Harta Karun di Pasar Lama

Tetangga sebelah: "Lo besok mau kemana sih li?"
Saya : "ada dengg."
Tetangga sebelah: "gw selesai jam 10-an nih, kalo lo berangkat jam segitu gw bisa ikut."
Saya: "Yahh ga bisa, gw naik kereta paling pagi."
---

Yak itulah sepenggal percakapan saya dan teman saya malam itu. Saya berencana untuk mwlakukan perjalanan keesokan harinya. Terkait dengan tulisan saya "Tentang Dia Yang Terlupakan", akhirnya saya melaukan perjalanan seorang diri kali ini. Kembali melihat isi dompet yang tidak bersahabat, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan di daerah yang cukup terjangkau which is Jabodetabek.

 Seorang teman saya pernah bercerita tentang sebuah tempat di daerah tanggerang yang masih ada babi berseliweran kesana kemari dan sawah masih ada dimana-mana. Yang lebih membuat saya tertarik adalah 'desa' itu dihuni oleh China Benteng. Dua malam sebelum keberangkatan saya berusaha mencari tempat itu di 'Mbah google', entah kenapa Google justru membawa saya ke sebuah tempat di Pasar Lama Tanggerang, yang ternyata terletak cukup jauh dari desa agraris yang diceritakan teman saya itu.

Ada beberapa pertimbangan kenapa saya akhirnya memilih untuk pergi ke pasar lama tanggerang dibandingkan ke desa agraris yang diceritakan oleh teman saya itu. Satu, karena menurut saya tempat di tengah pasar itu sangat menarik. Dua, karena lokasinya yang cukup dekat dengan sebuah daerah suaka margasatwa di Jakarta Utara yang sudah lama saya ingin kunjungi.
---

Awalnya, ada sebuah moment yang ingin saya abadikan pagi itu, itulah alasan kenapa saya mau naik kereta paling pagi dari depok. moment itu hanya ada dipagi hari dan sudah beberpaa kali saya lihat namun tidak pernah saya abadikan. Sunrise diatas kereta didaerah stasiun gambir. Beberapa kali saya pernah melihat sunrise ini, siluet gedung-gedung tinggi jakarta dan langit pagi berwarna ungu. Indah. Siapa sangka jakarta bisa se ramah ini dipagi hari? Namun akhrinya pagi itu, saya berangkat pukul 09.00 dari kos.an tercinta di Depok. Hey, where's the sunrise gone?

 Di atas kereta...
Menikmati ekspresi orang-orang di kereta adalah salah satu hal yang paling saya nikmati ketika di atas kereta. Mengira-ngira pekerjaan mereka dan apa yang akan mereka lakukan hari ini. Ada hal-hal lucu yang terjadi di kereta pagi itu, mungkin karena saya jarang naik kereta hal-hal sederhana ini jadi terlihat lucu. Kereta yang saya naiki penuh sesak. Kereta Bogor - Tanah Abang - Ps. Senen. Kebetulan saya naik gerbong khusus wanita. Ceriwisan ibu-ibu terdengar disana-sini. Dan ketika sampai di stasiun tanah abang.... *wuuussshhhhhh*. Gerbong itu langsung kosong. hahahaha... Hanya tersisa beberapa orang di gerbong itu. Entah kenapa kejadian ini menurut saya cukup epic. Padahal tadinya kereta tersebut penuh sesak dan tiba-tiba langsung banyak kursi kosong. Luar biasa memang sentra belanja tanah abang.

Dan hari itu, saya sempat salah memberitahu stasiun kereta kepada seorang ibu separuh baya, sehingga dia harus memutar balik. Maaaffkan saya yang sok tau ya ibuuu..


Tanggerang
 
Tanggerang
Saat mencari tau tentang Pasar Lama tanggerang saya baru tau, ternyata ada kota tanggerang, kabupaten tanggeran. dan kawan-kawannya itu. Berbeda dengan tanggerang selatan jajaran BSD dan alam sutera yang penuh dengan mal-mal mewah. Ketika menginjakan kaki di tanggerang itu yang saya lihat..."Wuiihh, ini kotanya kayak di daerah jawa mana gitu dan kesannya tua." yes, saat saya melihat kota tanggerang untuk pertama kalinya yang saya lihat itu seperti sebuah kota sederhana yang terkesan tua. Semarang mungkin salah satu kota dijawa yang mirip-mirip dengan tanggerang ini (menurut saya lohh ini...)


