Sepuluh Jam Menuju Garut (Edisi 1)

Garut, sebuah daerah yang dikelilingi gunung-gunung indah di daerah Jawa Barat. Dari Jakarta, hanya diperlukan waktu sekitar tiga jam untuk sampai di Kota Garut atau pergi ke Cipanas (salah satu tempat wisata terkenal di Garut). Daerah Ini juga terkenal dengan pengrajin kulitnya, salah seorang dosen saya pernah mengatakan bahwa produk daerah ini bisa dijual di pusat fashion dunia seperti paris dengan harga ribuan dollar. Namun, kali ini saya tidak akan bercerita tentang pusat-pusat wisata garut seperti yang telah saya sebutkan tadi. Saya akan menceritakan tempat-tempat di dearah selatan garut yang cukup tersingkirkan dibandingkan dengan ikon wisata lainnya di Jawa Barat. Sebuah Pulau, Tebing dengan pemandangan seindah (bahkan lebih indah) Pura Uluwatu di Bali, Hamparan Padang rumput, dan bukit-bukit seindah di Pulau Sumba. Siapa sangka Garut punya itu semua?

#Day 01
Enam orang, dengan komposisi dua laki-laki dan empat perempuan adalah tim perjalanan kami kali ini. Hanya satu orang diantara kami yang sudah tau jelas kemana kami akan pergi. "Pokoknya di Garut Selatan. sekitaran 6 jam dari garut deh." Kata Ketua Perjalanan saya kali ini. Kata beliau ini, the art of travel itu adalah jangan mengekspektasikan tempat yang akan dituju, "kalo ekspektasi lo ketinggian begitu sampe ditempat, tempatnya biasa aja jadinya bakalan keliatan jelek dan buat lo kecewa.Mending lo ga tau apa-apa." Nah itu lah kata-kata beliau, jadi kali ini saya tidak terlalu banyak mencari tau tentang tempat tujuan kali ini. Beberapa kali diperjalanan, saya sempat bercanda mengatakan, "Eh, 'belokin' aja apa arahnya? Kayaknya enak nih berendem air panas di cipanas haha." Setau saya, garut memang punya pantai, tetapi sejauh yang saya dengar pantainya berombak tinggi dan airnya tidak sejernih air di kepulauan yang pernah saya datangi, tentu saja, ini kan pesisir selatan jawa, siapa yang tidak tau dengan bahaya Pantai Selatan Jawa?

Berangkat Dari Pasar Rebo
Pk. 11.27 
Tiga Jam lebih duduk di tangga bis bersama teman-teman seperjalanan yang lain (karena tidak kebagian kursi di bis menuju garut- bayarnya full lagi! idih!) cukup membuat salah seorang anggota kami mual dijalan dan membuka pintu bis yang hampir saja membuat teman saya itu jatuh ke Jalan. "Eh eh eh!"adalah kata-kata yang keluar dari mulut kami ketika teman saya itu terseret pintu bis yang terbuka. Kami hanya tertawa-tawa saat akhirnya teman saya itu dengan utuh bisa kembali lagi ke dalam mobil dan tentunya dengan perut yang lebih lega.

Terminal Guntur
Pk. 15.00
Tiba diterminal guntur, langsung saja ada beberapa calo yang menanyakan tujuan kami. Salah seorang diantara mereka yang tau tujuan kami langsung mengikuti kami. "A mau ke pameumpuk kan? yaudah A' tasnya ditaro dulu aja diatas mobil." Kami menolak halus bahwa kami mau makan dan sholat dulu baru naik Elf.  Setelah beberapa kali menolak dan kami menuju rumah makan, eh si supir mini bis itu masih aja datang dan memaksa kami memberikan tas kami untuk diletakan di atas elf.nya. "Gini ya a, abis makan nih langsung ke Elfnya. Nggak bakalan kemana-mana kok kita. ntar deh. masih banyak yang mau diambil ditas." kata saya yang sedikit mulai jengah diikuti kemana-mana. "iya udeh ntar aja.Nggak percaya amat." sahut ketua perjalanan saya. "Saya bukan calo A', saya supirnya langsung. kalo disini kita rebutan penumpang A jadi.." kata si supir. Yah, memang penumpang biasanya jadi rebutan di terminal kecil seperti terminal guntur ini. Apalagi kami akan menjadi penumpang jarak terjauh Elf itu, jadi wajarlah supir Elf itu was-was penumpangnya 'melarikan' diri. Saya dan teman saya hanya tertawa dan menyahuti sekali lagi si supir itu, "yang mana sih a' mobilnya?" kata teman saya. "itu tuh A, yang warna putih." tunjuk si supir Elf itu. "yaudah ntar nih abis makan kesana deh ga ke supir yang lain."kata saya meyakinkan tentunya setelah teman saya tawar menawar harga dengan si supir. "bener ya?" tanya si supir lagi. Gileeeee ga percayaan amat sih nih orang. dan kami pun menyahut "iyeee bangg."


