Cerita Lain (Lagi-Lagi) tentang Jogjakarta



"'Gw sih udah bosen ke Bali sama Jogja. Gw cuma mau nikmatin perjalanannya, ngeliat sekali lagi PLTU Paiton di Jawa Timur Saat malem-malem sambil makan Pop Mie trus paginya ngeliat Mahameru dari Banyuwangi."

Lagi-lagi saya ke Jogjakarta. Sebuah Provinsi yang sangat istimewa yang terletak di selatan Pulau Jawa. Kenapa lagi-lagi jogja? Kenapa saya bisa berkali-kali ke kota ini? Perjalanan kali ini diawali oleh sesuatu yang tidak biasa.Saya sedang menikmati menjadi pengangguran karena liburan semester ini akan berlangsung hingga tiga bulan lamanya. Disaat kondisi uang yang sangat tidak bersahabat, saya hanya berharap saya mendapatkan undian gratis jalan-jalan kemanapun itu selain Singapura (banyak banget iklan yang nawarin jalan-jalan ke negara ini terutama ke universal studionya, saya sih lebih suka ciptaan Tuhan). Lalu dengan sedikit keberuntungan (dan sedikit mengemis), akhirnya saya ikut menemani abang saya ke Jogja-Bali dengan iming-iming saya bisa menjadi guide selama di bali (pengalaman 12 hari di Bali tentu tidak akan mudah saya lupakan) dan sebagai gantinya saya tidak perlu keluar ongkos sepersen pun selama perjalanan. Rencananya Perjalanan kami akan berlangsunng selama delapan hari.Untuk apa? ya, kalimat diatas adalah kalimat yang saya ucapkan pada abang saya malam itu. Sebuah perjalanan, The Journey.

26 Juni 2012
Setelah morat-marit sehari sebelumnya, cancel janjian sana sini karena saya salah ingat tanggal, akhirnya tepat jam 11 malam saya, abang saya, dan temannya berangkat menuju Yogyakarta. Rencananya selama di Yogyakarta Abang saya dan teman kerjanya akan melihat lokasi proyek pekerjaan mereka lalu lanjut ke bali untuk senang-senang. Tidak banyak yang saya ingat tentang perjalanan malam itu, saya hanya ingat jalur selatan yang berkelok-kelok, lelucon-lelucon garing (ada juga yang lucu) selama di mobil, tahu sumedang, dan akhirnya matahari terbit didearah setelah Banjar. Sedikit saya teringat sebuah film berjudul "3 Hari untuk Selamanya", ketika seorang kakak-beradik pergi ke Jogja melewati perjalanan selama 3 hari untuk sampai ke Jogja (gila, tidur kali yak bawa mobilnya? masa tiga hari baru sampe?). Apakah perjalanan saya kali ini akan merubah hidup saya selamanya? Saya nggak pernah tau dan tidak mau ambil pusing memikirkan hal-hal seperti itu, toh ini waktunya jalan-jalan gratis dan menikmatinya.

27 Juni 2012
Tepat pukul 11 Siang saya sampai di Jogja.
Abang saya masih harus menanti teman lainnya yang datang menggunakan pesawat di Airport, dilain sisi dia juga belum tidur dari malam sebelumnya. Bosan tidak melakukan apapun dipelataran parkir airport dekat masjid, akhirnya saya memutusan untuk berjalan-jalan sendirian. Tidak tau objek wisata apa yang paling dekat dari airport, saya hanya berencana berjalan-jalan keliling airport. Saat melewati halte Transjogja, iseng-iseng saya liat peta jalurnya. dan ternyata oh ternyata Airport itu dekat Candi Prambanan.
Dulu saya pernah ke candi prambanan saat sore hari, dan seingat saya pemandangannya cukup bagus. Akhirnya ''wuuuussshhhhh" lah saya capcus naik transjogja arah prambanan. armadanya masih lumayan bagus dibandingkan dengan TransJakarta, ACnya cukup dingin dan Jalanannya walaupun tidak ada jalur khusus nggak macet seperti di Jakarta. Ah, I Love this BUS!

Tiba di Halte Prambanan, saya langsung diserbu calo ojek dan becak. ada tukang becak yang dengan gigih mendekati saya, "jauh loh mbak jalan ke pintu masuknya, naik becak aja." kata si Tukang Becak dengan logat jawa. Dalam hati saya, "alahhh.. lo tipu-tipu aja bang. Nggak Kena gw ditipu-tipu gitu. Jauhnya se-apa sih? 2 km? orang candinya udah keliatan gitu." tapi karena niat hati iseng:
saya tanya, "Berapa Mas kesana?"
TB: "15000 mbak"
Saya : "heee.. Mahal Amat" (sambil ngeloyor niat mau pergi)
TB: "yaudah deh mbak 10 ribu aja. Jauh itu mbak."
Saya: "nggak ada duit. 5 ribu tuh kalo mau."
TB: (mulai mengendur ajakannya) "yahh mbak jauh..ora iso''
Lagi- niat mau ngeloyor pergi gitu, di depan si tukang becak si tukang ojek tiba-tiba dateng,
TO: "Oh 5 ribu mbak. sama saya aja naik ojek. 5 ribu hayoo."
(lahh niat hati mau jalan kaki apa daya udah terlanjur berucap, lagian saya juga kesel ama si tukang becak ini, jadi didepan si tukang becak itu pula lah saya akhirnya naik ojek)

