kenapa. kenapa memangnya jika ketakutan kita menjadi kenyataan? Apakah dunia akan berakhir? Kemungkinan besarnya: tidak. Dunia tidak akan berakhir. 

Hal lain yang saya temukan adalah, skenario terburuk pun bisa menjadi yang terbaik daripada tidak melakukan apa-apa. Saya merunutkan skenario terbaik hingga yang terburuk. Mengurangi bias social proof, mengurangi bias confirmity. Mengakui bahwa dalam hidup ini, menjadi gagal dan memiliki kekurangan adalah menjadi manusia. Ingat bahwa saya mengikuti prinsip sederhana hidup saya? Experience over material, at least for the first 5 years. Saya mengira-ngira jika saya memilih skenario terburuk dan merunutkan apa yang mungkin terjadi. Jika saya memilih, dan mempertahankan pilihan saya karena prinsip saya, karena pertimbangan saya tentang peluang mendapatkan pengalaman, karena saya sudah mempertanyakan begitu banyak kenapa, jika... dan jika kemungkinan buruk itu terjadi (seperti yang saya kira) itu akan menjadi yang terbaik dibandingkan hasil yang terjadi saat saya tidak melakukan apa-apa. Lagipula, saya baru menghabiskan 3 tahun pertama saya! 

Setidaknya saya membuktikan satu kemajuan dalam hidup saya, saya tetap menjadi orang yang bisa memilih kemana hidup saya bergerak dan dimana saya menjalaninya. Saya bukan orang yang percaya bahwa takdir akan begitu saja mengubah hidup seseorang, tetapi saya percaya sebaliknya. Perubahan terjadi karena ada hal berbeda yang kita lakukan -walaupun entah ke arah mana. 


The universe favor vibrancy. 
The world itself is expanding, moving all the stars and galaxies. 
Let ourselves be one of the atoms flow in the same direction as universe. 
Changed. Uncertain. Vibrant. 
                                 -D.U

Dan ada satu lagi quotes favorit saya dari seorang pebisnis terkenal: 

"only a fool never changed" - Richard Branson

Semoga tulisan ini bisa menjadi sedikit pencerahan bagi anak muda disana yang mengalami krisis yang sama! Ciao! 

NB: Selama satu bulan terakhir saya tidak hanya menulis jurnal, tetapi juga berhasil bekerja lebih produktif dan membuat beberapa business model, belajar bahasa perancis dan juga ... menulis artikel ini! So, ayolah be wise on instagram! take only what you need! 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!