Bagian lain dari surga di titik terbarat Pulau Jawa..

Yah, kembali melanjuti jurnal saya diujung kulon kemarin....
Sunset Di ujung Terbarat Pulau Jawa

'Pintu Masuk' menuju Padang Rumput Tanjung Layar


Inilah kami!

Jujur saja, setelah sunset berakhir, saya sedikit mengalami kesulitan untuk mengajak dua orang sepuh untuk kembali bersama saya ke basecamp. why? Karena mereka bilang "Tempat ini tuh indah banget, dan gw mau nikmatin tempat ini lebih lama, gw pengen liat bintang disini, pasti bagus banget deh. Lo semua balik aja duluan, lagian jalannya juga cuma lurus." 

Awalnya saya berpikiran untuk membiarkan saja mereka untuk tinggal lebih lama, tetapi Mang Ade dengan tegas melarang saya untuk meninggalkan yang lain di Tj. Layar, dengan alasan daerah Pulau Jawa yang rawan.
"Jalanannya emang cuma lurus mbak, tapi ada aja yang di'sesat'in, trus ilang ga ketemu. Kalo di peucang sih ga apa-apa, pasti ketemu. Kalau di Pulau Jawa jangan." Ujar Mang Ade. Dan akhirnya kami full-team kembali ke basecamp, dan memasak makan malam kami. Malam itu tidak ada bintang dan langit sangat cerah karena bulan penuh dan dimalam ini lah kami mengalami tragedi pindah tenda, karena angin yang benar-benar kuat.

RECOMMENDED: CAMP DI TANJUNG LAYAR!

keuntungannya camp di cibom:
1. kemungkinan dapet air buat bersih-bersih badan (sendang kecil di cibom)

2. Dapet view Sunrise (anehnya sunrise baru mulai setelah pukul 6!)

Kurangnya:
1. Anginnya itu loh, kayak badai, padahal kata Mang Entus sih "itu mah angin biasa". wew!

Awalnya kami ingin berenang sekali lagi di cibom, tetapi Mang Dayat, kapten kapal, bilang kita akan dibawa ke tempat yang lebih bagus buat berenang di pulau peucang. Yip! Akhirnya kita berenang di pulau peucang, disebuah bagian yang , dengan terharunya saya bilang, "DAERAH BEBAS UBUR-UBUR". Pada siang hari inilah kami benar-benar menikmati indahnya pulau peucang dan kemegahan deretan bukit diseberangnya. 
Langit Biru
Laut bergradasi biru muda, hijau-biru, biru tua
Hutan yang warnanya tidak bisa tertangkap sempurna dengan lensa kamera kami
Pantai halus berpasir putih, tanpa karang, tanpa sampah
dan saat itu, dibagian itu, 
Hanya kami yang ada disana..

Saya memang belum menjelajahi pantai di daerah Nusa Tenggara yang katanya sangat eksotis, bawah laut yang dramatis, dan keelokan pemandangan disepanjang  bumi Manggarai itu, tetapi.. sejauh ini saya bisa mengatakan.. Peucang Island is hundred times more beautiful than any beach I've ever seen*!
*included: Dreamland, Gili Trawangan, Wonosari Beaches, Tidung Island, Sebuku & Sebesi Island. 

Siang di hari ketiga ini sempat membuat kami semua mengantuk siang itu, di sebuah kamar sederhana (tipe bivak) seharga Rp. 150.000 yang bisa diisi sampai 12 orang itu (kami hanya ber-9, jadinya lebih elite lah! haha) kebanyakan dari kami tidur terpulas. Walapun demikian, kami akhirnya bisa juga mengenyahkan rasa malas itu, dan melangkahkan kaki menuju karang copong. Awalnya kami mau datang ke situ untuk sunset, tetapi kami ingin menikmati sunset di Cidaon, setelah kata Mang Ade, view di karang copong tidak terlalu berbeda dengan di Tanjung Layar. 

Sejujurnya, saya sempat kecewa, apalagi setelah berjalan 1 jam, di karang copong, yak hanya ada karang. Tetapi saya membayangkan tempat ini ketika matahari tenggelam, tempat ini akan lebih indah, dan yang disayangkannya lagi dibagian inilah saya melihat tumpukan sampah. :(
EITS! tunggu dulu, ini bukan sampah dari resort dan orang-orang yang tinggal di peucang (penjaga & karyawan) tetapi sampah ini merupakan sampah yang terbawa arus hingga ke pinggiran pantai pulau peucang. Sangat disayangkan, keindahan pulau ini masih dicemari oleh sampah manusia, dalam hati saya menyesal saya tidak bisa melakukan apa-apa, karena sampah yang terkumpul disinipun juga berasal dari berbagai daerah di Lampung dan Pulau Jawa. Sadar ga sih orang-orang yang buang sampah kelaut itu merugikan banyak orang? #lohJadiCurhat 

