Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Things I Take for Granted in Jakarta

Tonight was Satuday's Night. I was sitting all alone outside the coffee shop nearby, writing -and doesn't even drink coffee.
Three cups of them I have before were enough.
Suddenly I remember a statement written by Gretchen Rubin.
'The Days were long, and year are short.". 
It's been a year since I come to Jayapura.
It felt just like yesterday -really.
But when it come to Daily basis, it felt like forever.
Let's just be a honest here. After All.
I hate Jakarta so much and I decide to move on.
It might not be about the place, it's something else,
There are deeper reason why I hate the place where I born. 
When I took the job, I thought Surabaya will be nice,
Until the offer come.
I could move to Jayapura, took five hour and expensive flight from Jakarta to be there.
It's Fa(i)r enough for me to move there with a chance of coming back to civilization every month.
Without any hesitation, I decide to take the offer.
After a year, I begin to see things I …

My 1st Month Quarter Life Crisis - And How I Deal with it?

Gambar
“The late British-born philosopher Alan Watts, in one of his wonderful lectures on eastern philosophy, used this analogy: "If I draw a circle, most people, when asked what I have drawn, will say I have drawn a circle or a disc, or a ball. Very few people will say I've drawn a hole in the wall, because most people think of the inside first, rather than thinking of the outside. But actually these two sides go together--you cannot have what is 'in here' unless you have what is out there.' " In other words, where we are is vital to who we are.”    - Eric Weiner   ---
Tulisan ini adalah tulisan pertama saya setelah saya menulis berhalaman-halaman dalam buku jurnal cokelat milik saya. Satu bulan terakhir, saya benar - benar melakukan percobaan pada diri saya sendiri. Jika seorang teman pernah mengkhawatirkan diri saya untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, mungkin satu bulan terakhir dan beberapa bulan ke depan adalah waktu yang tepat bagi saya untuk …

Menjadi, Menjadi

Gambar
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Bagi saya, yang hidupnya melompat-lompat bak mengendarai sebuah roller coaster, rasanya hampir sepertu lupa untuk bernafas. Tidak terasa, tahun ini saya sudah melewati seperempat abad hidup di dunia ini. Tuhan masih berbaik hati membiarkan saya berkeliaran di muka bumi ini dan menikmati segala suka dan dukanya.

Setahun terakhir...
Tepat satu tahun yang lalu di bulan ini, saya mengumumkan kepada kru kedai saya bahwa saya akan pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah program pembangunan masyarakat desa. Sebuah pengalaman yang akan saya tukar dengan jerih payah membangun koneksi dan usaha di dunia kopi selama setahun terakhir. Saya tahu betul Renjana tidak siap untuk ditinggal ketika baru sedang ingin mulai berdiri. Alasan saya mengambil pekerjaan ini saat itu hanya satu: saya ingin lebih dekat dengan dunia hulu, belajar, dan dibayar!. Selama setahun di dunia kopi saya merasa ada jurang bergitu besar antara hilir dan hulu industri kopi. Entahlah, naluri …

Semerawut

Gambar
Berulang kali yang menghapus kalimat yang sudah saya ketik malam ini.
Sebuah bukti seberapa semerawut hal-hal yang ada dikepala saya sekarang.
Belakangan saya mengigau dalam tidur, dua malam lalu saya terbangun ditengah malam dengan mata sembab.  Saya menangis dalam tidur, sebuah mimpi buruk menghampiri saya malam itu.
Potongan-potongan berbagai hal bermunculan dalam kepala saya.
Hingga saat ini, saya masih merasa butuh sendirian.
Saya butuh mendengarkan telapak kaki saya sendiri saat mendaki bukit, atau bunyi detak jantung saat menyelam di tengah lautan.
Saya lelah berbicara pada manusia.
Saya ingin lebih banyak menulis.
Namun, entah kenapa seperti tidak ada waktu.
Seperti saya melewatkan kesempatan-kesempatan emas untuk menuliskan hal-hal yang patut untuk ditulis dan diceritakan pada orang lain.
Kembali saya memandang kosong jendela pesawat pagi ini.
Apakah saya harus kembali mengepak barang-barang dan berjalan tanpa batas waktu?
Ide ini kembali berputar-putar di kepala saya.
Bagaim…

23 Hari Flores (2)

Gambar
Sekarang saya baru menyesal, kenapa waktu lalu tidak benar-benar menulis segala perasaan dan pengalaman yang terjadi saat aku menjalani perjalanan ini. Bukan masalah jadwal perjalanan yang berurutan, tetapi saya benar-benar hampir melupakan nama orang-orang penting dan nama lokasi peristiwa-peristiwa kecil yang menyenangkan terjadi. Namun, maafkanlah saya yang malas menulis kemarin dulu, mungkin kala itu aku terlalu terlena dengan segala yang ada lalu terlupa saya perlu mengingat-ingat hal ini di masa sekarang.

Kota Ende 
Om Robert pemilik penginapan di Desa Moni, menghampiri saya dengan berlari kecil dari kebun di belakangan penginapannya. "Eh, sudah mau berangkat kah?" tanya nya. Saya jawab, saya ada janji bertemu dengan seseorang di Kota Ende, walaupun sebenarnya janji saya masih esok hari. Ia secara singkat meminta maaf atas kebisingan semalam dan menyambut sedikit uang, biaya saya menginap. Om Robert menjelaskan kepada saya, seandainya saya tinggal lebih lama, ia ingin m…

Mengerikan