23 Hari Flores (2)

Sekarang saya baru menyesal, kenapa waktu lalu tidak benar-benar menulis segala perasaan dan pengalaman yang terjadi saat aku menjalani perjalanan ini. Bukan masalah jadwal perjalanan yang berurutan, tetapi saya benar-benar hampir melupakan nama orang-orang penting dan nama lokasi peristiwa-peristiwa kecil yang menyenangkan terjadi. Namun, maafkanlah saya yang malas menulis kemarin dulu, mungkin kala itu aku terlalu terlena dengan segala yang ada lalu terlupa saya perlu mengingat-ingat hal ini di masa sekarang.

Kota Ende 
Om Robert pemilik penginapan di Desa Moni, menghampiri saya dengan berlari kecil dari kebun di belakangan penginapannya. "Eh, sudah mau berangkat kah?" tanya nya. Saya jawab, saya ada janji bertemu dengan seseorang di Kota Ende, walaupun sebenarnya janji saya masih esok hari. Ia secara singkat meminta maaf atas kebisingan semalam dan menyambut sedikit uang, biaya saya menginap. Om Robert menjelaskan kepada saya, seandainya saya tinggal lebih lama, ia ingin mengajak saya berkeliling ke pasar dan ke kebun kopi di lereng gunung. Bahkan ia menawarkan bantuannya tanpa perlu saya bayar (mungkin karena dia menilai saya pejalan kere yang mau saja menginap di tempatnya malam itu dengan suara hingar bingar). Saat ini, saya hanya ingin kembali ke Kota Ende. Sebuah kesalahan besar yang saya buat.  Entah apa yang merasuki saya. Saya bertemu penyihir di Kota Ende!
Penjual Tenun di Pasar Tenun Ende

Salah Satu Sudut Kota Ende

Saya mencari hotel-hotel murah di kota kecil yang terletak di Selatan Flores itu. Kota Ende yang panasnya menyengat di bulan puasa. Saya memilih sebuah penginapan kecil yang tampak islamiah dari namanya, terletak tidak jauh dari bandara. Seorang ibu yang tampak tua dan bungkuk menyambut saya tidak ramah dari balik meja yang terlihat seperti Meja Resepsionis. Menunjukan saya kamar dengan dua tempat tidur dan kamar mandi di dalam dengan harga Rp. 85.000,-  termasuk sarapan roti dan teh manis. Saya bertanya apakah saya bisa memindahkan sarapan saya ke waktu sahur, ia menjawab bisa dan akan membangunkan saya ketika waktu sahur tiba. Tidak disangka permintaan ini lah yang membawa malapetaka pertama saya di Flores.

Penginapan tua itu mengingatkan saya pada sebuah masjid tua di Keramat Luar Batang. Warna hijau tua dan putih menghiasi bingkai pintu dan dinding.  Suara pintu kamar yang berderit keras saat dibuka, seolah menunjukan usia penginapan itu. Penginapan murah yang saya perhatikan dijaga cukup bersih itu memiliki beberapa pegawai yang masih muda. Pegawai muda yang ramah dan menyapa saya, berbeda sekali dengan perempuan tua yang duduk dibalik meja. Namun penginapan ini sedikit berbau kayu lapuk, saluran air di kamar mandi lambat terkuras, dan semua orang bisa mendengar gertak marah si perempuan tua pada pegawainya dari dalam kamar.

