Frekuensi Hati

Halo dunia,
kembali lagi bersama saya, seorang penulis amatir yang mencoba menuliskan memori hidup yang terlalu berharga bagi saya untuk dilupakan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. 

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis ini, tapi lagi-lagi sebagai mahasiswa yang baru saja menginjak tahun ketiga saya, saya merasa sudah saatnya saya kembali ke jalan yang benar (red: belajar bener-bener, biar bisa jadi sarjana ekonomi, bukan jadi pengembara dan penulis blog amatir), namun ya apa daya, toh, keinginan saya menulis ngalur-ngidul hari ini cukup tinggi (padahal saya masih musim ujian tengah semester)-ya sudahlah.

Baiklah sesuai dengan judul diatas, Frekuensi Hati. 
Romantis? Mungkin, tapi bukan soal romantisme yang akan saya ceritakan kali ini.
Lagi-lagi kota Jogja, perjalanan solo saya di Yogyakarta dan Solo mengantarkan saya pada pengalaman aneh yang satu ini.  Pengalaman yang menambahkan kosa kata baru dalam hidup saya, "Frekuensi Hati".

Hari itu, saya lagi-lagi bertujuan pergi ke Museum Ullen Sentalu di Kali Urang. Seorang teman pernah bilang, tidak ada angkutan umum ke tempat itu, tapi dengan nekat karena saya sudah tidak ada tujuan apapun lagi di Jogja, akhirnya kaki ini membawa saya ke jalan raya kaliruang juga, dan disana saya menemukan angkot/oplet tua dengan papan-nama kecil tujuan kaliurang.

Saya duduk dibelakang supir dengan tujuan bertanya pada abang angkot apakah dia melewati jalan yang saya maksud, setelah saya bertanya seorang kakek yang duduk dibelakang saya menepuk pundak saya, "Kamu anak FEUI ya?"
dalam hati saya agak kaget, ada seorang kakek di tengah angkot bertanya saya anak FEUI atau bukan. Biasanya orang bertanya "kamu kuliah apa sekolah?" kira-kira begini kejadian waktu itu.

Saya: "iya, pak saya kuliah di UI."
Baju Yang Saya Pakai Hari itu
Kakek: Ohh
Saya: "Lah kok kakek tau saya kuliah di FEUI."
Kakek: "Iya saya baca baju kamu. saya juga lulusan situ. gimana Kalkulus kamu? harus kuat ya kalo anak ekonomi itu kalkulusnya."
Saya:*dalam hati* (eh buset lulusan taun berapa ini bapak? Epic banget lagi nanyain kalkulus di oplet tua begini)
Dan pembicaraan itu terus berlanjut, yang kalo saya tuliskan disini semuanya akan memakan waktu setengah jam lebih untuk membacanya hahaha. Kira-kira begini kisah hidup beliau yang saya tangkap kurang lebih:

Jadi dulunya kakek ini adalah angkatan 1965 Fak. Ekonomi Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Ekonomi. tapi setelah lulus dari FEUI beliau ini kuliah penerbangan dan akhirnya bisa jadi Pilot salah satu maskapai terkemuka di Indonesia. Dan setelah dia bercerita seperti itu, saya tidak percaya dengan segala ceritanya. "Masa iya sih, mantan pilot naik oplet tua begini, bawa-bawa belanjaan sendiri lagi. lagian kok lulusan feui bisa jadi pilot." dan saya hanya ber "ohh" saat beliau menceritakan sebagian kisah hidupnya itu. lalu sampailah pada pertanyaan.

