Selasa, 17 Mei 2016

Pencuri

Kehidupan mendadak jadi sangat menarik dua bulan terakhir ini. Tuhan, selalu, dan selalu mendengarkan bisikan-bisikan malam saya. Orang-orang terdekat saya mempertanyakan kepada saya, "Apakah kamu masih shalat?", setelah mendengar saya berbicara tentang dunia dan takdir, kata mereka saya menjadi orang golongan 'liberal'. Entah kata liberal itu menggambarkan positif atau negatif. Saya selalu mengatakan bahwa, "Saya butuh shalat, dan saya melakukannya ketika saya butuh, tetapi kapan sih orang seperti saya dengan iman yang dangkal tidak butuh shalat?" jawab saya. Orang-orang mungkin melakukan hal yang sama, tetapi yang harus dipertanyakan adalah alasan melakukan perbuatan tertentu. Bisa jadi alasan saya melakukan Sholat bukan karena saya percaya bahwa Nabi Muhammad melakukan Isra Miraj, tetapi ya...karena saya butuh. Di suatu titik dalam hidup saya, saya menemukan kebutuhan saya akan shalat dan definisi shalat dalam hidup saya. Saya percaya pada agama saya, lebih daripada orang-orang menilai saya sebagai liberal tidak beragama.

Baiklah, kembali ke kehidupan saya yang mendadak jadi menarik. Dua bulan terakhir, saya merasa saya kehilangan arah. Segalanya seperti diambil dari saya. Saya lalu bertanya, apakah saya kurang bersyukur sehingga berbagai hal ditarik dari tangan saya? Kenapa rasanya saya tidak menemukan alasan untuk bangun di esok hari. Kenapa sepertinya saya kembali ke suatu titik dimana saya menghitung mundur waktu,hingga saatnya saya mengantuk dan tertidur.

Lalu kemudian, seorang laki-laki datang ke dalam kehidupan saya. Seorang laki-laki yang saya pikir mirip dengan seseorang yang pernah dekat dengan saya, dari segala sudut pandang ia bicara dan beberapa gerak-gerik aneh yang ia lakukan. Laki-laki ini datang dan dengan sangat percaya diri mengatakan saya adalah cerminan dirinya, lalu melakukan hal tipikal yang dilakukan oleh laki-laki yang sedang melakukan pendekatan. Namun saya adalah orang yang pesimis, apalagi tentang hubungan, saya tidak mau lagi berhubungan jauh karena sekedar 'tipe' atau 'dia baik', seseorang mengajarkan saya untuk mempertanyakan segala hal. Setiap kali bertemu dengan laki-laki ini, saya mempertanyakan kenapa dan ada apa dibalik ucapannya, ada sebuah pertanyaan dan saya butuh jawabannya. Sudah ada hipotesis, dan saya perlu pembuktian. Tuhan memberikan saya, sebuah teka-teki baru. Lalu tidak lama teka-teki ini terpecahkan, segala nya sesuai ekspektasi saya. Saya menilai orang baru dari skor negatif, dan menambahkan skor positif satu persatu. Akan tetapi, laki-laki ini gagal mendapatkan poin positif dari banyak kesempatan yang saya berikan. Seperti seorang psikolog, saya membenarkan hipotesis saya, mengangguk-angguk dalam diam dan mengambil keputusan bahwa "He doesn't worth my time.". Ternyata dia tidak lebih dari seorang penipu menyedihkan. Terkadang saya benci, ketika saya terbukti benar. Belakangan saya sadar, kenapa Tuhan mempertemukan saya dengan orang ini, untuk mengingatkan saya tentang "Pencuri".

Hari-hari banyak berlalu dengan cepat selama dua bulan terakhir, saya banyak bertemu dengan penipu dan orang yang manipulatif. Orang-orang bermulut manis yang ada hanya ketika saya punya sesuatu yang mereka butuhkan. Saya hanya kaget, setelah saya lulus dan berhenti bekerja, mendadak angka jumlah orang-orang dalam golongan ini melonjak! Manusia memang fantastis. Kemudian saya juga menyadari, saya mengalami cultural misfit. Segala hal masih seperti petak-petak puzzle yang terpisah-pisah, saya banyak tertimpa kemalangan dua bulan terakhir ini. Banyak hal, banyak kehilangan, banyak air mata dalam diam. Sebuah kehilangan besar, yang membuat saya menagis tengah malam dan tergesa-gesa menelepon sahabat saya, seperti menjadi titik terang. Titik terang untuk menyadari hal yang sudah lama saya lupakan: Untuk hidup di saat ini dan hiduplah walaupun sendirian.  

live in the present, even it means i'm living it alone.  

