'Pulang Kampung' - Ujung Kulon Edisi 2

Sebelum ada salah paham, gw ingin menjelaskan dulu, gw anak kelahiran jakarta yang sayangnya tidak punya 'kampung halaman'. Jadi judul pulang kampung ini gw ambil, karena ketika gw jalan ke tempat ini, salah seorang teman seperjalanan gue bilang "eh sadis, berasa pulang kampung ya lo disini." dan akhirnya inilah yang menginspirasi gue menulis hal ini. 

beberapa bulan  yang lalu, gw cerita panjang lebar tentang sebuah tempat indah yang berada di ujung barat pulau jawa bernama ujung kulon. gw udah cerita betapa gw kagum dengan pemandangan alamnnya dan terutama orang-orangnya yang luar biasa ramah dan terbuka pada wisatawan dan dengan sebuah sentuhan kecil dari Tuhan, gw bisa balik lagi kesana dengan biaya yang sangat murah (disponsorin sama salah seorang ketua gw yang sangat baik hati ;))


Akhirnya tepat tanggal 23-30 kemarin adalah seminggu perjalanan gw bersama salah satu organisasi pecinta alam di kampus gw. Tujuan dari perjalanan kali ini sedikit berbeda dari terakhir gw ke Ujung kulon. Tujuan perjalanan ini adalah "observasi". Oke, sebenernya gw ga minat-minat banget sama observasinya, dulu waktu gw kesana ranger gw yang sangat baik hati itu (Mang Ade) udah menjelaskan cukup banyak soal badak dan betapa kecilnya probabilitas bisa melihat badak terutama di musim hujan. So, saat gw kesana bulan ini, gw bener-bener yakin ga bakalan ketemu deh itu badak jawa dilain hal gw juga dapet kabar dari ranger gw "cuacanya jelek mbak.". Nah, berhubung gw disponsorin nih kali ini, dan dengan tujuan untuk meningkatkan solidaritas antar organisasi, akhirnya gw ikutin ini acara. 

Dicatatan gw sebelumnya, jurnal perjalanan gw ke galunggung, gw juga lagi ikutan acara sejenis ini, ada acara sosialiasi ke warga yang pada intinya membawa kebaikan lah ke kampung yang dituju dan juga untuk diri sendiri. Namun perjalanan gw kali ini, jauh lebih menarik dibandingkan perjalanan gw sebelumnya. Bisa jadi karena ini adalah perjalanan terpanjang gw ke - 2 kalinya setelah dulu gw 12 hari keliling bali dan lombok (sendirian), dan untungnya selama 7 hari itu gw ga sendirian tapi bareng 50-an manusia lainnya hahaha. 

Oke, langsung aja: 

Day One
hari pertama ini dipenuhi dengan mengenal dan mengingat-ingat orang-orang yang dulu pernah jadi mentor gw pas pelantikan pecinta alam. tebak sana-sini. Di hari pertama ini juga, gw bener-bener memperhatikan peserta lainnya satu persatu (walaupun gw ga inget nama mereka saat itu). Ga tau kenapa, kalo jalan pertama kali bersama sebuah kelompok baru, gw lebih suka untuk ngeliatin orang-orangnya satu satu dan mikir "mana nih yang bakalan jadi temen sepanjang jalan kali ini?", kalo yang satu ini kayaknya udah jadi kebiasaan gw dijalan. Di hari pertama ini gw kenal dengan beberapa orang yang unik, seorang kakak yang duduk disebelah gw sejak pertama kali naik bis (gw pikir beliau ini wartawan atau ga ex-mapala gayanya pecinta alam abis atau ga aktivis lingkungan tapi sampe pulang gw masih ga tau okupasi beliau ini apa hahaha), ketua perjalanan yang optimistis (setidaknya menurut gw selama 7 hari itu, dan gw juga salut sama anak yang satu ini, dia lebih muda dari gw tapi bisa bawa kewajiban organisasi yang besar (bawa 50-an orang campuran non-pecinta alam ke hutan liar ujung kulon itu High-Risk banget loh) dan masih aja punya misi yang lebih besar lagi! wew salut!), seorang wanita seumuran gw yang entah kenapa keliatan anak-anak banget tapi ternyata dia anak pecinta alam (don't judge a book by its cover) juga gudang makanan di hari pertama (sering banget selama perjalanan buka makanan kecil yang langsung habis dimakan bersama dalam hitungan detik) dan beberapa orang lainnya yang nggak begitu gw inget di hari pertama. 12 jam kemudian akhirnya gw sampe juga di Taman Jaya dan bermalam dengan guyuran hujan deras di sebuah teras home stay milik Pak Komar (ini orang famous juga di Ujung Kulon, adiknya Pa rawa yang waktu itu kapalnya gw sewa).

