Menjadi, Menjadi

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Bagi saya, yang hidupnya melompat-lompat bak mengendarai sebuah roller coaster, rasanya hampir sepertu lupa untuk bernafas. Tidak terasa, tahun ini saya sudah melewati seperempat abad hidup di dunia ini. Tuhan masih berbaik hati membiarkan saya berkeliaran di muka bumi ini dan menikmati segala suka dan dukanya.

Source: pinterest.com
Setahun terakhir... 
Tepat satu tahun yang lalu di bulan ini, saya mengumumkan kepada kru kedai saya bahwa saya akan pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah program pembangunan masyarakat desa. Sebuah pengalaman yang akan saya tukar dengan jerih payah membangun koneksi dan usaha di dunia kopi selama setahun terakhir. Saya tahu betul Renjana tidak siap untuk ditinggal ketika baru sedang ingin mulai berdiri. Alasan saya mengambil pekerjaan ini saat itu hanya satu: saya ingin lebih dekat dengan dunia hulu, belajar, dan dibayar!. Selama setahun di dunia kopi saya merasa ada jurang bergitu besar antara hilir dan hulu industri kopi. Entahlah, naluri saya mengatakan bahwa hal ini seharusnya terjadi di segala jenis komoditas. Saya tahu bahwa saat itu saya tidak akan bekerja di sektor kopi selama setahun berikutnya, namun saya hanya ingin mempelajari suatu sistem di hulu. Saya adalah orang yang percaya bahwa berbagai hal di dunia ini bergerak dengan suatu formula, yang kita perlukan adalah menemukan formula itu. Saya butuh sebuah lapangan baru dimana saya bisa lebih bebas untuk menggunakan sumber daya dan mencoba sejauh mana.... peruntungan saya.

Menjadi Pengusaha
Sebelum menceritakan apa yang saya dapatkan selama setahun terakhir ini, saya ingin sedikit mengulas kehidupan saya selama setahun sebelumnya sebagai pengusaha. Menjadi pengusaha adalah impian banyak orang, mungkin karena menjadi pengusaha dinilai sebagai sebuah bukti pembebasan diri dari perbudakan jam kerja monoton dan macet berkepanjangan. Bagi saya, hingga dengan sekarang, dibandingkan dengan bekerja di perusahaan manapun, membangun kedai saya dan mengelola sistem dibaliknya jauh, -saya tekankan, jauh lebih melelahkan dibandingkan pekerjaan saya sekarang atau sebelum Renjana (nama kedai saya) lahir. Tidak hanya lelah secara fisik, mental jauh lebih tertekan dengan segala risiko dan minimnya dukungan dari keluarga saya. Saya tidak pernah merasa sendiri lebih daripada saat saya mengelola usaha saya dulu. Segala hal harus saya cari dan putuskan sendiri lalu... sendirian pula menunggu konsekuensinya. Rasanya saat itu, segala hal selalu salah dan saya menghabiskan waktu secara konstan untuk berpikir memecahkan masalah dengan cepat. Setiap hari, tanpa ada hari libur. Sekalipun libur, otak saya tidak bisa beristirahat dan cemas sendiri. Itu adalah realita menjadi seorang pengusaha: A constant anxiety. Saat saya harus menutup kedai saya sementara, saya merasa gagal.  Dalam rencana bisnis yang layak, Renjana bukanlah saya, dan seharusnya bergantung pada formula, bukan pada saya. 

Namun belakangan ini saya menyadari suatu hal, saya ingin kembali ke September 2015. Saat saya mengajukan surat pengunduran diri di perusahaan asuransi itu. Saya ingin mengatakan pada diri saya di masa itu, "You know what? You just did the right thing! I tell you, the road forward will be hard as hell. You will be alone, literally alone, no friends, no family.  But chill, you'll done a great job and just one thing: appreciate yourself."  

Baru saya sadari sekarang, saya sangat miskin memuji diri sendiri di masa itu. Selalu kecewa pada hal-hal yang saya buat, bahwa saya tidak cukup baik, tidak cukup bekerja keras. Baru saya sadari, setelah membandingkan dengan pekerjaan saya sekarang: I WORK F**KING HARD BACKTHERE! Ya, itulah dunia, pemahaman akan datang belakangan, pada waktu yang tepat.

Menjadi Konsultan
Baiklah titel yang diberikan pekerjaan saya sekarang adalah : Business Consultant. terdengar keren bukan? Ah, tapi masih lebih keren jadi pengusaha kecil yang kere kok! (*crossfinger). Pada dasarnya tugas saya adalah membawa perusahaan swasta atau aktor pasar dalam suatu industri untuk bekerja bersama memperbaiki sistem pasar, sehingga sistem pasar tersebut menguntungkan semua pihak dari hulu hingga ke hilir. Bagaimana mungkin saya tidak mengambil pekerjaan ini, saat saya begitu ingin mempejari sistem dari hulu ke hilir di dunia pertanian? Dibayar pulak! (perlu diulang agar dipahami oleh para pembaca). Karena suatu hal, saya pun dipindah ke Papua, mengurusi sektor sayuran yang dinilai sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan petani disana.