Untungnya saya naik ojek, karena kalo naik becak ternyata hanya diturunkan di depan gerbang, gak agak kedalem gitu. Dan well ternyata jaraknya dalam ukuran saya, cukup dekat, kira-kira hanya berjalan 15 menit dari Halte Prambanan Transjogja.

Pukul 16.55 
Akhirnya saya tiba di Pintu masuk prambanan, udah siap-siap mengeluarkan kartu pelajar karena dari jarak jauh saya bisa membaca harga khusus pelajar hanya Rp.12.500. Ketika di depan loket, ibu anggun penjual tiket itu mematahkan semangat saya dengan mengatakan saya harus bayar Rp.30.000. Ternyata oh ternyata bukan hanya rakyat miskin saja yang harus bawa kartu miskin jika ingin mendapatkan pengobatan gratis, tetapi pelajar harus membawa surat keterangan 'rekomendasi' dari sekolah dan minimal 15 orang baru boleh deh tuh masuk pake harga pelajar. Sisanya? Silahkan anda membayar Rp.30000 untuk sekali masuk dan ke semua objek yang ada didalam kompleks candi prambanan.

Candi Prambanan
Sebuah Candi Hindu yang jika saya baca dari buku seharga Rp.2000,- yang saya beli di depan pintu masuk prambanan (karena, well, mana sanggup saya bayar guide?), candi ini adalah candi umat hindu, dan dalam candi ini yang tertinggi atau paling dipuja adalah Siwa, selain Wisnu dan Brahmana. Dulu waktu pertama kalinya saya kesini, saya bisa masuk ke dalam candi utama (yang ditengah, dimana ada patung Siwa), namun kemarin pagar besi sudah mengelilingi candi tersebut, perlu direnovasi, entah orang atau alam yang usil merusak candi itu. Sejujurnya, saya suka sekali menatap bangunan-bangunan kuno (yang entah bagaimana dibangun seribu tahun yang lalu) ini. Saya membayangkan bagaimana ketika masa itu Hindu berkuasa di tanah jawa. Tempat ini, sebuah rumah pemujaan bagi Siwa (yang katanya memiliki rumah di salah satu gunung terindah di Jawa, Mahameru, ), dipenuhi oleh orang-orang dengan segala doa dan keinginan mereka, menggunakan baju jawa kuno, sesajen dan melakukan pemujaan. Dibandingkan dengan saat saya berdiri saat itu, penuh turis berkamera, berfoto narsis, dan bahasa-bahasa asing dari mulut guide yang saya tidak mengerti. Sendirian tapi saya tidak merasa sendiri disana hahaha.


Entahlah candi ini masih digunakan untuk berdoa atau tidak.
Yang jelas sore itu, saya sangat menikmati matahari terbenam sore itu. Langit cerah dan jangan tanya soal siluet candi prambanan, saya tidak pernah melihat sebuah candi menjadi seelok itu. Sekalipun saya tidak terlalu suka matahari terbenam, tapi... momen sore itu terlalu indah untuk dibenci.
Ketika matahari hampir terbenam, saya melihat beberapa Monk (yang menurut saya sih ini, berasal dari thailand) berfoto didepan candi dengan baju merah dan kuningnya. Saya jadi ingat foto-foto biarawan di tibet yang diabadikan dalam sebuah buku yang sedang saya baca saat itu. Sebagian besar dari Monk itu sudah cukup lanjut usia. Saat mereka tersenyum, sulit rasanya tidak membalas senyum mereka.

Bukannya menikmati sunset saya malah asik memperhatikan aksi monk-monk itu dengan camera digitalnya dan tripod. Mungkin setelah mereka berdoa di Borobudur mereka pergi kesini untuk berwisata. Saya memperhatikan dua orang Monk yang sudah tua duduk di kursi di bawah pohon dekat pelataran candi. Awalnya ada seorang turis jepang yang mendekati mereka dan mengobrol, setelah lama berbicara mereka mengabadikan foto bersama. Dan, hal yang merusak momen ini adalah....
Beberapa anak muda secara bergantian (tidak lama setelah si turis jepang itu pergi) tanpa basa-basi mengajak berbincang atau bahkan bertanya "Where Are You From, Sir?" langsung saja berkata. "taking photo together."
dalam hati saya berteriak, "Whaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatt? Well, mereka bukan patung di dalam museum yang dengan seenaknnya bisa lo minta ajak foto bareng. tujuannya apa lo foto bareng mereka? Pamer lo punya foto ama biksu? Lo aja bahkan ga tau darimana mereka.S**t!" dan herannya setelah itu banyak yang minta foto bergantian, lama kelamaan saya perhatikan ekspresi dua biksu itu mulai kecut. Mungkin merasa sore mereka terganggu. Jelas. Saya saja ternganggu apalagi mereka. Kadang saya rindu basa-basi orang Indonesia, yah disaat seperti ini hal itu dibutuhkan.