Pasar Lama Tanggerang
Tujuan pertama saya kali ini adalah Museum Benteng Heritage. Sebuah museum yang katanya terletak di dekat pasar lama tanggerang. ketika saya sampai disana, ternyata eh ternyata museumnya bukan berada di dekat pasar lama tanggerang, tetapi didalam pasar lama tanggerang. yak, ketika saya sedang asik mengikuti peta yang saya donlot malam sebelumnya, celingak-celinguk diantara kesibukan sebuah pasar, di balik kios ikan tersembul sebuah bangunan yang *cling*. "museum ya mbak? ayo sini-sini nih lewat sini mbak." kata seorang bapak yang berdagang tepat didepan museum benteng heritage. "Ohalah ini museumnya." kata saya takjub. Kok bisa ada museum ditengah-tengah pasar yang baunya agak sedap ini?







Museum Benteng Heritage Rp.10.000,- adalah harga tiket masuk untuk pelajar. Ya, cukup sepuluh ribu rupiah saya mendapatkan tour guide selama 20 menitan lebih yang menjelaskan berbagai 'harta karun' didalam museum itu. Lantai 1 museum itu adalah sebuah warung kopi dan merchandise, Moon Gate, penggiling kedelai dan prasasti jamban (batu yang bertuliskan nama-nama orang tinghoa yang patungan membuat jalan-jalan di Tanggerang pada masa silam dan juga tangga Jamban yang ada di sungai Cisadane. Sayangnya, tidak dizinkan untuk membawa kamera ke lantai atas dimana lebih banyak lagi harta karun tersimpan.
Tampak Depan Museum Benteng heritage
Lantai dua rumah yang dijadikan museum itu berisikan berbagai macam harta karun dari mulai baju pernikahan china benteng hasil akulturasi bangsa China dan betawi, baju kebudayaan china asli yang berasal dari abad ke-18 (dan warnanya masih baguuussss!! super!), timbangan ophium beserta alat hisapnya, raket merk dunlop jaman dulu yang terbuat dari bahan kayu (gimana caranya orang jaman dulu main bulu tangkis dengan raket seberat itu, itu masih jadi pertanyaan buat saya.) btw, dunplop yang sekarang jualan ban ternyata jaman dulu juga jualan raket. Oh iya, arsitektur rumah itu sendiri juga unik, kayu-kayu yang ada dirumah itu tidak diubah dari jaman belanda, kayunya mengkilat dan nggak boleh pakai sendal ke lantai yang masih kayu (kayunya aja mahal ini, sampai harus copot sendal segala supaya ga rusak). Nah dilangit-langit museum itu ada semacam ukiran-ukiran berbentuk manusia dan rumah-rumah kecil. Entah kenapa diantara semua artefak yang ada dirumah itu saya paling tertarik dengan yang ini. Kata tour guidenya sih, itu sudah ada sejak rumah itu berdiri dan sengaja tidak diubah.

bukti foto diri pernah ke museum ini hoho
Pokoknya kalau masuk ke museum ini, berasa masuk ke scene filmnya wong fei hong deh. Dari lantai dua, saya bisa melihat lebih luas pasar lama tanggerang itu. Lagi-lagi kata tour guideya, "kalau jaman dulu ini bukan pasar kayak begini mbak". Iya sih, ini hal yang sangat saya sayangkan, kenapa museumnya ditengah-tengah pasar begini? Yah jadi banyak orang yang ga sadar juga disini ada museum tetapi hal lainnya, tempat ini punya nilai historis yang tinggi soal china benteng, tempat ini yang jadi saksi masuknya bangsa China ke batavia pada masa lampau, mungkin karena itu pak udaya halim (pemiliki museum ini) mendirikan museum disini. oh iya, hal yang paling saya ingat dari kata-kata tour guide itu saat saya menanyakan sejarah sebuah anggar dan senapan yang ada museum itu, "nah kalo senjata ini menunjukan bahwa orang-orang china jaman dulu juga membela indonesia melawan penjajahan belanda mbak, nggak cuma orang-orang betawi aja.". kata tour guide itu yang menurut saya menunjukan rasa bangga bahwa ia (keturunan china) juga orang indonesia.

Saat saya bersiap-siap keluar dari museum itu ke tempat berikutnya, seorang nenek (yang saya duga sebagai keluarga pemilik museum itu) berkata, "hati-hati ya nanti kamu nyasar, sendirian lagi.". Duhh, inilah kalo jadi solo traveler, dijalan sering banget dikasihani orang :). "ehhh iya bu, nggak apa-apa kok saya tau jalannya" Setelah mengabadikan satu buah foto yang membuktikan saya pernah kesana akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke tempat yang tidak jauh dari museum benteng heritage, yakni sebuah klenteng.