Papua menjadi sebuah ladang baru bagi saya untuk mempelajari cara berpikir petani dan bagaimana sebuah komoditas diolah dari hulu hingga ke hilir. Bertemu dengan banyak orang dan berkesempatan untuk bertukarpikiran, lalu menciptakan sebuah program adalah hal terbaik yang bisa ditawarkan dari pekerjaan ini. Saya bisa mengusulkan berbagai ide, menggerakan instansi pemerintah, dan melihat hubungannya dengan penjualan dari perusahaan swasta yang bekerjasama dengan saya. Rasanya seperti memiliki sebuah usaha besar tanpa harus takut akan gagal saat ingin mencoba-coba suatu hal yang baru.

Berbicara tentang setahun terakhir, tentang hal-hal yang terjadi, saya berkeliling banyak tempat lebih banyak daripada seumur hidup yang pernah saya lakukan. Dalam setahun, saya menempuh 40.000 miles dengan pesawat, dan entah berapa ratus ribu miles melalui jalur darat. Saya pergi ke lokasi-lokasi terpencil diberbagai daerah, bertemu masyarakat lokal, dan mencoba untuk memahami cara berpikir masyarakat disana. Saya banyak melakukan asssessment dilapangan dalam berbagai aspek value chain dan membandingkannya dengan keadaan partner saya, membandingkan kesempatan dengan sumber daya. Mencoba berpikir sebagai pemilik perusahaan dan harus membuat keputusan.

Namun, tidak jarang yang memandang saya yang baru berusia seperempat abad ini setengah mata. Seorang anak muda pongah yang berbicara besar tentang perubahan sistemik. Mau bagaimana lagi, seringkali saya harus berhadapan dengan orang yang sudah lebih dari 10 tahun berada di industri itu dan saya hanyalah seorang pekerja teoritis. Tetapi kemudian saya berpikir, bagi saya, perubahan yang terpenting bukanlah pada program saya, namun perubahan cara berpikir saya menjadi seseorang yang lebih baik dan sistematis. Itu adalah tujuan sedari awal, yang belakangan ini sering kali saya lupakan. Saya melupakan bahwa saya mengambil kesempatan ini untuk belajar dan mempersiapkan diri saya untuk bisnis saya di masa depan.

Setahun terakhir ini, menjadi seorang konsultan mengajarkan saya satu hal: Peluang usaha di hulu pertanian itu luas dan hanya karena ketakutan akan risiko, orang-orang melewatkan kesempatan itu. Pada intinya, kesempatan itu akan selalu ada, hanya jika kita mau meluangkan waktu melihat permasalahan lebih dalam. Sebuah kalimat oleh Chris Guillebeau mungkin cukup menjelaskan apa yang saya pelajari selama setahun ini:

"Competition from other business is a problem for another day; the greater problem you face is inertia."

Sebelum saya menjadi seorang pekerja yang mengeluhkan rutinitas dan menunggu hari-hari dimana gaji datang, saya ingin menulis ini, agar saya ingat kembali dengan tujuan saya mengambil berbagai keputusan. Menilai apakah selama setahun terakhir, saya mempelajari hal-hal yang bisa bermanfaat dikemudian hari untuk hidup yang lebih baik (dan lebih kaya~ *Amin lol)

Menjadi Masa Depan
Menjadi pengusaha masih menjadi mimpi besar bagi saya. Namun, salah satu hal yang ingin saya ingatkan kembali pada diri saya, saya tidak ingin membatasi diri saya pada kopi. Kopi adalah sebuah pintu masuk yang membawa saya pada dunia pertanian. Sebuah komoditas yang memiliki arti lebih dari sekedar hobby atau renjana yang mendalam. Kopi mengenalkan saya pada dunia lain yang sebelumnya tidak pernah saya tengok. Dua tahun terakhir, saya meyakini bahwa masa depan akan terletak pada sektor Pertanian. Pada akhirnya toh kita tidak makan uang kertas, manusia butuh makan, dan di tahun 2020 ada 10 Milyar mulut yang perlu diberi makan.  National Geographic di bulan September ini menerbitkan artikel khusus yang membahas pertanian super canggih di Belanda juga segala penelitian yang melatarbelakanginya. Harapan untuk pertanian yang lebih baik dan hemat energi bukanlah lagi mimpi muluk, Belanda sudah terbukti bisa melakukannya. Ini adalah mimpi saya lainnya, untuk mempelajari sebuah formula pertanian yang berkelanjutan dan menguntungkan berbagai pihak: mother nature and us -human.

Saya tidak tahu, setahun kedepan apa yang akan saya tulis dalam blog ini. Apakah saat itu Kopi Renjana sudah kembali berdiri? Ataukah di September tahun depan saya sedang mempersiapkan segalanya untuk keberangkatan ke  Belanda?  Ataukah saya malah sedang bersiap mengurus pernikahan selayaknya yang orang-orang seusia saya lakukan? Entahlah. Rasanya belakangan ini begitu banyak mimpi dan pikiran yang menghantui saya diberbagai sudut, segala ketidakpastian, dan keinginan besar untuk berdiri sendiri. Saya ingin segera kembali masuk ke dalam kebebasan yang fana.

Anw, Sampai jumpa tahun depan!   


  



   



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!