Milestones

"There will be up and down, but mostly... it's just a so-so year." - MS. 

Tahun 2015 sudah hampir berakhir, dua belas bulan hampir berlalu.
Bagi saya, tahun ini adalah tahun roller-coaster. Jika mantan atasan saya dulu pernah mengucapkan kata-kata diatas, jelas sekali tahun ini bukan tahun yang "so-so" saja. Saya banyak kehilangan, tetapi disaat yang sama saya juga menemukan hal-hal yang baru.  

Desember 2014
Di bulan yang sama tahun lalu, saya ingat jelas saya sedang menerawang keluar ruangan dari lantai 3 sebuah gedung kantoran di Jakarta. Saya melihat hiruk-pikuk jalanan ibu kota dan kemacetan yang melanda sebuah jembatan layang. Akhirnya setelah empat bulan mencari pekerjaan, saya mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. "Inginkan" dengan berbagai alasan dan perencaan dalam kepala saya. Pada bulan ini saya berpikir bahwa "this is the end of my glory life. Welcome to Corporate Slave's life."


Januari 2015
Ini adalah bulan pertama saya merasakan bekerja dalam sebuah tim dan 'benar-benar' memiliki atasan. Segala hal yang dulu saya bayangkan tentang dunia kantoran akhirnya akan saya alami. Pada bulan-bulan ini saya memikirkan tentang karir ke depan saya, saya sering membandingkan apa yang saya miliki dan teman-teman sekelas saya waktu masih kuliah. Saya merasa sangat beruntung karena masuk ke dalam lingkungan kerja yang menurut saya sangat nyaman. Power distance yang cukup rendah antara saya dan bos saya, terutama manajer diatas saya yang lebih memperlakukan  saya sebagai seorang partner. Saya suka pekerjaan dan kantor saya, walaupun terkadang saya juga mendengar orang-orang mengeluhkan pekerjaan mereka yang "Ya, gini-gini aja lah".

Maret 2015 
Di bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan topik tentang "happiness" kepada teman-teman sekantor saya. Bagi saya beberapa bulan ini, saya mencari cari buku tentang "kebahagian", mungkin di bulan ketiga saya bekerja saya mulai mempertanyakan kebahagiaan saya sendiri. Selama tiga bulan terakhir, setiap harinya saya menghabiskan waktu 4 jam diperjalanan pulang dan pergi ke kantor. Saya tidak benci pekerjaan saya, tapi saya benci "ke" kantor. Jika "waktu" adalah komoditas termahal yang tidak bisa dibeli dengan uang, maka saya sudah menyianyiakan 'waktu' begitu banyak di bis dalam kota. Inilah yang akhirnya membuat saya jadi rajin mengurus social media saya di "instagram", untuk setidaknya membuat saya berpikir selama diperjalanan untuk mengunggah konten ke dunia maya dan melihat perubahan hidup saya dari postingan yang saya unggah.

April 2015 
Bali. Still, Heaven on Earth.
Bulan ini saya melakukan sebuah kesalahan besar dan disaat yang sama juga mengalami pengalaman diving paling menyenangkan yang pernah saya alami. Bad News first, Sebelum saya ke Bali, hubungan saya dengan pasangan saya sedang pada titik yang buruk. Saya memutuskan untuk tetap berteman setelah kami putus, ini adalah keputusan yang saya sesali tiga bulan kemudian. Seharusnya saya mendengarkan kata-kata teman saya ketika kami pergi ke Bali bulan ini, seharusnya saya meninggalkan semua, memutuskan hubungan dengan orang itu sedini mungkin, selagi saya bisa. Karena jelas, orang itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang harus saya pelajari dan ingat sekarang.


