23 Hari Flores (1)

Sore itu, saya mengepak baju dan barang-barang yang saya perlukan. Kali ini akan jadi perjalanan terlama saya. Hanya sebulan. Iya, hanya sebulan. Tetapi ini akan jadi pertama kali untuk saya pergi ke Indonesia Timur tanp mengenal siapapun. Hanya sebuah kartu nama seseorang yang saya ambil ketika pameran yang menjadi harapan saya untuk menumpang tempat tinggal. Orang tua saya tampak cemas melihat anak perempuan bungsunya lagi-lagi mengepak barang-barang dan belum memberitahu akan pergi kemana dengan siapa.

"Aku ke flores,"
"Sama siapa?" tanya ayah saya.
"Ada teman nanti ketemu disana."
"Kamu nggak buka toko? Udah punya kewajiban malah keluyuran nggak jelas." kata Ayah saya kesal, mungkin semata-mata karena ia tahu sejak lama saya tak lagi bisa dilarang dan dia khawatir.  Khawatir anak perempuannya berjalan sendirian di Indonesia Timur yang dimatanya adalah tempat yang rawan penuh dengan orang kulit hitam berbadan besar.
"Puasa Pa, toko tutup nanti kalau buka toko makanan di razia terus dibakar orang lagi. Lagipula, aku mau liat kebun kopi, sekalian belajar kan." jelas saya.

Orang tua saya hanya menggelengkan kepala, sudah tau tiket saya sudah ditangan dan tidak ada  yang bisa membuat saya tinggal. Hari pertama puasa, saya sengaja menyempatkan sahur dan berbuka di rumah, lalu berangkat pada dini hari berikutnya menuju Flores. Sebulan. Sesungguhnya, saya benar-benar tidak tau saya mau kemana sebulan ini, saya membeli tiket pulang dari Labuan Bajo. Intinya dalam 29 hari, entah bagaimana caranya saya harus bisa tiba di Bajo.  Hanya sedikit titik wisata yang saya tandai walaupun orang-orang begitu semangat untuk pergi ke Pulau Komodo yang sedang naik daun. Saya hanya berpikir, dengan uang yang terbatas ini bagaimana saya bisa bertahan 29 hari, yang artinya 28 malam menginap. Saya harus segera mencari tempat menumpang!

Di Pesawat   
Garis Pantai Flores
Sepanjang perjalanan saya bertanya, "Untuk apa perjalanan kali ini?" Saya mulai merasa perjalanan ini terlalu panjang. Saya tiba-tiba merasa perjalanan ini konyol. Saya merasa seperti setengah sadar selama di pesawat, sempat terbangun dan melihat ke luar jendela, matahari sudah terbit, langit dan laut menjadi satu. Kesatuan yang membuat warna biru terang, hampir seperti bermimpi. Tujuan pertama saya tidak langsung ke kebun kopi, saya ingin menuju Kelimutu. Gunung yang kata seorang teman saya....magis.

Di Bandara Ende, saya dipesankan oleh seorang ibu untuk langsung berjalan keluar Bandara dan belok kanan. Dari sana saya bisa naik angkutan umum lalu berhenti di sebuah pusat travel, tempat orang-orang menunggu angkutan umum ke Moni. Moni, desa terakhir di kaki gunung kelimutu (yang ternyata bukan desa terakhir!). Ibu itu tampak cemas melihat saya yang sendirian membawa tas besar dan tidak pernah menginjakan kaki di Flores. Ia sempat bilang, "Orang disini baik-baik, kalau niat kamu dijalan baik, Tuhan pasti berikan orang-orang baik untuk bantu kamu. Jangan takut." pesannya.

Perjalanan menuju Moni.
Hanya ada tiga penumpang di Mobil APV berwarna ungu sore itu. Mobil angkutan umum yang mengangkut kami menuju Moni. Katanya saya akan jadi penumpang pertama yang turun, sisanya akan turun diperjalanan menuju Maumere. Perjalanan menuju Moni dipenuhi kelok dengan pemandangan sisi kanan dan kiri gunung-gunung hijau. Saya heran kenapa Flores tidak sebagaimana gambaran di kepala saya, Flores yang gersang dan tandus. Tidak. Daerah Ende ternyata sama halnya seperti daerah Garut, rasanya masih sangat familiar, seperti saya tidak pergi jauh.