Kehilangan, terkadang kehilangan banyak hal mengembalikan fokus seseorang. Fokus, karena saat kita tidak memikirkan hal-hal yang telah hilang, mendadak kabut masalah memudar dan kita hanya melihat satu titik. Sebuah titik yang harus saya capai.

"Hakikat kita sebagai manusia adalah menjadi berguna bagi manusia lain. Menjadi seorang khalifah di muka bumi. Bukan perkara mudah karena jalan Tuhan yang benar itu, berdarah-darah."       

Bagi saya, hidup lebih dari sekedar beranak-pinak dan mengunggahnya dalam social media untuk sekedar mendapatkan predikat "Orang Tua Yang Bijak" atau menikah hanya untuk mendapatkan status "Kawin" di ktp.

Kenapa orang-orang begitu bangga dengan status yang mereka dapatkan dengan mudah?

Punya anak itu mudah, membesarkannya sehingga menjadi orang berguna alih-alih menjadi sampah masyarakat itu perkara lain.

Punya status pacar itu mudah, tetapi yakinkah orang itu akan bertahan bersama disaat gelap, atau hanya sekedar ingin mendapat predikat "Laku" dan perasaan semu "Dibutuhkan" sebagai seorang manusia. Atau lebih parahnya lagi, status pacar hanya sebagai alat untuk mendapatkan seks secara gratis? 

Punya status menikah itu mudah, tetapi bertahan dengan satu orang yang sama hingga hafal suara tarikan nafasnya, bertarung dengan kebosanan, apakah itu mudah? Apakah ketika kita tau, orang yang kita nikahi berubah total, kita tinggal membuangnya lalu mencari yang baru?  

Ah, terkadang saya muak saat orang-orang mulai menganggap mudah segalanya.Orang-orang yang rela menjadi pencuri untuk mempermudah segala urusannya. Pencuri, omong-omong tentang pencuri, saya mendadak ingat tulisan dalam buku The Kite Runner, :

"There is only one sin, only one. And that is theft. Every other sin is a variation of theft... When you kill a man, you steal a life. You steal his wife's right to a husband, rob his children of a father. When you tell a lie, you steal someone's right to the truth. When you cheat, you steal the right to fairness."
- The Kite Runner. 

Jadi, memiliki anak karena hanya ingin dapat status, itu juga pencuri. Mencuri hak seorang anak mendapatkan pengasuhan yang layak. 
Memiliki pacar, hanya karena alasan bosan dan butuh pengaggum setia padahal jauh dari cinta, itu juga mencuri hak seseorang menerima cinta yang tulus. 
Menikah, hanya karena terpaksa takut dibilang "tidak laku", itu juga mencuri hak orang lain mendapatkan kebenaran tentang komitmen. 

Ah, ketika menulis pikiran saya juga jadi kesana kemari. Pada intinya, saya kembali mendapatkan fokus saya. Saya punya tujuan yang lebih panjang sekarang, saya melihat sebuah jalan, dan yang terpenting adalah saya sadar betul saya berlari sendirian. Tanpa pengharapan uluran bantuan dari orang lain. Biarlah orang yang tulus membantu datang sendirinya, saya tidak mau berharap, karena lebih banyak manusia yang hatinya kotor karena haus akan kemenangan dibandingkan yang tulus membantu. 

Seorang teman mengatakan bahwa hati saya sudah mendingin, dan bicara saya semakin tajam. Saya bosan berhubungan dengan para penipu, orang-orang yang mencuri hak saya mendengar kebenaran. Lalu, saya hanya ingin mempercepat segalanya, itu adalah alasan saya belakangan berbicara tajam pada orang-orang tertentu, terutama yang sudah saya kategorikan dalam kotak "Penipu" atau "Calon Penipu". Buktikan saya salah, dengan melakukan hal yang tulus. Karena perbuatan yang tulus tidak pernah menuntut pengakuan dari orang lain, sudah jelas orang yang tulus bukan penipu.

