Dilematis Pecinta Alam

Dalam tulisan kali ini gw bener-bener mau ninggalin formalitas menggunakan kata "saya", dan mau menulis dengan apa adanya...

Kawah Ratu, Halimun Salak - Dwi Uli
Dari SMP, mungkin dari jaman gue SD kali ya, abang sepupu gue udah dengan sukses manas-manasin gue untuk naik gunung. Zaman gw SD dulu, dia sering banget cerita soal gunung 5S (salak, selamet, Sindoro, Sumbing, Semeru). Sering banget liat dia pergi bawa-bawa tas gede (carier), trus pulangnya bisa ga bangun seharian, dan kalo gw ga salah inget, pertama kali gw 'bener-bener' diajak naik itu ketika gw SD, di kaki gunung Selamet dan itu gw ga beneran naik karena abang gw nge-gendong gw dengan alasan 'ah, biasa bawa carier gw, ga enak nih ga bawa apa-apa dipunggung.' cuma beberapa jam doang ditengah-tengah hutan. dan sejak saat itu, satu niat gue: gue harus masuk klub pecinta alam

Dan sebuah kenyataan pahit gw terima,  SMP dan SMA gue ga ada club pecinta alam.Ketika gw udah SMA dan udah bisa 'beneran' naik gunung, eh abang sepupu gue itu malah pensiun! mau naik sama siapa lagi dong gw? dan akhirnya kita buka trip kecil-kecilan (yang pulang pergi aja), ke gunung bunder di Halimun Salak. Pertama beneran trekking, ke curug seribu. Kedua, naik gunung salak sampe kawah ratu (cuma bawa 1 liter cocacola + 1 liter sprite). eniwei, akhirnya gw ikutan pramuka pas SMP hahaha (ga penting banget nih info) 

Masuk kuliah --> dari awal buka booklet kampus. gw langsung ngelirik satu organisasi pecinta alam. Titik. Pokoknya gw ga mau masuk yang lain lagi selain organisasi pecinta alam dan akhirnya setelah melalui pelantikan, gw resmi juga jadi anggota pecinta alam ini, dan sejauh ini udah 1 tahun gw berada di organisasi itu, udah pergi ke 3 tempat indah bersama temen-temen seperjuangan. 

tapi, belakangan gw mulai mikir, "Seharusnya gw bangga banget disebut anak pecinta alam, sebagaimana abang gw selalu membanggakan dirinya pas pulang dari salah satu gunung yang berhasil di daki, tapi kok belakangan gw malah merasa 'gw pecinta alam, trus apa yang bisa membuat gw disebut pecinta alam?'" banyak hal yang akhirnya gw sadarin gw ga milikin sebagai seharusnya pecinta alam even gw bangga banget kalo ada orang yang nanya "mbak, Anak pecinta alam ya?" hal yang membuat gue jauh lebih bangga dibanding gw disebut "mbak, anak UI ya?"  aneh? ya tapi emang itu yang gw rasakan, ketika gue  'melabeli' diri gue sebagai seorang pecinta alam gw merasa gw melihat dunia ini bukan lagi dari menara gading, tapi bener-bener kondisi yang ada didepan mata gue. Jadi jauh lebih merasakan dan entah kenapa (apa ini cuma perasaan gue doang) orang-orang dijalan itu jadi jauh lebih ramah sama anak-anak pecinta alam yang bawa tas-tas segede kulkas itu, mungkin kasihan (karena biasanya gw kalo dijalan bawa uang seadanya, trus ga mandi beberapa hari) atau mungkin karena biasanya pecinta alam itu lebih 'merakyat' dibandingkan wisatawan lainnya.  

balik lagi ke pikiran yang menyebut-nyebut gw belum layak disebut pecinta alam, akhirnya belakangan ini gw mencoba sesuatu yang baru, bergabung dengan salah satu komunitas aktivis lingkungan. Sampai saat ini pun gw enjoy aja di dua organisasi ini, setelah gw masuk komunitas aktivis ini pun, gw masih merasa "apa ya? kok gw merasa gw belum pantes disebut pecinta alam. why? why?" . terinsipirasi dari kata-kata soe hok gie dibawah ini :  

" seseorang hanya bisa mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal objeknya. karena itu kami naik gunung." - Soe Hok Gie

That's it! akhirnya gw meningkatkan frekuensi perjalanan gw akhir-akhir ini, dan akhirnya gw tiba pada satu kesimpulan, "Gw ga akan bisa menyatakan diri gw seorang pecinta alam (meski gw sudah dilantik) ataupun aktivis lingkungan (meski gw sudah menjadi anggota aktif), Kalo gw cuma diem aja didepok tiap bulan dan belajar (sebagaimana tugas gw sebagai seorang mahasiswa) atau cuma mengkaji berdasarkan studi pustka. Apa bedanya gw (yang mengaku Pecinta Alam & aktivis lingkungan) dengan anak-anak lain yang lebih memilih mengikuti organisasi lainnya? Satu hal: sebagai seorang pecinta alam dan aktivis lingkungan, Seharusnya gw mengenal objeknya, dan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan duduk diam di kampus." 

Alittletouchedbygod: Disaat orang-orang seumuran gw meng'galau' tentang pacar dan kekasih, gw malah menggalaukan identitas diri gw. Dear god, kenapa dunia ini jadi aneh ya? #loh 





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!