Sepulangnya saya dari berkeliling kota Ende, saya melihat dua orang turis asing dan seorang pria lokal berdebat di depan penginapan. Turis asing itu adalah seorang pria tua, yang saya pikir usianya sudah pasti diatas lima puluh tahun dan seorang wanita yang kemungkinan berusia tiga puluh tahun. Dengan bahasa inggris yang terbatas, si pria lokal mencoba menjelaskan bahwa biaya sewa motor adalah Rp. 150.000,- untuk tiga jam. Sedangkan si turis asing dengan segala usaha menjelaskan bahwa ia hanya butuh sewa selama tiga jam, dan di bali dia bisa menyewa motor dengan harga Rp. 60.000 untuk satu hari lamanya. Saya pun mencoba menawarkan pada si orang lokal itu bahwa jangan memberikan harga terlalu mahal begitu, "Om kalau turis ini kaya,  mereka tidak akan menginap disini." ujar saya. "Iya saya tau, adik tau ka jalan ke atas bukit sana itu rusak. Saya rugi kalau saya kasih harga sama seperti bali. Ini Flores." Lalu si turis pria, mendesah kesal dan mengumpat dalam bahasa inggris, "This is f**king ridiculous. No, I won't spend a dime on this guy."  dan kemudia berjalan pergi meninggalkan kami.

Setelah kejadian itu, saya menemani mereka berdua yang duduk di taman tengah penginapan. Yang pria bernama Jack dan yang wanita bernama Natalie. Mereka bertemu di Bali dan setuju untuk jalan bersama ke Flores untuk berbagi biaya. "Kamu tahu, saya benci terkadang menjadi orang kulit putih yang datang ke negara berkembang seperti Indonesia. Mereka selalu pikir, kami yang kulit putih memiliki uang banyak sekali." Keluh Natali. Saya hanya mengangguk-angguk setuju. Dalam hati saya setengah setuju, tetapi disatu sisi yang lain, walaupun kalian pegawai kerah biru di negara asal, biaya satu kali makan disana sudah bisa membiayai orang-orang disini makan sehari tiga kali bersama anak dan istri. Ketimpangannya memang jauh. Saya paham mereka ingin menghemat biaya perjalanan mereka, hingga bisa lebih lama dalam perjalanan berkeliling dunia. "Saya menghabiskan uang pensiun saya untuk berkeliling dunia, kalau saya tidak berhemat, saya tidak akan bertahan selama ini dijalan. Orang kaya dari negara kami, tidak mungkin menginap di penginapan hancur seperti ini." Ujar Jack lebih kesal dari Natali.  Udara panas Ende membuat rona-rona merah muncul di kedua wajah orang ini, entah tambah merah karena mereka marah atau hanya karena panas. "Jack, Natali, tidak hanya kalian yang mengalami itu. Ketika mereka tahu saya datang dari Jakarta, mereka juga pikir uang saya banyak. Namun, ini kan tempat wisata, dan sepertinya tidak banyak turis yang menginap di Ende, ini hanya kota transit yang gersang. Jadi saya wajar, orang-orang agak keras, mungkin mencari uang lebih sulit disini dibandingkan di Bali." jelas saya mencoba berempati. Pada kenyataannya, keesokan harinya saya malah ribut besar dengan si perempuan tua pengelola penginapan disana. Saya katakan, "Ibu muslim macam apa yang menipu orang yang hendak berpuasa? kalau memang memindahkan makan pagi ke sahur dikenakan biaya, saya tidak perlu dibuatkan makanan." Si Perempuan tua itu menyambit kepala saya dengan buku nota, dan lebih teganya lagi dia meneriaki saya kafir karena tidak menggunakan jilbab!  Saya sakit hati, ditengah Pulau yang didominasi pemegang agama katolik, kenapa saya malah ditipu oleh sesama muslim? Dan lebih teganya lagi, ini adalah bulan puasa! Dasar Penyihir!

Sore di Pantai Ria.
Sore itu, saya mengajak dua orang turis asing itu untuk pergi ke pantai di dekat kota. Pantai Ria. Saya bilang pada mereka, tidak perlu berharap banyak melihat pantai yang bersih dan bagus, tetapi setidaknya kita tidak perlu menghabiskan sore hingga malam tiba di hotel busuk ini. Pegawai penginapan membantu saya mencarikan ojek dan memberitahu tarif normal ke Pasar Ria dari Penginapan. Terkadang hati saya pilu, kenapa anak-anak muda baik begini bisa bekerja dibawah perempuan tua yang seperti penyihir itu, seakan tidak ada pilihan hidup yang lain.

