Tuhan dan Cinta

Entah kenapa pada malam ini gw lagi pengen banget nulis soal Tuhan dan Cinta.
dua hal yang bermakna dalam.
Tuhan tanpa Dia saya rasa hingga saat ini saya ga akan ada di dunia ini. saya ga akan bisa menuliskan hal-hal ini sekarang.
Cinta. #sigh sebuah hal yang sangat sulit saya mengerti. Saya bahkan ga bisa mendefinisikan cinta itu apa.

---
Oke kita mulai soal "Tuhan".
akhir-akhir ini, entah kenapa saya jadi merasa lebih deket sama Dia. Bukan karena saya lagi rajin solat dan dzikir, tapi karena tiba-tiba saya merasa, ajal itu dekat. Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah rumah sakit, disana saya melihat seorang penderita kanker otak, tidak ada gejala apapun, hingga suatu hari beliau jatuh pingsan karena sakit kepala dan didiagnosis terkena kanker otak. Disisi lain, saya banyak melihat beberapa orang yang terduduk di kursi roda, mungkin karena stroke atau penyakit lainnya, yang jelas mereka lumpuh. Dalam hati saya berkata, "dulu orang-orang ini pasti pernah sehat dan muda, dan sekarang mereka terduduk diatas kursi roda.".

Tiba-tiba sebuah bayangan akan hari tua dan sakit terbayang jelas di kepala saya. Terkadang saya hanya melewati hari-hari saya dan berkata "Bosan. Hari ini ga ada apa-apa. not so much different with other days." dan setiap hari akhirnya terlewat begitu saja, tanpa ada suatu apapun yang bertambah dalam perjalanan hidup saya. yang saya sadari,waktu itu berjalan cepat, dan dengan demikian begitu juga datangnya hari tua. Ketika saya sudah tua nanti, sebagaimana nenek saya, mungkin hal yang ada di kepala saya hanya lah renta dan sakit. Sebuah ketidakberdayaan dan Tuhan.

Ya, entah kenapa Tuhan selalu datang sebagai pahlawan di akhir cerita. Ketika tua nanti..
dan pertanyaannya adalah "apakah semua orang akan memiliki hari tua?"
terkadang saya berpikir,  Kematian masih lama toh saya masih muda dan sehat. Di sisi lain, di rumah sakit itu, saya melihat seorang gadis yang luka-luka dan dikondisikan 'emergency' oleh suster. Nah, kalo sudah begini kematian jadi terasa dekat bukan? tidak memandang umur, gender, apa lagi status sosial dan ekonomi. dan masih saja saya sering merasa, saya akan hidup selamanya.

Mungkin bukan saya sendiri yang berpikir seperti ini, terkadang timbul lagi sebuah pikiran, Tuhan itu lucu, menghidupkan mahluk bernama manusia untuk suatu kepastian, yakni kematian. Selain itu tidak ada yang pasti. Surga dan neraka? Saya yakin mereka ada, sebagaimana saya menyakini ajaran agama saya, tetapi pada akhirnya itu 'hanyalah' sebuah keyakinan bukan fakta.

dan akhir-akhir ini pula, saya merasa dekat dengan Tuhan karena saya menyadari sesuatu yang sebenarnya sudah sejak lama saya tau, pada akhirnya manusia itu berdiri sendiri. Entah orang lain berkata "eh, nggak tuh, gw punya temen, gw punya pacar, gw punya keluarga." ya, berjuta orang lain didunia saya yakin memiliki itu semua. tapi kalo kita coba diam dan merenung sejenak, tidak ada orang yang akan benar-benar mengerti manusia lainnya, dan saya yakin setiap orang pasti pernah merasa sendiri. Mengambil keputusan yang akan menentukan takdir hidup kita, pada akhirnya semua itu harus dilakukan sendiri dan kita tidak bisa menyalahkan orang lain atas gagalnya hidup kita bukan?

