Tua dan Dangkal

Usia terkadang menjadi hal yang mengerikan bagi sebagian besar orang. Ketika mencapai suatu usia tertentu, menyebut angka usia menjadi suatu hal yang tabu dan sensitif. Kenapa ya? Apakah orang-orang sebegitu takutnya dinilai dari usia? Apakah salah saya selalu menebak-nebak usia seseorang di saat pertama bertemu? Mungkin kepercayaan terbesar umat manusia tentang usia adalah usia menunjukan tingkat kematangan yang seharusnya. Sebuah takhayul. Setidaknya bagi saya.

Dulu sekali, seorang teman pernah melakukan penelitian kecil-kecilan di kampus saya. Mencari seorang sosok anak muda yang kita anggap "Dewasa". Dari hasil penelitian itu, seorang teman saya, yang kala itu berusia 19 tahun dinilai memiliki tingkat kedewasaan jauh dari usia biologisnya. Lalu masih percaya usia mencerminkan kedewasaan? Pada sebagian besar kasus iya, tetapi tidak untuk orang-orang yang senang berpikir. Mereka tidak menyianyiakan waktu sedikitpun untuk belajar dari kehidupan.
Source: Pinterest

Ada alasan kenapa saya menulis hal ini pada malam ini. Kejadian beberapa bulan terakhir membuat saya teringat kembali tentang makna "Kedewasaan" dan ada pula seseorang melakukan judgement kepada saya karena usia saya yang berjarak beberapa belas tahun. "Ya, kamu akan memiliki pemikiran yang sama saat kamu melewati usia 30 tahun."  ucapnya setelah kami berdiskusi alot tentang sebuah ide. Rasa kagum saya akan pola pikir ia yang sebelumnya langsung hilang terbang entah kemana karena sepenggal kalimat dangkal itu. "Ego orang tua" istilah saya untuk kasus ini. Setelah itu, saya memutuskan untuk terdiam dan bersumpah dalam hati bahwa saya tidak akan pernah lagi berdiskusi hal penting dengan orang ini. Percuma, jika seseorang memandang rendah cara berpikir mu hanya karena usia mu beberapa belas tahun dibawahnya.

Tergelitik dengan kasus ini, saya jadi ingat pertengkaran saya dengan orang tua saya.
Titik balik saya terjadi tahun lalu, ketika saya menyadari bahwa saya 'terpaksa' menjadi lebih dewasa menghadapi hidup ini. Mungkin memang benar adanya bahwa kita harus menempatkan diri pada sebuah titik maksimal ketidaknyamanan untuk mencapai akselerasi hidup. Akselerasi pembelajaran dari pengalaman.

Orang tua saya selalu bilang bahwa saya adalah anomali dan semestinya tidak dilahirkan di Indonesia. Karena bagi saya hidup penuh dengan banyak pertanyaan dan saya butuh jawaban, dari siapapun, for the sake of knowledge, that's all. Namun anak yang suka bertanya tentulah bukan anak paling terfavorit bagi keluarga di Indonesia. Saya paham itu. Dan karena itu, suatu hari saya memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik dan lebih banyak terdiam dalam pertengkaran bersama orang tua saya. Percuma, jika segala pendapat dikaitkan dengan kurangnya 'pengalaman dalam hidup karena usia yang belum seberapa.'

"Pengalaman adalah guru yang terbaik."

Dengan berlandaskan kalimat itu, orang-orang yang "berusia" itu mengasosiasikan dirinya setara dengan seorang filsuf atau sufi. Luar biasa. Saya kehilangan kata-kata saat bertemu dengan orang-orang seperti ini. Karena tidak ada kata-kata yang cukup kuat mematahkan argumen yang sudah melekat dikepala kita dari kecil itu. Lalu, kemudian orang-orang ini lupa, pengalaman...ah pengalaman...suatu kutipan yang sangat saya suka: 

"Masing-masing orang memiliki pertarungannya sendiri yang tidak kamu ketahui." - Anonym. 

Bukan masalah hidup berapa lama dan berapa banyak pengalaman, karena usia sering kali tidak mencerminkan pengalaman hidup seseorang melalui begitu banyak pertarungan. Pertarungan yang kita tidak pernah tau sejauh dan seberat apa. Mungkin jika seseorang sekarang menceritakan pemikirannya, dan ia baru berusia 20 tahun, bisa jadi ia mendapatkan pengalaman yang baru dialami orang lain diusia 30 atau 40 tahun. Merasa superioritas dengan usia adalah sebuah pilihan yang sangat tidak bijak, dan well..menunjukan betapa tidak dewasanya dan egonya kita merasa superior dengan sesuatu yang diberikan (given)? Janganlah kita menjadi tua tetapi dangkal, seperti sungai yang lama-lama mengering.

Seorang teman saya, saat itu ia baru berusia 20 tahun, menghadapi tantangan hidup yang luar biasa. Orang tuanya diambang perceraian, kuliahnya hampir gagal, ditengah krisis kepercayaann seorang pria baru saja menipunya dan sebuah kecelakaan kendaraan membuat ia harus menginap di rumah sakit sebulan lamanya. Lalu kami berdua terduduk di sebuah kedai kopi. Saya tidak tahu harus bicara apa, hanya melihat ia sedikit demi sedikit mengusap air matanya. Namun tidak sekalipun ia mengeluhkan hidupnya yang berantakan, baru sekali itu saya melihat orang yang benar-benar ikhlas. Sedangkan ada orang yang usianya hampir dua kali lipat saya, tetapi terus mengeluh tentang hidupnya, pekerjaannya, dan mengatakan hidupnya membosankan. 

Ah, sudahlah, saya jadi melantur kemana-mana. Padahal ya, pada intinya, saya hanya ingin bilang bahwa jangan pernah menilai orang dari usia nya. Saya yang belum mencapai 25 tahun, sering kali merasa kasihan dengan orang-orang yang kadang berusia jauh diatas hidup saya tetapi selalu mengeluhkan hidupnya dan masih terjebak dalam hedonist treadmill. Setidaknya, dari 25 tahun hidup saya yang belum ada apa-apanya ini, saya tidak mengeluhkan hidup saya "full of shits" or "Shit happens everyday.", saya masih sering mensyukuri hidup saya dan mengamini momen-momen sederhana yang..... membahagiakan. Saya mengakui kepada diri sendiri bahwa hidup saya bahagia tanpa perlu orang lain yang memberitahukan itu dan saya puas. Karena satu hal besar yang saya pelajari selama beberapa tahun terakhir, "everything will pass." maka itu belajar lah menjadi orang yang ikhlas. Sebuah opini tak berlandaskan ilmu pengetahuan, kedewasaan bisa diukur dari seberapa banyak seseorang mengikhlaskan dirinya dalam banyak aspek di hidupnya. Orang yang dewasa, biar bagaimanapun, akan selalu belajar untuk melepaskan hal yang...semestinya tak digenggam erat-erat.



 A little touched by god: 
Di suatu malam, saya mengetik cepat di layar handphone, 
"I need to tell you something. And it's important." 
"Yes?? What's that?" Said her.   
"Happiness is when you feel calm, self-content, being presence (until you can feel the wind sweeps into your smallest cell) and...time suddenly run slower." 
...
(Mungkin dititik ini teman saya sedang berpikir bahwa saya sudah gila) 
"It's a point where you feel... I can't describe more, but you will know when you feel it."


  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!