Seandainya.

Lagi - lagi saya memikirkan suatu hal yang tidak perlu. Saya menguntaikan benang yang kusut satu persatu. Seperti salah satunya berdamai dengan suatu sudut di kepala saya. Sudut yang menyimpan segala pembicaraan kita dan pertemuan-pertemuan kita. Tapi sayang, ini bukan melulu tentang cinta. Ini tentang obsesi saya atas pertanyaan yang tidak terjawab. Lagi-lagi saya bertanya, "Kenapa?". Seperti biasa, kamu hanya akan tersenyum simpul dan tidak menjawab.

Sebagaimana sebuah cerita yang baru di mulai, semua hal terjadi dengan terpisah-pisah. Kadang diselingi dengan berbagai hal tidak penting lainnya untuk mengulur waktu. Mengulur waktu hingga saya sebagai salah seorang manusia fana mampu menerima makna segalanya.

Hubungan kita seperti sebuah film lama yang berputar-putar di kepala saya. Hubungan satu bagian ke bagian lainnya mulai pudar, tetapi saya berusaha keras untuk menghubungkan segalanya. Saya terjebak dalam permainan kamu. Bodohnya lagi, saya dengan sengaja terjebak di dalamnya. Mau bagaimana lagi, saya sungguh mengharapkan kamu menjawab segala pertanyaan saya.

---
Beginilah Ceritanya...
Saya sangat kecewa. Pada hari itu kamu datang terlambat, seperti biasanya. Namun bukan karena itu saya kecewa. Hari itu harapan saya runtuh saat kamu tidak bersama saya. Kamu memilih tidak bersama saya. Hilang sudah segala skenario dalam kepala saya tentang hal-hal yang akan kita bicarakan bersama. Kamu pun pergi.

Kemudian, takdir berkata lain. Kita terpaksa bertemu lagi. Di suatu malam kamu menghubungi saya. Hari itu saya gugup dan kamu hanya tertawa. Saya kembali punya alasan untuk bersama kamu. Kamu bilang kali ini, saya tidak boleh lupa untuk menghubungi kamu. Tidak ada orang yang tahu ini selain kita. Ya, hanya kita. Bahkan kamu seperti setengah berbisik! Saya pun kesenangan.

Saya menghubungi kamu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
 Seperti biasa, kamu memang tidak akan menjawab saya.
Seperti anak kecil yang merengek karena tidak mengetahui apapun, saya pun kesal.
Saya mau keluar dari permainan ini. Saya bosan. Kamu tidak pernah sedikitpun mengalah. 
Saya berhenti memikirkan kamu.

Namun, takdir lagi-lagi berkata lain.
Kita kembali bertemu. Kali ini takdir memaksa kita bersama. 
Saya senang menatap kamu lama-lama. Seolah hanya dengan menatap, kamu akan berpaling pada saya dan memberikan jawabannya. Kamu tidak menjawab, kamu hanya sesekali balas menatap dengan mata tajam itu. Kadang kamu tersenyum dan itu pun cukup. Setidaknya untuk sesaat, karena kita berdua tahu, kita tidak mudah dibuat puas.

Kita pun kembali bicara.
Segala waktu yang hilang seperti menyusut dalam pembicaraan singkat kita.
Seperti biasa, kamu menyapa saya dengan senyum itu, seolah kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

Hingga akhirnya, segala tatapan, senyuman dan kata-kata kamu tidak sanggup lagi menahan saya.
Saya ingin mengakhiri ini, ini bisa saja dimulai sebagai permainan kamu.
Tetapi saya lelah, dan saya tidak lagi ingin bermain.
Permainan ini akan berakhir dan kita berdua akan kalah.

Saya akan meninggalkan pertanyaan bagi kamu. Memastikan kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.
Sebagaimana pertanyaan kamu yang menghantui saya hingga kini.

Tetapi sekarang pun saya lelah, menahan jawabannya.
Bagaimanapun kamu hanya imajinasi saya. Seperti hantu yang menunggui sudut kecil kepala saya.
Saya sudah memberikan jawaban satu persatu, sedikit demi sedikit. Kamu pun tidak lagi bertanya.
Tanpa diduga, saya mendapatkan segala jawaban tentang kamu. Seperti membaca sebuah buku sampai usai, saya sudah tau bagaimana ini akan berakhir. 
Permainan ini sungguh akan berakhir.

Kamu marah.
Saya pun tidak bisa berkata apa-apa. 
Kita berdua berandai-andai.
Seandainya kita berdua memilih jalan lain dulu.
Seandainya takdir tidak mempermainkan kita seperti ini.
Seandainya....
Seandainya....
Seandainya kejujuran ada disana pertama kali.

Kita berdua sudah tau ini akan berakhir demikian, hanya saja kita tidak pernah tau kita berdua akan sama-sama kalah. Sungguh berbahaya membangun asumsi dari ilusi-ilusi di dalam kepala. Kita akan lupa mana kenyataan dan ilusi.

---
Pada waktunya kita akan kembali lagi bertemu. Saat itu datang tidak ada lagi pertanyaan, jawaban, dan permainan. Saat itu hanya akan ada secangkir kopi hangat dan obrolan ringan tentang takdir.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!