Traveling (not a creative title, yet it told about travel)..

"Li, hidup lo nggak ada yang lain apa selain jalan-jalan? Meaningless tau ga itu?"

---

Yup, kalimat diatas adalah kalimat yang diucapkan salah satu teman terdekat saya beberapa bulan yang lalu. Hingga sekarang, jika teman saya itu bertanya mengapa saya mau naik gunung, pergi ke sebuah tempat yang jauh dari kota bahkan signal hp sekalipun, mungkin saya bisa mengatakan berjuta alasan kenapa saya begitu mencintai berjalan menikmati alam atau tata kota hasil buatan manusia beserta kebudayaan yang tercipta disekitarnya, tapi kata-kata saja tidak cukup membuat orang lain mengerti kenapa dan apa makna yang saya lakukan, pada akhirnya saya Hanya bisa mengatakan

"Susah deh jelasinnya, coba lo jalan sendirian sekali deh kemana gitu yang jauh dari jakarta atau nggak naik gunung gih. mungkin lo bisa ngerti, mungkin juga sih lo kapok traveling lagi."- yak ini jawaban standar kalo saya udah capek-capek jelasin pentingnya naik gunung dan jadi traveling. Kalo menurut kamus sebagian besar orang Indonesia (orang disekitar saya tentunya):

"traveling bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan bersenang-senang yang bertujuan untuk menghabiskan uang yang telah dicapai dengan kerja keras banting tulang 5 hari seminggu dan 8 jam perhari hanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya; seorang traveler berkewajiban membawa petatah-petitih unik dari daerah yang didatanginya untuk orang-orang yang telah menunggu setia dirumah. titik."

Kesimpulannya: traveler itu cuma buat orang-orang kaya yang kelebihan uang, kalo nggak belom pantes lah lo jadi traveler (apalagi mahasiswa jobless kayak saya). is it right?

Yip, entah kenapa saya terinspirasi untuk menulis hal semacam ini setelah membaca sebuah buku berjudul "de journal" karya mbak neneng setiasih. Bukan karena romantisme yang ada dibeberapa bagian novel itu, bukan juga karena keindahan Indonesia yang digambarkan dinovel itu, tetapi karena saya pernah mengalami (sedikit) hal yang dialami penulis didalam novel itu. Seperti sebuah pertanyaan standar yang akan hampir selalu ditanyakan orang yang bertemu saya diperjalanan bahkan bule sekalipun. "sendirian? cewe? mau kemana? kok bisa dikasih izin sama orang tuanya? umur kamu berapa?". dan saya menjawab "iya, hhee mau ke gili, nggak dikasih sih sebenernya tapi kabur. 17 tahun."

ada lagi yang ketemu saya dan bertanya "mbak, penyiar tv dari jejak petualang ya?"
kalo sama bule lain lagi, "wow, you're so young and traveling alone. that's great you start travel at very young age."

nah yang terakhir ini, menyentuh hati saya banget. One thing, yang masih sama dibuku mbak neneng dan pengalaman saya (yang sekitaran 10 tahun setelahnya), they look so surprised, melihat seorang wanita dari indonesia jalan-jalan sendirian bawa tas gede di pundak (bukan pake koper, secara turis indonesia terkenal tajir diluaran sana).
in 10 years, FOR GOD SAKE, NOTHING CHANGE?


Dalam salah satu halaman "de journal", ada sebuah bagian yang mengatakan(kira-kira begini):
"ya, walaupun saya udah susah payah jelasin gimana eksotisnya perjalanan dan pengalaman saya selama di timur indonesia, still susah cari orang yang mau nemenin saya ke sumatera. mereka mengatakan mereka sangat ingin menemani saya, ingin sekali mengalami apa yang saya alami tetapi mereka mengatakan 'sayang waktunya kurang tepat' 'nggak ada kesempatan buat traveling'(yang mungkin ada tapi mereka ga ambil), dan ada juga yang antusias mendengarkan cerita saya, tetapi memang tidak berkeinginan untuk traveling."-de journal.


