Ini cuma reuni!



A journey is best measured with friends not by miles -Tim Cahill

Sepatu Berusia 4 Tahun
Perjalanan saya kali ini dimulai dari cerita sekitar tujuh tahun lalu, ketika saya dan orang tua saya mendaftarkan diri saya untuk sebuah SMU di Jakarta Timur. Saat pendaftaran itu saya berkenalan dengan seorang teman yang ternyata setelah 7 tahun berlalu masih menjadi teman saya haha. Singkat cerita saya dan teman saya, kita sebut saja bernama Ardy, mengikuti kompetisi di SMA bersama-sama bedanya dia dari cabang eksakta dan saya dari cabang ilmu sosial. Ada ikatan khusus diantara kami berdua saat masih SMA, yaitu teman seperjuangan dan sependeritaan karena kompetisi itu, karena well sesuatu ternyata tidak selalu indah seperti keliatannya walaupun kami berdua sama-sama mendapatkan medali karena kompetisi itu. Setelah kuliah, Ardy berkuliah di Jogja dan saya di Depok.  Kami bahkan bukan teman dekat selama SMA dan ya kami hampir tidak pernah berhubungan lagi semenjak masing-masing dari kami masuk kuliah (well karena masa-masa penderitaan kompetisi itu telah berakhir setelah kami masuk kuliah :P), terakhir saya bertemu dengan Ardy adalah saat ada bencana Merapi di Jogja dan kami bertemu di SMA kami tahun 2010 lalu. Lalu tidak ada komunikasi lagi setelah itu. Hingga belakangan ini saya sering kali menemukan update foto teman saya (di jejaring sosial) di beberapa gunung di Jawa Tengah. Setelah terakhir pendakian berdarah saya di Pangrango, rasanya saya ingin mendaki gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dari beberapa foto yang saya lihat memiliki sabana-sabana yang luas, lalu pilihan saya jatuh pada Gunung Semeru. Setelah 2 kali gagal ke semeru, rasanya saya ingin kesana sebelum saya lulus dari perkuliahan ini.  Lalu saya pun, men-chat teman saya itu, menanyakan kabarnya dan dengan randomnya setelah hampir 4 tahun tanpa komunikasi menanyakan:  

“eh dy naik gunung yuk. Gw liat-liat lo seneng naik gunung nih.”

Dan setelah itu pembicaraan kami berlanjut pada kesibukan kami masing-masing mengenai Tugas Akhir, saya yang masih belum lulus dan harus sidang ulang namun tanggal sidang ulang saya yang tidak kunjung keluar dan Ardy yang masih mengurus dosen pembimbing dan entah apa lagi. Yang jelas sekitar seminggu kemudian, Ardy mengiyakan ajakan saya naik gunung, dan hasil diskusi kami menghasilkan “Gunung Semeru”. Pertanyaan berikutnya adalah “Who’s gonna in our team?”, saya tidak kenal teman-temannya dan saya juga tidak mengajak teman-teman saya yang masih sibuk dengan urusan skripsi dan menjelang UAS. Lebih tepatnya, saya ingin suasana baru. Leaving all thing behind me. Dan... setelah gunung Kelud meletus, hampir semua gunung di Jawa Timur menjadi Aktif. Kawah Ijen ditutup, dan semeru masuk dalam katagori waspada. Lalu dikarenakan skripsi, teman saya itu mendadak tidak bisa mengosongkan jadwalnya selama seminggu untuk naik gunung. Dan akhirnya...

“Yaudah kalo mau naik gunung, merbabu aja li. Nanti gw temenin deh kalo merbabu. Kan bisa weekend tuh.” Kata teman saya akhirnya. Akhirnya saya menunggu hari senin untuk menanyakan kepastian jadwal sidang saya yang ternyata tidak mungkin minggu itu, dan senin sore itu juga saya membalas chat teman saya “Dy, kalo minggu ini lo bisa ga? Gw beli tiket ke jogja buat kamis nih, kalo lo bisa.” . Dan akhirnya, sore itu juga saya membeli tiket kereta ke Jogja untuk Kamis itu.    

