Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2017

23 Hari Flores (2)

Gambar
Sekarang saya baru menyesal, kenapa waktu lalu tidak benar-benar menulis segala perasaan dan pengalaman yang terjadi saat aku menjalani perjalanan ini. Bukan masalah jadwal perjalanan yang berurutan, tetapi saya benar-benar hampir melupakan nama orang-orang penting dan nama lokasi peristiwa-peristiwa kecil yang menyenangkan terjadi. Namun, maafkanlah saya yang malas menulis kemarin dulu, mungkin kala itu aku terlalu terlena dengan segala yang ada lalu terlupa saya perlu mengingat-ingat hal ini di masa sekarang.

Kota Ende 
Om Robert pemilik penginapan di Desa Moni, menghampiri saya dengan berlari kecil dari kebun di belakangan penginapannya. "Eh, sudah mau berangkat kah?" tanya nya. Saya jawab, saya ada janji bertemu dengan seseorang di Kota Ende, walaupun sebenarnya janji saya masih esok hari. Ia secara singkat meminta maaf atas kebisingan semalam dan menyambut sedikit uang, biaya saya menginap. Om Robert menjelaskan kepada saya, seandainya saya tinggal lebih lama, ia ingin m…

Mengerikan

23 Hari Flores (1)

Gambar
Sore itu, saya mengepak baju dan barang-barang yang saya perlukan. Kali ini akan jadi perjalanan terlama saya. Hanya sebulan. Iya, hanya sebulan. Tetapi ini akan jadi pertama kali untuk saya pergi ke Indonesia Timur tanp mengenal siapapun. Hanya sebuah kartu nama seseorang yang saya ambil ketika pameran yang menjadi harapan saya untuk menumpang tempat tinggal. Orang tua saya tampak cemas melihat anak perempuan bungsunya lagi-lagi mengepak barang-barang dan belum memberitahu akan pergi kemana dengan siapa.

"Aku ke flores,"
"Sama siapa?" tanya ayah saya.
"Ada teman nanti ketemu disana."
"Kamu nggak buka toko? Udah punya kewajiban malah keluyuran nggak jelas." kata Ayah saya kesal, mungkin semata-mata karena ia tahu sejak lama saya tak lagi bisa dilarang dan dia khawatir.  Khawatir anak perempuannya berjalan sendirian di Indonesia Timur yang dimatanya adalah tempat yang rawan penuh dengan orang kulit hitam berbadan besar.
"Puasa Pa, toko tutup…

Diantara

Lama kelamaan, aku jadi benci melihat bangunan ini.
Dengan hiruk pikuk dan orang yang terkadang berlarian mengejar pesawat yang hendak lepas landas.
Suatu tempat aku harus memilah segala perasaan yang berada ditengah-tengah.
Sama halnya dengan bangunan angkuh yang dipenuhi kaca besar ini.
Sebuah titik tengah, pertemuan kedatangan dan kepergian.


Bandar Udara seharusnya dinobatkan jadi tempat terromantis sepanjang masa.
Buktinya, begitu banyak sajak-sajak pendek cinta lahir dari tempat ini.
Ribuan ucapan cinta dan peluk rindu menguar disetiap sudutnya.
Tidak lupa, segala harapan dan doa turut mengalir dari orang di dalamnya,
Orang yang hendak pergi, ataupun yang mengantar.

Namun, setelah rasanya sejuta kali datang kesini,
Aku mulai benci menapakan kaki didalamnya.
Sendirian dengan segudang urusan yang menolak untuk diselesaikan.
Tidak peduli kalau aku harus pergi dan tak punya cukup waktu.
Memaksaku untuk membungkus urusan itu dalam sebuah kotak di sudut hati,
Menguncinya kuat-kuat hing…