Perseverance!

hello!
It's been 2 months since my last post.  Selama dua bulan terakhir ini saya tidak pergi trip kemana-kemana, dan anehnya saya merasa saya baik-baik saja. Mungkin jika dulu saya merasa bahwa saya akan depresi jika 1 bulan saja tidak pergi ke luar kota. Kemarin ini saya bahkan tidak memiliki tempat untuk dituju, selain uang tabungan yang sudah menipis, saya mungkin teralihkan dengan kesibukan mencari kerja.

Baiklah pada post kali ini saya mau menceritakan bagaimana proses mencari kerja itu bisa menjadi salah satu tahap terpenting dalam hidup saya. Menurut saya sendiri, yang bahkan bukan lulus psikologi, saya melalui beberapa fase hingga akhirnya saya bisa menerima keadaan saya dan melihat hal ini sebagai hal yang positif.  Dalam buku yang berjudul "The Happiness Project" tulisan Rubin(2009) , terdapat fase-fase seorang yang berduka hingga fase "acceptance", mungkin itulah yang terjadi pada saya sekarang. Belakangan saya menyibukan diri saya dengan membaca buku tentang self-help, dari mulai buku berlandaskan agama hingga riset. Hanya buku-buku ringan yang mengajarkan saya untuk melihat suatu hal dari sudut pandang yang lebih positif. Pada tulisan ini saya ingin menjelaskan beberapa kejadian yang menurut saya penting selama proses saya mencari kerja. Bahwa hidup tidak semudah keliatannya, atau tidak semudah tertulis dalam buku. Semua itu benar.

1. When Expectation meet Reality.
Mari kita kembali ke dua bulan lalu. Saya adalah seorang sarjana yang baru lulus dari sebuah universitas ternama dengan sebuah IPK cum laude, namun saya tidak kunjung langsung mendapatkan pekerjaan. Semua tidak sesuai dengan ekpektasi saya. Saya pikir ketika saya lulus dengan nilai dan pencapaian yang saya miliki, saya akan segera mendapatkan pekerjaan saya inginkan. Namun hidup tidak semudah itu. Sepanjang saya mengikuti tes kerja, saya merasa saya menemui orang-orang yang dari segi IPK dan Universitas berada dibawah saya, namun mereka lulus tes dan saya gagal. Lalu saya merasa marah. Bagaimana mungkin mereka bisa? Saya pongah dan jumawa lalu saya gagal. Saya menyalahkan Tuhan yang memberikan nasib buruk pada saya. Namun kemudian setelah 1 bulan saya menyadari satu hal, menyalahkan orang lain (apalagi Tuhan) karena ekspektasi saya tidak terpenuhi tidak akan membawa saya kemana-mana. Seorang teman mengatakan pada saya, "Yang buat lo kecewa itu bukan kenyataan, tapi ekspektasi lo li.". Kemudian saya sadar pada saat seperti ini, berhentilah berekspektasi

2. Coping with Failure   
Melanjutkan nomor sebelumnya, lalu apakah lebih baik jika kita tidak memiliki ekspektasi apa-apa? Saya memang berhenti berekspektasi,   saya berhenti berekspektasi pada kondisi eksternal saya. Saat saya gagal tes, saya berkali-kali berpikir "Ini bukan salah saya, perusahaannya aja yang nggak bener proses seleksinya. Lagian ngapain sih pake tes psikotes. Nggak adil lah, masa yang diambil yang lulus psikotes padahal kualifikasinya dibawah saya. Masa ngerekrut cuma gara-gara gambar.". I keep blaming on something else. Saya tidak menerima kegagalan. Failure is not my style. that's it.  tetapi kemudian saat saya mulai membaca beberapa buku, saya menyadari bahwa satu-satunya hal yang bisa saya ubah dalam hal ini adalah diri saya sendiri. Saya tidak akan bisa mengubah proses seleksi perusahaan lain, menyalahkan mereka tidak akan membawa saya kemana-mana. Kemudian saya mengubah ekspektasi saya, saya berekspektasi pada diri saya sendiri. Setelah menyalahkan orang lain, akhirnya pada satu titik saya menyalahkan diri sendiri karena tidak memberikan yang terbaik. lagi, seseorang bilang kepada saya, "Perusahaan itu nyari orang yang mau kerja, itu yang penting, pinter itu nomor sekian." . Akhirnya saya benar-benar latihan dan belajar setiap kali saya mengikuti tes kerja, ada juga yang saya tetap gagal. lalu? lalu anehnya, saya bisa menerima kegagalan itu jauh lebih baik. Karena saya merasa saya sudah melakukan yang terbaik yang saya bisa, saya berhenti berekspektasi pada orang lain, saya yakin bahwa pekerjaan itu bukan yang terbaik buat saya. Saya teringat sebuah kalimat yang saya baca dalam sebuah sampul majalah, "Sukses bukanlah tidak pernah gagal, tetapi orang yang berhasil belajar dari kegagalan."

