Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Indifference

Pernahkah kamu merasakan pada sebuah titik hidupbernama indifference?
Sebuah kata yang juga menggambarkan suatu titik apatis atau ketidakpedulian, tetapi bagi saya kata ini juga bisa mewakili perasaan antara bahagia dan tidak bahagia. Namun, tidak segitu buruknya sehingga bisa dikatakan "So-So".

Seorang teman saya pernah menganjurkan saya untuk berhenti membaca buku-buku tentang perjalanan atau psikologi kehidupan. Katanya, terlalu banyak membaca hal-hal seperti itu dapat membuat otak kita "sakit". Namun sepertinya saya adalah seorang ekstrimis sejati. Karena saya tidak puas hanya membaca, tetapi saya orang yang tergila-gila pada pengalaman. Membaca saja tidak cukup, dan saya menjadikan hidup saya sebagai sebuah percobaan tiada henti. Disatu sisi, orang lain akan mengatakan bahwa "Itulah hidup!" perjalanan tanpa hidup. Namun terlalu banyak percobaan ternyata membawa saya pada suatu titik bernama indifference. 

Dulu saya mungkin adalah orang arogan yang gi…

Pencuri

Kehidupan mendadak jadi sangat menarik dua bulan terakhir ini. Tuhan, selalu, dan selalu mendengarkan bisikan-bisikan malam saya. Orang-orang terdekat saya mempertanyakan kepada saya, "Apakah kamu masih shalat?", setelah mendengar saya berbicara tentang dunia dan takdir, kata mereka saya menjadi orang golongan 'liberal'. Entah kata liberal itu menggambarkan positif atau negatif. Saya selalu mengatakan bahwa, "Saya butuh shalat, dan saya melakukannya ketika saya butuh, tetapi kapan sih orang seperti saya dengan iman yang dangkal tidak butuh shalat?" jawab saya. Orang-orang mungkin melakukan hal yang sama, tetapi yang harus dipertanyakan adalah alasan melakukan perbuatan tertentu. Bisa jadi alasan saya melakukan Sholat bukan karena saya percaya bahwa Nabi Muhammad melakukan Isra Miraj, tetapi ya...karena saya butuh. Di suatu titik dalam hidup saya, saya menemukan kebutuhan saya akan shalat dan definisi shalat dalam hidup saya. Saya percaya pada agama saya, le…

Tuhan Yang Sedang Bergurau (2)

Selamat Malam, Dunia
Melanjutkan tulisan saya kemarin. Hari ini pun saya kembali di kejutkan oleh beberapa hal yang ''kebetulan'', entah sebenarnya kebeulan itu ada atau tidak. Saya sendiri tidak menyakini kebetulan, saya lebih menganut kata-kata "Ada alasan dibalik setiap hal yang terjadi.". Baiklah saya akan melanjutkan kembali tulisan saya kemarin.

---
Orang-Orang Yang Berlalu-lalang. 
Begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini. Salah satu sampul majalah terkenal pernah mengangkat populasi manusia yang mencapai tujuh miliar sebagai tema besar yang patut dibahas tahun lalu. Oh, tenang saja, saya tidak akan membahas teori konspirasi, genosida, pertumbuhan penduduk dalam deret geometri, dan sebagainya, saya tidak akan membahas hal-hal terlalu ilmiah itu disini -apalagi sekarang. Saya hanya ingin menambah efek dramatis yang namanya "takdir". Terkadang saya berpikir, dari tujuh miliar manusia di muka bumi ini kenapa saya harus dipertemukan oleh …

Tuhan Yang Sedang Bergurau (1)

Selamat Malam, Dunia.
Bulan April sudah hampir berakhir, waktu berjalan dengan cepat belakangan ini. Saya merasa tidak diberikan ruang untuk sejenak bernapas sedikit pun, seperti diburu-buru oleh sesuatu yang saya tidak lihat. Saya setengah berharap tulisan-tulisan saya dalam blog ini tidak dilihat siapapun lagi, karena saya akan berbicara tentang banyak hal malam ini. Hal-hal yang terlalu aneh untuk diputar di kepala saya sendirian. 
--- Waktu Yang Singkat  Jika waktu berjalan seperti ini terus bagi saya, waktu yang berputar cepat, tidak lama lagi saya akan berada dibawah tanah dimakan cacing. Seseorang pernah mengatakan dengan gamblang kepada saya sambil tertawa. "Nih ya, waktu gw hidup itu udah ga lama lagi, paling banyak juga dua puluh tahun lagi. Ya, mau ngapain lagi selain buat yang baik-baik?". Seandainya saya bisa semudah itu menertawakan waktu yang singkat ini. Belakangan saya sering bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman karena bermimpi buruk: berlari-lari, terjatu…

Seandainya.

Lagi - lagi saya memikirkan suatu hal yang tidak perlu. Saya menguntaikan benang yang kusut satu persatu. Seperti salah satunya berdamai dengan suatu sudut di kepala saya. Sudut yang menyimpan segala pembicaraan kita dan pertemuan-pertemuan kita. Tapi sayang, ini bukan melulu tentang cinta. Ini tentang obsesi saya atas pertanyaan yang tidak terjawab. Lagi-lagi saya bertanya, "Kenapa?". Seperti biasa, kamu hanya akan tersenyum simpul dan tidak menjawab.

Sebagaimana sebuah cerita yang baru di mulai, semua hal terjadi dengan terpisah-pisah. Kadang diselingi dengan berbagai hal tidak penting lainnya untuk mengulur waktu. Mengulur waktu hingga saya sebagai salah seorang manusia fana mampu menerima makna segalanya.

Hubungan kita seperti sebuah film lama yang berputar-putar di kepala saya. Hubungan satu bagian ke bagian lainnya mulai pudar, tetapi saya berusaha keras untuk menghubungkan segalanya. Saya terjebak dalam permainan kamu. Bodohnya lagi, saya dengan sengaja terjebak di d…

Memilih.