A little touched by God: "Kamu benar, hidup bukan tentang menjadi bahagia, tetapi menjadi berguna bagi orang lain, dan ketika kita merasa berguna dengan sendirinya kita akan bahagia."

Kamis, 21 April 2016

Tuhan Yang Sedang Bergurau (2)

Selamat Malam, Dunia
Melanjutkan tulisan saya kemarin. Hari ini pun saya kembali di kejutkan oleh beberapa hal yang ''kebetulan'', entah sebenarnya kebeulan itu ada atau tidak. Saya sendiri tidak menyakini kebetulan, saya lebih menganut kata-kata "Ada alasan dibalik setiap hal yang terjadi.". Baiklah saya akan melanjutkan kembali tulisan saya kemarin.

---
Orang-Orang Yang Berlalu-lalang. 
Begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini. Salah satu sampul majalah terkenal pernah mengangkat populasi manusia yang mencapai tujuh miliar sebagai tema besar yang patut dibahas tahun lalu. Oh, tenang saja, saya tidak akan membahas teori konspirasi, genosida, pertumbuhan penduduk dalam deret geometri, dan sebagainya, saya tidak akan membahas hal-hal terlalu ilmiah itu disini -apalagi sekarang. Saya hanya ingin menambah efek dramatis yang namanya "takdir". Terkadang saya berpikir, dari tujuh miliar manusia di muka bumi ini kenapa saya harus dipertemukan oleh orang-orang tertentu yang kelak kemudian menjadi teman atau kemudian pergi dari kehidupan saya begitu saja. Lalu kalau dirunut-runut jauh sekali, ternyata begitu banyak 'kebetulan' hingga akhirnya saya bisa bertemu orang tersebut, seperti misalnya jika pagi itu saya datang terlambat ke suatu tempat maka sampai kiamat saya tidak akan bertemu lagi dengan orang itu. Seperti hal yang terlihat kebetulan tetapi semuanya sudah di atur, ibaratnya hidup ini sudah ada skenarionya. Semuanya ini permainan Tuhan yang sedang bosan sendirian di surga sana.

Omong-omong soal bosan, belakangan saya mempercepat semua proses teman berteman. Karena saya lelah berbasa-basi pada orang yang pada akhirnya tidak akan pernah ada disaat saya kesulitan. Saya lelah berteman dengan orang-orang "high-maintenance" ini. Kenapa hanya mereka yang berhak di mengerti? Sebagai teman bukan kah kita seharusnya saling membantu bukan malah mengharuskan A sampai Z agar saya bisa memanggil kamu teman saya. Ayolah, kita sudah terlalu tua untuk terus menerus mau dimengerti dan dimanja saat kita tidak mau melakukan hal yang sama bagi orang lain. Akhirnya saya mulai membenahi  pertemanan saya. Tidak lagi menghubungi lebih dulu beberapa orang, berhenti mengucapkan basa basi selamat ulang tahun (walaupun sebenarnya ini sudah sejak lama saya lakukan.), membalas pesan seadanya (sampai-sampai mereka tahu bahwa saya hanya berbasa-basi) pada beberapa orang yang saya anggap hanya akan menghubungi saya disaat mereka butuh. Di waktu-waktu yang ekstrem, saya akan sangat sarkastis menghadapi basa-basi. 

Beberapa hari terakhir, saya menghabiskan waktu berpikir tentang orang-orang yang berlalu lalang dalam hidup saya. Seorang teman pernah bilang,

"Jika memang dia tidak ditakdirkan menjadi teman seperjalanan mu, maka Allah mepertemukan dia dengan kamu untuk menjadi sebuah pelajaran. Allah tidak pernah salah, Li, cuma kita aja yang belum paham."

Dalam hidup saya ada beberapa pertemuan yang sampai sekarang saya ingat jelas. Pertemuan-pertemuan yang pernah saya bahas juga dalam blog ini. Orang-orang yang tanpa mereka sadari menginspirasi saya, atau membangunkan saya dari lamunan di siang bolong tentang hidup mewah tanpa kerja keras. Namun, ada pula orang-orang yang hadir dalam hidup saya, yang hingga kini saya pikir,  saya tidak tau maknanya apa selain membuang-buang waktu hidup saya. Hanya kata menyesal, penyesalan yang hadir belakangan. Saya bukan hanya bicara cinta tetapi juga persahabatan kosong. Memang saya ini manusia yang masih jauh dari kata memaafkan, padahal saya berusaha untuk itu. Memaafkan dan menahan amarah, saya bukan pendeta atau orang suci yang bisa melakukan kedua hal ini dengan mudah. 