Klenteng Boen Tek Bio
Tidak jauh dari Museum Benteng Heritage, terdapat sebuah klenteng yang menurut saya cukup 'catchy'. Saya kurang mengerti tentang tata cara berdoa di klenteng, sedikit menyesal saya tidak mengajak kakak saya untuk pergi kesana, karena saya yakin dia jauh lebih tau mengenai kebudayaan china dibandingkan saya. "oh, boleh kok, tapi jangan naik ke tempat berdoa ya." ujar bapak di pusat informasi ketika saya meminta izin untuk mengambil beberapa foto klenteng itu. Ini tempat berdoa dan sebisa mungkin saya tidak ingin menganggu mereka yang sedang berdoa, saya jadi teringat tentang para fotografer di borobodur itu #sigh.

Memperhatikan orang-orang berdoa, saya suka sekali ketika memperhatikan orang-orang yang berada di luar agama saya berdoa. Sebenarnya saya sedikit ingin tau, apa yang membuat mereka percaya pada dewa-dewa yang mereka sembah itu, sebagaimana dulu kakek saya menyembah leluhur dan dewa-dewa itu. Sayangnya saya belum cukup percaya diri untuk berbicara mengenai hal itu pada orang-orang dikelenteng itu saat itu, bagi saya agama adalah hal yang sensitif dan saya belum siap menanyakan hal-hal itu pada orang yang memiliki agama dan kepercayaan yang berbeda dari saya, takut salah ucap dan membuat orang lain tersinggung.

Hal yang unik dari tempat ini, atau mungkin hal yang baru saya perhatikan, lilin yang dibawa untuk berdoa diletakan disebuah meja sebelum menghidupkan dupa dan berdoa ke dalam kelenteng. anehnya, lilin-lilin itu tidak mati tertiup angin begitu saja seperti layaknya lilin yang biasanya saya gunakan disaat mati lampu. Tidak heran harga sebuah lilin yang cukup besar yang digunakan pada saat tahun baru imlek bisa mencapai puluhan juta. Kata kakak saya, lilin-lilin itu adalah 'sesajen' bagi dewa. Dewa-dewa itu memakan asap dari lilin-lilin itu, jadi semakin besar lilin-lilinnya akan semakin diberi keberkahan orang yang menyalakannya.

---

Hal-hal unik lainnya yang saya temui disini adalah orang-orang berlogat sunda. entah sunda atau banten. yang jelas ketika saya memegang kamera kesana kemari, beberapa orang ribut minta ikutan di foto "mbak, foto sini dong." dengan logat-logat daerah. Padahal saya baru berjarak beberapa kilometer dari ibu kota, tetapi sudah banyak orang yang menggunakan bahasa daerah dan walaupun yang minta di foto itu mas-mas preman pasar ketika saya mengarahkan kamera saya ke mereka sambil setengah tertawa, eh malah mereka kabur dari bidikan kamera saya lalu menunjuk-nunjuk orang lain, "itu aja mbak yang di foto, jangan saya, dia tuh ketua RW." hahahahah.. inilah enaknya jadi orang indonesia, keramahtamahan tiada tara. Walaupun saya terkadang mengiyakan bahwa ibu kota itu kejam, dan orang-orang pesisir itu kasar, tetapi terkadang ditempat-tempat yang tidak saya duga, saya bisa bercanda dengan orang-orang yang saya percaya hidupnya jauh lebih keras daripada hidup saya.
Foto Salah satu bapak-bapak di Pasar Lama yang minta di foto :D

 A little Touched By God: Jika saja Google tidak salah memberikan referensi, saya tidak akan pernah tau bahwa ada sebuah harta karun ditengah-tengah pasar yang berbau sedap itu. Berjalan-jalan di daerah pasar lama tanggerang saat itu membuat saya seperti seorang turis di sebuah daerah yang jauh dari ibu kota. Merasakan kembali berjalan ditengah kota asing dan sendirian. Tersenyum diantara orang-orang yang belum pernah saya kenal dan yeah, tidak ada yang peduli (kenal) juga jika saya tertawa-tawa senang seorang diri disana. :)

Komentar

  1. mba uli kalo jalan2 seputaran jabodetabek lagi ajak2 donk... :D

    BalasHapus
  2. hhehehee bisa bisaa :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!