Menuju Sayang Heulang
Pk.16.30
Nah dimulai lah perjalanan kami menggunakan ELF menuju Sayang Heulang, sebuah tempat yang dekat dengan Pameumpeuk. Melewati Gunung Cikuray,kota-kota kecil dan jalan-jalan gunung berliku dengan isi ELF yang 'lumayan' penuh. Amannya kalo naik Elf menuju ke Pameumpuk harus cari posisi enak, kalau nggak, wuiihh mual laah pasti. DIJAMIN. Saran saya: begitu sampai di daerah Cikujang, langsung minum antimo. Di mini bus sempat ada momen aneh, hasil ngobrol-ngobrol sama pengamen yang lagi pulang kampung itu, entah kenapa tiba-tiba si A' Adi ini langsung ngambil gitarnya trus langsung main di dalam mobil. Padahal ya padahal niat hati ngajak ngobrol malah dinyanyiin tembang dangdut malem-malem hahaha. 


Sayang Heulang
Pk. 22.00
"Gini ya mbak begitu sampai disana, masuk lewat masjid jangan ke arah kiri ya. Langsung ke arah kanan. Saya kenal mbak tipe-tipe orang disana kayak gimana, bahaya kalo ke kiri 'tempat begituan' tau kan? Jadi ke kanan aja ya." Begitulah pesan seorang bapak yang duduk bersama kami di ELF malam itu. Ketika kami memasuki wilayah itu, suasananya tidak seperti pantai wisata pada umumnya. Sepi dan wajah para penduduknya terilhat tidak begitu ramah seperti yang pernah saya rasakan di Parangkusumo dulu. Mungkin memang begini tipikal wilayah orang pesisir. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membangun kemah tidak jauh dari pertigaan yang dikatakan oleh bapak di Elf itu (tentunnya di arah sebelah kanan). Malam itu kata teman saya langit cerah dan banyak bintang, saya tidak begitu memperhatikan, terserang Diare dijalan itu ternyata cukup membuat saya menderita dan lemas, Hal terakhir yang saya dengar malam itu adalah, evaluasi perjalanan teman saya: 

Ketua Perjalanan: "yak kita evaluasi dari yang sakit dulu ya. woi yang sakit apa nih evaluasinya hari ini?"
saya: "Jangan makan sembarangan di bis cukup sih evaluasinya." Jawab saya dari dalam tenda, tidak lama kemudian saya tertidur dan entah apa lagi yang mereka tertawakan malam itu. Saya yang terkena diare atau memang perjalanan hari itu cukup lucu untuk ditertawakan.

#Day 02
Pagi di Sayang Heulang


Kondisi saya masih diare berat. Rasanya kalau pulang disaat begini tentu rasanya akan menyenangkan. Karena perjalanan berikutnya kita akan menuju tempat dimana tidak akan ada kamar mandi, tidak ada transportasi umum 24 jam. Tapi saya teringat cerita abang saya yang harus melakukan summit di semeru dengan kondisi yang kurang lebih sama dengan saya. "yak, inilah saatnya saya minum norit sebanyak mungkin." akhirnya atas saran dokter perjalanan saya yang tidak lain adalah ketua perjalanan saya sendiri, saya minum norit dan obat entah apa namanya yang diberikan teman saya itu.



Serasa 'Kota Mati' Di Sayangheulang
Menuju Pulau Santolo
Pk.9.20

Setelah terakhir kali berpamitan dengan kamar mandi, saya dan tim ini pun melanjutkan perjalanan. Benar-benar seperti kota mati. Padahal itu hari sabtu, seharusnya daerah wisata seperti ini cukup ramai. Saya pikir tidak ada yang lebih sepi dari jalanan di daerah Ujung Genteng, ternyata daerah ini masih jauh lebih sepi dibandingkan ujung genteng. Jauh. Penduduk juga hanya terlihat beberapa orang. Cuaca Panas. Mobil jarang lewat. Dan sepertinya tim perjalanan saya cukup terlihat aneh di tengah-tengah jalan seperti itu, dengan carier dan matras, dimana tidak ada orang lainnya yang berpenampilan sama.