Kakek: "Kamu kenapa jalan-jalan sendirian?"
Saya: "Ya, lagi pengen aja sih pak, emang seneng jalan-jalan sendiri begini."
Kakek: "Saya sering loh ketemu sama perempuan seumur kamu, kesini sewa-sewa motor itu kan, tapi berdua atau ber-empat biasanya. saya ga pernah ketemu yang sendirian."
Saya: "ya, gitu pak, saya suka susah juga cari temen jalan hehehe. Lah bapak sendiri, tinggal sama keluarga apa sendiri pak di Jogja?"
Kakek: "saya tinggal sendiri. Dikomplek di kaliurang. Enak deh tinggal disitu, hampir semuanya pensiunan.Saya kalo jam segini, ke pasar nih, nih liat saya beli sayur, beli cabe, nih saya paling seneng kerupuk yang ini nih."(sambil ngeluarin belanjaannya di mobil)
Saya: "Ga iseng pak tinggal sendiri?"
kakek: "dulu saya punya rumah di Jakarta, anak-anak saya bilang saya tinggal dijakarta aja. Saya ga mau ah. kepala saya sakit kalo tinggal disana."
Saya: "Anak Bapak emang tinggal di Jakarta?"
Kakek: "Nggak anak saya satu di Jakarta, satu lagi masih kuliah S3 di New Zealand. nih, kemarin cucu-cucu saya baru dateng kesini."  (sambil ngeluarin foto dia bareng beberapa anak perempuan sekitaran SMA, dan yang ''wow'' nya dia pake baju seragam pilot gitu)

Entah kenapa si kakek ini terus ngajak saya ngobrol, Jadilah saya malah semakin tertarik juga pengen tau asal muasal kenapa senior saya ini bisa nyasar disini. Singkat Cerita,  akhirnya saya percaya juga dia lulusan UI dan merupakan senior saya, karena dia bercierita soal segala aktivitas dia dulu ketika kuliah di Salemba dan akhirnya pada alasan kenapa dia pindah ke jogja tanpa seorang saudara pun dikota itu.

Oplet tua Jalan Kaliurang

"Liat nih (sambil copot kaca-mata) mata saya udah setua ini belum banyak keriputnya kan hahahaha. Kamu harus inget ya, manusia itu punya frekuensi (sambil nepuk-nepuk dadanya) kalo kamu menerima frekuensi lebih dari yang seharusnya, kamu bisa gila loh." ucap kakek itu, mungkin ini cerita yang sama yang pernah ia ceritakan pada salah satu cucu perempuannya. "Jakarta itu Frekuensinya tinggi. Nggak bisa kita hidup disitu, bisa pecah ini kepala." saya sangat... entahlah, perasaan yang aneh yang saya rasakan pada saat beliau mengatakan hal ini. sepuluh menit berlalu dan akhirnya kami masih membicarakan masalah frekuensi hati, tentang bagaimana kakek itu sangat percaya dengan adanya frekuensi itu dan mengingatkan saya berkali-kali untuk hidup tenang sesuai dengan frekuensi saya.

"Nah, saya didepan sebentar lagi turun ya, kamu bayar ongkosnya jangan kemahalan ya, nih kalo sampai sana pokoknya cuma Rp.xxx *saya lupa berapa*. hati-hati, kamu nih jalan sendirian bikin khawatir orang." saya cuma senyum-senyum sambil ngangguk-ngangguk aja saat kakek itu berkata seperti itu. Tidak lama kemudian, saya pun hanya duduk sendiri di oplet tua itu dengan sebuah perasaan aneh.

A Little Touched By God: Saya selalu percaya Tuhan punya cerita sendiri kenapa saya harus bertemu dengan orang-orang menakjubkan seperti ini dalam perjalanan saya. Mungkin ini salah satu cara-Nya menunjukan pada saya, bahwa kaya materi bukan hal yang bisa membuat seseorang pasti bahagia. Buktinya, kakek itu rela tinggal dirumah kecil berkamar satu, meninggalkan hiruk-pikuk dan kemewahan kota Jakarta demi sebuah ketenangan hati di kota Jogja.   

NB: Saya cukup menyesal gak sempet foto bareng sama si Kakek. :"|




 

Komentar

  1. Aku baru baca blog kamu lagi setelah post tentang Biak, & ternyata udah ketinggalan banyak banget ceritamu yang amazing! :O

    This one's my favorite so far... *belum lanjut ke yang sebelum-sebelumnya sih :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!