Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 2)



"...hamparan padang sabana di kiri kanan jalan terlihat sangat indah. Jauh di sisi kanan tampak birunya selat Sumba...di beberapa titik jalan anda bisa menyaksikan lanskap pengunungan Flores, yang bersebrangan dengan Pulau Sumba." (National Geographic Traveler, Desember 2011)


---
#Day 02

Kembali melanjutkan tulisan saya mengenai daerah pesisir Garut Selatan yang tersisihkan ini. Barisan kalimat diatas mungkin terlalu berlebihan jika saya gunakan untuk mendeskripsikan apa yang saya lihat di perjalanan menuju Puncak Guha dari Pelelangan Ikan, Santolo, tetapi saya benar-benar melihat wilayah tandus, dengan hamparan rumput-rumput tinggi dimana disebagian jalan kita bisa melihat Samudera Hindia atau Laut Selatan Jawa, dan disebelahnya lagi barisan bukit-bukit yang kadang berwarna kekuningan dan kadang berwarna hijau. Hal yang pasti adalah: Panas. Yak, di mobil pick-up beratap itu saya bisa merasakan bahwa udara siang itu panas dan kering. Herannya jalur didaerah menuju Puncak Guha ini cukup mulus, semulus jalan raya Bogor (ada sih yang rusak dikit-dikit :D)

'Seperti' Sumba
Awalnya perjalanan melalui perumahan warga, dan kemudian berubah menjadi jalan lurus dengan pemandangan diatas, naik dan turun bukit dimana kita bisa melihat laut biru disisi jalan dan bukit tandus disisi lainnya. Mobil pick-up kami melewati gapura kecil dan ada papan kecil bertuliskan "cicalobak", saya hanya melihat itu sekilas. Tidak ada tanda-tanda mobil wisatawan apalagi bis pariwisata, dan tidak ada juga gapura besar "selamat datang''. Tapi, dari yang saya baca, Pantai Cicalobak juga cukup indah untuk didatangi. Hanya dengan papan kecil bertuliskan ''Cicalobak", siapa juga yang tau disitu ada pantai yang cukup indah untuk didatangi?  Sayangnya, bukan itu tujuan kami. Puncak Guha adalah tujuan kami. Saya penasaran apa tanda-tandanya "puncak Guha'' ini yang menurut saya lebih tidak populer lagi bila dibandingkan Cicalobak tadi.

"Jadi nih ya tanda-tandanya Puncak Guha itu, ntar ada jalan kecil dipinggir jalan trus kita masuk." kata ketua perjalanan yang saya ingat waktu itu. Tapi, di tempat yang in the midde of nowhere ini deskripisi yang ''jalan kecil dipinggir jalan'' mana bisa diterima? Saat kami meminta bapak supir menepi jika sudah di Puncak Guha, Bapak supir itu aja yang orang lokal situ, lupa-lupa inget dimana puncak guha! damn!

Tibalah kita di gapura merah kecil dimana ada beberapa warung-warung (yang menurut saya antara niat dan ga niat buka warungnya).
Saya: "Disini nih?"
Ketua Perjalanan: "Iya disini kayaknya." (maklum lah dia kesini dua tahun yang lalu, ingatannya sudah agak ber'debu' sepertinya hahaha)
Percaya 100% sama si ketua ini walaupun awalnya beliau ragu-ragu akhirnya setelah tanya ke penjaga 'pos', bener adanya itu adalah jalan masuk ke Puncak Guha. Dalam hati saya berteriak, "Woyyyy, gileee pasang nama kek!"

Kira-kira berjalan seratus meter saya mendengar teman saya yang jalan di depan berteriak, "wow gila! keren banget tempatnya!"

Puncak Guha
Sunset Di Puncak Guha

Dan benar saja, kami sudah berada diantara perpaduan padang rumput, bukit, lautan biru, dan tebing-tebing seindah di Uluwatu Bali.
Yak, Selamat Datang di Puncak Guha. Benar kata ketua perjalanan saya sebelumnya, "Puncak Guha tuh bagus deh. Gw kan udah pernah kesana." untuk ukuran orang yang pernah menginjakan kakinya di tanah flores sana ini, saya yakin dia benar. Dan ternyata, memang benar. Pada pandangan pertama, saya langsung suka tempat ini. Walaupun ada tamu-tamu lain yang merupakan grup touring motor, tetap saja tempat ini menjadi milik kami seorang disaat malam hari.

Angin Kencang
Bersembunyi Dari Angin
Siang itu walaupun panas, kami disambut angin kencang di Puncak Guha. Sempat terpikir untuk memindahkan basecamp kami ke sebuah pantai landai bergaris panjang yang ada dibawah. Membayangkan tenda saya tergusur ke Laut Selatan Jawa, rasa-rasanya cukup tidak menyenangkan. Setelah makan siang (makan sore) itu, akhirnya diputuskan dimana kami akan membuat kemah. Daripada diatas tebing dan resiko jatuh ke laut selatan di terjang angin atau jauh-jauh jalan ke pantai bawah (walaupun opsi ini terlihat menggoda, sayangnya kami semua orang-orang malas gerak), akhirnya diputuskanlah kami membuat kemah di padang rumput dijalan menuju masuk Puncak Guha yang tanahnya miring-miring ini dan ada sisa-sisa kotoran entah-apa-itu dimana-mana. Yang penting satu = terhindar dari angin sialan itu. 