'Menyebrang' ke Pulau
Kami melewati beberapa karang-karang dan menemukan muara aneh, dimana bukan air sungai yang mengalir ke laut tetapi air laut yang mengarah ke sungai. #tanyaKenapa? ada sebuah jembatan yang cukup unik tapi sayang cukup tua juga untuk digunakan menyebrang sungai. Kami menyusuri pantai itu. ada barisan karang-karang yang terlihat Epic. Disini jugalah kami mulai menemukan kehidupan (red: wisatawan lokal). Tebing-tebing di sepanjang pantai itu cukup cantik dan ada beberapa bagian tertentu yang bisa dipakai untuk berteduh. Menyusuri pantai itu sampai akhirnya mencapai ujung pantai itu dengan menemukan pelabuhan kecil, lalu timbulah pertanyaan, "lah mana santolonya?". Tapi di ujung pantai ini juga saya melihat pemandangan luar biasa indah, barisan bukit dan sebuah gunung terpampang didepan saya dengan lautan biru dibawahnya. "God, Ini garut?! Gila kok ada tempat sebagus ini." Rasanya kalau saya tidak mengingat keadaan perut saya, saya ingin berlama-lama ditempat itu, meminum kopi sejenak, menyetel musik dan menikmati panoramanya.

Di Ujung Pulau Santolo
Setelah tanya-tanya ketua perjalanan saya pun kembali dan mengatakan, "Jadi nih ya, tadi kita udah nyebrang pulau. Sekarang kita ada di Pulau santolo. Nah kalo mau balik lagi ke daratan kita bisa naik perahu tuh dibalik situ bayar Rp.2000." Kami semua cukup kaget saat tau kami sudah menyebrang pulau. "Menyebrang Pulau" bayangan saya adalah kalau menyebrang pulau kita perlu naik kapal dan sejenisnya tapi dari tadi kan kami hanya berjalan kaki, kapan menyebrang pulaunya? Dan ternyata oh ternyata, sungai kecil yang kami sebrangi tadi adalah batas antara pulau dan daratan jawa. Karena air surut kami bisa menyebrang dengan cukup mudah. Nah disini jugalah, saat saya melihat pantai kecil yang indah di bagian pulau santolo, dibagian ini tidak ada orang yang berenang, entah karena ombak atau hal lainnya. Tapi pantai itu indah dan sisinilah kami menyewa perahu untuk menyebrang kembali ke tanah jawa. Dan.... Kok nyebrangnya cuma segitu? jarak antara pulau santolo dan tanah jawa yang dipisahkan muara itu tidak terlalu jauh. Tidak mau rugi membayar dua ribu rupiah, kami mencoba mencari daerah dangkal yang bisa disebrangi. Setelah bersiap-siap menyebrang dengan bermodalkan kaki, melihat air yang cuma sebetis itu kami pun sudah siap untuk menyebrang sampai tiba-tiba gulungan ombak datang dan air naik hingga sepinggang. "Yak, oke fixed lah kita sewa perahu aja daripada ini tas basah semua haha". akhirnya dengan sedikit tidak ikhlas kami naik perahu juga.
Pantai (Teluk) Kecil Di Pulau Santolo

Singkat Cerita, Saya menemukan fakta lainnya di Garut. Garut punya sebuah pulau bernama Pulau Santolo, yang ternyata benar-benar sebuah pulau. Saya membayangkan rasanya mendirikan kemah di teluk kecil di Pulau Santolo itu dan keesokan paginya bisa menikmati panorama barisan bukit dan gunung dari jauh. Rasanya pasti menyenangkan. Entah Kapan saya bisa kesini lagi.Dalam hati saya berjanji, teman yang biasa menemani perjalanan saya di Jakarta harus kesini suatu hari. Tempat sebaik ini terlalu sedih untuk dilewatkan.


A little Touched By God: Tuhan, Terimakasih sudah mengenalkan saya pada seorang pejalan aneh  yang bisa membawa saya ketempat aneh dan cantik seperti ini. 

How To Get There
Kp. Rambutan - Terminal Guntur(Garut) : Rp.35000 (Bus Apa Saja)
Terminal Guntur - Sayangheulang : Rp. 25.000 (Elf Arah Pameumpuk)
Turun Di Pintu Masuk Sayangheulang : Jalan Kaki (Free as long as You can) atau tambahan Elf Satu mobil Rp. 20.000.
 Sayangheulang - Pulau Santolo : Jalan Kaki atau Mobil (jika bawa mobil sendiri)
Pulau Santolo - Pelelangan Ikan: Rp.2000 (perahu menyebrang lagi)

Logistik: Lebih Baik Beli Yang banyak dari kota terakhir. Ada warung yang jualan indomie. Kalau bawa uang banyak sih bisa minta dimasakin ikan bakar. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!