Banjir 'Cinta'

Menuju 25 tahun,
Unggahan sosial media mulai penuh dengan berbagai foto-foto pernikahan, kelahiran, dan sejenisnya. Terkadang saya hanya menatap foto-foto itu dengan sebuah perasaan, "Tidakkah ini semua terlalu cepat?". Kemudian saya juga teringat ibu saya yang sudah memiliki dua orang anak di usia nya yang ke - 27 tahun. Sedangkan beberapa hal yang paling banyak menghantui sudut-sudut pikiran saya adalah pekerjaan, perjalanan ke tempat asing, kopi, novel-novel tak terbaca, dan keingingan untuk menulis sebuah buku.

Singkat cerita, berkeluarga. Tema ini memborbardir di segala percakapan Whatsapp dan Timeline Instagram saya. Pernah suatu kali saya membuka "Search" di Instagram, dan 90% foto yang keluar adalah foto pasangan baru menikah, keluarga muda, perlengkapan pernikahan. Sungguh bagaimana dunia diarahkan oleh konformitas. Semudah meniup lilin ulang tahun. Saya tidak terpengaruh dengan bombardir ini, hanya saja saya harus menemukan syarat berkeluarga. Sebuah keluarga yang baik harus berlandaskan cinta bukan? Sebuah teori psikologi  'ter-robust' yang pernah ada, karya Robert Sternberg (1985) mengatakan bahwa:

 "cinta adalah triangulasi dari komitmen, intimasi, dan renjana."


 (Sumber: Pinterest)

 Saya mencari definisi cinta. Ibu saya suka bilang, "Laki-Laki mana yang tahan kamu tanya-tanya terus soal hal-hal begini?". Menjawab pertanyaan tentang cinta. Sebuah kebutuhan biologis, reaksi kimia dari tubuh manusia, dan .... sepotong nurani. Saya tidak terburu-buru mencari suami atau pasangan hidup saya. Saya harus lebih tau kenapa saya harus menikah dan berkeluarga. Seseorang harus bisa menjelaskan ini atau setidaknya memiliki pemikiran terarah tentang ini. Suatu hari, saya mengirimkan sebuah pesan kepada teman saya: 

"I think, I just think, I don't believe love exist anymore." 

Intimasi
Dengan setengah lusin pria-tak-siap-menikah yang mendekati saya selama enam bulan terakhir, sebuah algoritma seperti sudah terpatri dikepala saya. Sebuah model input-output. Saya benci saya melihat begitu banyak keinginan dibalik iming-iming kata "manis". Segalanya terprediksi dan membosankan. Dengan segala Dating Apps dan media sosial, orang-orang mulai menganggap semudah itu untuk mendapatkan pasangan. Orang menyalahartikan bahwa model dari Cinta hanya terdiri dari intimasi.  Dua orang saling menanyakan hal dan kemudian jatuh cinta karena terbiasa mendapatkan jawaban. Denting notifkasi handphone yang menjadi pemicu dopamine. Jika jatuh cinta semudah itu, cukup tanyakan 36 Pertanyaan ini yang telah terbukti mampu meningkatkan intimasi dalam waktu empat puluh lima menit. Intimasi itu mudah kawan, sungguh, tidak mahal harganya.    

Sebut saya seorang yang kolot, tetapi entah kemana "nilai kejujuran" berada pada sebagian besar laki-laki  masa kini. Saya benci cara-cara instan. Saya suka menatap mata orang lain saat bicara. jika bagi sebagian besar orang hal itu tidak nyaman, bagi saya melihat mata orang yang sedang saya ajak bicara seperti mendengar juga suara-suara dari hati kecil. Jeda, intonasi dan penekanan pada kata-kata saat diucapkan. Begitu banyak yang hilang dari pesan-pesan yang dikirim via telepon genggam. Dan, Oh, sungguh saya suka melihat orang lain tersenyum atau tertawa lepas saat berdiskusi.

Komitmen.
 Menemukan cinta, saya bukan hanya duduk diam dan menunggu. Saya pun ikut mencari. Hubungan antar manusia masih menjadi topik yang menarik untuk digali lebih dalam. Hanya saja, menemukan berbagai fakta bahwa pada kenyataannya laki-laki secara biologis adalah mahluk poligami namun membutuhkan perasaan 'memiliki' wanita, sedikit banyak membuahkan pertanyaan. Bagi saya secara biologis wanita tidak diuntungkan. Jika saya seorang wanita, mencintai lebih dari satu orang, maka hal itu akan jadi tidak masuk akal bagi seorang laki-laki.

Orang bilang saya menuju feminisme. Saya tidak suka laki-laki membicarakan organ vital wanita secara terbuka dan tidak senonoh di depan saya. Saya tidak suka wanita yang dipaksa menikah. Saya tidak suka mendengar kata-kata "wanita kadaluarsa".
Hal ini juga membawa saya pada sebuah pemikiran pantas kah laki-laki mendapatkan komitmen? Saya menemukan sebuah artikel menarik tentang sebuah perselingkuhan yang akhirnya diunggah oleh sebuah akun instastar, lalu kemudian dibaca, dikomentari ribuan wanita. Sebuah artikel berjudul, "Halo, selingkuhan suami saya."  .

Saya kembali berpikir, tidak ada yang salah dengan laki-laki yang berpoligami dan terus mencari wanita lain. Saya sudah banyak membaca jurnal dan penelitian tentang siklus seksual wanita dan laki-laki. Sungguh semuanya wajar. Hanya saja, kita wanita yang perlu tahu bahwa "Laki-Laki datang dari planet Mars, dimana komitmen selangka berlian afrika.". Jika ada laki-laki yang bisa menjaga komitmennya, yah maka selamat! kamu sudah menemukan berliannya! Karena berarti ia melawan keinginan alamiahnya.

Untuk saya pribadi, komitmen adalah barang fiktif . Seorang laki-laki yang pernah memohon izin pada orang tua saya untuk menikahi saya kemudian pergi tanpa kata-kata sudah cukup menjadi sebuah bukti untuk tidak berkomitmen hingga..... hingga saya menemukan ia memiliki 'cinta' dalam hatinya. Dan jika cinta tidak lagi ada... maka hanya tinggal intimasi, lalu renjana.

Renjana
Membuncah-buncah. Sarat dengan kenangan dan napas yang tertahan. Seperti memiliki ratusan kupu-kupu yang berterbangan dalam perut. Arousing. 
Dan...saya menemukannya lagi. Meskipun itu bukan cinta.

"The man that put butterflies in my tummy."

A little touched by god: Cinta, Cinta, Cinta. Jika Cinta semudah itu, maka tak perlu berbelit-belit menyatakannya bukan?

    



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!