Beberapa hari kemudian saya sudah berada diatas kereta menuju Jogjakarta, sendiri. Saya membawa  carrier saya dan sebuah tas kecil berisikan buku dan berbagai peralatan kecil lainnya. Perjalanan ini bukannlah perjalanan yang saya mulai dengan suasana bahagia. Saya penat dan lelah dengan segala urusan yang berhubungan dengan tugas akhir saya. Seseorang disana yang seharusnya ada pada masa-masa tersulit malah tidak bisa di harapkan pada waktu itu. “At that time, I was just stare out of train window, thinking if I were dead, would somebody cry over me? Miss me? Or even feel regret for not having chance to say goodbye to me?” Pada malam itu di kereta saya membaca buku tentang bagaimana seorang kaya raya yang kesepian dan pada akhirnya menemukan kebahagian bukan dari harta yang dimilikinya, tetapi dari kekayaan batin yang ditempa melalui latihan yang berat. Sebuah cerita fiksi yang berangkat dari kisah kehidupan sehari-hari. Buku itu berhasil membuat saya berpikir sepanjang perjalanan ini, kadang orang sering bilang membicarakan kematian adalah hal tabu yang harus dikubur dalam-dalam, seakan-akan Tuhan akan merubah takdir hanya karena kita berbicara perkara kematian. Namun dari apa yang saya baca di buku itu di atas sebuah kereta, mengajarkan saya untuk memulai hari dengan mengingat kematian, “What would you do if today is your last day?” tanyakan itu setiap hari, setiap kali memulai hari, dan susunlah kegiatan berdasarkan jawaban atas pertanyaan itu. Dan beberapa bulan setelah perjalanan ini pun, saya masih sering kali menanyakan hal itu, membuat saya sedikit menahan lidah dan belajar bersabar walaupun... well.. hanya sedikit.
Buku Yang Saya Bawa
Kembali ke perjalanan saya ke merbabu. Saya bukan seorang pendaki gunung. Jelas, saya mulai benci mendaki gunung. Saya benci lelah berjam-jam berjalan membawa barang berat hanya untuk dihinggapi rasa dingin dan hanya melihat segumpal awan. Namun teman saya menjajikan bahwa paling lambat dalam waktu 5-6 jam kita sudah bisa sampai di tempat camp. Bagi saya itu cukup menyenangkan jika dibandingkan mendaki Gunung Pangrango terakhir kali yang memakan waktu 12 jam. Saya memulai pendakian di Hari jumat dengan teman saya, semoga hari yang baik untuk mendaki. Kami menggunakan sepeda motor (dengan dua carrier ukuran 50L) dari Klaten – Selo. Setelah ditambah air dan pembagian beban bawaan, saya bilang kepada teman saya yang untungnya rajin olahraga itu,”Dy, gila ini carrier gw berat banget. Air bawa sampe 4 Liter lebih ini. Gila gw ga pernah seberat ini bawa barang kalo naik gunung. Kuat ga ya gw naik?”
Teman saya hanya menjawab, “wah Carrier gw udah ga muat lagi li. Udah masih beratan gw inii. Sanggup-sanggup. Hahaha.”


