Melihat dengan Mata: Ujung Kulon

Mari kita mulai tulisan mengenai perjalanan ini dengan sebuah film perjalanan berjudul "The Secret Life of Walter Mitty." Bagi saya film ini merupakan salah satu film yang menohok bagi seorang pekerja kantoran. Dalam film itu diceritakan tentang seorang pria, pekerja kantoran, yang menjalani pekerjaan yang sama bertahun-tahun lamanya, dan tanpa sengaja terjebak dalam sebuah perjalanan mencari bagian negatif film yang hilang. Sebuah perjalanan yang membuat hidupnya tidak lagi dalam mimpi, tetapi menjalani mimpi itu sehingga menjadi kenyataan. Keluar dari zona nyaman dan menemukan keindahan dari ketidakpastian di luar sana.

Sumber :  Link 
Ada kata-kata dalam film itu yang menohok sekali bagi saya, yaitu "If I like a moment, I don't like to have a distraction of camera. I just want to stay in it. Right there.". Semenjak saya memiliki kamera DSLR saya sering kali membawa kamera saya kemana-mana, namun begitu saya melihat hasil jepretan saya dirumah saya sering kali kecewa, karena hasil jepretan saya tidak sesuai dengan apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. 

---

Jadi, seminggu yang lalu saya mendapatkan kabar dari junior saya di Pecinta Alam saya dulu untuk ikut perjalanan mereka ke Ujung Kulon. Sebuah tempat yang masih di Jawa Barat, tetapi membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan Jakarta - Jogja untuk tiba disana. Saya sudah pernah datang ke tempat ini dua kali, terakhir kali di tahun 2012 untuk seminggu lamanya. Saya menyukai tempat ini, walaupun butuh waktu yang sangat lama untuk tiba di Pulau Peucang, Ujung Kulon. Ketika akhirnya saya setuju untuk pergi bersama junior saya, akhirnya saya pergi bersama 23 orang lainnya menuju Ujung Kulon pada tanggal 13 Mei 2015 malam hari. Kami tiba di Taman Jaya, desa tempat kami naik kapal menuju Pulau Peucang pada Pukul 4.30 Pagi keesokan harinya. 

Dalam perjalanan dari Labuan ke Taman Jaya, karena supir Elf yang memaksa mengangkut kami ber-24 menggunakan satu elf, yang sebenarnya hanya berkapasitas untuk 15 orang, membuat kami tiba di Taman Jaya dengan kondisi badan pegal-pegal. Bahkan salah satu teman saya duduk diatap elf diterpa angin malam selama kurang lebih 4 jam. Namun perjuangan kami tidak sia-sia, karena pagi hari saat kami tiba, cuaca sangat bagus dan laut sangat tenang. Berbeda sekali dengan terakhir kali saya datang kesana pada bulan September dan Januari, air laut pasang dan gelombang tinggi.

Taken by Humus FEB UI - Happy on Board

Setibanya saya di Peucang, saya puas dengan apa yang saya lihat. Pantainya tidak begitu banyak berubah dan barak yang dulu saya tinggali sudah di renovasi sehingga menjadi lebih layak. Hanya saja ada sampah-sampah yang terbawa arus hingga ke pinggiran pantai Peucang, katanya sampah-sampah itu buangan dari kapal-kapal wisatawan di daerah Selat Sunda, entah siapa. "Wah ini capek Mbak mulunginnya." kata Mang Enthus, seorang petugas yang bekerja di Pulau itu, salah satu orang yang menyambut saya disana dengan ramah. Bahkan dia masih mengingat saya datang 3,5 tahun kesana bersama teman-teman saya yang lain, dan menanyakan kabar teman-teman saya, seperti "Yang badannya gemuk yang marah-marah pagi itu siapa namanya? kabarnya gimana sekarang?". Hal inilah salah satunya yang membuat saya kangen untuk datang kemari lagi. 