Bali, never disappoint me.  Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya dalam dunia scuba diving, karena setelah dipikir banyak spot di Indonesia yang cukup dalam dan membutuhkan advanced license untuk bisa menyelam disitu. Lagipula saya perlu ketenangan dari dunia bawah laut.
Ini pertama kalinya saya menyelam pada malam hari dan juga melakukan dive di kapal karam. Breath taking view adalah saat instruktur saya meminta saya untuk duduk di pasir di kedalaman 12 meter, menutup cahaya senter ke dada, dan dia melambaikan tangannya di dalam laut. Awalnya semua hanya ada kegelapan, saya bahkan tidak bisa melihat wajah instruktur saya, namun perlahan muncul cahaya-cahaya kerlip kecil dari plankton. Hanya ada suara-suara gelembung udara dari masker oksigen dan keheningan. Saya hampir lupa untuk bernafas dan lupa bahwa saya sedang berada di bawah laut. Karena saya seperti melihat ribuan bintang disekeliling saya. *oke mungkin ini sedikit berlebihan* Saya cinta laut, dan laut tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Walaupun saat saya diving kondisi saya sedang tidak fit, karena tekanan darah rendah, saya selalu merasa nyaman di dalam air. There's something hypnotizing about the underwater world.

Namun bulan ini adalah bulan dimana semua hal mulai menjadi buruk, karena saya mulai membenci pekerjaan saya dan itu memperburuk semuanya. Selama tiga bulan saya bertahan dalam sebuah departemen yang saya tau "tidak membutuhkan" saya. Saya mencoba untuk pelajari apapun yang bisa saya pelajari, but everyone's has their own business, there's a limit when you can intervere their job or not. But, at least I learn something, I know I'm incapable of lying or faking. My face will clearly stated that I dislike something, and I don't bother to cover it up. 

Mei 2015
Saya kembali ke pulau itu, Pulau Peucang, kali ini bersama banyak orang. Pecinta alam yang dulu saya rintis bersama teman-teman seangkatan saya kini sudah memiliki jauh lebih banyak anggota. Dulu sekali waktu tahun 2011 saya ke Peucang, saya hanya mendapatkan 5 orang dari pecinta alam saya dan 3 orang dari luar kampus, namun kali ini saya pergi bersama 23 orang lainnya yang semuanya adalah anggota Pecinta Alam saya dulu. Di perjalanan ini saya mungkin adalah orang yang menyebalkan karena sering men'ceramah'i junior-junior saya itu. Namun saya sangat senang melihat bagaimana organisasi yang dulu saya rintis dan hampir ditinggalkan kini tumbuh menjadi jauh lebih ramai orang.  Di Peucang, saya pun masih sama jatuh cintanya pada tempat itu, harmonis.

Juni 2015 
Rumah Baru.
Akhirnya saya dan keluarga pindah ke rumah baru. Rumah baru yang memiliki halaman rumput yang cukup luas. Dulu sebelum saya masuk kerja kantoran, saya mencoba untuk melakukan urban farming namun gagal karena semua tunas yang saya tanam dimakan tikus. Kali ini saya sangat senang karena saya pikir saya bisa kembali mencoba bercocok tanam. Namun...kondisi saya masih tidak membaik. life's like standing still, I can't cope with boredom. Alih-alih mulai kembali bercocok tanam, saya menyibukan diri saya dengan membeli buku-buku dan mencoba membacanya. Walaupun pada akhirnya saya tidak benar-benar paham yang saya baca, saya hanya butuh distraksi atas segala masalah yang saya punya belakangan ini.  Saya juga sempat pergi dua hari satu malam ke pulau seribu bersama dua orang sahabat saya. Saya masih ingat sepulangnya saya dari Pulau itu, saya berteriak dan marah-marah pada awak kapal karena kapal tidak jalan sesuai waktunya. Saya sempat melihat wajah sahabat saya yang mungkin shocked karena melihat saya yang tiba-tiba berteriak pada orang-orang itu. Entah kenapa, saya seperti tidak bisa lagi menahan marah saya, amarah yang sepertinya terkumpul dari lama dan jelas bukan karena awak kapal penyebabnya.  Traveling doesn't do the magic anymore,  I have problem, I can't keep running away. 