Kata salah seorang teman saya, best-spot di karang copong adalah, jika anda mendaki lebih tinggi ke arah tebing, dari atas tebing aja kita udah bisa lihat terumbu karang berwarna-warni dibawahnya. FYI: kata mang entus, disinilah shark-point nya Ujung Kulon, banyak ikan dan juga terumbu karang, mungkin karena itu juga kali ya hiu tumbuh subur disini. hehehe
kami Akhirnya ke cidaon untuk melihat Sunset, sayangnya sore hari itu kami tidak melihat seekor banteng pun yang sedang merumput, mungkin karena kami datang terlalu sore, waktu sudah menunjukan pukul 5.30 kala itu. Di tempat ini, seorang ranger TNUK melarang kami untuk memotret dari dekat binatang yang sedang merumput, karena terakhir kali ada percobaan memotret banteng dari dekat, banteng itu mengamuk dan akhirnya sebuah kamera mahal lah yang jadi korbannya karena ditabrak banteng (kamera dipasang di tripod). So don't DISTURB the ANIMAL!

Karang Copong - Tempat Yang Bagus buat Sunset

Sunrise di Cibom yang dimulai setelah pukul 7 :)

Malam harinya kami dibuatkan menu spesial oleh Mang Entus dkk, ikan asin + nasi + sambal, dan di malam ini juga saya banyak berbincang dengan Mang Ade dan Mang Entus di dapur belakang kamar bivak. yang saya tinggali. Disini tersedia air panas satu panci besar, yang boleh di minum oleh saya dkk tanpa harus membayar apa-apa, tanpa harus susah-susah nyalain kompor parafin (sumpah ini nyalainnya setengah mati ditengah angin kenceng!), tinggal ambil gayung tuang deh ke gelas. Nahh, tetapi karena kita ngobrol bersama-sama ada baiknya kita juga menawarkan kopi atau rokok pada penjaga-penjaga dipulau itu yang ikutan nimbrung. Kebanyakan dari mereka sih menolak, dan justru mereka yang bagi-bagi rokok. what a weird situation! 

Pagi harinya, dengan rasa berat hati kami harus pulang ke Jakarta, sebuah tempat dengan segala kemewahan dan kemacetan. Disini tidak ada bioskop dan restoran mewah, tidak ada konser-konser musik band besar, tidak ada bahan makanan yang bisa dibeli kapan saja. Semuanya serba terbatas, tetapi salah seorang yang saya kenal, Mang Entus, justru menemukan hidupnya ditempat yang damai ini. Malam terakhir inilah, saya merasa saya lebih mengenal orang-orang yang telah menemani saya dua hari terakhir ini. 

Dan ketika pulang, ternyata ELF baru akan datang jam 3 PAGI! sedangkan kami sudah sampai di TamanJaya sejak pukul 11 siang. akhirnya kami pun memutuskan untuk mencarter satu elf seharga Rp.700.000,- hingga serang. Padahal, awalnya saya bilang pada si supir untuk mengantar kami sampai LABUAN dan dari labuan kami akan naik bis ke Jakarta. Tetapi (yang saya sangat sesali) si supir membawa kami sampai di serang, walapun pada saat itu sebenarnya kami bisa meng-'pas'kan budget kami jika kami naik bis dari labuan. dan disinilah duo sepuh kami, menjadi donatur kami, dan akhirnya kami bisa sampai dijakarta sesuai dengan itinerary yang di rencanakan, sekitar pukul 10 malam. 
a little touched by god: Mang Entus yang awalnya terpaksa bekerja di ujung kulon, mengatakan bahwa ia sangat mensyukuri bisa bekerja di pulau itu sekarang. Dari beliau lah, kami akhirnya bisa menggunakan alat-alat snorkle lebih baik, beliu juga yang memberitahu saya bahwa BUAYA AIR ASIN masih ADA hingga saat ini di Ujung Kulon, walaupun jumlahnya sangat sedikit. Bahkan waktu kami mau pulang, beliau sempat mancing dulu di pagi hari (awalnya saya yang mau ikutan mancing, tetapi karena perut lapar akhirnya saya memutuskan untuk masak lebih dulu dan akhirnya batal mancing ) dan membawakan kami sekantong penuh ikan! kata beliau "alaaahh disini mah ikan ga usah beli, orang ngambilnya juga dari laut ga bayar haha.". 
another little Touched by god: Pulangnya kami masih mendapatkan FREE WAVE RIDING! ombak setinggi 3-4 meter yang sukses membuat saya mabuk laut, walau awalnya saya sangat excited duduk di geladak kapal dan ikutan 'wave riding' bersama mba eka dan mba riana.

Sekali lagi, untuk perincian biaya yang lebih detail, silahkan hubungin saya via personal message / comment ya.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!