Mengarungi Kehidupan

Belakangan saya membaca sebuah buku berjudul "Rindu" karangan Tere Liye, dalam buku itu saya mendapatkan sebuah perumpamaan hidup bagaikan kapal. Ada pelabuhan-pelabuhan kecil, ada pula pelabuhan-pelabuhan besar dimana kita bisa berhenti, tetapi itu semua adalah pemberhentian, pada hakikatnya kapal kita akan berangkat menuju tujuannya yang lebih besar, yaitu kembali kepada Tuhan.
Dwi Uli - Saleman, Maluku.
 

---

Dulu sebelum Kakek saya meninggal, beliau sempat berkata "Ah, aku mati saja lah. Udah nggak ada lagi yang aku cari di dunia ini." Nenek saya pun mengatakan demikian, cuma ditambah dia bilang dia sudah lelah, lagipula semua Anak-anaknya sudah besar dan berkeluarga. Akhirnya keduanya berpulang kepada Tuhan hanya dengan selisih waktu 6 bulan. Saat itu saya berpikir, Kenapa bisa ada orang yang merasa kematian itu lebih baik dibandingkan kehidupan? Namun semakin saya dewasa, saya semakin mengerti, bahwa tidak selamanya Hidup Panjang Umur itu baik. Bayangkan, semua orang yang kamu kenal telah meninggal. Orang-orang yang dulu duduk dan berbincang, orang-orang yang dulu sering berfoto bersama, dan orang terkasih yang pernah mencintaimu setulus hati. Semua orang itu sudah pergi, tergantikan dengan generasi yang lebih baru yang tidak mengerti apa yang kamu inginkan. Orang-orang generasi baru menertawakanmu yang lamban membalas omongan mereka tentang suatu teknologi yang aneh. Ditambah lagi dengan rasa sakit dari tubuh mu yang sudah tidak lagi muda. Apa lagi yang tersisa dari Dunia ini untuk mu?

Sepertinya saya belajar, bahwa ada waktunya kita harus mengikhlaskan hidup ini dan bersyukur atas apa yang telah kita miliki sekarang. Bersyukur bahwa kita pernah terlahir di dunia ini dan mengarungi kehidupan singkat ini. Seperti saat kita berlayar dan mampir disebuah kota besar. Kita sudah menjelajahi kota itu dan melihat kebanyakan isinya. Tiba waktunya kapal berlayar lagi, kita memang tidak melihat semuanya, tetapi kita tetap harus bersyukur kita pernah kesana dan merasakan sebagian kecil dari kota itu. Maka saat itu, langkah kita akan lebih ringan menaiki kapal dan kembali berlayar.

Saat ini, kapal kehidupan saya sedang menghadapi gelombang tinggi. Saya jenuh berada di sebuah kapal menjadi seorang penumpang. Saya ingin menjadi kapten kapal saya sendiri. Sejauh ini saya selalu memilih apa yang ingin saya lakukan. Saat ini saya melakukan "apa yang harus" saya lakukan, bukan "apa yang ingin" saya lakukan. Namun yang "harus" itu tidak selalu benar, konformitas lah yang membuat pilihan itu seakan-akan menjadi benar. Saya percaya membuat kesalahan adalah bagian dari pengarungan kehidupan, seseorang mengatakan kepada saya tentang pentingnya membuat kesalahan. Karena dengan membuat kesalahan,  semakin cepat kita mengetahui hal yang benar. Pilihan saya sekarang, dari awal, saya tau adalah salah. Saya harus mengorbankan waktu saya untuk menjadi seorang pegawai kantoran yang terjebak dalam rutinitas dan papan performa. Belakangan saya berpikir, "Ya Tuhan, apalagi yang tersisa dari Dunia ini untuk saya? Apa lagi yang bisa saya lakukan selain menghabiskan waktu saya hanya untuk uang?"

Ada suatu cara mudah untuk mengetahui hal apa yang paling tidak membuat kita tidak bahagia. Saya sering melakukan ini, dan mungkin inilah yang belakangan membuat saya tidak bahagia lalu melakukan hal-hal dengan impulsif. Tanyakan pada diri kamu, "Jika kamu mati besok, Hal-hal apa yang akan kamu berhenti kerjakan untuk mempunyai waktu lebih banyak melakukan hal-hal penting terakhir kalinya?" 


Jawaban pertama saya, "Pergi ke kantor."  Jika saya mati besok, saya bahkan tidak akan repot-repot untuk menulis surat pengunduran diri atau berpamitan dengan orang-orang dikantor. Saya akan menemui keluarga terdekat saya lebih dulu, lalu keluar dari kota sialan ini untuk mencari sebuah tempat mati yang lebih pantas dilihat mata untuk terakhir kalinya.

Ketika kapal saya berhenti di pelabuhan terakhirnya.
Saat itu, saya ingin berdiri di tegap di buritan kapal.
Melambai pada orang-orang lain dengan bangga.
Tanpa saya, dunia tidak menjadi lebih baik.

"The truth is, once you learn how to die, you learn how to live" - 
Tuesday with Morrie, Mitch Albom. 


Komentar

  1. saat yang paling buat kita bisa menghargai waktu adalah saat kita ingat kalo kematian ga jauh dari kita

    BalasHapus
  2. Aku terpana dengan kata-kata yg mengalir indah dan menawan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!