Juli 2015. 
Dia pergi. 
Saya masih ingat sekitar tiga hari sebelum hari raya idul fitri, akhirnya Dia memutuskan untuk pergi. Kali ini saya menolak untuk tetap berteman. "Hanya keledai, yang jatuh di lubang yang sama dua kali.", sudah seharusnya dari bulan April dia pergi dari hidup saya. Itu adalah pikiran saya saat bulan ini.

Lalu, kembali pada dunia kerja, saya pindah ke departemen yang baru, dengan lingkungan yang menurut saya lebih cocok dibandingkan yang sebelumnya, mungkin karena nature dari pekerjaannya juga berbeda. Saya harus menyesuaikan banyak hal pada bulan ini. Tidak ada lagi orang yang secara rutin menghubungi saya, dan saya harus beradaptasi dengan departemen yang baru. Pada akhir bulan ini, akhirnya saya memutuskan untuk menyewa kamar dekat kantor. "I'm not happy. The thought that I'm wasting my 4 hour time every single day, make it worse." Jelas saya pada salah seorang sahabat saya tentang keputusan saya menyewa kamar dekat kantor. Ini adalah upaya saya mengurangi depresi yang saya hadapi. Saya butuh waktu sendiri dan tidak diganggu dengan pandangan ini-itu oleh keluarga saya. Saya butuh ruang. 

Halo, Ambon! 
Di bulan ini juga dengan sangat implusif saya membeli tiket ke ambon. Karena merasa sangat kesepian di hari libur panjang tahun ini.  Keluarga saya batal pergi liburan bersama dan masing-masing punya agenda sendiri.  Dengan nekat saya membeli tiket pesawat ke ambon dan menghubungi teman lama yang sudah setahun tidak pernah saya temui. Di Ambon, lucunya saya bertemu dengan orang-orang yang ternyata juga sedang bermasalah dengan hubungan mereka. Ada yang baru putus, ada yang sedang menuju putus, dan ada yang diputusin saat saya sedang jalan-jalan bersama mereka.  Entah, sepertinya Tuhan sedang ingin membuat saya menertawai diri saya sendiri. Saya bahagia bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan di Maluku.
Yang jelas, di Ambon saya bertemu salah satu orang yang menurut saya sangat inspirasional. Seorang laki-laki yang berniat meningkatkan sektor pariwisata di Ambon. Idealis, adalah satu kata yang bisa menggambarkan orang ini. Dia pernah berkeliling Jawa dengan sepedanya dan mendaki setiap gunung yang dia lewati. Orang yang sulit dimengerti, Dia bercerita pada saya, banyak orang yang menanyakan pada dia, "Apa sih yang kamu cari dari perjalanan kamu?", saya hanya terdiam dan memperhatikan baik-baik mimik wajahnya ketika dia bercerita sedikit tentang hidupnya, karena saya sama penasaran dengan orang-orang itu, seakan-akan jika dia menjawab maka pertanyaan hidup saya juga terjawab. "Nggak ada, aku nggak cari apa-apa. Ya, aku cuma 'jalan'. Tapi kalau kepala nih udah pusing, aku selalu balik kesini." ujar laki-laki itu pada saya di Desa Saleman, Pulau Seram. "Paling nggak kamu punya rumah. Kamu punya tempat pulang." kata saya malam itu. Saya iri.
Life is giving him a hard lesson, just like me, otherwise we wouldn't be a man like we are today. Saya buat janji untuk kembali kesana dan menyelam, saya harap pada waktu itu kita bisa bicara lebih banyak tentang hidup, dan tentang pencarian saya tentang rumah.

