Sebuah Surga Di Ujung Barat Pulau Jawa

Mengutip nama salah satu album teman seperjalanan saya, maka saya akan memulai tulisan ini dengan menyebut, "Surga Itu Bernama Ujung Kulon" Tanggal 7-10 September 2011 lalu, saya dan teman-teman saya akhirnya bisa juga menginjakan kaki di sebuah pulau cantik bernama Peucang, di tanah barat pulau jawa.



Day 01
Awalnya rencana perjalanan ke pulau ini hanyalah untuk sebuah acara organisasi di kampus saya, tetapi karena tanggal keberangkatan dekat dengan suasana musim lebaran. So... Akhirnya hanya 5 orang yang tersisa, dan akhirnya saya memutuskan untuk membuka acara ini untuk publik karena tidak mungkin untuk kesana hanya ber-5, dikarenakana sharecost kapal yang besar.
Menjelang Hari H, terkumpulah 12 orang yang akhirnya mengatakan untuk ikut. TETAPI, di hari H kita hanya ber-9. BERSEMBILAN, dengan biaya kapal yang mencapai RP. 2.000.000!
Akhirnya kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan budget yang pasti overbudget. Setelah, menunggu Elf ke Taman Jaya kira-kira 2 Jam, Elf Tiba sekitar pukul 11, dan melakukan perjalanan darat menuju Taman Jaya, pukul 5 sore akhirnya kita sampai di homestay Pa Haji Rawa (yang menjadi contact person kami - ini orang famous banget loh!) . Dan ditengah perjalanan dari Sumur - Taman Jaya (yang ternyata ga sehancur yang sering diberitakan orang-orang), kami disuguhi oleh pertunjukan kuda lumping LIVE! ramai orang berkumpul dan banyak juga arak-arakan, Kuda Lumping Banten ini merupakan sebuah tradisi masyarkat banten apabila lahir seorang anak laki-laki. Bagaimana kalo perempuan? "ya, kalo perempuan nggak dibuatin acara besar seperti ini mba." yah, begitulah ucap salah satu penumpang yang sempat saya "wawancarai'' di elf menuju Tamajay (red: taman jaya - bahasa gaul orang sana)

Malam pertama dalam perjalanan itu kita disediakan akomodasi oleh Keluarga Pa Rawa, Teh lilis *kalo ga salah namanya*, dan malam itulah saya dikenalkan oleh Mang Dayat, Kapten kapal kami, dan Mang Ade, ranger Taman Nasional Ujung Kulon yang juga bekerja untuk WWF. Selama 3 hari ke depan bersama orang-orang inilah kami mengelilingi Taman Nasional Ujung Kulon, yang sekali lagi saya bilang sebagai sebuah surga di ujung barat pulau jawa. Malam itu juga, saya dan seorang teman seperjalanan saya membeli kebutuhan logistik seperti sayur sop dan air. Untuk yang ingin berbelanja sayuran, di Taman Jaya ini tersedia warung sayur yang juga masih punya saudaranya Pa Rawa, Jadi mau cari apa aja ada di sini. Penginapan mewah pun juga ada disini, tetapi buat kami yang memiliki budget minim, maka tinggal bermalam dirumah keponakan Pa Rawa menjadi opsi terbaik kami malam itu.


Day 02

Hari kedua pk. 06.00 kami setelah sarapan (yang tentunya disiapkan oleh teh lilis, sebungkus nasi uduk seharga Rp. 5000,-) , sekitar pukul 07.00 kami semua sudah melayari laut menyusuri Taman Nasional Ujung Kulon. Sepanjang perjalanan itu kami disuguhi oleh deretan hutan tropis yang berderet sepanjang pantai berpasir putih, sungguh pemandangan yang menakjubkan. Setahu saya, Kawasan ujung kulon adalah salah satu kawasan hutan tropis yang terletak di dataran rendah, dengan ekosistem yang sangat kaya akan hayati. Hal inilah yang mungkin membuat kawasan ini dianugrahi sebagai Kawasan Warisan Dunia , bukan hanya karena ada sebuah spesies langka, yakni badak bercula satu. Setelah 3 jam berlayar yang cukup membuat saya mual, tibalah saya di dermaga pulau peucang. Pulau berpasir putih, ribuan ikan yang berenang dibawah dermaga, gradasi laut biru-hijau terpajang di depan mata kami, ditambah dengan rindangnya pohon yang mengelilingi pulau peucang, dengan gembira satu persatu dari kami turun dari kapal. Karena saya pemimpin perjalanan kali ini, maka sayalah yang berkewajiban mengatur izin dan biaya masuk ke kawasan ini. Oleh karena itu, disaat teman-teman saya sudah bermain ria dengan laut, saya berurusan lebih dulu dengan Jagawana TNUK, di kantor tersebut saya membayar asuransi + biaya bangun tenda (karena kita tenda 1 hari) + biaya tambat kapal (per kapal) + biaya masuk kawasan tertentu (dibayar sebelum kita pulang) + biaya masuk kawasan TNUK.




