Indifference

Pernahkah kamu merasakan pada sebuah titik hidup bernama indifference?
Sebuah kata yang juga menggambarkan suatu titik apatis atau ketidakpedulian, tetapi bagi saya kata ini juga bisa mewakili perasaan antara bahagia dan tidak bahagia. Namun, tidak segitu buruknya sehingga bisa dikatakan "So-So".

Seorang teman saya pernah menganjurkan saya untuk berhenti membaca buku-buku tentang perjalanan atau psikologi kehidupan. Katanya, terlalu banyak membaca hal-hal seperti itu dapat membuat otak kita "sakit". Namun sepertinya saya adalah seorang ekstrimis sejati. Karena saya tidak puas hanya membaca, tetapi saya orang yang tergila-gila pada pengalaman. Membaca saja tidak cukup, dan saya menjadikan hidup saya sebagai sebuah percobaan tiada henti. Disatu sisi, orang lain akan mengatakan bahwa "Itulah hidup!" perjalanan tanpa hidup. Namun terlalu banyak percobaan ternyata membawa saya pada suatu titik bernama indifference.  

Dulu saya mungkin adalah orang arogan yang gila akan pencapaian. Peringkat satu, top achiever, dan pengakuan adalah sederet hal yang senantiasa saya cari. Lalu kemudian kekalahan akan menjadi hal yang membuat saya sedih, lagipula siapa pula yang suka dengan kekalahan di dunia ini? Tidak ada.
Sekarang ini, entah kenapa dunia mendadak menjadi lebih jelas.  Kemudian saya, malam ini, mulai menganalisa kenapa saya bisa pada sebuah titik terang yang ternyata adalah indifference ini.

Pertama, pada intinya, kemenangan demi kemenangan dalam hal material sudah pasti tidak serta merta akan membuat kita bahagia. Terkadang memiliki lebih banyak uang memang menyenangkan, tetapi filsuf dari sejak 2300 tahun yang lalu pun sudah membuktikan, menjadi kaya tidak ada hubungannya dengan menjadi bahagia.
Kedua, menjadi bahagia erat hubungannya dengan perasaan bersyukur dan berbagi disaat sedih dan gembira. Namun, hal ini bisa didapatkan saat kita menambahkan kata-kata "tulus" didalamnya. Tulus dalam artian, yang saat diri kita sendiri melihat apa yang kita lakukan kita bisa mengakui bahwa kita melakukan hal yang benar tanpa perlu seorang pun mengesahkan hal itu.
Ketiga, jadilah pendengar yang baik. Seluruh orang di dunia ini pada dasarnya adalah self-centris dan semua ingin di dengar. Pertanyaannya, seberapa banyak orang yang mau mendengarkan? terkadang dengan menjadi pendengar, kita justru akan membuka pemahaman yang lebih dalam akan beberapa hal yang terjadi dalam hidup kita. Memahami cerita hidup orang lain, terkadang lebih membantu kita menyelesaikan masalah diri sendiri, dibandingkan kita bertanya pendapat dan menceritakan masalah hidup kita. Lagipula, saya sudah sangat sanksi, di dunia ada lebih dari 10% manusia yang masih mau menjadi pendengar yang baik. Semua orang sudah sibuk dengan perkara hidup yang lebih penting dari semua orang lainnya.     

Apa yang saya alami dari berada pada titik indifference? 
Saya mengalami kesulitan luar biasa dalam mempercayai orang lain. Karena akhirnya saya belajar untuk percaya bahwa, sungguh manusia adalah mahluk yang egois. Lalu saya mulai kehilangan keinginan untuk mengejar berbagai posisi yang prestisius. Saya bertemu dengan berbagai orang yang menurut saya berhasil keluar dari hedonist treadmill. "Bukan, bukan ini." adalah suara yang kerap kali mengingatkan saya, bahwa dalam bekerja dan mencari nafkah, menjadi kaya bukanlah tujuan akhirnya. Lalu saya sempat merasa terombang-ambing, kehilangan arah. Saya kehilangan arah, karena yang saya tahu lebih mudah mengejar gaji yang lebih tinggi dan tinggi dibandingkan mengejar hidup yang tenang. Saya belajar untuk puas dengan keadaan saya, saya belajar uang itu penting untuk menjaga kita tetap hidup nyaman. Namun, kata nyaman itu sendiri pun harus didefinisikan agar saya tidak terjebak dalam hedonis treadmill, dimana more means better. 

Indifference, tidak sedih namun tidak bahagia juga, saya hanya menjalani. Disaa saya bingung pada posisi ini apa yang harus saya lakukan, mungkin hal terbaik yang saya dapat lakukan adalah menjadi orang yang berguna. Belakangan saya fokus pada kata-kata berguna. Saat kamu berada pada titik indifference ini, jadilah orang yang berguna, secara jujur dan tulus. walaupun bagi saya sendiri, menjadi orang yang tulus adalah hal yang hampir tidak mungkin. Akhir kata, dalam situasi indifference ini saya menyimpulkan sebuah tujuaj hidup saya,

 "Jadilah orang berguna bagi orang yang membutuhkan, hidup bersahaja, dan tinggalah disebuah tempat dimana orang-orang bisa hidup dalam kejujuran dan saling bantu membantu."

  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!