Day two
Hal yang gw inget di hari kedua, hari dimana gw dkk sosialisasi badak ke anak-anak SD, adalah di desa yang cukup jauh dari pusat kota (12 jam perjalanan, 10 jam perjalanan tecepat) ternyata ada anak SD yang bisa gambar badak lebih bagus dari gambar anak-anak kuliahan (apalagi anak kuliahannya kayak gw yang ga bisa gambar) dan bahkan dari desa Taman Jaya ada juga yang dikirim ke luar negeri untuk lomba gambar. Wow!
Ironisnya  karena malam sampai pagi hujan deras alias badai, akhirnya banyak anak-anak yang nggak masuk sekolah karena jauhnya sekolah dari rumah anak-anak itu dan tidak adanya sarana transportasi umum, so kalo anak-anak itu mau sekolah yah harus lewatin sawah yang airnya bisa jadi udah sebetisnya anak-anak itu, belum lagi lumpur dan sebagainya. sampe sekolah udah jadi apa anak-anak itu? Disisi lain, gw sering nggak masuk kuliah cuma gara-gara bangun kesiangan (red: sengaja bangun siang). waktu salah satu guru bilang "iya, ini maaf anak-anaknya banyak yang nggak masuk, soalnya semalem kan badai jadi susah kesininya, jadi ini digabung aja ya dari kelas 1-6." dan stelah anak-anaknya digabung semua paling banyak cuma ada 50 anak. Sedih lah, cuma 2 jam perjalanan laut dari pulau paling indah yang pernah gw liat seumur hidup gw, penduduk desanya masih aja ada yang ga kesekolah karena infrastruktur yang ga pernah beres. 

Day three
Karang Ranjang
Hari ketiga, hari penuh lumpur dan basah. ini adalah hari pertama di acara ini gw trekking dari taman jaya - Karang Ranjang yang memakan waktu kira-kira 5 jam (bersih), dengan kondisi jalan yang berlumpur, melewati hutan bakau, jembatan bambu (yang katanya dibawahnya itu sungai penuh buaya dan sudah menelan 3 korban yang jatuh ke sungai). dan sialnya setelah gw bahkan rela ke gores-gores duri rotan supaya sepatu trekking tercinta gue ga basah, setelah 1 jam akhirnya gw menghadapi kenyataan air rawa sebetis gw, ya kaliii sepatu gw gak masuk air!. Hal paling EPIC yang pernah terjadi dalam hidup gw adalah, ditengah-tengah hutan belantara di ujung kulon, gw ketemu sama orang yang gue kenal yakni, MANG ADE! yihaaa, ditengah-tengah hutan berlumpur, gw ketemu sama ranger gue yang dulu. EPIC! 
Karang Ranjang: sebagaimana pantai selatan ombaknya tinggi banget, dibandingkan dengan anak-anak lain yang langsung terjun ke air, gw lebih milih nikmatin sinar matahari sore itu dan menonton wajah-wajah happy orang-orang yang sudah melewati hutan berlumpur itu selama kuran lebih 5 jam. Dimalam ini juga gw ngeliat bintang jatuh sampe 3 kali! EPIC!

