Aku, Turis, dan Laut Indonesia





Dive Log #6
Beberapa hari yang lalu seluruh dunia merayakan Ocean Day atau Hari Laut. Ketika itu saya baru saja menikmati salah satu keindahan laut di Lampung, Indonesia. Lalu kemudian saya bertanya pada diri sendiri “Sejak kapan ya gw jadi addicted sama laut?”, saya ketagihan laut. Saya menyukai olahraga outdoor seperti hiking, rafting, dan diving. Dari semua olahraga itu, yang paling saya cintai adalah diving. Sebuah olahraga yang sangat mahal bagi saya yang masih mahasiswa tanpa pekerjaan ini. Saya menghabiskan semua uang tabungan saya untuk mengambil lisensi di Gili Trawangan, April Tahun Lalu. Orang tua saya tidak mau mengeluarkan sepersen pun untuk biaya lisensi itu katanya, “ini kan nggak ada hubungannya sama kuliah kamu.”. Namun karena berkah yang saya juga tidak tau datang dari mana, saya memenangkan beberapa lomba dan terkumpulah uang tersebut, yeay! 


Awalnya saya hanya suka berenang, namun saya takut berenang ke tengah laut. Saya takut ada hiu yang menarik kaki saya atau sesuatu dari dasar laut yang gelap. Lalu saya mencoba snorkeling entah dimana (saya lupa dimana saya pertama kali melakukan snorkeling), yang jelas pada waktu itu saya hanya melihat karang mati. Lalu, saya mulai menjelajahi pulau seribu dan perlahan-lahan jatuh cinta pada laut. Saya pernah membaca sebuah buku, manusia dan air itu harusnya bersahabat. Kenapa? Karena selama 9 bulan pada awal kita menjadi manusia, kita berada di dalam air di kandungan Ibu. Ketika melakukan diving saya tidak pernah menyesal (walaupun saya jatuh miskin setelah membuat lisensi selam). Laut Indonesia di bagian karang-karang masih dijaga dengan baik tidak mengecewakan saya. Saya merasa nyaman ketika saya melakukan penyelaman dan mengagumi apa yang saya lihat dibawah sana. Saya sering kali bilang pada teman-teman saya yang sering melakukan pendakian gunung. “Nih ya gw belum pernah liat gunung yang bisa ngalahin pemandangan di bawah laut. Dibawah sana lebih indah daripada apa yang ada diatas.”

Anemon Laut, Iboih



Laut Indonesia itu begitu indah dan sampai saya berpikir saya tidak bisa hidup tanpa melihat pantai dan lautnya. Saya pernah menggagalkan beasiswa ke Amerika waktu saya tingkat dua, waktu itu saya berkata pada ibu saya, “Ma, kalo di Amerika ada musim dingin ya? Hmm… aku ga kuat dingin. Trus nggak ada laut yang bagus macem di Indonesia. Kayaknya aku ga jadi daftar deh, nanti aja deh kalau udah nggak pengen jalan-jalan baru kesana.”  Lalu saya membuang semua berkas-berkas saya dan tidak pernah mencoba lagi. Bodoh? Ya, memang, tapi saya memang tidak kuat dingin dan well… I just can’t stop traveling right now. Dan mungkin suatu hari nanti saya akan mencoba kembali peruntungan saya. Mungkin.

Pulau Tegal, Lampung
Beberapa minggu lalu saya baru saja kembali dari perjalanan ke Sabang, Aceh. Saya melakukan beberapa kali penyelaman dan menemukan hiu, sekelompok barracuda, siput laut, gurita, sotong, dan mahluk-mahluk laut lainnya yang mungkin hanya kebanyakan orang liat di meja makan. Disana baik lokal dan pendatang mejaga bawah laut mereka, tidak ada lempar jangkar atau penggunaan bom. Mereka sadar, laut baik bagi pariwisata dan nelayan adalah sumber kehidupan mereka. Namun saya berpikir, melihat kasus di Bangka, Sulawesi dan bahkan di Pulau Seribu, terumbu karang semakin hancur di Indonesia oleh tambang dan bahkan turis. Saya sedih. Lalu yang paling membuat saya sakit hati adalah ketika saya ke pulau seribu dan melihat turis Indonesia (yang seringkali menyalah-nyalahkan pemerintah jika laut rusak) menginjak-injak terumbu karang, mematahkan sebagiannya dan malah marah-marah karena kakinya gatal menginjak karang. Damn shit! Mungkin orang-orang yang pernah pergi bersama saya ke laut, akan mengatakan saya orang yang sok idealis dan bawel, karena setiap kali mau snorkeling saya selalu mengingatkan berkali-kali, “Tolong dijaga kakinya ya. Jangan ke tempat yang dangkal, itu terumbu karang Cuma tumbuh 1 cm/tahun, jadi itu ama umur lo masih tuaan dia.”  

So, pada Hari Laut ini saya ingin bagi anda yang membaca blog saya untuk menyadari bahwa, Laut Indonesia itu indah. Dan daripada alih-alih menyalahkan pemerintah atau pertambangan atau bahkan warga lokal yang menghancurkan laut, lebih baik kita melihat diri kita sendiri dan bertanya “apakah kita sudah menjadi traveler  yang bijak?” sebagaimana sebuah kata pepatah yang bijak, “In underwater world, we –human, will always be the guest.” 


West Seulakoh, Sabang, Aceh



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!