Tuhan dan berjuta rahasianya.
Dulu saya pernah membaca sebuah tulisan, "Manusia dilahirkan di dunia pasti ada maksudnya. Tidak ada yang sia-sia." dan yang masih menjadi pertanyaan saya adalah "apa sih yang Tuhan mau dari saya? saya masih hidup sampai dengan sekarang, jadi tugas saya dimuka bumi ini masih belum selesai. Ada hal lain yang masih harus saya lakukan dan itu penting. Entah apa."

---
Cinta
(jujur saat membaca kata ini saya tersenyum dan ada sebuah perasaan hangat dihati saya)
saya lucu sendiri menulis tentang hal ini. Sangat sulit. Mendefinisikannya pun saya tidak bisa. tetapi ada hal soal hal ini yang saya ingin diketahui oleh orang banyak. Dalam hal ini, karena cinta itu luas, saya ingin membatasi cinta terbatas pada perasaan antara dua insan yang horizontal. bukan cinta ibu pada anaknya dan sebagainya. 

Cinta itu Gila. 
ya, saya sangat meyakini hal ini. Cinta itu dapat membuat seorang menjadi gila.Biasa jika ada seoarang yang jatuh cinta, tertawa sendiri bahkan menjadi hal yang wajar. dan GILAnya cinta itu bisa membuat seseorang berubah. Yang ketus menjadi manis. Yang kasar menjadi halus. Yang acak-acakan jadi rapih. 180 DERAJAT! atas dasar cinta, saya sudah beberapa kali menyaksikan perbuatan gila teman-teman saya. Ada yang sampai pinjem-pinjem handphone untuk denger suara mantan, ada yang tiap malam buka Facebook sang target, banyaklah hal-hal gila yang dilakukan karena cinta. Ada seorang laki-laki yang gila karena putus cinta dan akhirnya dia keliling dunia dan menjadi penulis sukses. Cinta dan gila, saya rasa hanya berbeda tipis. Ketika anda jatuh cinta, batas kewarasan menipis. 

Seorang teman saya mengatakan, "cinta itu berawal dari kasih, dan kasih itu diambil dari kata kasihan".
Saat pertama kali mendengar hal ini saya tertawa, teman saya mengatakan pada akhirnya jika seseorang benar-benar mencintai orang lainnya, dan orang itu tidak cinta (pada awalnya), tetapi karena orang itu kasihan atas kegigihan orang yang PDKT, rasa kasih dan cinta itu akan muncul juga. Sebuah teori konyol dan bodoh. tetapi toh menurut saya masuk akal juga haha.

Batas antara benci dan cinta itu tipis.
kata orang kalau kita membenci seseorang , hati-hati kita akan mudah jatuh cinta pada orang itu. (menurut saya yang ini sinetron banget sih) . Faktanya jatuh cinta pada musuh itu mudah (apalagi kalo musuhnya ganteng atau cantik, sekalian pendekatan juga bisa). bagaimana kalau sebaliknya? berawal dari sebuah persahabatan dan rasa cinta itu muncul? ketika rasa cinta itu berakhir dan timbul benci, teori batas antara cinta dan benci tipis benar-benar  tidak berlaku. Toh tidak mudah membuat orang yang dari cinta jadi benci dan menjadi cinta lagi? Tidak percaya? Silahkan coba. 

