Kitorang Orang Indonesia Kah?


“Li, lo mau ke papua gratis nggak? Tanpa di undi, tanpa syarat dan ketentuan berlaku.” – itu adalah bunyi sebuah pesan singkat yang saya terima sekitar tiga bulan lalu ditengah-tengah kuliah yang rasanya mencekik leher. Papua, sebuah tempat yang menurut saya berada jauh dari jangkauan saya, sebuah tempat yang mungkin hanya dalam mimpi bisa saya datangi di usia yang masih dua puluh ini. Tiket pesawat untuk pergi kesana saja mungkin sudah bisa membiayai kuliah saya untuk satu-dua semester, belum termasuk biaya transportasi dan akomodasi yang katanya berkali-kali lipat dibandingkan di Pulau Jawa. Singkat cerita, sebuah jawaban “Iyalah, gile kali ke Papua gratis nggak mau.” Berhasil membuat saya terbang menuju Papua. Saya tau, pembaca sekalian mungkin sekarang dalam tahap ingin melempar saya dengan gulungan tisu atau kertas, seperti sebuah komedi yang tidak lucu. Namun, itulah kenyataannya, saya hanya mengosongkan jadwal pada hari yang disebutkan teman saya yang mengajak saya ke Papua, menjaga kondisi tubuh agar tidak terkena malaria dan terbang ke Papua dengan uang sejumlah lima ratus ribu rupiah pada pertengahan Ramadhan yakni 18 Juli 2013.


Tujuan saya di Papua, sebenarnya bukan Raja Ampat (tempat yang menjadi impian sejuta umat di Indonesia yang mungkin beberapanya kesana demi hanya sebuah gengsi di jejaring sosial), melainkan Pulau Biak, dimana keluarga teman saya tinggal untuk berlibur. Namun pada bulan Ramadhan ini, bukan Pulau Biak yang membuat saya seperti mendapatkan Lailatul Qodar atau malam seribu bulan, tetapi sebuah tujuan yang lagi-lagi hanya bisa saya impikan dan bahkan mungkin tidak akan pernah ada didalam “Sepuluh-Hal-Yang-Harus-Dilakukan-Sebelum-Saya-Mati” karena biaya kesana seperti kelangit ketujuh bagi mahasiswa tidak berpenghasilan seperti saya. Saat matahari terbit pada Jumat, 19 Juli 2013 saya melihat pemandangan perbukitan paling indah seumur hidup saya dari sebuah jendela pesawat berkabut. Pesawat terbang rendah karena sudah mendekati tujuan akhir, yaitu Wamena.

Lapangan Udara di Wamena

Bersama mie instan, beras dan ikan, hanya ada kami dan kru pesawat. Terperangah oleh awan bergumpal dan sunrise yang cerah menusuk mata yang masih lelap. Mengabadikan lukisan tuhan ini dengan kamera terbaik yang saya punya, namun menikmatinya dengan mata telanjang adalah yang terbaik. Lagu sebuah band indie  ibu kota mengalun pelan ditengah bisingnya pesawat, saya cuma bisa berkali-kali bilang ‘indah’ dalam hati dan ‘mimpi apa saya bisa kesini dengan Cuma-Cuma’, mimpi ini terlalu indah dan saya tidak mau terbangun.” – Pk. 06.13 WIT, Catatan Kecil, di atas Pegunungan Jayawijaya.

Malam Sebelumnya. Kamis, 18 Juli 2013. 
ayah teman saya menjelaskan sedikit banyak tentang Wamena. Tentang bagaimana perangai orang Papua yang tinggal di daerah pegunungan dan biaya-biaya yang mungkin akan kami keluarkan selama disana. Penjelasan singkat tentang mahalnya biaya berfoto dan sebuah saran (atau peringatan) tentang tidak berpergian sendirian selama disana karena alasan keamanan. Setibanya di Wamena, pemandangan sebuah pegunungan berbatu hitam menyambut saya,  dan wajah-wajah ‘asing’ bermunculan dibalik pagar lapangan udara. Mereka adalah orang-orang berkulit hitam dengan rahang kotak dan rambut hitam pekat yang menggumpal. Mereka hidup ditengah lembah dan jauh dari Ibu Kota Jakarta. Mungkin bagi mereka, Jakarta sama halnya dengan saya yang menganggap menginjakan kaki di tanah mereka itu mimpi.
Oh iya, saya bukan ‘pendaki gunung’, saya lebih (jauh lebih) suka laut dibandingkan gunung. Namun baru kali ini, deretan pegunungan membuat saya merasa saya jauh dari rumah karena saya merasa begitu asing dengan pemandangan pegunungan dihadapan saya yang tidak pernah saya temui di Pulau Jawa dan Bali dan, well, -membuat mulut saya menganga lebar.

