Reading Points : Why We Lie, National Geographic (June 2017)

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat unggahan akun @natgeo di Instagram tentang edisi yang akan terbit di bulan juni ini. Sebuah edisi yang akan mengupas tentang "Kenapa Manusia Berbohong?". Bagi saya, topik ini sangat menarik (coba tengok tulisan saya tentang Truth). Jadi, saat kemarin malam saya berhenti sejenak di toko buku bandara dan melihat edisi ini sudah terbit, saya segera membeli National Geographic Edisi Juni 2017 dengan Cover yang cukup provokatif  bertuliskan kalimat tebal 'Why We Lie?'.

Photograph by @eky_w (Instagram)

Sebagai manusia yang hidup dengan nilai-nilai etis dan moral, tentunya kita bisa menilai bahwa kebohongan adalah sebuah cacat perilaku. Namun, ada masanya kita melonggarkan prinsip hidup kita itu karena hal-hal tertentu bukan? Ada yang orang bilang sebagai 'White Lie' kebohongan untuk kebaikan. Namun terkadang ada juga kebohongan-kebohongan kecil yang menurut kita tidak berdampak apa-apa hanya karena kita ingin menghindari percakapan yang terlalu panjang. Lalu kenapa pada titik tertentu, kita memilih untuk jujur dibandingkan berbohong? Lalu kenapa juga kita mengenal orang-orang yang bisa berbohong tanpa merasa bersalah?

Dalam edisi ini, Natgeo membahas banyak hal tentang Hubungan Manusia dan Kebohongan dari berbagai sudut pandang penelitian dan percobaan. So, here's some of my reading points: 

1. To Lie is Human 
Pada kenyataannya, keahlian berbohong adalah bagian dari bertumbuhnya kemampuan berpikir kita sebagai manusia. Percobaan pada  anak-anak mengungkapkan, kemampuan berbohong anak-anak bertambah seiring dengan pertumbuhan kemampuan kognitif. Menunjukan anak-anak yang semakin memahami bagaimana melihat dari sudut pandang orang lain. Secara alamiah, manusia berbohong merupakan bagian dari evolusi untuk mempertahankan resources atau keunggulan atas manusia lain. Sama halnya dalam Kingdom Animalia yang menggunakan kemampuan menyamar untuk bertahan hidup. So, To lie is human! 

2. Why don't we lie more? 
Jika, berbohong adalah suatu hal yang naluriah, kenapa seseorang memutuskan untuk berlaku jujur pada suatu titik? why don't we lie more? Dan Ariely, seorang psikolog Duke University melakukan experimen untuk mengetahui kenapa pada suatu titik, walaupun insentif material dari melakukan kebohongan meningkat, manusia memutuskan untuk tidak berbohong. Ariel menemukan bahwa pada kenyataannya, sebagai manusia, kita ingin melihat diri kita sendiri sebagai sosok yang jujur sebagaimana yang diajarkan dan ditanamkan oleh masyarakat sebagai nilai yang baik. Nilai moral yang dianut oleh masing-masing pribadi kita lah yang membuat sebuah batas bagi kita untuk tidak berbohong. Sebagaimana teori Imperial Spectator  atau dalam buku-buku agama yang kita yakini, walaupun tidak ada orang lain yang menilai dan melihat, tetapi ada sosok dari dalam diri kita sendiri (atau Tuhan yang kita yakini)  yang melihat apa yang kita lakukan adalah salah dan menghentikan kita melakukan hal tersebut.           

3. Habitual Liar. 
Yaling Yang, seorang psikologi, menemukan bahwa orang yang sering berbohong memiliki 20% Volume Neural Fibers yang lebih banyak dibandingkan orang yang jarang berbohong. Hal ini menunjukan orang yang sering berbohong memiliki tingkat keterhubungan jaringan otak yang lebih tinggi yang membuat mereka lebih siap mengatur cerita jauh lebih baik dibandingkan orang yang jarang berbohong. Ketika berbohong menjadi sebuah kebiasaan (habit), ternyata hal ini juga memperlemah bagian otak yang bernama amygdala (Penelitian oleh Tali Sharot di Universitas College London). Amygdala dalam otak berfungsi untuk memproses segala hal yang berhubungan dengan emosi. Dengan kata lain, seseorang yang terbiasa berbohong akan memiliki respons terhadap emosi semakin menurun, dan memungkinkan orang itu untuk melakukan kebohongan yang lebih besar lagi. Jika kita tidak ingin menjadi "Manusia tanpa Emosi" ada baiknya kita menghindari kebohongan-kebohongan kecil yang ternyata mengasah kemampuan otak kita untuk tidak memiliki emosi.

4. People are not expecting lies. 
Dulu saat saya menyusun karya akhir saya, saya diingatkan untuk tidak bias dalam memilih rujukan dan harus memperhatikan hasil-hasil penelitian lain yang bertentangan dengan apa yang saya temukan dalam penelitian saya (counter journal). Pada kenyataannya, saya sering kali melewati jurnal-jurnal penelitian yang bertentangan, dan lebih banyak membaca jurnal yang mendukung penelitian saya.  Nah, ternyata dari hasil membaca artikel ini, sebuah studi oleh Swire-Thompson menunjukan bahwa orang-orang mempercayai informasi yang familiar sebagai kebenaran, baik informasi itu adalah kebohongan atau kebenaran. Hal ini lah yang memungkinkan kita semakin lemah mengetahui kebohongan. Ya, gampangnya, karena pada dasarnya kita hanya ingin mendengar apa yang kita mau dengar. Kita hanya ingin mempercayai apa yang kita ingin percayai.

---
Nah kurang lebih itulah yang bisa saya intisarikan dari Artikel "Why We Lie" oleh Yudhijit Bhattacharjee pada edisi National Geographic Juni 2017. Walaupun latar belakang pendidikan saya adalah keuangan, saya seringkali tertarik pada topik-topik terkait psikologi. Bagi saya, psikologi manusia adalah suatu topik yang tidak berdasar untuk digali lebih dalam. Bahkan jika saya pikir-pikir, sudah sejak lama, teori psikologi bersanding dengan teori keungan dalam perilaku ekonomi dan behavioural finance. Edisi National Geographic ini cukup banyak menjawab pertanyaan saya mengenai Kebohongan dari segi penelitian. Jika, kamu kebetulan ke toko buku dalam bulan-bulan ini dan menemukan edisi National Geographic ini, segera ambil satu dari rak buku dan bawa pulang! You wont regret it, there are other interesting stories too!

NB: oh iya sebenarnya saya tidak pernah menulis intisari / ringkasan tentang artikel atau buku yang saya baca, jadi saya mohon maaf jika tulisan blog ini cukup 'amburadul' or pretty mess up  untuk dibaca. Ini pun saya sedang belajar menulis lebih baik setelah sekian tahun vakum menulis, cheers!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 2)