Day Four
Hari ke empat, perjalanan balik ternyata terasa lebih cepat. Setelah akhirnya gw dkk 'berhasil' menemukan jejak badak dan kubangan temporer badak di hari sebelumnnya, di hari kedua trekking ini gw lebih banyak dapet penjelasan soal tanaman-tanaman di hutan ujung kulon terutama kalo kakak 'wartawan' itu udah tanya-tanya, nah gw udah tinggal dengerin aja deh tuh hasil wawancara si kakak sama guidenya. guidenya juga nunjukin beberapa tanaman yang bisa jadi obat, atap rumah, bisa jadi tanaman penghasil air kalo lagi kepepet nyasar dihutan dan ga nemu sungai, buah rotan, dan tanaman-tanaman lainnya yang gw inget. Tapi yang paling gw inget dari flora di ujung kulon itu 'Pohon Langkap'. Nah ini gw inget banget karena, kasusnya hampir sama kayak di Taman Nasional Baluran yang menanam Akasia. Karenakehadiran pohon-pohon ini akhirnya tanaman yang lain mati termasuk makanan-makanan yang dimakan badak. Coba, gimana ga punah? udah umatnya cuma sedikit, bahan makanannya juga mulai habis di 'makan' pohon langkap. Untungnya, Taman Nasional Ujung Kulon, sekarang ini sedang membuat jalur makan badak dan menebang pohon-pohon langkap disepanjang jalur itu sehingga badak lebih mudah cari makannya (ini yang ngerjain salah satunya Mand Ade - beliau juga yang cerita detail soal pemangkasan langkap ini malam ke enam gw di taman jaya). Semoga aja pohon langkap ini bukan sejenis pohon akasia yang jika ditebang malah jadi tambah banyak dan banyak. 

Day five
hari kelima itu adalah hari yang paling dinanti sama semua peserta (gw rasa sih iya hahaha) . hari ini adalah hari berangkatnya kita ke Pulau Peucang. Kapten Kapal gw kali ini bernama Mang Bujil (alias jasarana) yang ternyata lahir di tahun yang sama ama gw dan cuma beda 13 hari lebih tua! dan dia udah jadi kapten kapal 5 tahun.  Sedangkan lima tahun yang lalu aja gw masih SMP. hebatnya lagi, katanya sih (kata penjaga pulau peucang) anak ini pernah bantuin jadi guidenya pemenang lomba mancing internasional. lahiran suku bajau kali ya ini anak. Setelah diombang-ambing kurang lebih 2 jam, dengan ketinggianombak mencapai 3 meter, akhirnya gw bisa bilang "welcome back". kembali lagi gw di pulau paling cantik yang sampai kemarin masih jadi pulau tercantik yang pernah gw lihat. Rasa yang beda cuma, Bulan ini, gw ga bisa bener-bener nikmatin warna putih terang  (yang bisa bikin sakit mata kalo terik matahari)  pasir peucang (karena hujan sepanjang hari), tapi rasanya balik ke pulau ini bener-bener menyenangkan, gw jadi inget lagi gw pernah ngobrol sampai pagi sama Mang Entus (salah satu penjaga pulau peucang) dan belajar untuk lebih menghargai 'passion' diri sendiri, ke pulau ini juga pertama kalinya gw bener-bener jalan jauh untuk pertama kalinya bersama anak-anak organisasi pecinta alam gue. 
masih Bukit-bukit hijau yang sama, 
pasir putih yang sama, 
dermaga yang masih dipenuhi ikan-ikan kecil, 
yang membuat sedih hanya kamar yang dulu menjadi tempat gw menginap, sekarang rusak (atapnya hilang kebawa angin) dan belum ada kabar akan ada renovasi lanjutan karena PT. swasta yang mengelola resort disitu bangkrut (menurut Mang Boding, penjaga pulau peucang selain Mang Entus, yang sama baiknya).

Malam di hari kelima ini, tepat pukul 2 pagi, akhirnya hujan badai dan tenda berhasil bocor dimana-mana karena angin yang nggak ada toleransi sedikit pun, alhasil sekitar 20-an orang masuk ke dalam pos penjagaan yang ukurannya cukup mini di dermaga cidaon. 

