Semerawut

Berulang kali yang menghapus kalimat yang sudah saya ketik malam ini.
Sebuah bukti seberapa semerawut hal-hal yang ada dikepala saya sekarang.
Belakangan saya mengigau dalam tidur, dua malam lalu saya terbangun ditengah malam dengan mata sembab.  Saya menangis dalam tidur, sebuah mimpi buruk menghampiri saya malam itu.
Potongan-potongan berbagai hal bermunculan dalam kepala saya.
Hingga saat ini, saya masih merasa butuh sendirian.
Captured by : Aliya I.
Saya butuh mendengarkan telapak kaki saya sendiri saat mendaki bukit, atau bunyi detak jantung saat menyelam di tengah lautan.
Saya lelah berbicara pada manusia.
Saya ingin lebih banyak menulis.
Namun, entah kenapa seperti tidak ada waktu.
Seperti saya melewatkan kesempatan-kesempatan emas untuk menuliskan hal-hal yang patut untuk ditulis dan diceritakan pada orang lain.
Kembali saya memandang kosong jendela pesawat pagi ini.
Apakah saya harus kembali mengepak barang-barang dan berjalan tanpa batas waktu?
Ide ini kembali berputar-putar di kepala saya.
Bagaimana jika saya benar - benar sendirian dan kali ini untuk waktu yang lama?
Sebulan? Setahun? Bertahun-tahun lamanya?
Menulis hal-hal bodoh dan penemuan makna dari kacamata saya sendiri.
Tidak berharap akan perubahan besar dalam diri saya.
Saya tidak yakin pribadi egois ini akan berubah hanya karena perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, saya hanya butuh anonimitas kali ini. 
Tidak perlu lagi berkirim kabar atau membuat jadwal berkunjung.
Saya hanya ingin tidak dikenal, berjalan, dan kemudian menulis.
Impian yang tidak terlalu muluk untuk akhir-akhir ini.

    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!