Cinta itu tidak memandang Gender. 
yah, begitulah yang oleh salah seorang teman kakak saya katakan. "selama gw bisa nyaman dengan orang itu, gw ga peduli gendernya apa. asalkan dia sayang sama gue."
ya, disini saya berbicara soal homoseksual dan lesbian. Terkadang saya percaya, bahwa orang-orang yang menyukai sesama jenis ini adalah jiwa-jiwa yang terperangkap pada tubuh yang salah. Saya belum mengerti untuk alasan lainnya, karena sejauh ini saya belum punya seorang teman yang homo atau lesbian, mungkin ada, tetapi saya belum tahu. Dan sekalipun saya tahu, belum tentu dia orang yang terbuka dan mau menceritakan hal-hal yang masih sangat sensitif ini dibicarakan di Indonesia. Saya sangat salut, pada orang-orang yang terbuka dengan identitas dirinya. Apakah salah menjadi homo dan lesbi? kalau menurut agama, tentu saja hal ini salah. tetapi bagi saya, orang-orang yang bisa mengasihi orang lain ini, jauh lebih baik dibandingkan orang-orang yang memakan hak orang lain.dan soal agama? Itu bukan urusan saya, toh agama itu hubungan antara masing-masing pribadi dan Tuhan. 

Cinta itu bagaikan pisau bermata dua. 
Entah saya mendengar hal ini dimana. Yang jelas kata-kata ini menganggu pikiran saya. 
Kalo menurut saya, yang bukan pakar psikologis apapun ini, cinta itu manis, siapa yang tidak bahagia saat sedang jatuh cinta? tetapi semakin kita merasa bahagia, akan sulit melepaskan sumber rasa bahagia itu. So, ketika sumber itu hilang, semuanya akan berbalik dan disinilah, mata pisau yang satunya lagi bekerja. Kehilangan orang yang kita cintai, saya belum pernah merasakan hal itu jadi saya belum tau pasti rasanya apa. Ditinggal mati pasti rasanya jauh lebih sakit dibandingkan 'putus'. Saya hanya membayangkan, jika saya memiliki orang yang saya kasihi dan tiba-tiba orang itu meninggal (apalagi caranya dramtis) entah apa yang saya akan lakukan. Saya mungkin jadi gila. (nah kembali lagi, cinta itu gila? #loh)

Cinta itu 3/4nya adalah mimpi dan 1/4 kenyataan.
Saya membaca ini disebuah buku berjudul ''True Love'' dalam sebuah kereta, disebuah negara asing. Saat itu saya melihat sepasang kekasih di sebelah saya tertawa-tawa pelan. dalam buku itu dihalaman yang sama juga tertulis, ''akan berbahaya jika kau jatuh cinta hanya pada mimpi itu, tetapi jika kau jatuh cinta pada semuanya maka kau akan menemukan cinta mu yang sebenarnya." saya kembali melihat pasangan itu, dan dalam hati berkata "apakah kedua pasangan ini termasuk pada golongan pertama atau yang kedua?"

Oke, bukan pasangan itu yang ingin saya bahas disini. Mimpi dan kenyataan. Sering kali saya juga terjatuh dalam mimpi itu, seperti hanya melihat orang sekilas saya menyatakan saya cinta pada orang itu. Padahal saya sadar dalam hati, "saya yakin orang itu baik, rajin, menyenangkan dan sebagainya" dan lagi-lagi itu hanya mimpi saya. Bahkan, ada seorang teman saya yang 'jadian' juga karena mimpi itu dan akhirnya hubungan itu bertahan hanya 3 bulan. Teman saya berharap pasangannya bisa menjadi orang yang diinginkannya. See? Jatuh cinta pada mimpi yang kita buat itu sangat mudah.
 Dengan alasan, "nobody's perfect" dan orang ini adalah orang yang paling dekat dengan saya sekarang, kenapa saya tidak jatuh cinta pada dia saja? Baru akhir-akhir ini saya mengerti kalimat diatas. Jatuh cinta pada mimpi itu sangat berbahaya (karena sebenarnya saya tidak benar-benar jatuh cinta) dan saya sadar betapa mudahnya orang-orang mendramatisir keadaan, sehingga kita pun terbawa arus dan tidak melihat kenyataanya. Hey, this is life, not a sweet TV drama! 

Bayangkan anda jatuh cinta pada sahabat anda karena dorongan teman-teman anda dan karena alasan "nobody's perfect", juga alasan "dia orang yang paling mengerti", padahal disatu sisi anda tau (tetapi anda tidak mengakuinya) bukan dia orang yang membuat anda jatuh cinta. 


