Ritual Puasa (?)

Source: Freepik
Bulan Ramadhan akan segera usai dalam beberapa hari. Sudah beberapa kali Ramadhan, saya tidak menjalani Bulan Ramadhan di rumah. Sibuk bekerja atau berkelana ke beberapa daerah memanfaatkan waktu-waktu minim turis. Dari dulu memang saya bukan penggemar besar keramaian. Namun ternyata, tahun ini saya mendapatkan sebuah insight dari menjalani Puasa di luar Pulau Jawa. Sebagian besar puasa saya jalani di Tanah Papua, walaupun warung-warung makan tutup karena pemiliknya adalah orang Makassar atau Jawa, tetap saja suasana Puasa tidak kentara.


Untuk sekedar informasi, belakangan saya selalu mempertanyakan tentang hal-hal terkait dosa dan pahala. Tentang bagaimana dulu, saya adalah seorang manusia kikir beragama. Teringat tokoh "The Businessman" dalam buku Little Prince  yang mengumpulkan bintang-bintang dan menghitung ulang, terus menerus, for the sake of 'mengumpulkan'. Orang bilang, Bulan Ramadhan adalah saatnya kita mengumpulkan Pahala sebanyak-banyaknya, karena ini adalah bulan penuh berkah dan belum tentu, tahun depan kita akan kembali bertemu bulan ini untuk meluruhkan dosa-dosa. Ah, tidak ubah nya the Businessman  dalam buku fiksi itu. Jadi saya mencoba mengesampingkan masalah hitung-menghitung pahala dan dosa di Bulan Puasa ini. Yah, sebenarnya ada lagi sih argumen lainnya kenapa saya berpikir demikian, tetapi sepertinya tidak cukup tepat dituliskan dalam unggahan kali ini.

Jadi ketika saya mengesampingkan itung-itungan dosa dan pahala, ternyata kehadiran orang lain yang berpuasa dan ritual sahur dan buka bersama sangat berpengaruh pada motivasi saya menjalani puasa. Baiklah, saya akui memang ini cukup liberal dan jauh dari idealisme Keagamaan dan Tuhan yang menjunjung tinggi keikhalasan menjalani ritual agama untuk mencari Ridha YME. Mau bagaimana lagi, saya hanya manusia fana yang terlalu berpikiran pendek untuk mencari tau bentuk Ridha YME.Namun faktanya, ternyata faktor kebersamaan lebih kuat memotivasi saya menjalani puasa dibandingkan iming-iming pahala dikemudian hari yang akan saya dapatkan.

Ketika saya terbangun di waktu sahur, membuka bungkus nasi dan terlalu malas menghangatkan isinya, sambil memandangi lemari baju, saya menjalani sahur saya dengan sedikit sekali selera makan. Waktu jadi terasa panjang, dan saat berbuka puasa rasanya hanya jadi menghilangkan haus dan lapar. Sungguh suatu sudut pandang sangat berpengaruh pada motivasi kita melakukan sesuatu. Saya menonton sebuah unggahan video seorang muslim yang sanggup berpuasa hingga 21 jam di Eropa, wahh bagi saya itu sungguh menakjubkan. Saya bisa  melihat bagaimana keyakinan yang kuat dapat mengubah sebuah sudut pandang dan menghasilkan motivasi beribadah yang tinggi. Walaupun, di waktu yang bersamaan saya cukup mempertanyakan implikasi dehidrasi (mengingat situasi musim panas yang kering) pada kesehatan kita saat berpuasa di jam yang sangat panjang.

Pertanyaan saya pagi ini, lebih ke pertanyaan pada diri sendiri sih, Kenapa saya menjalani puasa? Jawaban 'Untuk bisa berempati kepada yang kelaparan.' sudah terlalu usang bagi saya, saya meyakini empati tidak bisa dibentuk dari rasa penderitaan yang dibuat-buat (Ayolah, akui saja, berapa kali kita menengok jam saat berpuasa? dan pada jam berbuka puasa kita sudah mengira-ngira untuk membeli ini dan itu? Darimana kita bisa berempati pada ketidakadaan pilihan pada si Lapar?).  Jika saya mengurangi faktor keilahian dan memikirkan alasan saya berpuasa, saya berujung pada dua alasan:

Pertama, Puasa adalah bentuk usaha untuk menjadi bagian dari komunitas, sebuah usaha konformitas. Dengan melakukannya, saya merasa berhak untuk merayakannya di Hari Idul Fitri nanti dan berhak atas sebuah identitas suatu golongan agama.

Kedua, saya masih meyakini, pada suatu tahap tertentu, Puasa memberikan dampak yang sangat positif pada kesehatan tubuh. Anggap sajalah tubuh ini adalah mesin yang perlu diberi waktu istirahat dan dibersihkan dari sisa-sisa racun dari makanan dan minuman yang kita makan. Setelah beberapa hari berpuasa, saya merasa tubuh jadi lebih ringan dan saya jadi lebih fokus berpikir.

Jikalau, ada orang-orang yang melintas blog ini dan merasa saya telah membawa orang lain ke dalam kesesatan (cieelah), maka yakinilah: 

Lakum Dinukum Waliyadin. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Kuliah, Year One. "HIDUP MAHASISWA!"