Agustus 2015 
It's Time. 
Setelah pulang dari Ambon dan kembali bekerja. Saya masih terus menerus mempertanyakan tentang hidup saya. Banyak orang yang bilang untuk, "Stop Questioning life, just let it go." Jalani hidup apa adanya, seperti 'orang-orang', lulus kuliah, bekerja, menikah dan berusaha sebaik-baiknya untuk mendapatkan pensiun yang baik. Apakah ini yang dimaksud dengan "jadi orang"? Inilah saat saya sadar, saya berada pada tahap 'A quarter life crisis'. Saya mungkin bisa dibilang orang yang kurang bersyukur, karena saya tidak puas dengan apa yang saya punya saat itu. Pagi ini saya baru saja membaca sebuah artikel berjudul "You're Only 23. Stop Rushing Your Life". Dengan segala kemajuan teknologi dan informasi, setiap hari saya seperti mendengar kisah-kisah orang yang mencapai suksesnya di usia muda. Seperti dalam artikel itu dikatakan, "It feels like I'm falling behind." . Saya mempertanyakan apa yang bisa saya lakukan diusia saya yang akan segera menginjak 23 tahun. Lalu saya memikirkan kemungkinan untuk bekerja di start-up, sebagaimana bayangan saya sebelum saya masuk ke dunia kerja. Di start-up akan lebih banyak orang-orang berusia muda, orang-orang bergerak lebih dinamis dan kesempatan untuk tumbuh jauh lebih besar. Lagipula, saya sudah mendapatkan apa yang saya ''inginkan'' selama 9 bulan terakhir ini.  Ini adalah waktunya untuk mengurus "resign". Saya akan memulai segalanya dari nol kembali. 

Kopi.  
Dihari yang sama saya memutuskan untuk resign, seorang teman lama menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu. Walupun hari itu saya sudah sangat lelah karena segala masalah di tempat kerja, saya pikir tidak apalah bertemu 1-2 jam lagipula dekat dari kos.an saya. Teman saya bercerita tentang kopi dan kursus kopi yang baru saja ia ikuti. Ia masih ingat, dua tahun yang lalu saya bilang ingin memiliki kedai kopi saya sendiri. Sebuah tempat kecil yang hangat dan nyaman untuk bekerja. Singkat cerita, ia menawarkan sejumlah dana untuk saya belajar tentang kopi. "You should travel to many coffee plantation in Indonesia." Katanya pada waktu itu. Hal inilah yang akhirnya membuat saya terjun di dunia kopi setelah resign. Banyak orang berpikir bahwa saya resign karena seseorang entah dari mana membiayai saya untuk belajar tentang kopi. Padahal saya lebih dulu memutuskan itu sebelum saya bertemu dengan teman saya itu. Sebelum ia pergi, saya bertanya berkali-kali pada teman saya, 'Kenapa saya? kenapa sekarang? Saya tidak tau apa-apa tentang kopi, kenapa bukan barista dikedai kopi yang kamu kenal yang kamu berikan kesempatan ini?' Dia hanya bilang, "Karena saya ingat kamu, dan kamu teman saya."  Setelah diskusi panjang dan beberapa kali penolakan dari saya, beberapa hari sebelum teman saya pergi, saya setuju dengan penawarannya.
Ini adalah salah satu hal ajaib yang terjadi ditahun ini. Menimbulkan kembali pertanyaan bagi saya, "Kenapa ini terjadi?" Segala sesuatu pasti punya alasan, saya yakin teman saya punya alasan yang tidak ia katakan pada saya, entah apa. Yang jelas saya ingat kata-kata dia tentang motto hidupnya, "Hidup itu harus belajar puas, puas dalam segala keadaan. Kamu akan bahagia kalau kamu belajar untuk berpuas diri."

you should know, when enough is enough. 

