Menuju Lembah Kasih

"The Distance to the top of the mountain is alaways greater than you think. There is bound to come a moment when what seemed close is still very far away." - Paulo Coelho

Berawal dari sebuah perbincangan asal, akhirnya saya dan teman-teman satu pecinta alam saya memutuskan untuk melakukan pendakian ketika libur paskah. Gunung yang kami pilih adalah gunung yang tidak begitu jauh dari kampus kami, yaitu Gunung Pangrango. Beberapa alasan kami memilih gunung ini adalah karena:
1) biaya yang murah untuk mencapainya (dibandingkan kami harus pergi ke Gunung di daerah jawa tengah)
2) waktu yang singkat (Hanya 2 hari 1 malam)
3)  dan kemugkinan gunung ini tidak akan terlalu ramai dibandingkan Gunung Gede yang persis bersebelahan.
Akhirnya saya berangkat bersama 12 orang lainnya pada Jumat, 18 April 2014 sekitar Pk. 22.00 WIB. Kami sengaja berangkat malam hari untuk menghindari antrean kendaraan dari ciawi hingga puncak, yang selalu macet karena sistem buka-tutup pada saat-saat libur panjang seperti ini.
Saat tiba di cipanas, mobil angkot kami di cegat oleh angkot-angkot di cipanas yang katanya sih buat peraruturan baru yaitu 'tidak ada mobil angkot yang boleh naik, selain angkot di situ(warna kuning).' karena kami bernegosiasi dengan angkot dari bogor, dan sepertinya si abang angkot dari bogor ini juga jago, naiklah kami ke base camp tanpa harus berganti angkot dan menambahkan ongkos beberapa ribu rupiah.

Base Camp 01.00 WIB, 19 April 2014
Parkir penuh motor dan mobil, banyak pendaki yang beristirahat di warung-warung sekitar basecamp. Kami sudah mengurus simaksi sejak H-4, walaupun sebenarnya kami tidak mendapatkan simaksi pendakian -karena membludaknya pendaki ke Gunung Gede, thanks film 5cm! - , kami mendapatkan izin pendakian dari lembaga lainnya dengan syarat tertentu *eits ini rahasia*. Tapi kami harus naik sebelum jam 5 pagi. Sehingga, jadilah saya dan teman-teman saya makan pagi pada pukul 3 pagi, dan melakukan pendakian pada pukul 04.00 WIB. yeay!  
 
Jalur Pendakian Cibodas, 04.00 WIB
Dimulailah penakian kami di jalur cibodas, walaupun sempat terhalangi simaksi, kami tetap diizinkan melakukan pendakian. Mulailah saya meniti jalan-jalan berbatu khas jalur cibodas,  jalan masih gelap dan kami menemukan banyak pendaki yang tertidur tanpa tenda atau matras sepanjang jalan. Penuh. ya, gunung ini penuh orang. Pendakian ini bagi saya adalah sebuah pendakian awal setelah sekian lama saya tidak pernah mendaki gunung, setelah sekian lama saya lebih memilih rafting dan laut dibandingkan kegiatan yang melelahkan ini. rasanya kembali lagi mendaki gunung memberikan angin segar bagi kepala saya.

Pos Air Terjun, 05.00 WIB
Perjalanan kelompok ini lumayan cepat, mungkin karena gelap dan sebagian dari kami masih dalam alam bawah sadar sehingga jalur menanjak tidak terlalu berasa. Kami berhenti sebentar untuk minum dan kembali melanjutkan perjalanan.

Pos Batu Kukus, 06.00 WIB
Kami berhenti sebentar untuk sholat subuh dan membangunkan banyak tenda dengan suara-suara tawa kami dan becandaan yang entah lucu atau tidak. Sebenarnya kondisi saya sendiri pada pagi itu cukup fit, andai saja saya dapat tidur lebih banyak. Efek tidak tidur malam sebelumnya sudah mulai terasa di pelupuk mata.