Orang-orang yang berlalu lalang, entah kapan, saya ingin rasanya saya menjadi pihak yang meninggalkan kalian. Rasa-rasanya selalu saya yang ditinggal oleh kalian. Ini tidak adil, sementara saya masih berkubang di kota busuk ini. 

Hari-Hari Sial. 
Pernahkah kamu mengalami hari dimana sepertinya semua hal yang kamu lakukan salah? Saya baru mengalaminya belakangan ini. Saya kurang percaya pada petanda buruk, bagi saya hal buruk selalu datang tanpa petanda. Saya baru saja mengalami hari-hari terburuk dalam tahun ini, entah masih ada atau tidak hari yang lebih buruk dari beberapa hari belakangan. Saya kehilangan fokus dan keinginan untuk bangun setiap hari, saya tidur lagi padahal saya tidak mengantuk, lalu bangun dengan kepala pusing. Saya makan saat tidak lapar, hanya agar saya bisa melakukan sesuatu tanpa berpikir. Sepertinya saya mulai jenuh dengan permainan kehidupan ini. Lalu disaat-saat seperti ini Tuhan memperparah hidup saya dengan berbagai kecelakaan dan kejadian yang tidak perlu. Saya hanya bilang, "Ini hari sial banget." yang ternyata tidak berlangsung hanya satu hari, tetapi berhari-hari. Hingga rasanya, saya mengadu pada Tuhan disela-sela doa saya sepanjang hari, 
"Tuhan  saya menagih janji-Mu. 
Hutang-Mu atas kebaikan saya pada mahluk hidup lainnya yang kata-Nya akan diganti berpuluh kali lipat. Saya menunggu, hasil dalam bentuk kebaikan apapun, 
sekalipun itu adalah kejernihan berpikir."
    
Saya tau setiap hari adalah anugerah, setiap hari saya diberikan rezeki bernapas dan makan juga rumah yang nyaman, ibaratnya "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?". Mungkin saya egois, tetapi belakangan saya tidak merasa ada bedanya dengan binatang yang diberi makan dan minum juga kandang untuk hidup. Hari-hari sial, hari-hari yang sebenarnya tidak nyata, karena pada akhirnya hidup ini adalah perspektif setengah isi atau kosong. Lagi-lagi permainan.

Saya percaya, masalah diperlukan untuk membentuk sikap dan kepribadian seseorang. Masalah lah yang membentuk saya menjadi orang seperti sekarang. Hidup tanpa masalah berarti hidup tanpa kemajuan. Tetapi bisakah Tuhan memberikan masalah dalam bentuk cicilan dua belas kali (misalnya)? Tidak dalam satu hari sekaligus, sampai saya rasanya muak dan kalau saja ada pintu berwarna merah untuk keluar dari permainan ini, saya dengan senang hati akan berjalan kesana. Sayang bunuh diri itu tidak mudah, dan saya yakin itu salah satu cara bodoh untuk mati (Selain mati karena selfie di tempat yang tidak semestinya). Bodoh, di luar sana banyak manusia yang butuh Jantung, ginjal, darah, retina segar, lalu dibuang-buang begitu saja karena Tuhan sedang bergurau dengan hidup saya? Hell, No. Film 7Pounds memberikan cara bunuh diri yang dapat bermanfaat bagi umat manusia lainnya, jika ingin di contoh.     

Tuhan Yang Sedang Bergurau 
Karena seseorang merekomendasikan saya untuk membaca buku supernova karya Dee Lestari, akhirnya saya membaca juga Supernova edisi 1 beberapa hari yang lalu. Lucunya disaat saya merasakan Tuhan sedang bergurau dengan hidup saya, saya menemukan kalimat yang luar biasa representatif dengan apa yang saya pikirkan. 

"Jangan-jangan kelahirannya ke dunia ini juga cuma permainan. Ekses humor Tuhan yang kebablasan" - Supernova, Dee Lestari. 

