Diantara

Lama kelamaan, aku jadi benci melihat bangunan ini.
Dengan hiruk pikuk dan orang yang terkadang berlarian mengejar pesawat yang hendak lepas landas.
Suatu tempat aku harus memilah segala perasaan yang berada ditengah-tengah.
Sama halnya dengan bangunan angkuh yang dipenuhi kaca besar ini.
Sebuah titik tengah, pertemuan kedatangan dan kepergian.


Bandar Udara seharusnya dinobatkan jadi tempat terromantis sepanjang masa.
Buktinya, begitu banyak sajak-sajak pendek cinta lahir dari tempat ini.
Ribuan ucapan cinta dan peluk rindu menguar disetiap sudutnya.
Tidak lupa, segala harapan dan doa turut mengalir dari orang di dalamnya,
Orang yang hendak pergi, ataupun yang mengantar.

Namun, setelah rasanya sejuta kali datang kesini,
Aku mulai benci menapakan kaki didalamnya.
Sendirian dengan segudang urusan yang menolak untuk diselesaikan.
Tidak peduli kalau aku harus pergi dan tak punya cukup waktu.
Memaksaku untuk membungkus urusan itu dalam sebuah kotak di sudut hati,
Menguncinya kuat-kuat hingga nanti tiba waktunya untuk menyusunnya dari ulang.

Menyusun ulang,
berkali-kali.
Iya, mungkin ini kenapa aku begitu benci tempat ini,
Tempat ini seperti sebuah tombol reset dengan hitungan waktu mundur yang terlalu singkat.
Begitu aku kembali ke dalamnya, tombol itu seakan ditekan oleh tangan tak terlihat. 

Mungkin benar kata orang tua itu,
Ini sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal,
Tidak perlu lagi berada ditengah-tengah, 
Tidak perlu lagi menyusun ulang permainan puzzle yang potongannya tidak lengkap sedari awal.
Tidak apa kehilangan sekali ini, atau mungkin masih ada lain kali 
Semua sudah semestinya seperti itu.
Semua akan pergi pada waktunya,
Seperti orang yang lalu lalang di Bandara.

Jangan ucapkan sampai jumpa lagi,
Atau bahkan selamat malam,
Lambaikan tangan, dan ucapkan selamat tinggal. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 2)