Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Menjadi, Menjadi

Gambar
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Bagi saya, yang hidupnya melompat-lompat bak mengendarai sebuah roller coaster, rasanya hampir sepertu lupa untuk bernafas. Tidak terasa, tahun ini saya sudah melewati seperempat abad hidup di dunia ini. Tuhan masih berbaik hati membiarkan saya berkeliaran di muka bumi ini dan menikmati segala suka dan dukanya.

Setahun terakhir...
Tepat satu tahun yang lalu di bulan ini, saya mengumumkan kepada kru kedai saya bahwa saya akan pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah program pembangunan masyarakat desa. Sebuah pengalaman yang akan saya tukar dengan jerih payah membangun koneksi dan usaha di dunia kopi selama setahun terakhir. Saya tahu betul Renjana tidak siap untuk ditinggal ketika baru sedang ingin mulai berdiri. Alasan saya mengambil pekerjaan ini saat itu hanya satu: saya ingin lebih dekat dengan dunia hulu, belajar, dan dibayar!. Selama setahun di dunia kopi saya merasa ada jurang bergitu besar antara hilir dan hulu industri kopi. Entahlah, naluri …

Semerawut

Gambar
Berulang kali yang menghapus kalimat yang sudah saya ketik malam ini.
Sebuah bukti seberapa semerawut hal-hal yang ada dikepala saya sekarang.
Belakangan saya mengigau dalam tidur, dua malam lalu saya terbangun ditengah malam dengan mata sembab.  Saya menangis dalam tidur, sebuah mimpi buruk menghampiri saya malam itu.
Potongan-potongan berbagai hal bermunculan dalam kepala saya.
Hingga saat ini, saya masih merasa butuh sendirian.
Saya butuh mendengarkan telapak kaki saya sendiri saat mendaki bukit, atau bunyi detak jantung saat menyelam di tengah lautan.
Saya lelah berbicara pada manusia.
Saya ingin lebih banyak menulis.
Namun, entah kenapa seperti tidak ada waktu.
Seperti saya melewatkan kesempatan-kesempatan emas untuk menuliskan hal-hal yang patut untuk ditulis dan diceritakan pada orang lain.
Kembali saya memandang kosong jendela pesawat pagi ini.
Apakah saya harus kembali mengepak barang-barang dan berjalan tanpa batas waktu?
Ide ini kembali berputar-putar di kepala saya.
Bagaim…

23 Hari Flores (2)

Gambar
Sekarang saya baru menyesal, kenapa waktu lalu tidak benar-benar menulis segala perasaan dan pengalaman yang terjadi saat aku menjalani perjalanan ini. Bukan masalah jadwal perjalanan yang berurutan, tetapi saya benar-benar hampir melupakan nama orang-orang penting dan nama lokasi peristiwa-peristiwa kecil yang menyenangkan terjadi. Namun, maafkanlah saya yang malas menulis kemarin dulu, mungkin kala itu aku terlalu terlena dengan segala yang ada lalu terlupa saya perlu mengingat-ingat hal ini di masa sekarang.

Kota Ende 
Om Robert pemilik penginapan di Desa Moni, menghampiri saya dengan berlari kecil dari kebun di belakangan penginapannya. "Eh, sudah mau berangkat kah?" tanya nya. Saya jawab, saya ada janji bertemu dengan seseorang di Kota Ende, walaupun sebenarnya janji saya masih esok hari. Ia secara singkat meminta maaf atas kebisingan semalam dan menyambut sedikit uang, biaya saya menginap. Om Robert menjelaskan kepada saya, seandainya saya tinggal lebih lama, ia ingin m…

Mengerikan

23 Hari Flores (1)

Gambar
Sore itu, saya mengepak baju dan barang-barang yang saya perlukan. Kali ini akan jadi perjalanan terlama saya. Hanya sebulan. Iya, hanya sebulan. Tetapi ini akan jadi pertama kali untuk saya pergi ke Indonesia Timur tanp mengenal siapapun. Hanya sebuah kartu nama seseorang yang saya ambil ketika pameran yang menjadi harapan saya untuk menumpang tempat tinggal. Orang tua saya tampak cemas melihat anak perempuan bungsunya lagi-lagi mengepak barang-barang dan belum memberitahu akan pergi kemana dengan siapa.

