Tuhan Yang Sedang Bergurau (2)

Selamat Malam, Dunia
Melanjutkan tulisan saya kemarin. Hari ini pun saya kembali di kejutkan oleh beberapa hal yang ''kebetulan'', entah sebenarnya kebeulan itu ada atau tidak. Saya sendiri tidak menyakini kebetulan, saya lebih menganut kata-kata "Ada alasan dibalik setiap hal yang terjadi.". Baiklah saya akan melanjutkan kembali tulisan saya kemarin.

---
Orang-Orang Yang Berlalu-lalang. 
Begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini. Salah satu sampul majalah terkenal pernah mengangkat populasi manusia yang mencapai tujuh miliar sebagai tema besar yang patut dibahas tahun lalu. Oh, tenang saja, saya tidak akan membahas teori konspirasi, genosida, pertumbuhan penduduk dalam deret geometri, dan sebagainya, saya tidak akan membahas hal-hal terlalu ilmiah itu disini -apalagi sekarang. Saya hanya ingin menambah efek dramatis yang namanya "takdir". Terkadang saya berpikir, dari tujuh miliar manusia di muka bumi ini kenapa saya harus dipertemukan oleh orang-orang tertentu yang kelak kemudian menjadi teman atau kemudian pergi dari kehidupan saya begitu saja. Lalu kalau dirunut-runut jauh sekali, ternyata begitu banyak 'kebetulan' hingga akhirnya saya bisa bertemu orang tersebut, seperti misalnya jika pagi itu saya datang terlambat ke suatu tempat maka sampai kiamat saya tidak akan bertemu lagi dengan orang itu. Seperti hal yang terlihat kebetulan tetapi semuanya sudah di atur, ibaratnya hidup ini sudah ada skenarionya. Semuanya ini permainan Tuhan yang sedang bosan sendirian di surga sana.

Omong-omong soal bosan, belakangan saya mempercepat semua proses teman berteman. Karena saya lelah berbasa-basi pada orang yang pada akhirnya tidak akan pernah ada disaat saya kesulitan. Saya lelah berteman dengan orang-orang "high-maintenance" ini. Kenapa hanya mereka yang berhak di mengerti? Sebagai teman bukan kah kita seharusnya saling membantu bukan malah mengharuskan A sampai Z agar saya bisa memanggil kamu teman saya. Ayolah, kita sudah terlalu tua untuk terus menerus mau dimengerti dan dimanja saat kita tidak mau melakukan hal yang sama bagi orang lain. Akhirnya saya mulai membenahi  pertemanan saya. Tidak lagi menghubungi lebih dulu beberapa orang, berhenti mengucapkan basa basi selamat ulang tahun (walaupun sebenarnya ini sudah sejak lama saya lakukan.), membalas pesan seadanya (sampai-sampai mereka tahu bahwa saya hanya berbasa-basi) pada beberapa orang yang saya anggap hanya akan menghubungi saya disaat mereka butuh. Di waktu-waktu yang ekstrem, saya akan sangat sarkastis menghadapi basa-basi. 

Beberapa hari terakhir, saya menghabiskan waktu berpikir tentang orang-orang yang berlalu lalang dalam hidup saya. Seorang teman pernah bilang,

"Jika memang dia tidak ditakdirkan menjadi teman seperjalanan mu, maka Allah mepertemukan dia dengan kamu untuk menjadi sebuah pelajaran. Allah tidak pernah salah, Li, cuma kita aja yang belum paham."

Dalam hidup saya ada beberapa pertemuan yang sampai sekarang saya ingat jelas. Pertemuan-pertemuan yang pernah saya bahas juga dalam blog ini. Orang-orang yang tanpa mereka sadari menginspirasi saya, atau membangunkan saya dari lamunan di siang bolong tentang hidup mewah tanpa kerja keras. Namun, ada pula orang-orang yang hadir dalam hidup saya, yang hingga kini saya pikir,  saya tidak tau maknanya apa selain membuang-buang waktu hidup saya. Hanya kata menyesal, penyesalan yang hadir belakangan. Saya bukan hanya bicara cinta tetapi juga persahabatan kosong. Memang saya ini manusia yang masih jauh dari kata memaafkan, padahal saya berusaha untuk itu. Memaafkan dan menahan amarah, saya bukan pendeta atau orang suci yang bisa melakukan kedua hal ini dengan mudah. 

Orang-orang yang berlalu lalang, entah kapan, saya ingin rasanya saya menjadi pihak yang meninggalkan kalian. Rasa-rasanya selalu saya yang ditinggal oleh kalian. Ini tidak adil, sementara saya masih berkubang di kota busuk ini. 