Pendakian
Kami pun memulai pendakian setelah sebelumnya melapor pada pos base camp dan polsek di Selo. Pukul 11.00 WIB kami mulai mendaki naik, pemandangan khas pohon-pohon tinggi pada jalur awal pendakian mulai mengiringi perjalanan kami. Kami bukan pendaki kelas berat yang bisa tahan jalan hingga setengah jam tanpa istirahat mengambil napas. Terbukti hanya dalam beberapa langkah kami diam mengambil napas panjang, mengatur helaan napas dan mulai mendaki perlahan. Awalnya kami berharap kami sudah mendaki pukul 08.00 WIB, sedikit cemas kami tidak sampai di Sabana 1 sebelum gelap. Selain itu saya juga cemas karena saya hanya berdua dengan teman saya, hal yang saya langgar dari peraturan pendakian yang saya buat sendiri. Saya cemas tidak bertemu pendaki lain karena itu hari Jumat dan bukan hari Sabtu-Minggu saat banyak pendaki. Saya dan teman saya ini entah kenapa adalah pendaki dengan ‘jenis’ yang sama, yaitu pendaki happy-happy. Kami berdua sama-sama tidak mau dijalan saat malam, sama-sama cemas jika hanya ada kita berdua di camp nanti, dan pada intinya kita ini sejenis penikmat alam yang hanya ingin memperkaya foto-foto dalam laptop dan menghilangkan kebosanan kota.  

Namun dalam waktu 1,5 jam kami sudah sampai di Pos 2 Bayangan, dan setengah jam berikutnya sudah sampai di Pos II. Setelah Pos II, hutan dengan pohon tinggi mulai berganti dengan bukit-bukit sabana. Saya dan teman saya berteduh di bawah pohon kecil, mencopot beban bawaan kami, dan meluruskan kaki saya. Saat itu hari terik tetapi berawan dan lagi-lagi saya cemas jika hujan. Saya lupa apa yang saya bicarakan dengan teman saya itu di alun-alun, yang jelas dia memberitahu saya bahwa kita cukup cepat dibandingkan terakhir kali dia ke merbabu, dan karena hari masih siang lalu Sabana I sudah terlihat kita tidak perlu takut masih berada di jalan saat gelap.

Baik, saya ingin menggambarkan momen ini sebagai momen yang sangat romantis andai saja teman saya itu pacar saya haha!. Kami hanya berdua, hari cerah, gumpalan awan putih dan langit biru, padang bunga edelweis, dan sedikit hembusan angin gunung yang sejuk ditengah hari terik. Saya lupa apa yang saya bicarakan dengan teman saya saat itu, yang jelas saya ingat saya tertawa lepas untuk pertama kali setelah sidang saya yang gagal. Seakan-akan hanya ada dunia yang saya lihat kala itu di alun-alun merbabu.

Gunung Merapi
 Lalu bagi saya trek setelah alun-alun adalah yang terberat, karena curam dan saya takut terguling bebas
kebelakang dengan beban carrier yang saya bawa. Selain itu, saya tidak pernah menghadapi jalur seperti ini di Gunung Jawa Barat yang pernah saya daki. Selalu ada pohon di puncak gunung, bukan hanya rumput dan pasir. Setiap kali saya menengok kebelakang, kaki saya sedikit lemas dan saya mengutuk diri sendiri dalam hati, “What the hell am I doing right now?” ini adalah momen yang selalu muncul saat saya mendaki gunung, dan entah kenapa saya selalu kembali mendaki gunung. Seperti seorang laki-laki yang pada akhirnya berhasil membujuk kekasihnya untuk rujuk kembali setelah putus berkali-kali –Oke  ini agak lebay,  Saya masih ingat saat dijalur curam itu saya membukukan tubuh saya sangat dalam dan beberapa kali berteriak entah itu untuk memanggil teman saya atau hanya karena saya tergelincir. Yang jelas setelah tiba diatas saya merasa bersyukur saya bisa selamat sampai diatas sebelum Sabana I dan pemandangan spektakular menyambut saya. Gunung Merapi dan awan putih menggulung yang bergerak disekitarnya. Kami berdua duduk (lagi) di bawah bayangan pohon beberapa langkah sebelum Sabana I dan mengambil beberapa foto, menikmati dengan mata Gunung yang sangat jelas terpampang di mata saya. Setelah hampir setengah jam kami duduk-duduk memandangi Gn. Merapi. Kami naik beberapa langkah ke tempat camp.