"Aku ke flores,"
"Sama siapa?" tanya ayah saya.
"Ada teman nanti ketemu disana."
"Kamu nggak buka toko? Udah punya kewajiban malah keluyuran nggak jelas." kata Ayah saya kesal, mungkin semata-mata karena ia tahu sejak lama saya tak lagi bisa dilarang dan dia khawatir.  Khawatir anak perempuannya berjalan sendirian di Indonesia Timur yang dimatanya adalah tempat yang rawan penuh dengan orang kulit hitam berbadan besar.
"Puasa Pa, toko tutup…

Diantara

Lama kelamaan, aku jadi benci melihat bangunan ini.
Dengan hiruk pikuk dan orang yang terkadang berlarian mengejar pesawat yang hendak lepas landas.
Suatu tempat aku harus memilah segala perasaan yang berada ditengah-tengah.
Sama halnya dengan bangunan angkuh yang dipenuhi kaca besar ini.
Sebuah titik tengah, pertemuan kedatangan dan kepergian.


Bandar Udara seharusnya dinobatkan jadi tempat terromantis sepanjang masa.
Buktinya, begitu banyak sajak-sajak pendek cinta lahir dari tempat ini.
Ribuan ucapan cinta dan peluk rindu menguar disetiap sudutnya.
Tidak lupa, segala harapan dan doa turut mengalir dari orang di dalamnya,
Orang yang hendak pergi, ataupun yang mengantar.

Namun, setelah rasanya sejuta kali datang kesini,
Aku mulai benci menapakan kaki didalamnya.
Sendirian dengan segudang urusan yang menolak untuk diselesaikan.
Tidak peduli kalau aku harus pergi dan tak punya cukup waktu.
Memaksaku untuk membungkus urusan itu dalam sebuah kotak di sudut hati,
Menguncinya kuat-kuat hing…

Ritual Puasa (?)

Gambar
Bulan Ramadhan akan segera usai dalam beberapa hari. Sudah beberapa kali Ramadhan, saya tidak menjalani Bulan Ramadhan di rumah. Sibuk bekerja atau berkelana ke beberapa daerah memanfaatkan waktu-waktu minim turis. Dari dulu memang saya bukan penggemar besar keramaian. Namun ternyata, tahun ini saya mendapatkan sebuah insight dari menjalani Puasa di luar Pulau Jawa. Sebagian besar puasa saya jalani di Tanah Papua, walaupun warung-warung makan tutup karena pemiliknya adalah orang Makassar atau Jawa, tetap saja suasana Puasa tidak kentara.


Untuk sekedar informasi, belakangan saya selalu mempertanyakan tentang hal-hal terkait dosa dan pahala. Tentang bagaimana dulu, saya adalah seorang manusia kikir beragama. Teringat tokoh "The Businessman" dalam buku Little Prince  yang mengumpulkan bintang-bintang dan menghitung ulang, terus menerus, for the sake of 'mengumpulkan'. Orang bilang, Bulan Ramadhan adalah saatnya kita mengumpulkan Pahala sebanyak-banyaknya, karena ini a…

Reading Points : Why We Lie, National Geographic (June 2017)

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat unggahan akun @natgeo di Instagram tentang edisi yang akan terbit di bulan juni ini. Sebuah edisi yang akan mengupas tentang "Kenapa Manusia Berbohong?". Bagi saya, topik ini sangat menarik (coba tengok tulisan saya tentang Truth). Jadi, saat kemarin malam saya berhenti sejenak di toko buku bandara dan melihat edisi ini sudah terbit, saya segera membeli National Geographic Edisi Juni 2017 dengan Cover yang cukup provokatif  bertuliskan kalimat tebal 'Why We Lie?'.


Sebagai manusia yang hidup dengan nilai-nilai etis dan moral, tentunya kita bisa menilai bahwa kebohongan adalah sebuah cacat perilaku. Namun, ada masanya kita melonggarkan prinsip hidup kita itu karena hal-hal tertentu bukan? Ada yang orang bilang sebagai 'White Lie' kebohongan untuk kebaikan. Namun terkadang ada juga kebohongan-kebohongan kecil yang menurut kita tidak berdampak apa-apa hanya karena kita ingin menghindari percakapan yang terlalu panjang. Lalu …