 Saat membaca kalimat ini dalam buku tersebut, rasanya saya ingin tertawa terbahak-bahak. Ternyata saya tidak sendirian berpikir demikian. Nah membaca buku ini pun saya rasa merupakan permainan Tuhan. Kalau bukan karena suatu kebetulan, saya tidak akan membaca buku ini sekarang disaat seperti ini. Tuhan saya memang Maha Mengetahui, hingga dia sedikit banyak melalui buku itu mencoba menghibur saya dengan kata-kata, 
"Tenang, kamu tidak sendirian."

Dan ternyata bukan hanya kalimat tentang ekses humor Tuhan saja yang membuat saya tertawa, ketika saya membaca buku edisi kedua dari Supernova, saya juga menemukan kalimat lain yang sudah sangat akrab ditelinga saya dulu tentang neraka. Tuhan seakan-akan ingin memberitahu saya tentang keberadaan-Nya dan kemampuannya menunjukan hal-hal yang sudah sepatutnya saya lihat dalam berbagai hal. Saya jadi teringat kata-kata, akal dan pikiran. Dua hal yang membedakan manusia dan binatang. Saya punya akal dan saya semestinya berpikir, mungkin saja kali ini Tuhan ingin menunjukan sesuatu kepada saya (atau malah mempersiapkan saya akan sesuatu?). Saya harus siap saat Ia membuka kotak ajaibnya yang berisikan jawaban atas segala yang saya alami sekarang. Karena saya ingat, kalimat berulang di dalam Al-Quran yang terngiang di kepala saya (entah surat apa):

"Terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
Al - Quran

Ya, akhirnya saya jadi orang yang banyak pikiran. Pikiran yang melompat kesana kemari tanpa tahu gambaran segalanya secara utuh. Karena hanya Tuhan yang Maha Mengetahui, saya mah apa. Cuma seonggok mahluk fana berumur pendek, yang sok-sok an mencari makna hidup saya, ditengah waktu yang berdetik mundur. 

A little touched by God:
Baiklah, ini sudah jam tiga dini hari. Sudah semestinya saya tidur, karena kepala saya mulai pusing kembali (seperti biasa). Tuhan mungkin memang sedang bergurau, tetapi bukankah disitu letak keyakinan di uji? Walaupun ia senang bergurau dan memiliki sejuta permainan, kita meyakini Ia akan memberikan yang terbaik? Semoga, semua indah pada waktunya.

  
 

 





Selasa, 19 April 2016

Tuhan Yang Sedang Bergurau (1)

Selamat Malam, Dunia.
Bulan April sudah hampir berakhir, waktu berjalan dengan cepat belakangan ini. Saya merasa tidak diberikan ruang untuk sejenak bernapas sedikit pun, seperti diburu-buru oleh sesuatu yang saya tidak lihat. Saya setengah berharap tulisan-tulisan saya dalam blog ini tidak dilihat siapapun lagi, karena saya akan berbicara tentang banyak hal malam ini. Hal-hal yang terlalu aneh untuk diputar di kepala saya sendirian. 

---
Waktu Yang Singkat 
Jika waktu berjalan seperti ini terus bagi saya, waktu yang berputar cepat, tidak lama lagi saya akan berada dibawah tanah dimakan cacing. Seseorang pernah mengatakan dengan gamblang kepada saya sambil tertawa. "Nih ya, waktu gw hidup itu udah ga lama lagi, paling banyak juga dua puluh tahun lagi. Ya, mau ngapain lagi selain buat yang baik-baik?". Seandainya saya bisa semudah itu menertawakan waktu yang singkat ini. Belakangan saya sering bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman karena bermimpi buruk: berlari-lari, terjatuh, terjebak dalam ruang sempit atau bahkan tertabrak benda keras. Yang jelas dalam mimpi-mimpi saya belakangan ini. saya merasa "waktu yang singkat" itu akan benar-benar menjadi singkat. Saya percaya mimpi bisa menggambarkan kondisi fisik atau mental saya yang sesungguhnya alih-alih menggambarkan masa depan. Mungkin saya benar-benar lelah saat ini, saya dikejar-kejar sesuatu yang saya tidak bisa lihat.

apakah sebentar lagi waktu saya habis di dunia ini? semua tergantung seberapa lama 'sebentar' itu bagi saya. Ah, lagi pula ini sudah masa-masa bagi saya menanyakan kembali pada kamu Dunia. apalagi yang bisa kamu berikan pada saya? Saya bukan filantropis, jangan bertanya "Apa yang bisa saya berikan pada Dunia". Bahkan saya tidak lagi tahu, saya ingin memperlambat waktu atau malah ingin mempercepat ini semua agar segera berakhir. Saya mulai bosan, saya juga bosan terus mencari obat mengobati kebosanan saya ini. 

