Tentang Dia

Tentang Dia.

Dia tampak tak banyak bicara, sesekali melempar lelucon tidak lucu dan tertawa sendiri. Orang aneh pikirku. Kami saling berbalas pesan. Ia mengirimiku potongan-potongan lagu dari band indie yang asing ditelinga. Aku tidak pernah menjadi pendengar musik yang setia. Dari lirik lagu itu, ia menjadi bagian dari kehidupan ku yang belum seberapa lama ini. Dia ada di tempat yang jauh. Awal-awal yang tak peduli mulai tergantikan perasaan senang akan perhatian berlebih saat ia berada lebih dekat. Ia yang lebih sering tidur di rumah ku daripada dirumahnya saat kembali dari kerja di tempat yang jauh. Ia yang mencoba memberikan buket bunga, walaupun aku tak pernah bilang suka bunga, dan kemudian tau bahwa aku lebih suka bunga lili dibandingkan mawar. Ia yang selalu membangunkan ku setiap pagi saat di rumah dan kemudian melanjutkan tidurnya sendiri saat mataku sudah tidak bisa lagi mengantuk. Ia yang sering terdiam mendengarku bercerita panjang lebar tentang filosofis aneh dan keinginan tak masuk akal. Ia yang lebih sering berbicara tentang Tuhan tetapi aku yang lebih sering pergi memujanya saat masuk lima waktu. Ia bilang aku hanya berpura-pura menjadi orang yang egois dan tidak peduli, tetapi jauh didalam sana, aku hanya anak bungsu manja yang berpura-pura kuat. Ia sudah membuatku lupa bagaimana hidup tanpa ada dia. Dia yang selalu ada, diam walaupun tak mengerti, dan kemudian selalu bilang, "Tidak apa-apa kamu aneh, aku suka."

Dia tampak terduduk mendengarku bicara. Aku selalu gugup berada didekatnya, Tidak bisa berpikir jernih dan merasa jadi orang paling tolol se-Dunia! Kenapa dia selalu bisa menjadi orang yang mengintimidasi. Aku memandangnya sebelah mata, sungguh tak tampak ada satu kebaikan dari perkataannya. Selalu berusaha mencari kesalahan orang lain. Kemudian, ia mulai berbicara dari sisi yang lain, memperlakukan ku seperti seorang yang sudah dewasa dan mengerti perkataannya satu persatu. Hey, sejak kapan kita berada pada usia yang sama? Ahh, ternyata Dia punya banyak rahasia. Lalu kemudian kami menyesap kopi dan ia membuka rahasia hidupnya satu persatu. Ia membawaku keluar dari kesedihan dan menertawakan hal-hal remeh yang aku pikirkan. Ia mengatakan bahwa hidup harusnya sederhana dan tak semestinya serumit dalam kepala ku. Dia memberikan ku sesuatu yang tidak pernah diberikan orang lain sebelumnya, dia memberi umpan pada otak yang sudah haus akan stimulus untuk berpikir. Bersamanya tidak pernah ada kata mundur, aku hanya akan terus belajar maju.

Lalu Dia...
Dia mengisi catatan-catatan sajak pada buku saku kecilku.
Source: Pinterest
Aku sering menunggunya untuk berbicara lebih dulu, lalu kemudian kehilangan kata-kata ku sendiri. Selalu menyenangkan duduk berdua dengan dirinya walaupun banyak waktu dihabiskan dengan terdiam, seperti seseorang yang memberimu waktu untuk bernapas dan jeda untuk menyesap dalam-dalam setiap kata. Dia menolak untuk menunjukan perasaannya pada dunia. Atau, baginya memang tak semua hal patut untuk dibicarakan. Ia mengajariku untuk memilah ucapan dan pikiran, jangan terlalu boros menggunakan kata-kata ucapnya. Ia yang terus menjadi kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah bisa kusimpulkan. Ia seringkali menatapku seolah-olah aku seorang anak kecil yang baru kehilangan boneka kesayangannya. Ia yang selalu merentangkan tangannya lebar-lebar saat aku merungut kesal pada hidup yang sepertinya tak pernah adil. Dia yang menjadi sebuah rumah, sebuah mercusuar arah untuk pulang. Dia selalu tersenyum kecil melihatku melakukan hal-hal aneh saat hidup terlalu datar, lalu sedikit menggelengkan kepala saat aku memutuskan melakukan hal tanpa pemikiran panjang. Ah, dan dia tak pernah mengeluh sedikitpun tentang hidupnya....Kalaupun dipikir, aku tak pernah tau banyak tentang hidupnya. Ia selalu bilang semua ada garisnya dan mengeluh tak menjadikan apapun berubah. Dia yang hanya jadi kemungkinan yang semakin kecil angka peruntungannya.Namun dari segala hal, Dia mengajarkan ku untuk bersabar. Karena, cinta tak pernah bisa diburu-buru waktu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!