NB: biasanya kalau musim ramai pengunjung Juni-agustus, nggak boleh camp di dermaga cidaon ini. 
lucunya, waktu gw cerita gw camp di cidaon sama Mang Ade (ranger gw dulu), beliau cuma ketawa dan bilang "dikerjain kamu tuh sama jagawana di peucang, lagi musim barat begini camping di dermaga cidaon, yaiyalah tendanya rubuh hahaha, kan dikanan sedikit ada camping ground, ngapain kamu bikin tenda disitu hahaha "

Day Six 
Hari ke enam, akhirnya gw bisa bilang "akhirnya gw bisa liat bawah laut pulau peucang." sayangnya sudah banyak terumbu karang yang mati dan mulai banyak tanda-tanda bleaching (pemutihan) pada terumbu karang, dibandinkan spot snorkling di pulau sebesi (krakatau), bawah laut peucang masih tertinggal jauh. Mang Entus dulu bilang, baru beberapa tahun terakhir aja, nelayan-nelayan berhenti menggunakan potasium dan bom. Namun sayangnya, sampai sekarang jangkar-jangkar kapal yang berlindung di antara pulau peucang dan pulau jawa masih juga merusak terumbu karang yang ada disana. Salutnya, seorang jagawana yang dulu pernah ngajarin gue untuk "berbuka bisnis paket wisata'',  sekarang jadi pelopor penanaman terumbu karang baru di sebelah barat pulau peucang (dulu terumbu karang hanya ada ke arah timur). 
sayangnya hari ini gue nggak kembali ke Citerjun, salah satu spot snorkling yang dulu gw datengin, tempat pertama kali gue bener-bener bisa menggunakan alat snorkling dengan baik dan benar (thank's god gue ketemu Mang Entus!) Menjelang siang, sekitaran pukul 11, benar saja bawah lautnya mulai keruh dan arus mulai kuat. akhirnya gw dkk pun kembali  ke peucang  untuk makan siang dan persiapan pulang ke Taman Jaya.

Di hari ke-enam ini, malam harinya karena gw udah janji untuk main ke rumah mang ade, akhirnya gw main juga malem itu ke rumah mang ade. cerita-cerita soal badak, cuaca, tamu-tamunya mang ade yang suka aneh-aneh sekitaran satu jam gw ngobrol sana-sini, Kapten kapal gw dulu (yang sumpah ramah banget! liat mukanya aja udah bikin hepi!), Mang Dayat main ke rumah mang ade, jadilah kita ngobrol bertiga, sekitaran jam 10 (ga nyangka gw ngobrol sampe 3 jam sama bapak-bapak ini) gw balik ke base camp dan ternyata gue malah ketinggaln sharing session malem itu.
Salah seorang temen gw nanya, "abis kemana lo li?" 
gw: "abis main ke rumah ranger gue dulu."
dia: "sendiri?"
gw: "iye, yah abisnya gw mau ajak sapa disini."
dia: "sadis, berasa pulang kampung"
hahaha yah emang bener sih, orang-orang di Taman Jaya emang bikin kangen, jadi inget beberapa orang lainnya yang pernah gw temui dijalan dulu, entah kapan gw bakalan ketemu orang-orang baik itu lagi. orang-orang yang mau aja memberi disaat mereka sendiri kekurangan


Day Seven
hari terakhir ini, gw main-main ke tempat kerajinan di sekitaran Taman jaya, hasil kerajinannya bagus-bagus tapi pemasarannya kurang untuk di daerah taman jaya sendiri gw baru liat satu toko yang jadi distributornya. Padahal hasil penjualan beberapa kerajinan itu bakalan digunakan untuk bantu anak-anak situ juga (jadi inget anak SD yang ga sekolah itu.. #fiuh)   
hari terakhir bersama orang-orang yang sangat menyenangkan untuk sebuah perjalanan besar. Selama 7 hari gue bisa hapal semua nama peserta juga panitianya (kemajuan pesat bagi gue yang suka lupa nama loh!). Gw nggak menyangka, di perjalanan yang besar gini (peserta mencapai 50 orang), orang-orang bisa dibilang 'cukup' dekat, bahkan sampe ada geng gossip yang aktif tiap malam disaat panitia evaluasi. Super! what amazing trip!  

Foto Kaki Gw Paling Cantik
alittletouched by God: Dear God, thanks for letting me join this trip. I meet amazing people, I got new experience, and the most important thing, I got chance to get to know me better. Love you Most!

NB: Maaf hampir disetiap posting gw hampir ga pernah masukin gambar, selain sinyal internet yang lelet, entah kenapa gw males masukin memory card camera ke lappy gue hahaha. Semoga suatu hari kebiasaan gw ini berubah. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!