Waktu: Masa Kecil, Masa Kini, dan Masa Depan


Pk. 01.49 WIB
Selamat Malam menjelang Pagi,
kembali lagi dengan saya yang kali ini mungkin tidak akan membawakan cerita-cerita mengenai perjalanan ke tempat indah, well... ini cerita random dari kepala saya saat saya menatap dinding dihadapan saya yang penuh dengan tempelan notes dan foto-foto. Lalu, timbulah sebuah kata di kepala saya “Waktu”.

Masa Kecil.
Masa kecil saya dihabiskan dengan bolos sekolah dan bermain roller-blade atau sepeda. Seorang anak yang punya sebuah cita-cita aneh menjadi Paleontologis. Saya ingat hari-hari pertama saya masuk TK, saat ibu dan ayah saya mengantar saya, kemudian saya kehilangan sebagian besar ingatan antara TK Besar – Kelas 3SD. Hingga sekarang saya tidak bisa ingat jelas apa yang saya lakukan pada masa-masa itu, saya ingat saya punya seorang sahabat laki-laki yang menjadi satu-satunya teman saat saya duduk di  kelas 3SD yang kini hilang entah kemana.
Hal yang paling menggembirakan hati saat saya masih kecil adalah tinggal di rumah nenek-kakek saya. Saya tinggal disebuah rumah yang dikelilingi pohon dan kebun, saya punya seekor kucing kadang ada anjing, dan kura-kura besar di belakang rumah. Sepulang sekolah, saya suka menjelajah kebun kakek saya tanpa takut di gigit ular atau lainnya, karena saya suka bermain diluar walaupun sendirian. Tahun 1999 akhir,  menjelang awal millennium. 13 Tahun lalu.
Saya benci tahun itu, karena itu adalah terakhir kalinya saya melihat rumah itu. Bagi saya, masa kecil saya berakhir saat saya masuk SMP: tidak adalagi kebun, tidak ada sepeda, tidak ada lagi cita-cita menjadi paleontologist. SMP adalah mimpi buruk dan masa-masa pertama kalinya saya tau bahwa di dunia ini ada yang namanya diskriminasi. Si pintar dengan si pintar dan si bodoh dengan si bodoh, dan untuk menjadi si pintar kadang hanya perlu sedikit keberuntungan yaitu “lahir di keluarga kaya”. Saya harap dunia SMP sekarang tidak sama dengan dunia saya dulu. Ya, walaupun masih sama, saya tidak aneh sih, melihat masih ‘’uang’’ yang bekerja keras di sekolah-sekolah itu, contohnya saja: guru akan memberikan nilai bagus, jika si anak les privat bersama si guru. Hal yang lumrah bukan? Entah kapan akan berubah. Saya pesimis.

Masa Kini.
“Kita tidak bisa memilih masa kecil kita, tapi kita bisa menuliskan masa depan kita.” Iwan Setyawan.
Baiklah mungkin saya tidak bisa memilih masa kecil saya dilahirkan menjelang krisis ekonomi 1998, saya tidak bisa memilih saya dilahirkan dikeluarga yang biasa-biasa saja, saya bukan ningrat apalagi keturununan konglomerat sahabat dekat presiden kedua RI. Tapi saya yakin, saya yang memegang kuas untuk melukiskan masa depan saya.
Masa kini, terutama masa-masa kuliah adalah masa-masa terbaik yang pernah saya alami. Terbaik dari 21 Tahun saya hidup di dunia ini. Masa-masa saya diizinkan melihat begitu banyak hal. Dimulai dari kehidupan di kota lain, kehidupan pekerja kantoran, dan kehidupan mahasiswa yang ternyata tidak semudah itu. Ditipu, bertengkar hingga dua tahun lamanya, patah hati, pernah merasa ingin mati saja, menangis hanya karena tugas kuliah adalah hal-hal menyedihkan yang juga terjadi di masa-masa kuliah ini. Semakin saya menikmati masa-masa ini, semakin saya merasa takut kehilangan masa-masa ini. Inilah saat saya merasa saya kekurangan waktu, kekurangan waktu untuk melukiskan masa depan saya.  

Masa Depan

Kapankah masa depan itu? 1 detik lagi? Besok? Bulan Depan? Atau Tahun depan?
Ketika membicarakan masa depan, seringkali saya rancu, saya lupa menanyakan satu hal lagi “apakah saya akan memiliki waktu yang namanya ‘masa depan’ itu?”. Sering saya mendengar orang-orang yang bersiap-siap untuk masa depan, sekolah, tabungan, asuransi, dan lain sebagainya, begitu juga dengan saya. Hingga terkadang yang menyedihkannya adalah kita lupa menikmati ‘’saat ini’’, sesuatu yang pasti, yang pasti sedang kita miliki. Masa depan tidak lain adalah sebuah ketidakpastian yang berwujud harapan. Harapan yang begitu kuat sehingga kita merasa, kita pasti akan sampai disana. Begitu sampai disana, kita mungkin akan bertanya “apa yang telah kita lakukan selama ini sehingga kita bisa tiba disini?” lalu kita menyesal tidak menikmati seutuhnya waktu yang telah berlalu itu. Menyedihkan.
Lalu tibalah saat yang disebut kematian. Dan kemudian kita akan berkata “Waktu berlalu begitu cepat.”
Waktu adalah hal yang paling mengerikan karena bagi saya waktu tidak bisa ditunda dan diputarbalik, waktu terus maju tanpa peduli saya merasa kurang atau lebih. Jika saya bisa meminta pada Dia, saya tidak akan meminta kekuatan untuk menghentikan waktu karena dengan begitu berhenti juga kehidupan yang saya nikmati, saya akan meminta “Berikan saya  kepastian bahwa saya akan menikmati hidup saya sebaik-baiknya.”

A little touched by god: Waktu juga menciptakan sebuah kata “Tua”, Menjadi tua adalah hal yang sama menakutkannya, bukan karena saya takut akan keriput dan bungkuk. Tetapi dengan menjadi tua, saya akan kehilangan memori hidup saya perlahan-lahan dan itu sama saja saya kehilangan harta saya yang paling berharga.    

Komentar

  1. setidaknya kita bisa menyimpan memori dengan tulisan maupun gambar.. yg nantinya bisa kita tengok untuk mengenang masa-masa itu..
    kayaknya postingan kali ini 'dalam' sekali...
    semangat, li! kan sekarang udah ada yang mendampingi ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!