Semarang 
Tiga hari setelah saya putus, saya membeli tiket pesawat ke Semarang untuk satu bulan setelahnya. Mengunjungi seorang sahabat baik saya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan saat saya masih bersama orang itu. Tujuan saya ke Semarang hanya untuk mengobrol, walaupun saya memaksa teman saya untuk mencari info tempat wisata dan menyeretnya untuk trekking, pada akhirnya tujuan saya hanya ingin mengobrol. Saya tahu ini akan menjadi jalan-jalan ''fancy" terakhir saya, sebelum akhirnya saya tidak menerima gaji lagi. Kami menertawakan banyak hal, di hari yang sama saya juga mengatakan bahwa saya ingin menangis, karena tidak mudah untuk tidak marah pada laki-laki itu dan juga keluar dari pekerjaan saya sekarang. Tidak mudah menjelaskan itu pada semua orang. Tidak mudah menghadapi judgment dari semua orang. Walaupun saya mencoba untuk tidak peduli dan menjadi orang yang keras kepala, pada akhirnya semua proses kehilangan ini tidak mudah. Teman saya yang satu ini, bagi saya, sudah seperti seorang kakak yang tidak pernah saya miliki. Kami bisa duduk di kafe selama 5 jam lamanya dan terus bicara, walaupun lebih banyak saya yang bicara. Di hari terakhir saya di Semarang dia sering kali hanya diam mendengar saya bercerita tentang sisa-sisa hidup korporat saya atau tentang hidup yang harus terus maju. Saya bilang, "There's nothing worse than life's standing still. kita harus tetap bergerak, ingetkan cerita ikan hiu dan ikan salmon yang lo ceritain?". Sebelum saya kembali ke Jakarta dia bilang, "li, thanks for coming here. you make me think a lot about my life.".  Tanpa saya tahu, satu bulan kemudian saya juga harus 'kehilangan' dia, orang-orang berubah, entah untuk berapa lama.  

September 2015
Ini menjadi bulan terakhir saya bekerja kantoran, sekaligus menjadi bulan yang sangat penting selama saya bekerja. Karena suatu hal, saya dilibatkan dalam suatu acara sebagai dokumentasi. Dalam acara ini saya bertemu dengan beberapa orang yang cukup 'menarik'. Salah satunya adalah seorang wanita yang menjadi manajer sementara saya dalam acara ini. Dia menceritakan kisah hidupnya tentang perjalanan-perjalanan yang pernah ia lakukan, tentang keputusan gila dalam hidupnya (seperti pindah kerja ke sebuah negara dalam waktu 3 hari tanpa seorang pun yang ia kenal.), pada intinya dia mengatakan bahwa "Kebebasan" adalah kebahagian tersendiri bagi hidupnya. Saat saya bilang bahwa ini adalah minggu terakhir saya di perusahaan itu dia cuma bilang, "Oh, that's a tough one. But you're still young! You can go back any time to corporate life. Don't worry too much. Take your opportunity." lalu saya juga ingat hal yang dia katakan sebelumnya tentang posisi dan jabatan, "Somehow a higher rank and position don't necessarily make you happy."  
Good-Bye
Saya tidak pernah membenci perusahaan dulu saya bekerja. Saya menemukan sosok pemimpin yang saya suka disana dan lingkungan kerja yang baik, sulit bagi saya untuk keluar dari sana. It's kind a comfort zone. Seseorang berkali-kali menanyakan keyakinan saya untuk keluar, memberikan saya pesan-pesan sebelum akhirnya saya keluar dari sana. Ia meyakinkan saya bahwa menjalankan bisnis bukan hanya masalah passion, tetapi juga tentang uang, tanpa uang passion tidak akan berjalan. That's a reality that I keep in my mind every single day.  Mengingatkan saya bahwa mungkin jalan yang saya ambil sekarang salah, bahwa saya menolak mendengar the good omens yang ada dan seharusnya saya tetap disana. Di hari terakhir saya, kami berdiskusi cukup lama, membahas hal-hal yang membuat kepala saya pusing disaat yang sama membuat saya merasa ''Kaya". I just listen and I feel rich already. My brain is starving all this day. I feel stupid and overwhelmed at the same time. Why can't I have this discussion 3 months ago? It probably changes everything. Terakhir saya berdiskusi selama dan semenarik ini adalah bersama seorang yang 'seharusnya' menjadi CEO saya sekarang, tepat satu tahun yang lalu di sebuah kedai kopi di Jakarta. Such a rare experience! 

