Catalyst

Selamat Malam,

Semenjak saya memasuki dunia kerja, saya jarang sekali menulis di blog ini. Entah karena saya tidak punya cerita, atau saya tidak berniat untuk menceritakan cerita dalam hidup saya ke dalam blog ini. Walaupun saya masih punya banyak hutang menulis mengenai beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, pada malam ini saya lebih ingin menulis tentang hidup saya.

September lalu saya genap berusia 23 tahun. Sebagian besar orang mungkin akan bilang saya masih sangat muda, umur saya belum ada seperempat abad. Saya baru lulus kuliah tahun lalu dan meniti karir di salah satu perusahaan multinasional.

Begini ceritanya...
Bulan itu seseorang yang sangat saya percayai memutuskan untuk pergi dari hidup saya, "Somehow, I don't understand how you think about something, it seems coming out of no where, then suddenly you do it. You'll be better off without me." begitu katanya pada hari itu. Pada saat itu, saya kecewa karena ternyata saya harus kehilangan teman seperjalanan saya. Bulan-bulan itu, saya sering kali bertanya-tanya tentang hidup saya, apakah saya akan menjadi seseorang yang sukses? lalu apakah definisi sukses itu sendiri bagi saya? Mungkin dengan segala suara yang berteriak di kepala saya dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, perasaan merasa diasingkan dari lingkungan, dan perasaan tidak didengarkan, a quarter life crisis finally reaches me.  I don't have time dealing with this loving-and-caring thing, I let you go my friend, Go find your happiness, I will recommend you to start  finding your vision first. 

"Something always happens for a reason."

Hari-hari berikutnya, setelah kejadian itu saya sering kali menghubung-hubungkan segala hal. Segala hal yang semuanya selalu saya mulai dengan kata "Kenapa?". Setiap hari, setiap saya datang ke kantor, saya kembali mengingat tujuan saya bekerja disitu, kenapa itu jalan yang saya pilih tahun lalu padahal tahun lalu saya mendapatkan tawaran yang lebih menarik dari CEO sebuah perusahaan Start-Up di Indonesia. Saya menuliskan tujuan-tujuan itu dalam secarik kertas, mengevaluasi apakah saya sudah pada taraf mendapatkan hal yang saya inginkan, apakah ada lagi hal lain yang ingin saya dapatkan dari bertahan pada pekerjaan itu? Saya tidak ingin bertahan jika alasan saya adalah alasan material. Lalu saya mengerti, mungkin, teman saya itu pergi dari hidup saya karena saya akan membuat sebuah keputusan yang tidak akan pernah saya ambil jika dia ada disamping saya. Seseorang mengirimkan saya pesan singkat pada bulan Maret tahun ini:

 "life's too short to not doing something exciting and meaningful." - NM

Kalimat diatas terngiang-ngiang di kepala saya, saya tidak benci pekerjaan saya, pada kenyataannya, banyak hal yang saya sukai dari pekerjaan saya. Namun saya merasa ada hal yang kurang, seperti quarter life crisis pada kebanyakan orang, ada sebuah ruang kosong yang perlu diisi dan ini sudah waktunya untuk mencari hal yang bisa mengisi ruang kosong itu.  Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan membuat perjalanan saya sendiri. Menulis ulang semuanya dari nol. Saya akan terjun ke sebuah industri yang benar-benar baru bagi saya, dimana segala prestasi yang pernah saya capai tidak akan berlaku.

Seseorang mengatakan hal yang hingga kini saya ingat hampir setiap harinya, "Jalan Tuhan itu tidak pernah mudah dan instan. Jika jalan yang kamu ambil ini benar, it's going to be really really hard.". Dan saat dia mengatakan 'Really Hard' saya tau bahwa ini semua akan berat, sangat berat. Saya sangat sadar posisi saya dalam usaha yang ingin saya jalani, saya punya sejuta alasan bahwa saya akan gagal, tapi saya tidak mau menjalani hidup saya dengan kata-kata "seandainya..."
 Sekarang ini, saat saya sadar posisi saya yang sulit dan lubang kegagalan sepertinya sudah ada di depan mata,  sering kali saya merasa konyol karena mengambil keputusan itu, tapi detik berikutnya saya kembali mengingatkan diri saya sendiri, "If it's not hard, everyone would do it. then if  it's hard, I am already in the correct path, right?" 

Sebulan terakhir saya bekerja, adalah bulan dimana saya mengalami banyak hal yang mungkin menjadi bagian terbaik dari bekerja pada perusahaan itu. Saya banyak berdiskusi dengan orang-orang yang jauh diatas saya dan berpengalaman dalam bidangnya. Banyak orang mempertanyakan keputusan saya, sebuah keputusan yang sepertinya dibuat tergesa-gesa. Beberapa diantaranya menganggap saya masih terlalu muda untuk mengakhiri karir saya secepat ini, dan melihat saya sebagai seseorang yang tidak memiliki komitmen. "Kenapa saya melakukan ini" adalah pertanyaan yang orang-orang lain ajukan kepada saya. The "Why". Sebuah proses diskusi panjang yang membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri dan tujuan saya. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya ingin membangun sebuah bisnis sendiri dan saya sudah ingin melakukannya sejak lama. Namun saya tau, itu hanya jawaban cliche yang bisa saya berikan kepada orang-orang yang menuntut penjelasan pada saat itu. Ada hal lain yang ingin saya capai: 
because life's too short, 
Mark Zuckerberg found facebook at twenty
Shi*, I passed that. 
and Einstein found relativity theory at twenty-five. 
I got less than 2 years.   
Are You Laughing now? 
Say, "Yes, I am." 
Cause,
Gandhi said You will laugh at me,
Fight me, then I win. 

 Anyway...
The "Why", My Why Answer is, catalyst. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!