Pos Air Panas, 08.30
Perjalanan menuju pos ini dipenuhi harapan-harapan palsu. hahah. beberapa diantara kami baru mendaki gunung untuk pertama kalinya. Saat di kendaraan saya sempat bilang, "Nih, gw  bilangin ya, kalau diatas nanti, ada satu pertanyaan yang lo nggak perlu nanya, 'Berapa Jauh lagi sih?'" dan sepanjang perjlanan menuju pos air panas saya berkali-kali ditanya oleh teman saya,
Teman saya : "eh masih jauh ga sih?"
Saya : "enggak, dikit lagi. tuh suara air panas udah kedengeran" (padahal itu suara air terjun dibawah)
dan beberapa kali saya ditanya saya hanya menjawab, "nih dikit lagi nih, abis belokan sampe." padahal masih kira-kira 1 jam lagi. hahaha. Seneng juga ya ngerjain orang baru naik gunung. :D
Dan akhirnya sampailah kami di pos air panas Pk. 08.30 WIB.

Pos Kandang Batu, 09.00
Wah, ini pasar pindah ke atas gunung. Sedari kami dibawah tadi, sepanjang perjalanan ke atas setiap tempat camp penuh oleh pendaki.Beristirahat sebentar dan melakukan pendakian.

Pos Kandang Badak, 10.30
Sebenarnya perjalanan menuju kandang badak ini sudah dipenuhi dengan adegan-adegan tidur ditengah jalan, rasa kantuk sepertinya tidak hanya dirasakan saya tetapi juga teman-teman saya yang lain. Dalam hati saya berucap, "ya Tuhan, nggak lagi-lagi deh naik gunung nggak tidur malem sebelumnya.". Setelah makan di Kandang Badak, sebagian dari kami sempat tertidur pulas. Saat kabut mulai turun dan waktu menunjukan pukul 11.30, saya dan teman saya membangunkan teman-teman yang lain dan memulai pendakian yang sebenarnya. ya, kata seorang teman kami, "Pangrango sih, bukan naik gunung, itu manjat gunung."  ya dan akhirnya saya membuktikannya.

Puncak Pangrango, 15.30
Dan akhirnya tiba di Puncak...

 

Lembah Kasih, Mandalawangi, 16.00
Menjelang Pulang
Benar sekali, butuh waktu sekitar 5 jam bagi kami semua dengan carrier untuk memanjat pangrango, tiba di Puncak (yang nggak lebih luas dari pada ruang kelas dikampus saya) lalu turun sedikit ke lembah mandalawangi. Perjalanan memanjat gunung pangrango ini bisa disingkat dengan kata-kata berikut: Merangkak, Melompat, Memanjat, selama 5 jam. Ditengah perjalanan yang sepertinya tidak ada habisnya itu, saya sempat rasanya marah pada tanjakan yang tiada habisnya, jalur yang tidak jelas, dan beban carier  yang berat. Ini adalah gunung dengan jalur terparah yang pernah saya daki (bagi saya yang bukan anak gunung). Bahkan seorang teman saya mengatakan "Li, gw udah in chaos nih sekarang." dan terus berjalan maju seperti agak kesetanan. beberapa diantara kami merutuki, teman kami yang mengidekan perjalanan ini tetapi tidak ikut. "Ini siapa sih yang ngasih ide naik gunung ini?" dan kemudian percakapan berlanjut dan berujung pada teman kami yang sedang mengurus skripsi nan jauh di Jakarta sana. Kami banyak bertemu pendaki, dan kebanyakan dari mereka tidak membawa carier, "iya, gw juga bisa cepet kalo nggak bawa carrier. shit." Dan setiap kali saya marah atau kekurangan energi, entah kenapa saya memikirkan kembali sidang skripsi saya yang gagal itu. Lalu energi saya kembali terisi, mungkin benar bahwa marah merupakan bentuk dari kelebihan energi.