But Well, I hate to say that, "It's time, I'm saying goodbye. Let's meet again somehow." 



Oktober 2015
Back to Square 1
Cukup singkat, bulan ini saya bertekad untuk belajar. Sebagai awal, saya memulai dengan mengikuti sebuah kelas barista di sebuah sekolah kopi di Jakarta. Disana saya pertama kali benar-benar belajar "sulitnya" menjadi barista. Saya mendatangi setiap acara kopi yang digelar di Jakarta. Bagi saya acara kopi adalah wahana gratis bagi saya untuk belajar dan mencari teman baru. Karena ini adalah dunia yang baru bagi saya, dan saya memulai semuanya dari nol. Disini saya juga menyalurkan salah satu hal yang sangat sukai yaitu menulis. Saya sempat bekerja freelance menjadi jurnalis dan mewawancara orang-orang yang berwirausaha. Hal ini memberikan saya harapan karena banyak orang yang memulai usaha di usia yang tidak lagi muda dan mereka masih bersemangat!

Mencari Tempat Usaha
Di bulan ini juga saya memulai usaha dengan mencari tempat usaha. yang ternyata sangat sulit. Harga sewa jauh melampaui harga yang saya perkirakan. Tempat yang saya pikir bisa saya sewa ternyata tidak bisa disewa. Dalam masa transisi ini saya juga mengalami ''jet-lag". Namanya juga Indonesia, kalau dirumah dan ketak-ketik depan laptop dipikir saya hanya 'pengangguran', padahal kepala saya penuh dengan segala "to-do list".

Harapan Baru.  
Sahabat dekat saya kebetulan baru pulang dari US. Dia belum tahu bahwa saya sudah keluar dari pekerjaan saya dan memutuskan untuk menjalani usaha di kopi. Saat bertemu dengan saya dan mendengar cerita saya, dia bilang, "Akhirnyaaa! Gila, seneng gw liat lo gini. Pantesan beda sama yang terakhir ketemu.". Namun bagian terbaiknya adalah dari diskusi kami tentang kopi, lahirlah sebuah ide untuk 'melakukan sesuatu' tentang kopi. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke perkebunan kopi di Jawa Timur. Seperti mengulang masa-masa dikuliah dulu, kami 'melakukan' sesuatu, walaupun hanya sekedar berkunjung dan berkenalan dengan petani kopi. Di bulan ini juga saya diberikan kesempatan untuk berbagi cerita tentang kopi di kantor teman saya, walaupun tanpa bayaran, it's such a good thing share!
  

November 2015
Jalan-Jalan Kopi 

Awal bulan ini diawali oleh saya yang pergi bersama teman saya selama 9 hari ke Jawa Timur. Kami sempat singgah sebentar ke Bromo untuk sekedar bersenang-senang, lalu mulai ''bekerja'' ke perkebunan kopi di Dampit dan Sidomulyo. Jika ditanya satu hal yang saya dapat selama perjalanan itu, perjalanan yang menyibukan pikiran masing-masing dari kami, saya belajar bahwa ''Jangan pernah berhenti belajar." itu adalah yang diajarkan petani-petani sukses yang saya temui. Seorang petani di Sidomulyo ditengah-tengah ceritanya tentang kebun kopi selalu bilang, "Saya tuh penasaran mbak, jadi saya cari tau.Ternyata..." Entah ia sadar atau tidak, rasa penasasarn dan sikapnya yang tidak pernah berhenti untuk bertanya "kenapa" menjadikan kebun kopi dan kelompok tani di daerah itu maju. Saya sibuk berpikir, apakah Indonesia akan jauh lebih maju jika setiap anak muda berpikir demikian?