Saat kami bertiga tiba di Pantai Ria, terlihat beberapa warga pendatang menyiapkan meja jualan dan hidangan takjil  untuk menyambut jam berbuka puasa. Kami bertiga berjalan menyusuri bibir Pantai Ria yang lebar. Panas kota ini benar-benar menyengat, walaupun demikian kami sama-sama mencopot alas kaki dan berjalan menikmati usapan butir pasir ditelapak kami. Matahari sudah mulai turun. Natali sibuk mengeluarkan kameranya dan menjepret gambar anak-anak yang sedang bermain bola. Sementara, Jack dan saya berjalan pelan menyusuri pantai sembari sesekali mengabadikan foto dengan kamera HP.  Saya perhatikan, ada anak-anak yang berlarian hanya dengan celana dalam dan kaos, tetapi tidak benar-benar terlihat jelas mana "tim celana dalam" dan "tim celana pendek". Dari dulu hingga sekarang, saya masih tidak mengerti, bagaimana anak-anak seperti ini memisahkan mana tim dan lawan, mereka tentunya tidak menggunakan seragam tetapi tampak berteriak satu sama lain mencetak gol.

Di saat matahari senja seperti ini, saya menatap gerakan anak-anak itu dan bayangan mereka di atas pasir, mencoba merekam ini dalam ingatan saya. Suatu peristiwa yang ingin saya putar berkali-kali dalam kepala saya nanti. Langit, bukit, matahari senja dan gelak tawa anak-anak kecil. Semua terasa bergerak lambat di kepala saya.

Pantai Ria, Menuju Senja
Di ujung pantai tepat dekat rumah penduduk yang berdampingan dengan Musholla, kami duduk bertiga menatap laut. Tidak banyak hal yang kami bicarakan, mungkin karena sebenarnya kami memang lebih senang duduk diam menatap pemandangan yang sederhana tetapi menyenangkan sore itu. Sesaat, Jack menghampiri buih-buih air laut, membiarkan air laut membasuh kakinya dan berdiri sambil berkacak pinggang menengok berkeliling. Mungkin ia juga sama seperti saya, sedang merekam baik-baik peristiwa sore itu, menyesapi moment. Kami bertiga sama-sama takjub pada sekelompok awan yang dipecah oleh sinar-sinar cahaya matahari sore. Diujung bukit sana, awan itu bertengger megah dengan paduan langit berwarna jingga dan merah muda. Natali bilang, entah kenapa langit senja di Flores berbeda dengan di Bali dan Lombok, disini langit berwarna merah muda. Warna yang lebih kaya, ujar Natali dari balik lensa.
Awan Menggulung & Pilar Cahaya
 Senja itu, yang saya paling ingat, dari segala pembicaraan mengenai perjalanan kami masing-masing, kami berbicara mengenai perjalanan sendirian. Jack, ternyata sudah hampir setahun lamanya menikmati masa pensiun berkeliling di Negara Ketiga. Saat saya tanya kapan ia akan pulang, ia menggelengkan kepalanya tidak yakin sambil tersenyum rikuh. Rambut putihnya seharusnya menunjukan bahwa ia tidak dalam usia yang muda lagi untuk berjalan sendirian. Jack bilang ia sudah dari semasa muda ingin berjalan sendirian, ia bilang segalanya lebih mudah, tidak perlu bertengkar dengan teman untuk memilih destinasi. Ia sendiri sering kali menetapkan tujuan sehari sebelum keberangkatan. Ia hanya ingin ini semua menjadi perjalanannya. Saya menambahkan, "Sulit kan mencari orang yang mau meninggalkan pekerjaan mereka untuk perjalanan tanpa arah seperti ini hahaha.". Natali mengatakan ia lebih suka berjalan sendirian dan menemukan teman diperjalanan nanti, "Just like Jack, we met in Bali then we actually have the same destination. it's just so much easier to manage. and after all... sometimes I just want to be on my own." ujarnya. "Kalau saya, jika ada teman yang menemani perjalanan ini, saya lebih memilih ditemani. Sendirian, kita harus sering kali membayar segalanya dengan lebih mahal dan bertaruh keberuntungan menemukan teman di jalan. Yah, tetapi saya setuju terkadang memang kita ingin sendirian kan." kata saya. "Alone but not lonely." sambung Natali. Kami bertiga sama-sama setuju, terkadang diperjalanan sendiri seperti ini, kesepian melanda dikala kita menikmati goresan alam yang indah, seolah ingin berbagi tetapi dengan siapa?.