Di kantor tersebut, Bapak Jagawana yang sedang bertugas memberitahu jalur-jalur penelusuran pantai ujung kulon, apa saja objek wisatanya, dan terakhir yang membuat saya cukup kaget mendengarnya beliau berkata,

''Nih ya mbak, saya bilangin kalo kesini jangan cuma setengah-setengah, jelajahi semuanya, jangan cuma buang-buang uang. Biasayanya anak muda yang kesini cuma buang-buang uang aja. Nanti kalo mbaknya balik ke jakarta, ajak orang-orang lain kesini, jadi mbaknya bisa balik modal."
saat itu saya hanya tersenyum-senyum mendengar bapak jagawana itu berpesan seperti itu, beliau juga menganjurkan saya untuk datang kembali ke ujung kulon melalui jalur susur pantai yang memakan waktu 3 hari 2 malam. Katanya disana kita bisa melihat ragam hayati yang lebih banyak, dan ke pantai-pantai yang jarang dijamah oleh orang-orang selain klub pecinta alam dan ranger sana.

Hari pertama sesuai dengan itinerary, kami diantar oleh Mang Entus ke sebuah spot snorkling di pulau Peucang. tetapi sayangnya karena salah musim, air laut keruh dan angin yang mulai angin barat membawa kawanan ubur-ubur ke daerah snorkling itu. Setelah semua dari kami tersengat ubur-ubur (gatal dan dihilangkan dengan mengosok-gosok pasir ke daerah yang gatal), kami meutuskan untuk ganti spot snorkling di Citerjun . Walaupun tidak begitu banyak ikan, akhirnya kami harus terpaksa puas dengan snorkle hari itu karena arus laut yang semakin kuat. Bahkan beberapa kami harus menggunakan tali untuk dapat kembali ke kapal.

Makan siang kali itu, kami menyerahkan bahan-bahan makanan kami ke awak kapal dan akhirnya merekalah yang memasak buat kami. dan setelah itu akhirnya kami memutuskan untuk ke cibom, tempat camp kami.
Angin pada saat itu luar biasa kencang, tenda terpaksa diganjal sana-sini supaya ga terbang kemana-mana, baju harus diiket ke tali kalo mau dijemur, dan yang sedikit salah perkiraan, sendang kecil di cibom yang setahu saya ada dan bisa digunakan untuk mandi atau diminum*walapun harus dicampur syup karna payau* ternyata KERING. Untungnya kami membawa persediaan air yang banyak, beli galon air di taman jaya dan tambahan air 3lt/orang.

Siang itu akhirnya kami habiskan berenang dilaut, walaupun pinggiran pantai cibom penuh dengan karang, tetapi dibagian tengahnya benar-benar hanya ada pasir. Jadilah kami berenang dilaut yang dikelilingi perbukitan itu. Beberapa dari kami, hanya duduk-duduk di pinggir pantai, "Sungguh merugilah orang-orang yang hanya duduk disana." ujar mba eka, salah seorang sepupu saya yang ikut perjalanan saya kali ini, sambil mununjuk-nunjuk teman-teman saya.

Setelah puas berenang, dan setelah saya memaksa-maksa para 'sepuh' diperjalanan ini untuk naik dan bersiap menuju Tanjung layar, akhirnya kami berangkat menuju Tanjung Layar pukul 4.30 sore. Awalnya saya sempat lupa, sebuah tempat berpadang rumput dan tebing-tebing di ujung tanah jawa itu dan kami memutuskan untuk tetap di menara pantau di tanjung layar untuk menikmati Sunset yang katanya mirip phi-phi island di Thailand itu. akhirnya dengan terburu-buru kami kembali berjalan ke Padang Rumput di tanjung layar itu.

Setelah melewati rentetan tanaman tinggi, tiba-tiba pemandangan sebuah tebing tinggi dan padang rumput terhampar dihadapan saya. what a god painting! Sewaktu saya mencari informasi ke tempat ini, di beberapa blog dikatakan bahwa butuh waktu 1 jam untuk sampai di tanjung layar, sehingga saya harus berulang kali bilang "CEPET oyyy jalannya! nggak kebagian sunset ntar." Dan ternyata..... hanya butuh waktu 30 menit kok dari cibom ke Tanjung Layar kalo ditotalin, dan treknya ga susah-susah amat, jalan datar dengan kiri kanan pohon.

Sunset sore itu luar biasa indah, inilah sunset yang kami lihat ditanah terbarat pulau jawa. Lukisan tuhan memang tidak ada yang bisa menandinginya. Sore itu, dengan susah-susah memanjat tebing-tebing, akhirnya kami mendapatkan sebuah best-spot untuk melihat sunset di ujung pulau jawa itu.


A little touched by god: Terimakasih kepada Tuhan yang mempermudah jalan kami menuju Taman Nasional Ujung Kulon, meskipun sangat kekurangan personil. berkatNya pula, kami sempat menonton pertunjukan langsung kuda lumping, LIVE! :)
dan yang terpenting, terimakasih telah mempertemukan saya dengan Mba Riana dan Mba Eka, duo sepuh yang jiwa petualangnya melebihi kita yang muda-muda.







Komentar

  1. sempatkan waktu untuk ikuti jejakmu...hehehe..

    BalasHapus
  2. okeee mba dwi ulan (yang cuma beda 2 suku kata terakhir sama nama gue). AYo kita nanjak rinjani bareng-bareng! :)

    BalasHapus
  3. Sungguh merugilah orang orang-orang yang hanya duduk di sana! :D
    Sungguh beruntungnya saya diajak menikmati satu lagi kreasi Tuhan di negeri saya ini.

    Makasih ya Uli, makasih ya semua adik-adik manis UI & Riana, saya adalah sungguh beruntung :)

    Mang Entus, mang Ade, mang Dayat, how i miss you so..

    BalasHapus
  4. uliiiii >_< , nice post ! :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Kuliah, Year One. "HIDUP MAHASISWA!"