Tuhan Yang Sedang Bergurau (1)

Selamat Malam, Dunia.
Bulan April sudah hampir berakhir, waktu berjalan dengan cepat belakangan ini. Saya merasa tidak diberikan ruang untuk sejenak bernapas sedikit pun, seperti diburu-buru oleh sesuatu yang saya tidak lihat. Saya setengah berharap tulisan-tulisan saya dalam blog ini tidak dilihat siapapun lagi, karena saya akan berbicara tentang banyak hal malam ini. Hal-hal yang terlalu aneh untuk diputar di kepala saya sendirian. 

---
Waktu Yang Singkat 
Jika waktu berjalan seperti ini terus bagi saya, waktu yang berputar cepat, tidak lama lagi saya akan berada dibawah tanah dimakan cacing. Seseorang pernah mengatakan dengan gamblang kepada saya sambil tertawa. "Nih ya, waktu gw hidup itu udah ga lama lagi, paling banyak juga dua puluh tahun lagi. Ya, mau ngapain lagi selain buat yang baik-baik?". Seandainya saya bisa semudah itu menertawakan waktu yang singkat ini. Belakangan saya sering bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman karena bermimpi buruk: berlari-lari, terjatuh, terjebak dalam ruang sempit atau bahkan tertabrak benda keras. Yang jelas dalam mimpi-mimpi saya belakangan ini. saya merasa "waktu yang singkat" itu akan benar-benar menjadi singkat. Saya percaya mimpi bisa menggambarkan kondisi fisik atau mental saya yang sesungguhnya alih-alih menggambarkan masa depan. Mungkin saya benar-benar lelah saat ini, saya dikejar-kejar sesuatu yang saya tidak bisa lihat.

apakah sebentar lagi waktu saya habis di dunia ini? semua tergantung seberapa lama 'sebentar' itu bagi saya. Ah, lagi pula ini sudah masa-masa bagi saya menanyakan kembali pada kamu Dunia. apalagi yang bisa kamu berikan pada saya? Saya bukan filantropis, jangan bertanya "Apa yang bisa saya berikan pada Dunia". Bahkan saya tidak lagi tahu, saya ingin memperlambat waktu atau malah ingin mempercepat ini semua agar segera berakhir. Saya mulai bosan, saya juga bosan terus mencari obat mengobati kebosanan saya ini. 

Apabila waktu saya memang sungguh sebentar lagi 
tinggalkan lah sebagian yang baik dari saya di muka bumi ini
agar saya tidak hanya menjadi 
seonggok daging yang numpang lewat
atau bahkan setumpuk lemak yang menghabiskan 
jatah oksigen generasi mendatang 
Seandainya kremasi itu diizinkan dalam agama saya
saya memilih kremasi dibandingkan dibungkus dalam kain 
dan dikubur dalam ruangan sempit bersama cacing tanah

Tempat Yang Salah 
Saya mencoba berbagai hal untuk menjaga isi kepala saya tetap normal. Normal....sejak awal saya tidak bisa menjadi orang normal, orang pada umumnya. Penyimpangan, saya adalah bentuk penyimpangan. Sejak saya kecil, orang tua saya sering kali bilang saya berbeda, entah dalam hal positif atau negatif. Lagipula peduli setan pada conformity, dunia dan kemajuannya tidak dibuat oleh orang-orang yang berada pada lingkup conformity, pencilan atau outlier adalah alasan dunia ini bisa pada tahap sekarang ini. Untuk apa menjalani hidup yang sama dengan orang lain?  Nah, saya sudah mencoba berbagai hal untuk menjalani hidup yang berbeda. Mungkin saya salah memulai banyak perjalanan sejak saya berusia tujuh belas tahun? Toh, sekarang traveling tidak lagi megobati kebosanan saya. Saat teman-teman saya baru mulai sibuk pamer foto-foto traveling kesana kemari, masa-masa saya ingin melakukan hal itu sudah berlalu. Lagipula saya lelah pergi ke suatu tempat dan dibatasi waktu untuk kembali lagi ke kota sialan ini: Jakarta. Jakarta, saya sudah berusaha setengah mati jatuh cinta pada kota ini, tapi tidak secuil pun saya menemukan alasan untuk suka pada Ibu Kota. Bagi saya, kota kelahiran tidak cukup bagi saya menjadi alasan saya suka pada kota ini.  

Lalu saya kembali mengingat sebuah paragraf dari sebuah buku tebal berjudul 'The Geography of Bliss' karya Eric Weiner. Paragaf itu membahas tentang cultural fit, bagaimana hubungan budaya dan kebahagiaan terbentuk. Mudahnya, seseorang yang cocok dengan budaya dimana bumi dipijak akan jauh lebih berbahagia dibandingkan yang mengalami Cultural Misfit, seperti misalnya Albert Einstein, seorang Jerman Yahudi yang dinobatkan sebagai orang terpintar di dunia,namun ironisnya adalah sebuah penyimpangan di negara kelahirannya. 
 
It is these people—those who are partially
though not completely alienated from their own culture—
who produce great art and science
(Weiner, 2008)
 
the Japanese have a well-known expression: "The nail that sticks out gets hammered down.” 
In America, the nail that sticks out gets a promotion or a shot at American Idol.
(Weiner, 2008)

Saya yakin, saya berada di kota yang salah, kota yang menjunjung budaya dan nilai yang berbeda dengan yang saya anut. Saya merasa saya menjadi sebuah penyimpangan. Saya kebingungan saat menyatakan pendapat secara logis dan berlandaskan fakta pada orang lebih tua dianggap melawan yang lebih tua. Saya kebingungan saat saya sendiri yang menganggap menghambur-hamburkan uang untuk pesta pernikahan adalah hal terkonyol yang bisa dilakukan seseorang dalam hidupnya. Atau saya kebingungan saat saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan yang lain saya dianggap ambisius dan mau menang sendiri. Saya dilabeli egoistis, agresif, skeptis dan tentunya....aneh. Sudah terlalu banyak momen dimana saya mengeluhkan betapa tidak manusiawinya kota ini. Lalu, Amerika terdengar seperti sebuah harapan baru bagi saya. Entahlah, Amerika, Eropa, Papua, Afrika atau dimanapun, saya harus segera keluar dari kota sialan ini, saya bisa gila terus menerus dibombardir hal-hal palsu disini. Bagi saya palsu, karena saya pada aslinya tidak cocok di kota ini. Saya mengalami cultural misfit dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun

'Saya rasa kamu akan cocok disana. Saya tunggu kamu disana ya." 
Sebuah suara menyemangati saya untuk pergi dari Jakarta, 
ke sebuah kota di seberang benua sana.  

Waktu sudah menunjukan pukul dua pagi, saya kenyang karena baru saja makan malam (atau pagi?), dan saya mulai mengantuk. Saya akan melanjutkan menulis lagi besok (-besok). Tuhan belum selesai bergurau dengan saya, saya pun akan menuliskan gurauannya di blog ini. Terlalu lucu menyimpan ironi hidup ini sendirian.  

Selamat Pagi, Dunia.
Bangunkan saya dengan cuaca cerah besok, atau saya akan lebih memilih kembali tertidur karena tidak tau mau melakukan apa hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!