Langit malam Ende benar-benar Indah saat itu. Bulan sabit dan bintang timur terbit diatas langit sementara rona jingga keemasan masih mengambang diatas horizon laut. Kami bertiga lebih banyak duduk kemudiannya, mungkin masing-masing memikirkan perjalanan esok hari. Esok hari, kami akan pergi ke berlainan arah.

Langit Merah Muda, Bulan Sabit Terbit
Terkadang saya suka bersama orang-orang asing seperti ini. Seperti ada jarak dan batasan untuk setiap pembicaraan, bahwa ada waktu disaat kami hanya ingin diam dan berdiskusi dengan pikiran kami masing-masing. Sembari menatap jingga, saya kembali mempertanyakan perjalanan saya yang baru menginjakan hari ketiga. "Sendiri tetapi tidak kesepian." Saya seringkali bercerita pada teman saya, kenapa berkali-kali saya tahan berjalan-jalan sendiri. Saya katakan,

"...masalahnya jika saya menunggu hingga ada orang yang datang dan mau mengikuti alur perjalanan saya, saya tidak akan pernah memulai perjalanan satu kali pun." 

Tahun 2010, adalah awal saya memulai perjalanan saya (yang akhirnya lebih banyak sendirian). Saat GPS masih mengarahkan jalan yang salah dan tidak ada Instagram. Saat beberapa penunjuk jalan atau tempat wisata masih berbentuk buku yang dijual di toko buku dengan judul "Traveling ke...." atau "10 Tempat Wisata di....". (Terkadang saya lucu juga kalau saya lihat betapa menjamurnya anak-anak muda yang digandrungi melabeli diri "Full-Time Traveler" padahal tidak pernah membuat rute perjalanan sendiri dan selalu ikut open trip, hebat!).

Saya tidak bangga dan tidak mau melabeli diri saya solo-traveler. Karena lebih banyak situasinya, saya sendiri karena keterpaksaan. Setiap kali memulai perjalanan, seorang sahabat dekat saya bilang, "Lo sekarang ke Flores gak kenal siapa-siapa kan? Terus itu cowo yang lo kenal di Instagram bakalan ketemu di Bajo, lo gila yak? itu siapa? Li, berhenti li jalan-jalan sendiri begini. Lo gak akan pernah tau kapan lo akan sial dan diapa-apain orang.". 
"Sama seperti lo yang bilang jangan jadi pengecut yang takut jatuh cinta. Perjalanan juga gitu. Jangan jadi pengecut cuma karena gak kenal siapa-siapa. Ntar juga nemu temen dijalan.  Udah deh jangan Javacentris, dasar pria jawa.*" Ucap saya santai sambil menyesap cappucino enak terakhir sebelum saya pergi ke Flores. 

*Ungkapan saya untuk orang yang menilai segala sesuatu di luar Pulau Jawa berbahaya dan patut dihindari.

A little touched by God: Pada akhirnya kita tidak benar-benar sendirian di setiap perjalanan. Teman hanya akan berubah wujud, menjadi wajah-wajah baru. Wajah-wajah yang terkadang menyambut kita lebih hangat dari pada wajah-wajah pekerja Ibu Kota.

Oh Anyway, Kalian bisa mengikuti Perjalanan Jack (Yang sudah mengelilingi 52 Negara dan Antartica!) pada link ini. http://www.jackponsteen.nl/.

     

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Kuliah, Year One. "HIDUP MAHASISWA!"