Singkat cerita, dalam waktu yang cukup sempit saya pergi ke beberapa tempat selama saya di Wamena yakni, sebuah Desa Adat, Bukit Berpasir Putih, dan Pasar Tradisional. Layaknya turis yang berpergian dengan sebuah mobil travel yang nyaman, saya mengelilingi tempat tersebut dalam waktu kurang lebih dua jam. Hanya dua jam dan saya menangkap hal yang miris, yaitu sebuah pertanyaan “Apakah saya masih berada di Indonesia?”. Bukan, Bukan pemandangan alam yang membuat saya merasa demikian tetapi lebih pada kehidupan yang berada disana. Sebuah hal yang membuat saya mempertanyakan lagu “Dari Sabang sampai Merauke”.

“Dari Sabang Sampai Merauke, Menjajah Pulau-Pulau, Sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.”
Pasar Tradisional di Wamena (dari hidden kamera)
Di Pulau Jawa, suasana bulan Ramadhan sangat terasa dengan banyaknya penjual takjil dan gorengan, restoran-restoran di Mall yang selalu full reserved pada saat jam menuju berbuka puasa, dan terutama tayangan-tayangan televisi bernuansa Islami hingga persiapan mudik (Iya,  mudik yang ramai dibicarakan itu, jalur utara atau jalur selatan yang ada (hanya) di Pulau Jawa). Disini, di Wamena, tidak ada gantungan ketupat berjejer di Pasar atau depan rumah, tidak ada spanduk-spanduk para calon legislasi dengan senyum sumringah yang dengan sangat khusus membuat spanduknya untuk menyatakan “Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri.” Mungkin disini, Bob Marley lebih dikenal dibandingkan dengan para Ustadz papan atas yang sering muncul di TV saat bulan puasa, melihat banyaknya baju bergambar Bob Marley dijual di salah satu pasar tradisionalnya. Hari itu, hari jumat tetapi bukan pria-pria berbaju koko dan berkopiah yang beredar pada jalan aspal yang sangat mulus disana, bukan juga wanita-wanita bermukena putih panjang, melainkan pria-pria berkulit legam yang mengunyah pinang sirih dan wanita-wanita berwarna kulit sama yang membawa tas khas mereka (baca: Noken) dengan berat hingga puluhan kilo yang disangkutkan diatas kepala.

Jika di Jawa, masyarakat dan TV sibuk memberitakan kenaikan harga pangan dan bahan bakar bersubsidi yang mencapai puncak inflasi pada bulan Ramadhan ini. Mungkin orang-orang disini tidak begitu mempedulikan hal itu, harga bahan pangan mereka sudah terlanjur mahal, biaya hidup mereka tinggi. Bayangkan saja kalau untuk menikmati mie instan, mie tersebut harus diangkut menggunakan pesawat yang berbahan bakar aftur jauh dari sudut Indonesia lainnya. Sementara di Jawa, orang-orang ribut dengan 'hadiah langsung' dari pemerintah atas kenaikan BBM dan pembagian Zakat oleh orang-orang kaya disana. 

Foto Bersama Mumi Leluhur
Jujur saya datang ke Wamena dengan banyak pesan-pesan moral dan stigma negatif. Hal ini yang terjadi begitu saya tiba disana, saya melihat orang-orang lokal disana dengan perasaan asing, apalagi ketika saya menginjakan kaki saya di Desa Adat disana. Ayah teman saya mengatakan, ‘’Disana jangan asal foto, kalau mau foto diam-diam saja pakai kamera Handphone, nanti kamu disuruh bayar, kecuali foto ramai-ramai biar murah.” .   Saat menapaki Desa Adat itu, saya menghirup bau menyengat yang tidak familiar, saya berasumsi ini adalah bau dari minyak babi yang dioleskan warga sana untuk mengusir dingin dan juga kandang babi yang berada di depan desa. Saya memperhatikan teman saya yang berusaha menutupi wajah kagetnya saat melihat pria tanpa busana yang hanya menggunakan labu (baca: Koteka) untuk menutupi kemaluannya dan wanita-wanita tanpa atasan dengan rok rumbai. Sama halnya dengan mereka saya juga berusaha  menutupi rasa kaget. Namun hal yang mengejutkan saya bukan mereka yang tanpa busana atau adanya Honei sungguhan –bukan Honei yang dijadikan perpustakaan di Taman Mini Indonesia Indah, tetapi sebuah mumi leluhur mereka yang sengaja dikeluarkan oleh salah seorang warga lokal itu. Untuk apa? Jawaban ini miris memang, dan sebenarnya saya benci untuk menuliskannya, Untuk berfoto dengan kami agar para penduduk lokal itu bisa mendapatkan uang.