Perjalanan kali ini juga membawa saya ke Cidaon, Cibom, dan Tanjung Layar. Ke semua tempat yang sudah pernah saya kunjungi. Namun tempat favorit saya adalah di Pulau Peucang, dan Dermaga Cidaon. Ketika teman-teman perjalanan saya lainnya berenang di sore hari menikmati cuaca yang mulai sejuk dan air laut yang bersih, saya memilih untuk pergi ke dermaga dan duduk di salah satu ujung haluan (bagian depan kapal) kapal sambil mendengarkan musik dan memandang Gunung Honje dari kejauhan. Kombinasi yang sempurna untuk semua indera saya, karena disini saya bisa melihat warna hutan dengan gradasi hijau, pasir putih, laut dengan gradasi biru kehijauan, gunung, dan yang jarang saya temui dimana-mana suara kicau burung, dan elang yang sering kali terlihat mencari makan. Saya duduk di haluan hingga langit sudah gelap, sesekali orang kapal mendatangi saya dan berbagi makanan juga minuman, mengobrol sebentar lalu kembali memasak makan malam. Bahkan saya duduk bukan dikapal yang saya sewa, tetapi dikapal orang lain, namun karena saya kenal dengan awak kapal, saya bisa menikmati kentang goreng dengan cuma-cuma sore itu. another awesome point from this place. 


Dermaga Pulau Peucang
Sore itu saya merenung sambil menikmati pemandangan yang ada didepan mata saya, terkadang saya sengaja mematikan musik dari handphone saya dan mendengarkan suara-suara alam disekitar saya. This is the moment. The moment when you just want to be there, doing nothing, enjoy all the little things.  Saya membawa kamera saya, dan sempat memfoto pemandangan beberapa kali, lalu gagal karena saya tidak pernah puas dengan hasil terpampang di display kamera, akhirnya saya masukan kamera saya dan saya nikmati momen itu dengan segala indera saya. Terkadang saya merasa fotografi itu palsu, karena apa yang dilihat oleh lensa mata tidak akan bisa tertankap 100% dalam kamera sebagus apapun teknik dan kameranya. Seorang teman saya, sepulangnya dari komodo ia berkata pada saya, "Wah li, bawah lautnya, ga bisa gw deskripsiin. Itu sesuatu yang harus lo liat dengan mata kepala lo sendiri."  Mungkin memang benar mata adalah lensa yang terbaik.

Dalam perjalanan ini, saya sering kali memperhatikan turis-turis lainnya. Hal yang dilakukan ketika pertama kali tiba disebuah destinasi adalah mengeluarkan kamera dan berfoto. Yang membuat saya miris, sekarang ini saya sering kali melihat orang yang jalan-jalan bukan karena mereka suka jalan-jalan tetapi karena mereka sekedar ingin memposting wajah mereka di media sosial dengan latar belakang alam yang bagus. Belakangan terdapat berita Mahasiswa yang jatuh ke Kawah Gunung Merapi setelah selfie pada suatu tempat yang berbahaya di mulut kawah. Segitunya inginkah dibilang 'Jagoan'? Saya tidak Mengerti.  Traveling mungkin sedang menjadi suatu hal yang hips pada anak-anak muda jaman sekarang, beberapa iklan rokok pun mengusung tema adventure  dan traveling,  acara sabtu minggu juga banyak diisi oleh acara jalan-jalan. Buku-buku di toko buku mulai ramai dihiasi oleh judul-judul "jalan-jalan....". Ketika kemarin saya membawa carrier saya ke kantor, karena saya langsung berangkat ke terminal sepulang kerja, seorang teman saya bilang "Ih, lo mau dibilang "gue anak gunung banget loh" ya? Bawa-bawa carrier ke kantor.", sepertinya sudah ada image Traveling Person = Cool Person. Men, I do traveling because I like it, I've been doing it since I was elementary schoool. It's not because some fu**ing image building. 