Apabila waktu saya memang sungguh sebentar lagi 
tinggalkan lah sebagian yang baik dari saya di muka bumi ini
agar saya tidak hanya menjadi 
seonggok daging yang numpang lewat
atau bahkan setumpuk lemak yang menghabiskan 
jatah oksigen generasi mendatang 
Seandainya kremasi itu diizinkan dalam agama saya
saya memilih kremasi dibandingkan dibungkus dalam kain 
dan dikubur dalam ruangan sempit bersama cacing tanah

Tempat Yang Salah 
Saya mencoba berbagai hal untuk menjaga isi kepala saya tetap normal. Normal....sejak awal saya tidak bisa menjadi orang normal, orang pada umumnya. Penyimpangan, saya adalah bentuk penyimpangan. Sejak saya kecil, orang tua saya sering kali bilang saya berbeda, entah dalam hal positif atau negatif. Lagipula peduli setan pada conformity, dunia dan kemajuannya tidak dibuat oleh orang-orang yang berada pada lingkup conformity, pencilan atau outlier adalah alasan dunia ini bisa pada tahap sekarang ini. Untuk apa menjalani hidup yang sama dengan orang lain?  Nah, saya sudah mencoba berbagai hal untuk menjalani hidup yang berbeda. Mungkin saya salah memulai banyak perjalanan sejak saya berusia tujuh belas tahun? Toh, sekarang traveling tidak lagi megobati kebosanan saya. Saat teman-teman saya baru mulai sibuk pamer foto-foto traveling kesana kemari, masa-masa saya ingin melakukan hal itu sudah berlalu. Lagipula saya lelah pergi ke suatu tempat dan dibatasi waktu untuk kembali lagi ke kota sialan ini: Jakarta. Jakarta, saya sudah berusaha setengah mati jatuh cinta pada kota ini, tapi tidak secuil pun saya menemukan alasan untuk suka pada Ibu Kota. Bagi saya, kota kelahiran tidak cukup bagi saya menjadi alasan saya suka pada kota ini.  

Lalu saya kembali mengingat sebuah paragraf dari sebuah buku tebal berjudul 'The Geography of Bliss' karya Eric Weiner. Paragaf itu membahas tentang cultural fit, bagaimana hubungan budaya dan kebahagiaan terbentuk. Mudahnya, seseorang yang cocok dengan budaya dimana bumi dipijak akan jauh lebih berbahagia dibandingkan yang mengalami Cultural Misfit, seperti misalnya Albert Einstein, seorang Jerman Yahudi yang dinobatkan sebagai orang terpintar di dunia,namun ironisnya adalah sebuah penyimpangan di negara kelahirannya. 
 
It is these people—those who are partially
though not completely alienated from their own culture—
who produce great art and science
(Weiner, 2008)
 
the Japanese have a well-known expression: "The nail that sticks out gets hammered down.” 
In America, the nail that sticks out gets a promotion or a shot at American Idol.
(Weiner, 2008)

Saya yakin, saya berada di kota yang salah, kota yang menjunjung budaya dan nilai yang berbeda dengan yang saya anut. Saya merasa saya menjadi sebuah penyimpangan. Saya kebingungan saat menyatakan pendapat secara logis dan berlandaskan fakta pada orang lebih tua dianggap melawan yang lebih tua. Saya kebingungan saat saya sendiri yang menganggap menghambur-hamburkan uang untuk pesta pernikahan adalah hal terkonyol yang bisa dilakukan seseorang dalam hidupnya. Atau saya kebingungan saat saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan yang lain saya dianggap ambisius dan mau menang sendiri. Saya dilabeli egoistis, agresif, skeptis dan tentunya....aneh. Sudah terlalu banyak momen dimana saya mengeluhkan betapa tidak manusiawinya kota ini. Lalu, Amerika terdengar seperti sebuah harapan baru bagi saya. Entahlah, Amerika, Eropa, Papua, Afrika atau dimanapun, saya harus segera keluar dari kota sialan ini, saya bisa gila terus menerus dibombardir hal-hal palsu disini. Bagi saya palsu, karena saya pada aslinya tidak cocok di kota ini. Saya mengalami cultural misfit dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun

'Saya rasa kamu akan cocok disana. Saya tunggu kamu disana ya." 
Sebuah suara menyemangati saya untuk pergi dari Jakarta, 
ke sebuah kota di seberang benua sana.  

