Pencuri

Kehidupan mendadak jadi sangat menarik dua bulan terakhir ini. Tuhan, selalu, dan selalu mendengarkan bisikan-bisikan malam saya. Orang-orang terdekat saya mempertanyakan kepada saya, "Apakah kamu masih shalat?", setelah mendengar saya berbicara tentang dunia dan takdir, kata mereka saya menjadi orang golongan 'liberal'. Entah kata liberal itu menggambarkan positif atau negatif. Saya selalu mengatakan bahwa, "Saya butuh shalat, dan saya melakukannya ketika saya butuh, tetapi kapan sih orang seperti saya dengan iman yang dangkal tidak butuh shalat?" jawab saya. Orang-orang mungkin melakukan hal yang sama, tetapi yang harus dipertanyakan adalah alasan melakukan perbuatan tertentu. Bisa jadi alasan saya melakukan Sholat bukan karena saya percaya bahwa Nabi Muhammad melakukan Isra Miraj, tetapi ya...karena saya butuh. Di suatu titik dalam hidup saya, saya menemukan kebutuhan saya akan shalat dan definisi shalat dalam hidup saya. Saya percaya pada agama saya, lebih daripada orang-orang menilai saya sebagai liberal tidak beragama.

Baiklah, kembali ke kehidupan saya yang mendadak jadi menarik. Dua bulan terakhir, saya merasa saya kehilangan arah. Segalanya seperti diambil dari saya. Saya lalu bertanya, apakah saya kurang bersyukur sehingga berbagai hal ditarik dari tangan saya? Kenapa rasanya saya tidak menemukan alasan untuk bangun di esok hari. Kenapa sepertinya saya kembali ke suatu titik dimana saya menghitung mundur waktu,hingga saatnya saya mengantuk dan tertidur.

Lalu kemudian, seorang laki-laki datang ke dalam kehidupan saya. Seorang laki-laki yang saya pikir mirip dengan seseorang yang pernah dekat dengan saya, dari segala sudut pandang ia bicara dan beberapa gerak-gerik aneh yang ia lakukan. Laki-laki ini datang dan dengan sangat percaya diri mengatakan saya adalah cerminan dirinya, lalu melakukan hal tipikal yang dilakukan oleh laki-laki yang sedang melakukan pendekatan. Namun saya adalah orang yang pesimis, apalagi tentang hubungan, saya tidak mau lagi berhubungan jauh karena sekedar 'tipe' atau 'dia baik', seseorang mengajarkan saya untuk mempertanyakan segala hal. Setiap kali bertemu dengan laki-laki ini, saya mempertanyakan kenapa dan ada apa dibalik ucapannya, ada sebuah pertanyaan dan saya butuh jawabannya. Sudah ada hipotesis, dan saya perlu pembuktian. Tuhan memberikan saya, sebuah teka-teki baru. Lalu tidak lama teka-teki ini terpecahkan, segala nya sesuai ekspektasi saya. Saya menilai orang baru dari skor negatif, dan menambahkan skor positif satu persatu. Akan tetapi, laki-laki ini gagal mendapatkan poin positif dari banyak kesempatan yang saya berikan. Seperti seorang psikolog, saya membenarkan hipotesis saya, mengangguk-angguk dalam diam dan mengambil keputusan bahwa "He doesn't worth my time.". Ternyata dia tidak lebih dari seorang penipu menyedihkan. Terkadang saya benci, ketika saya terbukti benar. Belakangan saya sadar, kenapa Tuhan mempertemukan saya dengan orang ini, untuk mengingatkan saya tentang "Pencuri".

Hari-hari banyak berlalu dengan cepat selama dua bulan terakhir, saya banyak bertemu dengan penipu dan orang yang manipulatif. Orang-orang bermulut manis yang ada hanya ketika saya punya sesuatu yang mereka butuhkan. Saya hanya kaget, setelah saya lulus dan berhenti bekerja, mendadak angka jumlah orang-orang dalam golongan ini melonjak! Manusia memang fantastis. Kemudian saya juga menyadari, saya mengalami cultural misfit. Segala hal masih seperti petak-petak puzzle yang terpisah-pisah, saya banyak tertimpa kemalangan dua bulan terakhir ini. Banyak hal, banyak kehilangan, banyak air mata dalam diam. Sebuah kehilangan besar, yang membuat saya menagis tengah malam dan tergesa-gesa menelepon sahabat saya, seperti menjadi titik terang. Titik terang untuk menyadari hal yang sudah lama saya lupakan: Untuk hidup di saat ini dan hiduplah walaupun sendirian.  

live in the present, even it means i'm living it alone.  