Seorang penumpang wanita berusia paruh baya duduk di sebelah saya, ia masih mengenakan seragam dinas pemerintah daerah. Kebanyakan dari mereka bertanya pada saya kenapa saya sendirian. Kenapa tidak ajak teman. Kenapa memilih Flores. Saya hanya tersenyum kecil dan bilang, "Susah bu ajak teman, nggak ada yang mau diajak jalan lama dan susah begini. Uang saya kan terbatas tidak bisa menginap ditempat mewah. Kalau bisa menumpang saya akan menumpang saja.".  Kemudian kenapa Flores, setelah pemikiran panjang, saya menemukan jawabannya, karena Flores punya dua hal yang saya cintai : Laut Indah dan Kopi. Supir angkutan juga ikut nimbrung dalam pembicaraan saya dan si ibu di dalam mobil. Ia mendengar saya berbicara tentang kopi. Saya cukup takjub karena tidak seperti di Jawa Barat yang juga penghasil kopi, orang di Flores yang tinggal jauh dari kebun cukup tahu banyak tentang wilayah kopi dan ritual kopi (menggoreng dan minum bersama).  Si Ibu bercerita tentang teknik menggoreng kopi yang harus benar dan juga pohon kopi pendek berbuah kecil-kecil yang katanya paling nikmat. Menarik bagaimana orang-orang ini mengenal kopi. Kemudian saya mengetahui, di Flores, kopi lebih dari sekedar komoditas, kopi merupakan warisan nenek moyang dan budaya, terutama di wilayah Manggarai Timur.
"Terminal" Menuju Moni

Setelah tiba di Moni, Saya menginap di hotel dengan rate delapan puluh ribu rupiah. Bagi saya itu adalah batas maksimal saya mengeluarkan uang untuk penginapan. "Besok saya harus bisa menumpang." tekad saya. Bukannya saya tidak ada uang, tetapi saya punya seorang anak bernama 'Renjana' yang terus menerus harus diberi makan. Renjana, sebuah kedai kopi kecil dipinggiran Jakarta. Ini saja sepertinya sudah sangat egois, untuk pergi sebulan lamanya dan menutup kedai itu. Jadi saya berusaha menyimpan sekecil apapun uang yang bisa saya simpan.

Persis di sebelah hotel saya menginap, Sedang ada tradisi "Minum Air Panas". Si pemilik hotel ragu-ragu menerima saya sebagai tamu, mengingat akan sangat bising hingga esok pagi. Setelah menawar dengan harga dibawah pasaran dan saya bisa menggunakan airpanas di lantai atas, saya menerima kondisi bising itu untuk harga delapan puluh ribu rupiah. "Minum Air Panas" adalah tradisi yang dilakukan saat seseorang akan menikah, mereka merayakan pesta untuk mengumpulkan dana bagi sang mempelai membeli mahar.

Setelah meletakan barang-barang, saya menyebrang ke restoran kecil di seberang hotel. Tujuan saya, mencari tumpangan ke kaki kelimutu besok pagi. Saya tidak melihat ada turis Indonesia lainnya, hal yang lumrah saya temui saat perjalanan di Bulan Puasa. Saya melihat beberapa turis luar negeri yang juga sedang merencanakan trekking esok pagi. Rasanya enggan menghampiri mereka lalu langsung menumpang. Cap "orang Indonesia miskin" langsung terbayang di kepala saya. Saya menunggu hingga dua jam lamanya. Selama dua jam itu, saya hanya memesan satu gelas air panas dan satu gelas teh manis di restoran itu. Satu gelas air panas yang kemudian saya gunakan untuk menyeduh kopi yang saya bawa dari Jakarta. Saat hari mulai malam, saya mulai mendekati seorang bapak-bapak yang terlihat seperti supir yang disewa turis. Setelah berbasa-basi, akhirnya si bapak menjanjikan bahwa dia akan memberikan saya tumpangan besok pagi.  Ada dua turis Spanyol yang akan trekking di Kelimutu besok pagi. "Ade tunggu di depan hotel ini jam 3 pagi ya, tetapi coba saya tanya dulu sama mereka mau atau tidak." kata si bapak.

Malam itu saya tidak bisa tidur sama sekali. Suara musik dengan dentuman sangat keras berbunyi dari luar kamar. Budaya orang timur yang suka "berpesta" langsung terngiang di kepala saya. Hingga pukul tiga tiba, saya pun mengunyah apel (yang diberikan pemilik hotel sebagai ganti sarapan) dan roti lokal yang saya beli kemarin sore saat berbuka puasa. Kombinasi sahur dengan makanan yang hambar, dan bau lembab kamar di Desa Moni. "Tuhan, apa yang sedang saya lakukan sekarang?" keluh saya dalam hati. Saya membayangkan makanan hangat dan enak yang biasanya tersaji di rumah saat bulan puasa.

