Miskin, lalu kenapa?

Where justice is denied, where poverty is enforced, where ignorance prevails, and where any one class is made to feel that society is an organized conspiracy to oppress, rob and degrade them, neither persons nor property will be safe.

Read more at http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/f/frederickd163959.html#oGLVJm7g7FKOrc8W.99
Where justice is denied, where poverty is enforced, where ignorance prevails, and where any one class is made to fell that society is an organizard conspiracy to oppress, rob and degrade them, neither persons nor property will be safe. - Frederick Douglas. 
---
Beberapa hari yang lalu saya baru saja mengikuti sebuah forum yang diikuti oleh beberapa remaja dari berbagai negara yang berbicara tentang kemiskinan.  Mereka dari negara-negara yang masih berkembang seperti Pakistan, Bangladesh, hingga Jepang dan Singapura yang sudah dikenal dengan tingginya nilai income per capita mereka. Yang menarik dari forum ini adalah, saya mahasiswa yang sangat pesimistik mengenai kemiskinan, jadi tau masih ada orang di luar sana yang cukup peduli dengan adanya orang lain yang masih hidup dibawah garis kemiskinan nasional.Dan sebuah tamparan keras dimuka, "mereka masih muda dan mereka bisa merubah hidup orang lain jadi lebih baik.". Sebuah pertanyaan melintas dikepala saya, "Apa yang bisa saya (mahasiswa dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia) bisa lakukan? mengerjakan tes dan mendapatkan nilai A, lalu lupa isi pelajaran dalam waktu 1 bulan berikutnya. Bullshit."

---  

Seorang teman pernah berkata seperti ini pada saya, "Kemiskinan dalam jumlah banyak itu hanya statistik.". Mungkin bagi kami mahasiswa yang dari lahir sudah hidup dalam rumah dan makanan yang layak, merasa kemiskinan itu hanya statistik. Kami menggunakan teori A hingga Z untuk menjelaskan fenomena kemiskinan dan bagaimana caranya menanggulangi kemiskinan di dalam kelas atau bahkan perlombaan esai bergengsi. Faktanya? Apa sih yang bisa dilakukan mengenai kemiskinan oleh mahasiswa yang biasanya menghabiskan lebih dari $5-10 hari hanya untuk makan dan minum kopi? Rasanya saya pesimis, bahkan pada diri saya sendiri. Sejak kecil, saya merasa di dalam kelas saya diajarkan untuk berkompetisi, mendapatkan nilai terbaik, namun saya rasa saya lupa rasanya diajarkan untuk berempati. Berdiri mengggunakan sepatu orang lain yang lebih buruk dari saya.

Seorang pembicara dari forum itu mengatakan, meniru model dari Grameen Bank yang terkenal dengan teori "banking for the Poor", jalan keluar dari kemiskinan itu hanya dua, readiness  dan opportunity. Pembicara lainnya mengatakan bahwa education dan savings yang bisa membawa sebuah keluarga dari kemiskinan. Dan sebuah fakta mencengangkan bahwa, microfinance ternyata HAMPIR TIDAK BERPENGARUH mengatasi kemiskinan.Mungkin dari segala kehebatan teori yang pemerintah gunakan dalam kebijakan KUR (Kredit Usaha Rakyat), pemerintah lupa pada aspek habit, perilaku (baik dari willingness to give credit Bank hingga the poor habits on spending money) yang harusnya masuk dalam hitung menghitung ini. Mungkin. toh, saya cuma mahasiswa selewatan yang suka berkomentar. 