Sore itu, di depan rumah petani kopi, Pak Sunari, saya dan teman saya duduk di teras sambil menunggu matahari terbenam. Kami sibuk membuka bungkus makanan ringan murahan penuh MSG yang kami beli dekat rumah. Melihat kehidupan petani dan segala hal yang saya baca, saya sibuk memikirkan suatu hal, "tek, akan datang suatu masa..." saya memulai opening line sengaja dengan nada dramatis.
"Akan datang suatu masa, dimana jadi petani will be the coolest job ever. Semacam di interstellar gitu." Ujar saya.
"iya. Akan ada masanya, anak-anak muda dari berbagai bidang tiap malem kumpul untuk diskusi soal agrikultur, teknologi terbaru gitu-gitu lah." tambah teman saya.

Entah apa yang akan kami lakukan tentang jalan-jalan kopi ini, kami masih belum berdiskusi lebih lanjut. Kami masih sibuk merapihkan hidup kami di akhir tahun ini. Yang pasti satu, kami sama-sama punya tujuan. Kami sama-sama ingin berguna bagi orang lain, secepat yang kami bisa. Semoga alam semesta bersama kami kali ini. Karena kami tidak lagi berada pada sebuah lomba kuliahan untuk merebutkan sebuah tropi, kali ini kami berlomba dengan waktu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Maaf yang Belum Waktunya
Bulan ini saya memutuskan untuk menghubungi laki-laki itu kembali, sekedar untuk menarik kata-kata saya tentang memutuskan tali silaturahmi. Karena saya ingat, saya harus belajar 'memaafkan'.  Lagipula, saat ini saya punya banyak hal yang harus saya pikirkan dibandingkan memendam kesal dan benci pada seseorang. I have to face the fear. Namun ternyata tidak semudah itu, orang itu menolak untuk bertemu atau bahkan berbicara via telepon. Dia bilang belum waktunya. Entah apa yang ada dikepalanya, hanya Tuhan yang tau. Yang jelas, kali ini saya benar-benar menguras habis rasa marah itu, saya butuh energi untuk memikirkan hal lainnya. Memaafkan dan meminta maaf bukan perkara mudah, but I do it! and I do it first! Saya percaya memaafkan dan silaturahmi itu membuka pintu rezeki,
 lucunya selang beberapa jam kemudian seseorang lainnya mengirimkan pesan singkat di Facebook...

The Surprise
Om saya yang tinggal di US, sudah sejak lama tidak pulang ke Indonesia, mengirimkan saya pesan di Facebook. Terakhir beberapa bulan yang lalu, dia meminta saya untuk menghitung biaya perjalanan ke Bali dan Jogja untuk tahun depan. namun hari itu dia menanyakan apakah saya bisa ke bandara beberapa hari lagi, karena dia mengirimkan sebuah barang bagi saya.  Singkat cerita, akhirnya saya datang ke Bandara Soekarno-Hatta untuk bertemu seorang teman om saya yang tiba di Indonesia hari itu. Lucunya, saya yang menuliskan nama saya besar-besar di kertas HVS, sedangkan saya tidak tau nama orang yang akan saya temui.  Sekitar 45 menit saya menunggu, seorang wanita separuh baya mendatangi saya sambil tersenyum,

"Nah ini dia orangnya. Jadi boksnya nggak bisa aku bawa karena diambil sama imigrasi Amerika, mereka takut aku jualan. Jadi ini Handphonenya, Charger dan Headsetnya." ujar ibu itu sambil mengeluarkan sebuah handphone dari sebuah amplop putih. 

Saya hanya mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih. Ibu itu pun pergi meninggalkan saya, saya yang masih bingung dengan sebuah Iphone ditangan saya, sebuah Iphone keluaran terbaru yang harganya lebih mahal daripada motor yang saya gunakan sehari-hari. Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya saya menggunakan Iphone,
hmm .... saya mengetikan pesan pada teman saya sore itu,
"Bro, tombol on iphone belah mana sih? kok ga ada stripnya."
"li, Iphonenya buat gw aja lah." Canda teman saya sore itu. 