Saya takjub melihat mumi itu, namun saya sudah kehilangan minat untuk menanyakan kenapa dan untuk apa leluhur mereka di-mumi-kan, saya merasa kecewa dengan mereka yang ‘’mengkomersilkan’’ leluhur dan budaya mereka dan saya juga kecewa pada diri saya yang berfoto dengan mumi itu anehnya dengan wajah tersenyum (entah tersenyum karena apa? Persiapan untuk gengsi di jejaring sosial mungkin.) Setelahnya, kami diajak berfoto dengan beberapa orang dari desa itu (tentunya berikut dengan yang hanya menggunakan koteka dan tanpa atasan) dan tahap berikutnya adalah tawar menawar harga foto. Dihitung perkepala. Bukan, bukan kepala kami para turis, tetapi kepala penduduk disitu yang ikut masuk dalam frame. Pada akhirnya saya bayar sekitar seratus ribu rupiah untuk semua sesi foto selama di desa adat itu, tidak termasuk foto diam-diam yang saya ambil via handphone, dan coba tebak, biaya ini masih termasuk murah dibandingkan tamu lainnya, karena kenalan teman saya yang bisa menawar harga foto disana dengan penduduk lokal. Seusainya keluar dari Desa kami masih dikejar dengan para penjual yang menjual noken dan perhiasan kalung begitu juga ketika kami berbelanja aksesoris di pasar tradisional, sungguh berkomunikasi dengan mereka saja sulit, saya jadi membayangkan kerasnya hidup para misionaris yang menyebarkan agama pada masa-masa terdahulu disini. Saya bahkan takjub saat salah satu TV nasional meliput pesantren islam di daerah Wamena. Perjuangan pendiri pesantren itu memang luar biasa dengan diawali usaha berkomunikasi dengan penduduk disana.

Ada hal kecil yang menurut saya indah disini, setiap mobil saya melewati sekumpulan anak-anak atau bahkan remaja dan kami melambaikan tangan, mereka juga akan membalas lambaian tangan kami dengan senyuman dan gigi putih mereka. Namun tetap saya merasa ada yang salah. Saya teringat dosen saya yang pernah mengatakan, “Indonesia itu javacentris. Semua ekonomi dan kehidupan Negara ini berpusat di Pulau Jawa, terutama Jakarta. Walaupun provinsi lain mulai dibangun, tetap saja mereka impor hampir segalanya dari Pulau Jawa dan uang akan kembali kesini.”. Saya kemudian berpikir, saya tidak berhak menyalahkan mereka yang mengkomersilkan leluhur dan budaya mereka. Saya sendiri datang kesana sebagai seorang wisatawan, ya wisatawan yang berasal dari 'pusat' Indonesia dimana dunia sedang gegap gempita dengan kedatangan Idul Fitri pada waktu itu. Bukan salah mereka yang mengkomersilkan apapun yang ada disana, sekali lagi,  mereka hidup ditengah-tengah pegunungan dan jauh dari Pulau Jawa, jarang turis datang kesana karena mahalnya biaya pesawat terbang, wajar saat turis datang mereka berbondong-bondong membujuk turis dengan bahasa yang terpatah-patah untuk membeli barang dagangan mereka dan mengenakan biaya tinggi untuk berfoto dengan mereka. 

Saya menyadari sesuatu, mereka tau mereka dijadikan ‘objek’ oleh kami para wisatawan, dan saya  seperti tidak memanusiakan mereka, seakan-akan mereka juga hanya objek atau patung untuk berfoto. Kenapa? Karena sepertinya saya sudah terlalu lama hidup dalam ‘pusat’ Indonesia, tanpa sadar saya membatasi Indonesia pada ruang lingkup orang-orang yang sama seperti saya dalam fisik atau gaya hidup. Bohong rasanya, jika saya tidak merasa asing begitu saya melihat perbedaan yang mencolok antara fisik kami dan penduduk lokal disana. Saya berbohong jika saya mengatakan bahwa saya tidak menjadikan penduduk sana ‘objek’ wisata, toh buktinya saya mau berfoto dengan mereka pada saat di Desa itu tanpa mengenal mereka lebih dulu. Bohong jika pada awal saya datang ke Wamena dan langsung merasa se-Bangsa dan se-Tanah Air dengan penduduk lokal disana. Bohong jika pada saat pertama saya menginjakan kaki ke Wamena Saya langsung bisa mengatakan “Mereka orang Indonesia loh.” .  Jika mereka bertanya, “Kitorang orang Indonesia kah? (apakah kita orang Indonesia?)”, mungkin pada tiga detik pertama saya akan menggelengkan kepala saya.


A little Touched by god: Pada bulan suci ini, Tuhan saya mengajari saya suatu hal yang mungkin sudah lama terlupa oleh saya: menghargai perbedaan-lebih dalam dan memanusiakan orang yang berbeda  dengan saya. Dan kemudian saya sadar, wajar jika dulu Papua ingin merdeka, mungkin mereka menyadari apa yang saya sadari diatas, tidak di’anggap’ oleh 'Pusat' Indonesia, yaitu Pulau Jawa. 



www.Burufly.com/experience/ #FestivalRamadhan #Traveling di Bulan Ramadhan

Komentar

  1. sumpah jleb bgt ini tulisan lo, kirim ke surat kabar li, lain kali ajak2 klo dpt gratisan haha

    BalasHapus
  2. ini sebenernya lagi diikutin lomba di burufly.com hehehe. sekalian gw nulis, sekalian aja di posting. Doain aja semoga ada publisher numpang lewat blog gw terus gw diajak jadi kontributor haha. amiiiiinnn.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!