Berasa Fotografer Profesional :9

Iki kok warnanya Ijo? Tanya Kenapa?
Candi Prambanan



Senja Di Prambanan


Makan Malam Spesial
Untuk pertama kalinya, saya makan bersama salah seorang keturunan keraton, yah walaupun makan dipinggir jalan tetep aja makan sama keturunan raja hahahah. Tidak ada darah Jawa mengalir sedikit pun dalam diri saya, tapi saya sangat suka dengan adanya kerajaan didalam Indonesia ini. Eksotis. Walaupun pada saat itu mereka datang untuk berbisnis dengan perusahaan abang saya. Who's care? ternyata saya jadi tau orang-orang keraton itu nggak masalah makan dipinggir jalan.

Kesultanan
Seseorang pernah memberitahu, "Orang Jogja itu Jauh lebih cinta Sultan dibandingkan dengan SBY." Saya rasa, hal itu benar jika Kesultanan Jogja begitu dekat dengan rakyatnya dari masa Sultan HB I hingga dengan sekarang, wajar jika mereka setia sampai mati demi Jogja dan tidak mau dipimpin oleh Gubernur dari partai politik. Saya rasa bagi mereka, demokrasi bukan sebatas ''bebas memilih pemimpin dalam pesta demokrasi yang katanya adil dan demi rakyat itu'', tetapi  demokrasi adalah bebas untuk menjalankan tradisi budaya mereka, yakni memilih pemimpin yang berasal dari kesultanan. Kesetiaan untuk pemimpin tidak datang dari Janji-janji manis sekolah gratis dan bantuan langsung tunai. Dari cerita yang saya dengar, kenapa rakyat Jogja begitu setia dengan Kesultanan adalah Sultan selalu merakyat dengan rakyat Jogja. "Bukan orang yang suka pergi kemana-mana dengan dikawal dan menggunakan uang rakyat untuk pelesiran tidak penting ke luar negeri." Kata seseorang ketika saya pergi ke Jogja dulu.


Jogja.Selamat Datang Kembali di Jogja.
Saya pernah datang ke kota ini untuk berjalan-jalan saat libur lebaran bersama keluarga bertahun-tahun yang lalu, dan merasakan kota ini sangat membosankan. Makanannya manis, Pantainya Kotor, dan hal-hal lainnya yang terasa mengesalkan waktu itu.
Saya Pernah kesini untuk jalan-jalan berdua ibu saya ala-ala jalan murah dan untuk pertamakalinya mencoba kereta api jakarta - Jogja.
Saya Pernah datang ke kota ini dan pulang dengan tangan kosong karena tidak mencapai tujuan saya.
Saya pernah datang juga ke kota ini dengan perasaan galau dan butuh 'guyuran' rohani bersama teman saya ketika waisak.
Sekarang saya datang kembali ke kota ini, dengan alasan yang tidak lebih filosofis, yakni... Jalan-Jalan Gratis.

A Little Touched By God : Entah Kenapa begitu telah berkali-kali datang ke Jogjakarta saya baru sadar, saya mulai suka Provinsi ini, walaupun saya masih tidak suka makanan manisnya. Hari ini saya tidak menikmati Mahameru dari Banyuwangi, tapi saya berhasil menikmati senja di rumah sang dewa. :)

How To Get There
Prambanan:
Naik TransJogja 1x dari Halte Bandara Adisucipto Rp.3000,-
Jalan Kaki <2 km Rp. FREE
Naik Ojek Rp. 5000,-
Naik Becak Rp. 10.000

Entry Ticket Rp.30.000 Per 27 Juni 2012.


Komentar

  1. foto nya kayak ngambil dari google nyahahahha bisa gitu dah ngeditnya -.-

    BalasHapus
  2. eitssss sorii kalo liat dari camdig gw juga warnanya kayak gini tuu, cuma retouch dikit pake curve :9.

    BalasHapus
  3. Ah Jogja memang selalu istimewaa. :') fotonya ciamik. and speaking of kesultanan, keluarga sultan emang bener2 merakyat. pernah suatu hari putri sultan dateng ke acara telapak di kulon progo dan bener2 anggun cantik dan sederhana, ga pake bodyguard, baju juga ga heboh dan makan lesehan bareng2 sambil ngobrol ngalor ngidul. ga heran rakyatnya setia. :)

    BalasHapus
  4. Aiiiiihh seneng dibaca blognya sama ka sheila :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!