3. Self-Control  
Saya teringat sebuah buku yang saya baca, "Takdir boleh membolak-balikan hidup mu, tetapi bagaimana kamu melihatnya sebagai hal yang positif atau negatif adalah penuh keputusanmu."  Dalam psikologis manusia, terdapat alam bawah sadar yang katanya sangat mempengaruhi kemampuan kita mengambil keputusan. Seperti jika kita mengisi alam bawah sadar dengan hal-hal yang baik, maka kita akan jadi orang yang lebih mudah menangkap hal-hal positif dan melihat berbagai hal menjadi sebuah kesempatan bahkan kegagalan sekalipun. Sekuat itukah kemampuan berpikir manusia? Saya mulai berpikir, saya sering kali marah dan kemudian saya menyesal di kemudian hari. Saya sadar saya memiliki masalah dengan manajemen emosi saya, mungkin karena itu saya mulai mencari buku-buku berbau psikologi. Jika saya selalu menuruti emosi saya, saya tidak akan pernah bisa mengendalikan diri saya. Seperti ketika saya gagal tes kerja, dan saya merasa emosional, saya bertengkar dengan pacar saya hanya karena perkara diskusi soal cari kerja. kemudian saya merasa semakin bersalah, semakin tidak berguna. Saya pernah mengalami hal ini dan saya merasa saya kehilangan kendali pada hidup saya sendiri, beacuse everything seems failing apart.  Kemudian saya bertanya-tanya sendiri, kenapa pada waktu itu saya harus semarah atau sekecewa itu. Kenapa? Apakah saya berhak untuk marah? Saya emosi. Lalu kemudian, saya membaca mengenai pendewasaan, "Dewasa adalah berpikir sebelum bertindak dan berpikir sebelum memasukan semua ke dalam hati" (Susanto, 2012).  Kemudian saya menyadari, mungkin ini cara Tuhan untuk mendewasakan saya. Sehingga saya dewasa dan bisa mengendalikan diri saya dikemudian hari nanti. Saya sedang disiapkan untuk sesuatu yang besar, yang saya tidak tahu apa, yang jelas untuk menghadapi hal itu saya harus sudah siap, dan memiliki the right attitude. Dalam Tuesday with Morrie, Albom mengatakan "I like working, since that's the only thing I can control  in my life.". Saat saya bisa mengendalikan diri saya, saya bisa menyaring apa yang harus saya rasakan dan bagaimana saya menghadapinya, saat saya bisa mengendalikan itu saya merasakan kepuasaan tersendiri. But... it's damn hard to do! Mungkin karena itu orang yang bisa mengendalikan emosi itu sedikit populasinya, bukan hal yang mudah, tetapi saya yakin practice makes perfect, right? :D

 Pada suatu hari, ditengah diskusi sore hari saya dan seorang teman, saya menanyakan hal seperti ini kepada teman saya:
"Eh lo pernah ga sih berdoa minta supaya jadi orang yang sabar, sukses dan sebagainya?" 
"Ya pernah lah."  Jawab teman saya.
"Terus lo dikasih kegagalan terus menerus. terus lo marah sama keadaan? padahal ya kalau dipikir-pikir, doa lo itu sedang dikabulkan. contoh nih ya, lo minta dikasih sabar, lo terus-terusan dikasih masalah sama keluarga, sama kerjaan. Nah karena akhirnya lo sering ketemu masalah, lo jadi terbiasa menghadapi masalah itu, dan akhirnya setelah masalah itu lewat lo udah jadi orang yang lebih sabar dibandingkan sebelumnya. Kayak Tuhan lagi minjem orang lain buat bikin lo jadi orang yang lebih sabar, karena lo yang minta itu."   

Sama halnya ketika saya gagal terus menerus dalam melamar pekerjaan, ketika saya mulai menerima keadaan saya,  saya belajar untuk tidak menjadi orang pongah dan mencari dimana kesalahan saya, saya tidak malu berdiskusi dengan orang-orang lain dan mengatakan bahwa saya sedang mencari pekerjaan, saya butuh saran untuk tes kerja. Saat interview dan tes kerja yang kesekian kalinya saya berharap tidak mengulang lagi kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, dan saya bisa menerima hasil apapun. that's what I called Perseverance, failing, accepting and getting up again. Setelah dua bulan berlalu, akhirnya nanti sore saya akan menandatangani kontrak kerja di sebuah perusahaan asing yang saya perjuangkan sebulan terakhir, perusahaan yang bahkan tadinya tidak ada dalam list perusahaan yang saya tuju, memang semuanya tidak berjalan sesuai ekspektasi saya, tetapi saya tidak keberatan jika saya diberikan yang lebih baik dibandingkan ekspektasi saya. :)

Selelsai sudah curhat pada pagi hari ini. Saya sudah mengeapak tas saya untuk memulai perjalanan karir saya hari ini dan saya ucapkan "Selamat datang dunia kerja!"
       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!