Kembali ke mengabadikan diri, saya yakin banyak diantara kita yang ingin "pamer" bahwa saya adalah orang yang "adventurir", saya 'sering liburan', "saya pernah ketempat-tempat yang jarang dikunjungi", namun kadang kita melupakan kesenangan dari perjalanan yang sesungguhnya yaitu menikmati dengan mata kepala kita sendiri tanpa gangguan lensa kamera. Menikmati sekeliling tanpa harus berfoto ratusan kali ditempat yang sama hanya untuk mendapatkan pose terbaik. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang ingin mengabadikan foto diri disebuah tempat, karena saya pun begitu, namun yang salah adalah saat orang itu ingin menjadi hal yang lebih 'menonjol' dibandingkan latar belakang alamnya, ingin terlihat 'cantik' dalam segala pose dibandingkan alam yang cantik, sehingga mengharuskan temannya untuk mengambil fotonya berkali-kali. "Guys, beautiful things doesn't ask for attention."  lagi-lagi kutipan dari film The Secret Life of Walter Mitty.

Saya pernah pergi ke sebuah tempat dengan beberapa orang di dalamnya, dalam rombongan itu hanya saya dan teman saya berinisial U yang 'hanya' mengabadikan foto untuk dokumentasi (''Yang penting gw pernah foto disitu."), sisanya rombongan orang-orang yang HARUS berfoto Ratusan kali ditempat yang sama, alhasil kita tidak bisa pergi ke banyak tempat, karena disetiap titik kami harus berhenti 15-30 menit hanya untuk berfoto. Sebuah perjalanan yang cukup mengesalkan bagi saya.

Dalam perjalanan saya kemarin ke ujung kulon, saya bersyukur rombongan ini lebih banyak menikmati alam apa adanya dengan mata kepala sendiri, Banyak hasil foto dari perjalanan ini tetapi kebanyakan hanya untuk kepentingan dokumentasi. Mungkin karena kami dari kelompok pecinta alam, secara tidak langsung kami menjadi golongan yang lebih menikmati "The Moment" dibandingkan di foto. Semua perjalanan dilakukan dengan on-time, terkadang saya mengambil foto teman-teman seperjalanan saya tanpa mereka ketahui. Bagi saya lebih asyik mengabadikan momen-momen yang 'asli'. Saya tidak melarang jika ada teman yang ingin minta difoto oleh saya, karena pada dasarnya saya lebih suka memfoto dibandingkan dengan difoto, namun jangan buat saya mengambil foto berkali-kali "Eh sekarang pake kamera hp." atau "eh, sekarang gw gayanya begini ya." (Padahal tadi gaya yang model begitu udah 5x jepret). Errrr.... kesel.

Taken by Mang Ian  - Full Team Humus FEB UI
(3,5 Tahun yang Lalu Cuma 5 Orang foto disini,  Sekarang 24 Orang :D) 

Kemarin ketika saya ke Ujung Kulon, saya menemukan tempat itu tidak banyak berubah selama 3 tahun terakhir, jalanan masih rusak dan sulit di akses dengan kendaraan besar. Walaupun katanya akan ada pembangunan resort seluas 50 Ha di Pulau Peucang, saya berharap harganya akan mahal sekali bagi sebagian besar turis Indonesia. Saya mungkin jahat, namun saya rasa lebih baik begitu. Karena sering kali saya dikecewakan oleh kelakukan turis Indonesia yang merusak terumbu karang dan membuang sampah sembarangan. Saya harap jalanan pun akan tetap begitu dan sulit diakses sehingga Pulau Peucang dan sekitarnya akan tetap seindah sekarang lengkap dengan hewan-hewannya.

A little touched by god: The best lens is the pair of eye lens. Respect the nature as you respect your self. 

Special Thanks for HUMUS 17 and team to arrange this trip. I'm so Proud of you guys! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!