Tenda SuperLight Consina saya, Edisi Perdana :D
Hanya ada 1 kelompok pendaki di Sabana I saat itu dan mereka mengatakan pendaki sebelum kami memutuskan untuk lanjut camping di Sabana II atau III. Karena saya melihat tanjakan curam di depan dan membawa carrier rasanua tidak akan menyenangkan walaupun kami tiba pukul 14.30 dan masih banyak waktu untuk ke Sabana II. Teman saya mengatakan hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk summit attack tanpa carrier dari Sabana I, jadi Jawaban saya tetap “Kita buat tenda disini, kalau tanpa carrier ke puncak bisa Cuma 1 jam, ga worthed capek
bawa carrier setengah jam Cuma buat ngehemat waktu 15 menit.”. Beberapa saat kami tiba di Sabana I, group pendaki itu pun turun dan hanya tinggal kami berdua di Sabana I. Setelah membangun tenda, kami sholat saat cuaca mulai teduh, dan sore hari menjelang. Sudah lama rasanya saya ingin mengalami sholat di tengah alam yang indah dengan matahari dan cuaca yang bersahabat. Andai saja momen ini diabadikan, bisa jadi video adzan magrib edisi tafakur alam di Tv!
Dan sore itu kami habiskan dengan berfoto-foto ria disegala spot yang menurut kami bisa dijadikan tempat foto, dari mulai foto dengan pose bener sampe ga bener ada deh pokoknya hahaha. Sayang saya harus izin teman saya dulu kalau mau posting foto-foto narsis dia yang luar biasa di blog ini hahaha.

Malam Hari
Baiklah, kami sudah punya rencana sangat matang untuk perjalanan kami, mengingat kami hanya berdua. Kami senang kami sudah tiba di camp pada pukul 14.30 WIB yang artinya beberapa jam dari perkiraan kami, dan kami sudah memperkirakan untuk tidur pada pukul 21.00 setelah makan malam, lalu bangun pukul 03.30 keesokan harinya, memasak makanan pagi, dan summit attack pukul 04.00.  Kami sudah membayangkan, kami akan tidur nyenyak dan cukup tidur untuk energi esok hari.

Pada kenyataannya..
Pada saat kami memasak makan malam kami, awan gelap dan petir menyambar-menyambar dibalik gunung merbabu dan terlihat jelas dari tenda kami. Kami kembali cemas jika tiba-tiba saat kami tidur akan ada badai, dan saya sudah bersiap-siap dengan melirik tenda sebelah (yang keliatannya lebih aman) jika tiba-tiba badai. Lalu saat kami mulai tidur pukul 21.00, saya tidak bisa tidur karena ujung jari kaki saya dingin luar biasa dan terus dingin hingga pukul 23.00 saya memutuskan untuk keluar lalu mengobrol dengan pendaki lain. Setelah saya masuk tenda lagi, saya pikir teman saya sudah tertidur nyenyak tetapi ternyata dia juga tidur-bangun seperti saya, bahkan ketika pendaki lain mulai berdatangan kami masih belum tidur nyenyak. Saya tidak tahu suhu berapa pada malam itu, yang jelas saya sudah melapis kaki saya dengan 4 lapis bahan dengan bahan berbeda namun kaki saya tetap dingin (next time teman saya bilang: “Coba li, pake alumunium foil. Dibungkus.” Oke. Ingatkan saya untuk bawa alumunium foil lain kali saya naik gunung.”). Saat pukul 02.00 teman saya bangun dengan sedikit menggigil dan menanyakan jam pada saya untuk kedua kalinya, “li, sekarang udah jam berapa?”. Saya jawab, “baru jam 2 dy.” Teman saya, “Ya ampun lama banget sih paginya.”. Bahkan saya sudah berencana minum2 butir antimo agar saya tidur nyenyak, namun setelah dipikir risiko hipotermia akhirnya saya mengurungkan ide bodoh itu. Yang jelas rencana kami tidur nyenyak bak sleeping beauty gagal total.   