Minggu, 20 April 2014, Lembah Kasih

Pagi Ceria :D
Saya memutuskan untuk tidak melihat sunrise yang sepertinya memang tidak akan terlihat dari Puncak Pangrango. saya memilih untuk terus tidur, menikmati sleeping bag yang hangat. Pada saat sekitar subuh jam 04.00 saya sempat keluar dari tenda untuk buang air kecil. Dan malam hari di Mandalawangi memang indah. Tidak ada polusi, bulan 3/4 dan bintang tersebar di atas kepala saya. Jikalau Mandalawangi tidak terletak di Ketinggian sekitar 3000mdpl dan udara tidak dingin, saya sangat berharap saya bisa tidur di luar dan menikmati rasi-rasi bintang di atas kepala saya. Lembah ini memang indah, dengan gumpalan-gumpalan Edelweis nya. Pagi hari di Lembah ini adalah hal yang paling saya nikmati dari perjalanan ini. Menikmati matahari yang bersinar terang dan langit cerah. Mengobrol dan memasak makanan adalah hal yang saya cintai dari melakukan kegiatan alam bebas. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada hal ini ketika saya naik gunung. 

Perjalanan Menuju Base Camp, 10.00 WIB. 
Singkat cerita, setelah pagi ceria kami. Saya dan teman-teman kembali menuruni Pangrango. Kami turun dengan jalur yang berbeda dari kami naik, kami tidak merangkak diantara pohon atau memanjat pohon. Entah bagaimana, saya yang waktu itu berada di depan dan menunjukan jalan, mengikuti pita biru dan kami bahkan sempat melompati air terjun lalu dalam waktu 2,5 jam tiba di Kandang Badak - alhamdulillah dengan selamat.  Pada intinya, saat turun saya mengalami mengantre di sepanjang jalan dekat air panas, saya melihat sampah berserakan di pos-pos pendakian, dan saya sempat melewati sebuah rombongan yang terpaksa berhenti karena salah seorang teman mereka membutuhkan oksigen karena asma. Sepanjang perjalanan turun, saya cukup salut dengan tim perjalanan kali ini, tawa dan candaan terus mengiringi hingga base camp. Saya bahkan bertanya-tanya sendiri, "ini orang-orang pada ga abis apa energinya? gile, masih pada ketawa-ketawa aja sepanjang jalan." Entah ini sikap yang baik saat mendaki gunung atau tidak, kami berisik saat tiba di base camp atau saat sedang berjalan, tetapi saya yang jelas saya senang dengan tim perjalanan ini.
  
Bagi saya yang bukan pendaki gunung, sungguh Lembah Kasih yang diidolakan oleh Soe Hok Gie dan pernah masuk film "Gie" itu tidak cukup membayar kelelahan saya mendaki jalur itu. Saya sepertinya tidak akan pernah mau kembali lagi kesana kecuali tanpa tas. I Swear! Namun, seperti yang pernah saya bilang, "it's not about the destination, it's about the journey". Saya pergi bersama orang-orang yang tepat, orang-orang yang bisa menertawakan tanjakan terjal dan tubuh yang lelah.


A Little Touched by God: Saat ditengah perjalanan dan saya ingin menangis lalu pulang, itu sama seperti saya gagal sidang dan saya ingin pergi sejauh-jauhnya dari kampus. Namun, saya senang dengan perjalanan ini,  karena sepertinya saya bisa membayar kegagalan sidang saya dengan mendaki gunung ini. Saya pikir, "Seterjal-terjalnya gunung, toh saya bisa sampai pada puncaknya dan kembali pulang dengan selamat, begitu juga dengan sidang dan kuliah saya. Saya pasti bisa."  

Perincian Biaya:
Patungan Logistik : Rp. 20.000
Makan Pagi di Basecamp: Rp. 9000 (Nasi + telur asin)
Transportasi (per orang) 
Kereta Depok-Bogor: 2500
Angkot Bogor-Base Camp (charter): Rp. 37.000
Angkot Basecamp - Cipanas Bawah : Rp. 5000
Angkot Cipanas - Depok (charter) :Rp. 27.500
Total Rp. 101.000  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!