Sekali lagi, saya tidak tau kenapa om saya memberikan saya Iphone ini pada saya. Seiingat saya, ulang tahun saya sudah beberapa bulan yang lalu. Disaat yang sama, saya sedang terpikir untuk mengganti kamera saya keukuran yang lebih kecil untuk keperluan jurnalistik. Sebuah pekerjaan yang mungkin akan saya tekuni.  Namun kali ini, saya tidak perlu menjual kamera lama saya, karena Tuhan telah menjawab doa saya dengan cara yang aneh : memberikan saya seri Iphone yang terkenal dengan kecanggihannya kameranya.


Desember 2015
It's getting real! 
Akhirnya saya mendapatkan tempat untuk membuka kedai kopi saya. Sebuah tempat yang sangat unik karena terbagi dalam dua area provinsi. dua meter kedai saya masuk ke wilayah Jakarta dan 2 meter sisanya masuk ke wilayah jawa barat. Lucu memang, mengingat saya ingin membuka kedai kopi di kedua wilayah itu. Setelah balada mencari tukang sudah terpecahkan kini saya setiap hari berhubungan dengan material bangunan, disaat yang sama mengerjakan proyeksi keuangan, produk, merekrut karyawan, dan lain sebagainya.

Kedai kopi saya sudah hampir jadi, tapi.... resep yang sudah saya coba masih nol.
Saya cukup pusing, karena sepertinya saya bergerak terlalu lamban.
Mungkin memang benar apa yang dibilang oleh John Richardson dalam bukunya.
"These people, even though they generally do pass the passion test, are usually the least likely to succeed. That’s not to say they cannot on occasion actually do very well, but it will nearly always be too huge a learning curve and the dream will be quickly shattered."
is my learning curve too big?  

Saya percaya kata-kata dibawah ini: 
It's not only passion that keeps a business live, it's ambition. 
Ditengah-tengah kebingungan saya tentang membangun bisnis ini, saya tidak sendirian sepenuhnya. Beberapa teman datang dan membantu saya disana dan disini. Terkadang disini saya merasa jadi orang paling beruntung di dunia. Saya harus membuat ini berhasil bagaimana pun caranya, dan sekalipun saya gagal....saya harus memperbaikinya secepat mungkin.
---
Saya menulis panjang hari ini ditengah-tengah rasa lelah bekerja sendirian.
Saya hampir tidak punya waktu luang, walaupun banyak orang melihat demikian.
Saya sakit dan saya tetap pergi ke toko saya untuk sekedar membeli bahan material dan melihat perkembangan bangunan toko saya. Kedai kopi kecil saya.
lalu kenapa saya menyempatkan diri untuk menulis?
Tahun baru sebentar lagi dan saya tidak ingin melewatkan menulis tentang hidup saya tahun ini.
Agar saya tahu, tahun depan apakah "the up" years  atau 'the down' atau tahun yang "so-so" saja. Menulis juga menjadi tiket bagi saya untuk kembali masa lalu.
Membandingkan diri dan sudut pandang saya berpikir.
Apakah saya menjadi orang yang lebih baik atau buruk?
Yang terakhir, menulis juga mengingatkan saya tentang hal-hal baik yang saya alami di tahun sebelumnya dan harus saya syukuri.

A little touched by God:
Tahun ini jelas adalah "Up" bagi saya, bertemu  dan berdiskusi dengan orang-orang luar biasa, baik itu teman, atasan, atau mantan #eh,  adalah pengalaman berharga bagi saya. Tahun ini adalah tahun penuh kejutan dan hal-hal yang harus saya syukuri. Good people are surrounding me, what can I ask for more?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!