Summit Attack
Hore! Ini adalah pertama kalinya saya summit attack untuk melihat sunrise. Lampu-lampu headlamp mulai berpendar jalur menanjak yang terlihat dari Sabana I.  Jutaan bintang bertaburan diatas kepala kami. Untung saja malam itu ramai, banyak pendaki yang baru tiba pada dini hari dan langsung melakukan summit attack (jenis pendaki ambisius tenaga kulih nih! Hahaha #noOffense). Ada dua tanjakan terjal dan panjang dan satu tanjakan pendek untuk sampai di Puncak tertinggi Gunung Merbabu dari Jalur Selo. Jalur-jalur ini mulai dihiasi kilat headlamp, dan saat-saat tanjakan terakhir, saya berpikir kami tidak akan tiba di puncak gunung pada saat matahari terbit karena hari mulai terang menunjukan golden hour. Saat-saat langit berwarna keemasan dan entahlah, saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan keindahan yang saya lihat dari lereng gunung merbabu. Kalau kata seorang teman saya kata-kata yang pas untuk menggambarkan hal ini adalah “Wah, ga ada kata-kata yang bisa ngegambarin keindahannya, lo harus liat pake mata kepala lo sendiri!”. Dan untungnya teman saya yang nyalinya besar ini, mau bersusah payah melepas carrier dan mengabadikan momen golden hour ini dengan kameranya. Thanks ardy!
Sunrise di Puncak Merbabu

Foto Kaki biar Mainstream

Puncak
Saya mengeluarkan kamera saya mengabadikan beberapa foto, lalu ternyata matahari baru akan terbit dan kami tidak terlambat. Saya duduk di pinggir lereng dengan kaki menjuntai kebawah. Meletakan kamera saya dan memutuskan mengingat saat-saat itu dengan mata dan ingatan saya. Semburat warna fajar di pagi hari, hembusan dingin angin, dan suara-suara bahagia manusia di belakang saya. Eric Weiner menjelaskan ada hal yang berbeda antara kesenangan(joy) dan kebahagiaan (Happiness) dalam bukunya yang berjudul The Geography of Bliss, bagi saya jika melihat matahari terbit adalah sebuah kesenangan, saya harap saya bisa melihatnya setiap hari dan saya menjadi orang yang bahagia. Seperti seorang teman yang mengatakan bahwa saya adalah ‘Pengejar Sunrise’, rasanya memang beda melihat matahari terbit, seperti memberikan nafas baru bagi hidup saya.  Pagi itu  saya cuma mau bilang khusus untuk teman saya yang bernama Ardy Ramadhan yang telah menjadi pemandu saya di Gunung Merbabu, seorang teman yang setelah 4 tahun baru kembali bertemu dan dengan tidak waras melakukan pendakian ini berdua dengan saya, saya yang kala itu sejujur-jujurnya sedang dalam kondisi depresi:

“Gw ga pernah nyangka kita akan reunian dengan cara yang sangat-sangat aneh dan dramatis ini. Ini adalah pendakian terindah yang pernah gw alami sejauh ini, terutama disaat roda kehidupan gw lagi di bawah dan macet kurang oli. Dan itu semua karena lo yang mau menanggapi ajakan tolol seorang teman yang udah 4 tahun ga lo temuin. Semoga lo ikhlas dan nggak nyesel jalan sama gw.”

Pulang.
1 Jam 40 Menit.
Adalah waktu yang kami butuhkan dari Sabana I sampai ke Basecamp. Sebuah rekor catatan waktu turun gunung tercepat untuk kami berdua.  “We make it, dy.” 

Akhirnya Sampe Bawah Dengan Selamat

A Little Touched By God: Wake up every morning, stand before a mirror, and said deeply inside your mind, “What will you do if today is your last day?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!