Tuhan dan Cinta. 
Jika anda teman dekat saya dan anda membaca ini, anda boleh tertawa. 
tetapi saya yakin banyak orang yang pernah berpikiran sama dengan saya. 

Tuhan. 
Menemani di saat kesendirian, karena pada akhirnya, bagi saya Tuhan itu Superman yang datang disaat-saat terburuk hidup saya. 

Cinta. 
Saya masih belum menemukan cinta itu apa. Dengan komposisi 3/4 mimpi dan 1/4 kenyataan, membuat saya semakin sulit mencari orang yang membuat saya bisa menerima keduanya di satu orang yang sama,  tetapi saya yakin banyak orang yang bahagia karena "cinta''. 



Komentar

  1. hmm, i know what happened to you if you wrote this kind of things :)

    BalasHapus
  2. Della??

    Hahaaaha yeah just thinking about simple thing and write it down. :D
    Hope people can now me better and i can now what people think better #random

    BalasHapus
  3. wow, terharu saya baca nya.
    semoga jadi lebih baik li :D

    "berani jatuh cinta, berani juga untuk jatuh karena cinta"
    cuman itu klo masalah cinta li :)

    BalasHapus
  4. oke..
    sebagai temen lo yang baik gw mau comment and sharing dikit dah..
    tuhann..
    firstly cerita lo tentang orang yg tiba2 pingsan n waktu di diagnosis ternyata kena kanker otak, oke.. itu serem, n gw jadi rada parno' krn gw sering skit kpala akhir2 ini..hhahaha
    hmmm, langsung aja...
    gw ke inget kata-kata yang diucapin brad pitt waktu dia meranin achiless di film "The Troy". Adegan dimana seorang cewek cakep yang lagi nodongin pisau k lehernya waktu si brad pittnya tidur. dia ngga ngelawan and ngeliatian cewek itu and cuma bilang, " apa bedanya mati sekarang dengan mati besok ?”
    menurut gw sih, dalam banged maknanya..
    orang-orang ngga mau mati sekarang karena takut macem2 Li, termasuk gw yang lagi ngomong, misalnya, takut sendirian kalo mati, takut ngga bisa nikmatin dunia lagi, masih ada hal2 mau dikerjain , ada harapan2 yang masih mau diraih, takut karena masih banyak dosa lah, takut amal nya belum cukup lah, and macem2 dah, makanya kalo bisa jangan mati sekarang, tapi pertanyaan nya adalah, kalo kita mati besok, lusa, minggu depan, bulan depan, taon depan ato 100 taon lagi bakal ngejamin kita udah bisa ngilangin ketakutan kita akan kematian ato kita udah nglakuin apa yang bener-bener kita inginkan selama hidup ?? kayaknya belum tentu deh. Jadi, pada intinya hidup 10 taun,20 taun,30 taun, bahkan 200 taun ngga menjamin kualitas hidup yang kita jalanin. Mungkin aja orang yang Cuma hidup 30 taun-an lebih bahagia and siap mati ketimbang yang udah hidup 100 taun-an..hhehehe
    kayak pepatah jepang Li, “hiduplah seperti bunga sakura, meskipun hidupnya singkat namun tumbuh dengan indah, bahkan ketika berguguranpun masih tetap indah”.