Hari-Hari Sial. 
Pernahkah kamu mengalami hari dimana sepertinya semua hal yang kamu lakukan salah? Saya baru mengalaminya belakangan ini. Saya kurang percaya pada petanda buruk, bagi saya hal buruk selalu datang tanpa petanda. Saya baru saja mengalami hari-hari terburuk dalam tahun ini, entah masih ada atau tidak hari yang lebih buruk dari beberapa hari belakangan. Saya kehilangan fokus dan keinginan untuk bangun setiap hari, saya tidur lagi padahal saya tidak mengantuk, lalu bangun dengan kepala pusing. Saya makan saat tidak lapar, hanya agar saya bisa melakukan sesuatu tanpa berpikir. Sepertinya saya mulai jenuh dengan permainan kehidupan ini. Lalu disaat-saat seperti ini Tuhan memperparah hidup saya dengan berbagai kecelakaan dan kejadian yang tidak perlu. Saya hanya bilang, "Ini hari sial banget." yang ternyata tidak berlangsung hanya satu hari, tetapi berhari-hari. Hingga rasanya, saya mengadu pada Tuhan disela-sela doa saya sepanjang hari, 
"Tuhan  saya menagih janji-Mu. 
Hutang-Mu atas kebaikan saya pada mahluk hidup lainnya yang kata-Nya akan diganti berpuluh kali lipat. Saya menunggu, hasil dalam bentuk kebaikan apapun, 
sekalipun itu adalah kejernihan berpikir."
    
Saya tau setiap hari adalah anugerah, setiap hari saya diberikan rezeki bernapas dan makan juga rumah yang nyaman, ibaratnya "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?". Mungkin saya egois, tetapi belakangan saya tidak merasa ada bedanya dengan binatang yang diberi makan dan minum juga kandang untuk hidup. Hari-hari sial, hari-hari yang sebenarnya tidak nyata, karena pada akhirnya hidup ini adalah perspektif setengah isi atau kosong. Lagi-lagi permainan.

Saya percaya, masalah diperlukan untuk membentuk sikap dan kepribadian seseorang. Masalah lah yang membentuk saya menjadi orang seperti sekarang. Hidup tanpa masalah berarti hidup tanpa kemajuan. Tetapi bisakah Tuhan memberikan masalah dalam bentuk cicilan dua belas kali (misalnya)? Tidak dalam satu hari sekaligus, sampai saya rasanya muak dan kalau saja ada pintu berwarna merah untuk keluar dari permainan ini, saya dengan senang hati akan berjalan kesana. Sayang bunuh diri itu tidak mudah, dan saya yakin itu salah satu cara bodoh untuk mati (Selain mati karena selfie di tempat yang tidak semestinya). Bodoh, di luar sana banyak manusia yang butuh Jantung, ginjal, darah, retina segar, lalu dibuang-buang begitu saja karena Tuhan sedang bergurau dengan hidup saya? Hell, No. Film 7Pounds memberikan cara bunuh diri yang dapat bermanfaat bagi umat manusia lainnya, jika ingin di contoh.     

Tuhan Yang Sedang Bergurau 
Karena seseorang merekomendasikan saya untuk membaca buku supernova karya Dee Lestari, akhirnya saya membaca juga Supernova edisi 1 beberapa hari yang lalu. Lucunya disaat saya merasakan Tuhan sedang bergurau dengan hidup saya, saya menemukan kalimat yang luar biasa representatif dengan apa yang saya pikirkan. 

"Jangan-jangan kelahirannya ke dunia ini juga cuma permainan. Ekses humor Tuhan yang kebablasan" - Supernova, Dee Lestari. 

 Saat membaca kalimat ini dalam buku tersebut, rasanya saya ingin tertawa terbahak-bahak. Ternyata saya tidak sendirian berpikir demikian. Nah membaca buku ini pun saya rasa merupakan permainan Tuhan. Kalau bukan karena suatu kebetulan, saya tidak akan membaca buku ini sekarang disaat seperti ini. Tuhan saya memang Maha Mengetahui, hingga dia sedikit banyak melalui buku itu mencoba menghibur saya dengan kata-kata, 
"Tenang, kamu tidak sendirian."

Dan ternyata bukan hanya kalimat tentang ekses humor Tuhan saja yang membuat saya tertawa, ketika saya membaca buku edisi kedua dari Supernova, saya juga menemukan kalimat lain yang sudah sangat akrab ditelinga saya dulu tentang neraka. Tuhan seakan-akan ingin memberitahu saya tentang keberadaan-Nya dan kemampuannya menunjukan hal-hal yang sudah sepatutnya saya lihat dalam berbagai hal. Saya jadi teringat kata-kata, akal dan pikiran. Dua hal yang membedakan manusia dan binatang. Saya punya akal dan saya semestinya berpikir, mungkin saja kali ini Tuhan ingin menunjukan sesuatu kepada saya (atau malah mempersiapkan saya akan sesuatu?). Saya harus siap saat Ia membuka kotak ajaibnya yang berisikan jawaban atas segala yang saya alami sekarang. Karena saya ingat, kalimat berulang di dalam Al-Quran yang terngiang di kepala saya (entah surat apa):

"Terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
Al - Quran

Ya, akhirnya saya jadi orang yang banyak pikiran. Pikiran yang melompat kesana kemari tanpa tahu gambaran segalanya secara utuh. Karena hanya Tuhan yang Maha Mengetahui, saya mah apa. Cuma seonggok mahluk fana berumur pendek, yang sok-sok an mencari makna hidup saya, ditengah waktu yang berdetik mundur. 

A little touched by God:
Baiklah, ini sudah jam tiga dini hari. Sudah semestinya saya tidur, karena kepala saya mulai pusing kembali (seperti biasa). Tuhan mungkin memang sedang bergurau, tetapi bukankah disitu letak keyakinan di uji? Walaupun ia senang bergurau dan memiliki sejuta permainan, kita meyakini Ia akan memberikan yang terbaik? Semoga, semua indah pada waktunya.

  
 

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!