Dan satu hal yang menyedihkan sekarang adalah i'm not that girl anymore. Saya bukan lagi, anak itu yang bisa pergi sendirian ke lombok, keliling bali naik motor sendirian, ngejar-ngejar sunset dari tanah lot ke uluwatu naik mio. Nyatanya, selama satu tahun ini dari agustus 2010-2011 saya belum pernah sekalipun solo traveling lagi, belum pernah pergi jauh dari jakarta selain bersama keluarga saya. dan saya mulai menyalahkan sesuatu yang bernama "kesempatan".

ya, saya mulai sering mengatakan, "ya, mungkin belum ada kesempatan untuk pergi kesana." Kerap kali kita mengucapkan kata-kata ini, "belum ada kesempatan". Tetapi bukankah kesempatan itu dibuat dan bukannya datang dari antah berantah, sebagai contoh (hal ini yang paling saya sering alami setahun terakhir ini):

A: anak yang saya ajak
S: saya

S: "eh, ikut gw yu ke tempat x"
A: "eh ayo ayo seru tuh, kapan?"
S: "tanggal x-z"
A: "yahh..."
S: "kenapa? ga bisa lo?"
A: "ga bisa gw tanggal segitu, ada acara xx dikampus/dirumah/dirumah saudara"
S: "yaudah deh, paling gw solo traveling."
A: "eh, kalo tanggalnya ga segitu gw bisa deh. tanggal S aja gimana?"
S: (cek kalender) "ehmm.. bisa sih gw. yaudah tanggal segitu aje ya."
A: "ok deh.. tapi ntar gw konfirmasi lagi ya."
S: (dalam hati) "udah gw pindahin tanggalnya lo masih *underconfimation? Errrr.."

(S siap-siap ini itu menjelang hari H)
H-7
A: "eh li, sori deh gw ga bisa ikut ternyata."
S: "lah? kenapa dah?"
A: "nggak ada duit. sorii yaak..hehehe next trip deh gw pasti ikut."
S: speechless, menghela nafas panjang..

END~

nah kalo diteliti sebenernya si A bisa punya kesempatan kalo dia ngumpulin uang dari hari dimana kita memutuskan untuk jalan bareng, dan seharusnya saya juga bisa jalan sendirian, tetapi karena mood yang sudah tidak jelas dan berantakan hanya karena salah pilih teman jalan, saya memutuskan untuk stay in the city. See? betapa sebenernya banyak diantara kita yang punya kesempatan (termasuk saya) tetapi membuangnya begitu saja.

and still it is the most favorite reason "Sorry, gw ga ada kesempatan." 10 tahun berlalu dan masih ada aja alasan model begini. Wajarlah jika orang-orang Indonesia menjadi bangsa yang lebih senang didatangi asing dibandingkan dengan menjelajah negeri orang lain dan melihat hal-hal terbaik dengan mata kepala sendiri.

con't...




Komentar

  1. Itu temen lo si A, temen gw jg kali ya? Tapi kalo udah kaya gitu sih, mungkin udah ga pantes disebut temen. hehehe

    BalasHapus
  2. @anonim: thanks for reading.

    @bukan si A: hhaha mungkin-mungkin, yang jelas model si A ga cuma satu kok. Kalo udah nggak gw anggap temen, bisa abis temen gw lama-lama hhaha. gw sih berharap aja, A dkk mendapat hidayah dari Tuhan YME amiiinn.

    BalasHapus
  3. "dan alam tidak pernah menunggu untuk ditaklukan tetapi selalu membantu merefleksikan siapa kita sebenarnya,serta sejauh apa menguasai dan mampu mengendalikan diri. . ." (Yudhi Yanto, 2011)

    BalasHapus
  4. @yudhi yanto: setujuuu!

    BalasHapus
  5. Aaaah, so nice that you started travelling at early age, there are so many places to choose from, so many people to meet, so many things to explore, so much experience to gain, hence the young age. I started travelling not so long ago, fell in love with it, fell in love with the beauty of our land while I almost reach my middle age, regardless, it's better late than never, they say.. Don't worry so much about what people say, travelling isn't for everyone, so as other things. So, whatever it is you love to do, just do!

    BalasHapus
  6. Hehe, ngeselin ya kalau tadinya rencana pergi bareng trus temennya ngebatalin fufufu.
    Wah hebat berani ke Lombok sendirian.
    Menurutku kalau ada orang yang diajak pergi bilang 'ga ada waktu' itu berarti emang dasarnya gak pengen pergi hihihi.

    Bahkan di sela ujian, wikennya bisa kok dipake jalan ahaha~ dulu pernah pas UTS semester 2 malah ngeteng ke Kawah Putih padahal seninnya ujian. :D
    Hihihi maaf Uli jadi curcol ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

I quit my job. So, What?

23 Hari Flores (1)

Terima Kasih, Mantan!