Pagi itu, saya berhasil menuju kaki gunung kelimutu bersama sepasang turis yang sedang berbulan madu di Flores. Awalnya mereka sempat bingung kenapa saya ikut dalam mobil mereka, namun setelah agak lama saya baru sadar, mereka mengira saya guide lokal! lalu saya jelaskan bahwa saya sama dengan mereka, turis, tetapi sedang menulis tentang kopi. Sebuah identitas yang saya bawa selama perjalanan di Flores adalah penulis. Terlalu rumit menjelaskan cerita panjang tentang angel investor, kedai mungil, dan titel spesialis asuransi yang saya buang, kepada orang yang baru saya kenal. Entah akan berapa ratus orang lagi yang akan bertanya tentang "Kenapa saya sendirian?". Di awal perjalanan ini, saya masih suka membicarakan tentang diri saya, yang kemudian saya pahami di perjalanan ini, lama-lama saya benci bicara terlalu banyak tentang diri sendiri, saya ingin lebih banyak mendengar.     
Sepasang Turis Spanyol yang Saya tumpangi mobilnya (Maaf saya lupa mencatat siapa namanya :( )
Jalur menuju puncak kelimutu tidak terlalu rumit. Banyak pendaki yang sama-sama sedang bersiap menuju puncak kelimutu. Sepanjang perjalan mendaki, saya sedikit bercerita tentang Indonesia pada sepasang orang yang sudah membantu saya. Saya bercerita dengan kebanggaan yang kosong tentang Indonesia. Saya bangga dengan alamnya, tetapi tidak pada pemerintahnya yang korup. Kabut dingin dan gelapnya dini hari tidak menyurutkan semangat saya untuk menikmati alam flores di malam pertama saya disana. Langit Indonesia timur memang terbaik, bintang bertaburan di atas kepala saya. Ini akan jadi sahur dengan pemandangan terindah seumur hidup saya.

Di puncak kelimutu, sudah ada beberapa pedagang yang menjajakan kopi panas dan mie instan gelas. Saat itu sudah masuk jam puasa, sehingga saya tidak menikmati kopi hangat di tepi kawah kelimutu. Suhu dingin yang menggigit kulit tidak bisa lagi saya akali, saya berdiri kaku diatas tugu menunggu fajar tiba. Di sebelah saya ada sepasang turis asing yang sedang duduk sembari berpelukan. "Aih, irinya hati ini.". Iseng-iseng mengobrol dengan mereka (Mungkin niat saya hanya mengganggu mereka!) ternyata mereka sudah setahun mengajar di salah satu SD di wilayah terpencil di Sulawasi Tenggara. Mereka ingin berjalan-jalan keliling Indonesia sebelum harus kembali ke Amerika. Wow!
Sepasang Turis Yang Berpelukan

Benar kata teman saya, kelimutu memang mistis. Indah tetapi mistis. Ini adalah gunung dengan pemandangan matahari terbaik yang pernah saya lihat. Danau berwarna hijau kebiruan, semburat jingga keemasan, kerlap-kerlip bintang yang mulai pudar, dan awan-awan yang membentuk tekstur bergumpal berwarna merah muda. Sudah banyak tulisan mengenai warna-warna danau kelimutu, tentang kemana arwah akan pergi saat meninggalkan jasadnya. Orang lokal percaya bahwa mereka pergi ke Danau di gunung kelimutu ini. Seorang pria lokal yang bekerja sebagai pemandu disana, mengajak saya bercerita tentang ritual yang dilakukan orang setempat di sekitar Gunung Kelimutu. Saya sempat melihat area bebatuan yang ditandai sebagai tempat berdoa. Rupanya itu adalah tempat masyarakat lokal meletakan sesajen untuk para penghuni Danau. Adapun kepercayaan masyarakat lokal begitu tinggi pada warna-warna yang ada di Danau. Bagi orang lokal, perubahan warna danau bisa jadi suatu pertanda ada adat yang dilanggar atau tanda bencana alam. Pagi hari itu, pria itu sempat sedikit bercerita tentang kopi yang ada di lereng gunung kelimutu. Ia bilang orang tak lagi mengurus kopi, harganya tak seberapa dibandingkan kemiri atau bekerja di sektor pariwisata.


Saya mempertimbangkan untuk berkeliling di lereng Gunung Kelimutu, tetapi dengan keterbatasan uang dan hal yang saya tau, di tempat pariwisata seperti ini, orang sering kali menjual bantuan. Saya pun mengurungkan niat, dan siang itu pergi menuju kembali ke kota Ende. Sebuah keputusan yang saya sesali keesokannya. Kenapa pula saya terburu-buru. Seperti ada catatan panjang yang harus saya kunjungi. Harusnya saya lebih lama tinggal di Moni... saya bahkan belum sempat berendam air panas di kaki gunung kelimutu! Ah, memang pejalan kere!

A little touched by god: Terkadang kita tidak mengetahui kenapa kita berada dalam suatu perjalanan, tidak tahu kenapa hingga di akhir perjalanan, atau bahkan beberapa hari dan bulan kemudian... Hingga suatu saat kita tahu bahwa kita tidak mungkin mengambil sebuah keputusan besar tanpa melewati perjalanan itu.          

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 2)