Kehilangan, terkadang kehilangan banyak hal mengembalikan fokus seseorang. Fokus, karena saat kita tidak memikirkan hal-hal yang telah hilang, mendadak kabut masalah memudar dan kita hanya melihat satu titik. Sebuah titik yang harus saya capai.

"Hakikat kita sebagai manusia adalah menjadi berguna bagi manusia lain. Menjadi seorang khalifah di muka bumi. Bukan perkara mudah karena jalan Tuhan yang benar itu, berdarah-darah."       

Bagi saya, hidup lebih dari sekedar beranak-pinak dan mengunggahnya dalam social media untuk sekedar mendapatkan predikat "Orang Tua Yang Bijak" atau menikah hanya untuk mendapatkan status "Kawin" di ktp.

Kenapa orang-orang begitu bangga dengan status yang mereka dapatkan dengan mudah?

Punya anak itu mudah, membesarkannya sehingga menjadi orang berguna alih-alih menjadi sampah masyarakat itu perkara lain.

Punya status pacar itu mudah, tetapi yakinkah orang itu akan bertahan bersama disaat gelap, atau hanya sekedar ingin mendapat predikat "Laku" dan perasaan semu "Dibutuhkan" sebagai seorang manusia. Atau lebih parahnya lagi, status pacar hanya sebagai alat untuk mendapatkan seks secara gratis? 

Punya status menikah itu mudah, tetapi bertahan dengan satu orang yang sama hingga hafal suara tarikan nafasnya, bertarung dengan kebosanan, apakah itu mudah? Apakah ketika kita tau, orang yang kita nikahi berubah total, kita tinggal membuangnya lalu mencari yang baru?  

Ah, terkadang saya muak saat orang-orang mulai menganggap mudah segalanya.Orang-orang yang rela menjadi pencuri untuk mempermudah segala urusannya. Pencuri, omong-omong tentang pencuri, saya mendadak ingat tulisan dalam buku The Kite Runner, :

"There is only one sin, only one. And that is theft. Every other sin is a variation of theft... When you kill a man, you steal a life. You steal his wife's right to a husband, rob his children of a father. When you tell a lie, you steal someone's right to the truth. When you cheat, you steal the right to fairness."
- The Kite Runner. 

Jadi, memiliki anak karena hanya ingin dapat status, itu juga pencuri. Mencuri hak seorang anak mendapatkan pengasuhan yang layak. 
Memiliki pacar, hanya karena alasan bosan dan butuh pengaggum setia padahal jauh dari cinta, itu juga mencuri hak seseorang menerima cinta yang tulus. 
Menikah, hanya karena terpaksa takut dibilang "tidak laku", itu juga mencuri hak orang lain mendapatkan kebenaran tentang komitmen. 

Ah, ketika menulis pikiran saya juga jadi kesana kemari. Pada intinya, saya kembali mendapatkan fokus saya. Saya punya tujuan yang lebih panjang sekarang, saya melihat sebuah jalan, dan yang terpenting adalah saya sadar betul saya berlari sendirian. Tanpa pengharapan uluran bantuan dari orang lain. Biarlah orang yang tulus membantu datang sendirinya, saya tidak mau berharap, karena lebih banyak manusia yang hatinya kotor karena haus akan kemenangan dibandingkan yang tulus membantu. 

Seorang teman mengatakan bahwa hati saya sudah mendingin, dan bicara saya semakin tajam. Saya bosan berhubungan dengan para penipu, orang-orang yang mencuri hak saya mendengar kebenaran. Lalu, saya hanya ingin mempercepat segalanya, itu adalah alasan saya belakangan berbicara tajam pada orang-orang tertentu, terutama yang sudah saya kategorikan dalam kotak "Penipu" atau "Calon Penipu". Buktikan saya salah, dengan melakukan hal yang tulus. Karena perbuatan yang tulus tidak pernah menuntut pengakuan dari orang lain, sudah jelas orang yang tulus bukan penipu.

A little touched by God: "Kamu benar, hidup bukan tentang menjadi bahagia, tetapi menjadi berguna bagi orang lain, dan ketika kita merasa berguna dengan sendirinya kita akan bahagia."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!