    BalasHapus
  5. Oke part 2 nya tentang cinta...
    Oke li, kata rada Raditya Dika “cinta itu membuat ta*k seperti rasa coklat and juga coklat seperti rasa ta*k.. *and semoga lo ngga lagi makan coklat waktu baca kalimat ini Li, ato siapapun itu yang lagi ngebaca ini.hhaha
    Satu lagi, di buku D.O ada kalimat yang intinya kayak gini.. “cinta itu buta, pantesan aja orang orang yang pacaran dengan cinta sering meraba-meraba”. ups, sorry.. hhaha
    Hmm, “Love... just feel it, don’t trying to define it coz it’s hard to say”..
    Bagaimana cara merasionalkan sebuah perasaan ? pada intinya perasaan dan rasionalitas itu dua hal yang berbeda, sama hal nya dengan cinta, bagaimana merumuskan secara teory tentang cinta yang tiap orang punya prespektif yang berbeda-beda dan semuanya bisa aja bener ?? bahkan sepangang kekasih memiliki definisi yang berbeda. So, karena cinta itu sebuah perasaan yang sebenernya bukan tidak bisa didefinisikan, tapi terlalu banyak definisi yang bisa muncul. Lo mungkin udah ngerasain cinta Li, tapi mungkin belum yakin aj itu cinta, mungkin nanti lo bakal menemukan definisi cinta menurut lo sendiri berdasarkan perasaan lo sendiri *sepertinya bener2 g menjawab..hahaha
    Tapi bagi gw.. cinta itu ketika lo memberi seuatu, ketika lo berkorban, dan ketika lo merasakan dia seseorang yang bisa lo ajak berbagi ketika lo bahagia,sedih, ato masa2 berat dalam hidup lo.. and cinta itu.. hmmm apa ya.. hmmm.. tuh gw jadi bingung definisi pastinya..hhahaha. so, just feel it...
    Tentang Cinta itu bagaikan pisau bermata dua, Gw Cuma bilang “lebih baik sakit karena mencintai dari pada tak pernah mencintai sama sekali”. And soal lo and sahabat lo itu, coba lo dengerin lagunya dewa deh, yang “aku bisa membuatmu jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta... beri sedikit waktu, biar cinta datang karna terbiasa”, and itu pernah gw alami...hhe
    Okehhh.. capek gw ngetik...
    Tuhan.
    Menemani di saat kesendirian, karena pada akhirnya, bagi saya Tuhan itu Superman yang datang disaat-saat terburuk hidup saya.
    Li, Tuhan selalu ada dalam setiap episode hidup kita, saat terbaik ataupun terburuk, bahkan sangat dekat, hanya kita sebagai manusia yang ngga mau menyadarinya dan berusaha sadar kalo Tuhan itu ada ketika saat-saat sulit. Dimana kesadaran kita ketika dalam keadaan bahagia ? sepertinya kita terlalu egois sebagai manusia.....

    Cinta.
    Saya masih belum menemukan cinta itu apa. Dengan komposisi 3/4 mimpi dan 1/4 kenyataan, membuat saya semakin sulit mencari orang yang membuat saya bisa menerima keduanya di satu orang yang sama, tetapi saya yakin banyak orang yang bahagia karena "cinta''.
    Banyak hal-hal yang membahagiakan, manis,indah, berharga, momen-momen tak terlupakan, ato apapun lah itu dimulai dari sebuah mimpi, begitu juga cinta... yang dimulai dari 3/4 mimpi.....

    BalasHapus
  6. Salam Kenal! :)
    Berada di kebingungan yang sama di dua hal ini. Dulu, juga sedikitnya, sekarang, dan mungkin, nanti-nanti...

    Tapi kalau ditanya, setidaknya ini jawaban saya;

    Cinta itu hanya biokemikal di otak. Saya tidak bicara tentang hal seksual di sini. Tapi otak kita memang diprogram untuk menghasilkan oksitosin ketika kita mewujudkan / merasakan cinta. Dan kita butuh oksitosin untuk menyeimbangkan hidup kita.

    Terlepas dari pasangan kita siapa. Ini memang hasrat internal yang harus dipenuhi. Selayaknya kita butuh makan, terlepas akan apa makanannya.

    Kebutuhan kita akan 'Tuhan' itu mungkin juga biokemikal di otak.

    Tapi saya punya hubungan 'intim' tersendiri dengan kehidupan, kematian, & Tuhan. Entah ini biokemikal umum atau rasio personal saya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!