Pada intinya, micro finance, empowerment tidak akan signifikan hingga mereka orang-orang yang berada dibawah garis kemiskinan ini, dipersiapkan untuk ''mengatur uang''.  Menghitung expected consumption mereka bahkan hingga 10 tahun ke depan dan menabung uang mereka dengan cara mencicil setiap hari. Berturut-turut mereka ini hidup dalam kemiskinan, hingga pada akhirnya pendidikan yang bisa membawa mereka keluar dari kemiskinan, setidaknya bukan untuk generasi mereka tetapi untuk generasi yang akan datang. Sebuah koperasi, mengajarkan orang-orang miskin di daerah cilincing untuk bermimpi, berhitung, menabung dan mewujudkan mimpi mereka. Faktanya dari koperasi ini, ada cerita-cerita sukses dari anggota koperasi itu yang berhasil keluar dari kemiskinan. Setidaknya mereka tidak lagi menyewa rumah kardus dan memiliki warung usaha sendiri.  Untuk ukuran kepala saya ini, seoarang mahasiwa ekonomi yang selalu diajarkan angka sana-sini dan konsep tentang menyusutnya nilai uang seiiring waktu, atau pada intinya: menabung adalah cara terburuk mempertahankan nilai aset. Mempertanyakan konsep menabung ini.Bagaimana jika mereka sudah menabung selama 10 tahun dan harga sudah melonjak 10 kali lipat? Entahlah, saya tidak mempertanyakan hitung-menghitung koperasi itu pada waktu itu. terlalu tercengan dengan yang orang-orang ini (koperasi, NGO dll) lakukan untuk mengeluarkan orang lain dari kemiskinan. Namun fakta bahwa orang miskin bisa menabung dan bahkan saya tidak (dengan berbagai alasan teoritis atau perilaku 'impulsive buying'), sedikit menampar saya. $3-$5 untuk segelas kopi, apa itu menabung?.    

---

Sebuah artikel di Harian Kompas, pernah membahas penelitian tentang "Rich and Happiness". Dalam artikel koran itu, disebutkan bahwa negara-negara yang memiliki tingkat income per capita yang tinggi justru hidup dalam ketidakbahagian. Mereka yang hidup di negara-negara maju itu mengatakan bahwa orang-orang tidak tersenyum dan tidak menyapa. Sedangkan Indonesia, sebagai salah satu dengan negara yang masih berkembang dengan $3000-an/income year. merupakan negara yang termasuk dalam 3 negara yang penduduknya paling bahagia. Dalam forum itu saya sempat bertanya, "What is the definition of rich? and why is it important if we are not rich and we are happy?" Sebuah pertanyaan yang sangat normatif, tapi saya sangat penasaran dengan jawaban delegasi lainnya, walaupun dalam hati saya sudah menjawab pertanyaan saya sendiri. Terutama orang-orang dari negara maju seperti Jepang dan Singapura yang ada di forum itu. Seorang delegasi dari Singapura menjawab berdasarkan suatu teori kita tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa kebahagiaan datang dari uang, seperti nasi yang kita makan dan sebagainya. Pada akhirnya, saya mendapatkan simpulan dari moderator forum pada waktu itu, "Poverty affect a nation's human resources, their mind-set.so that's why, here we are discussing how we collaborate to decrease the poverty number.". Ya, ya, ya, saya tau. Dalam artikel lainnya , "Poverty creates inequality,  social tension,and investment undermine which in turn affect economy growth." (Euromonitor Internasional, 2012). 

Jadi saya menarik kesimpulan, mungkin kenapa kemiskinan harus terus diturunkan bukan karena kita (red- orang-orang bersepatu mengkilat ini) berempati, tetapi mungkin pada fakta: Kemiskinan dalam tingkat tertentu akan menyeret orang-orang yang selama ini menikmati rapid economic growth turun ke lantai dansa kemiskinan. 

A Little Touched By God: Lalu saya menertawakan diri sendiri dan orang-orang tanpa aksi lainya, yang berpendapat seolah-olah bisa mengatasi kemiskinan dengan proyek-proyek lomba atau dorongan insentif uang dari perusahaan yang malas melakukan CSR, setumpuk teori-teori buku tentang kemiskinan, dan data-data statistik. Mungkin kita harus belajar berempati lebih dulu alih-alih belajar statistik. Dunia memang fana. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!