View 360 derajat Puncak Guha
Saat hari sudah sore tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain duduk-duduk, menikmati angin sepoi-sepoi (yaiyalah sepoi-sepoi karena kami semua duduk dibawah cekungan dekat bibir tebing) dan langit biru diatas kepala kami. Sekali lagi saya akan menjelaskan apa yang saya lihat dan rasakan tentang puncak Guha. 



Sunrise Dari Kemah Kami


Rumput-rumput 'empuk'




Pertama-tama, Tebing-tebingnya. Saya pernah ke Uluwatu dua tahun yang lalu dimana saya melakukan solo-traveling untuk pertama kalinya. Sekarang saya melihat tebing-tebing yang lebih panjang dan pemandangan laut yang menurut saya bahkan lebih indah dibandingkan sewaktu saya berdiri di Uluwatu dua tahun lalu dimana saya berada di tengah-tengah puluhan wisatawan lainnya. 
Tebing-Tebing di Ujung Puncak Guha
Kedua, Padang Rumputnya, didaerah puncak guha saya menemukan padang rumput kecil berwarna hijau yang teksturnya hampir sama dengan rumput-rumput empuk yang saya temui di ujung barat Pulau Jawa Tanjung Layar, padang rumput hijau inilah yang menjadi tempat kami berkemah malam itu, dimana malam harinya saya bisa menikmati bintang-bintang diatas kepala saya. Selain itu dari puncak guha ini juga kita bisa melihat padang rumput kemerahan yang pernah saya lihat pada foto-foto di Pulau Sumba. Padang rumput kemerahan yang sangat cantik.

Ketiga, Pantai. Dari puncak Guha kita bisa melihat sebuah pantai bergaris panjang dibawahnya. Pantai bertekstur sama seperti Pangandaran yang ada perbatasan jawa barat dan Jawa Tengah. Bedanya ini adalah Pantai Pangandaran tanpa vila-vila dan rumah warga, tanpa ratusan wisatawan, tanpa perahu-perahu nelayan, dan tentunya tanpa sampah bertebaran di garis pantainya.

Keempat, Goa. Di Puncak Guha ini ada sebuah Goa yang dimana kita bisa melihat air laut memasuk Goa disaat pasang. Saya rasa ribuan kelelawar tinggal di Goa vertikal ini.

Kelima, Bukit-bukitnya. Hal yang tidak bisa saya lupakan adalah melihat matahari terbit dari bukit-bukit dibalik Puncak Guha. Bangun pukul empat pagi, dan matahari baru terbit pada pukul 6.15 pagi. karena letaknya dibalik bukit-bukit, masuk akal kalau sunrise baru terbit jam segitu. Tapi jangan pikir kami bangun jam 4 pagi untuk mengejar matahari terbit. Kami bangun jam segitu semata-mata untuk memasak makan malam kami yang sengaja kami rapel dengan makan pagi dijam yang antara pagi-malam itu. Aneh? Kami rasa cukup adil memasak makan malam-pagi dijam 4 pagi itu hahaha.
Sebagian Kecil Padang Rumput di Puncak Guha


Sunrise

Menikmati Sunrise
Disinilah, di puncak Guha saya bisa menikmati sunrise (yang sebenarnya tidak begitu cantik karena pagi itu
langit berawan) paling tenang yang pernah saya rasakan. Ketika teman-teman saya masih berada di basecamp, saya sengaja berjalan-jalan ke balik tempat kemah untuk menikmati sunrise itu sendirian. Lucunya disini saya bisa melihat kabut pagi. Berkali-kali seorang teman saya yang bisa dibilang pendaki gunung daripada penjelajah pantai merasa heran, "eh kok bisa ada kabut sih di pantai?" entahlah, rasanya tidak ada yang tidak mungkin di Indonesia. Angin pagi itu sangat amat bersahabat, rumput-rumput merah, kabut pagi, matahari terbit yang bulat dan kesunyian tanpa riuh wisatawan. Apa lagi yang saya minta dari tempat ini?


#Day 03
Sebuah perjalanan pulang yang tidak kalah epic dengan perjalanan pergi. Elf paling epic yang pernah saya tumpangi. Saya suka dengan panasnya pesisir garut dan juga dinginnya pegunungan yang saya lewati ketika kembali. tujuh jam di Elf dan tiga jam di bis menuju Jakarta. Sepuluh Jam yang menurut saya sudah dibayar dengan keindahan yang saya lihat. Saya cinta Indonesia.


A Little Touched By God: Satu hal yang saya suka tentang tempat ini, saya sangat sangat sangat suka pagi hari di tempat ini. Jangan tanya kenapa, karena rasanya saya sudah menjelaskannya dengan cukup panjang diatas.
How We Get Back:
Pelelangan Ikan - Puncak Guha: Sewa Pick up Rp.150.000/mobil (bisa muat 12-15 orang)
Puncak Guha - Ranca Buaya : Jalan Kaki*recommended
Pantai Ranca Buaya - Pintu Masuk Ranca Buaya : Numpang Truk
Pintu Masuk - Terminal Garut Guntur :  Rp. 30.000 (Elf ini suka gaib, jadi wajib pukul 10 pagi sudah stand by di rancabuaya, naiknya pun tidak tepat dari pantai rancabuaya)
Terminal Garut - Kp. Rambutan : Rp. 35000



Komentar

  1. Gw cuma berharap someday somehow gw ke Sumba, ekspektasi gw terlalu rendah untuk tempat itu hahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?