Waktu sudah menunjukan pukul dua pagi, saya kenyang karena baru saja makan malam (atau pagi?), dan saya mulai mengantuk. Saya akan melanjutkan menulis lagi besok (-besok). Tuhan belum selesai bergurau dengan saya, saya pun akan menuliskan gurauannya di blog ini. Terlalu lucu menyimpan ironi hidup ini sendirian.  

Selamat Pagi, Dunia.
Bangunkan saya dengan cuaca cerah besok, atau saya akan lebih memilih kembali tertidur karena tidak tau mau melakukan apa hari ini.

Senin, 04 April 2016

Seandainya.

Lagi - lagi saya memikirkan suatu hal yang tidak perlu. Saya menguntaikan benang yang kusut satu persatu. Seperti salah satunya berdamai dengan suatu sudut di kepala saya. Sudut yang menyimpan segala pembicaraan kita dan pertemuan-pertemuan kita. Tapi sayang, ini bukan melulu tentang cinta. Ini tentang obsesi saya atas pertanyaan yang tidak terjawab. Lagi-lagi saya bertanya, "Kenapa?". Seperti biasa, kamu hanya akan tersenyum simpul dan tidak menjawab.

Sebagaimana sebuah cerita yang baru di mulai, semua hal terjadi dengan terpisah-pisah. Kadang diselingi dengan berbagai hal tidak penting lainnya untuk mengulur waktu. Mengulur waktu hingga saya sebagai salah seorang manusia fana mampu menerima makna segalanya.

Hubungan kita seperti sebuah film lama yang berputar-putar di kepala saya. Hubungan satu bagian ke bagian lainnya mulai pudar, tetapi saya berusaha keras untuk menghubungkan segalanya. Saya terjebak dalam permainan kamu. Bodohnya lagi, saya dengan sengaja terjebak di dalamnya. Mau bagaimana lagi, saya sungguh mengharapkan kamu menjawab segala pertanyaan saya.

---
Beginilah Ceritanya...
Saya sangat kecewa. Pada hari itu kamu datang terlambat, seperti biasanya. Namun bukan karena itu saya kecewa. Hari itu harapan saya runtuh saat kamu tidak bersama saya. Kamu memilih tidak bersama saya. Hilang sudah segala skenario dalam kepala saya tentang hal-hal yang akan kita bicarakan bersama. Kamu pun pergi.

Kemudian, takdir berkata lain. Kita terpaksa bertemu lagi. Di suatu malam kamu menghubungi saya. Hari itu saya gugup dan kamu hanya tertawa. Saya kembali punya alasan untuk bersama kamu. Kamu bilang kali ini, saya tidak boleh lupa untuk menghubungi kamu. Tidak ada orang yang tahu ini selain kita. Ya, hanya kita. Bahkan kamu seperti setengah berbisik! Saya pun kesenangan.

Saya menghubungi kamu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada jawaban.
 Seperti biasa, kamu memang tidak akan menjawab saya.
Seperti anak kecil yang merengek karena tidak mengetahui apapun, saya pun kesal.
Saya mau keluar dari permainan ini. Saya bosan. Kamu tidak pernah sedikitpun mengalah. 
Saya berhenti memikirkan kamu.

Namun, takdir lagi-lagi berkata lain.
Kita kembali bertemu. Kali ini takdir memaksa kita bersama. 
Saya senang menatap kamu lama-lama. Seolah hanya dengan menatap, kamu akan berpaling pada saya dan memberikan jawabannya. Kamu tidak menjawab, kamu hanya sesekali balas menatap dengan mata tajam itu. Kadang kamu tersenyum dan itu pun cukup. Setidaknya untuk sesaat, karena kita berdua tahu, kita tidak mudah dibuat puas.

Kita pun kembali bicara.
Segala waktu yang hilang seperti menyusut dalam pembicaraan singkat kita.
Seperti biasa, kamu menyapa saya dengan senyum itu, seolah kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun.

Hingga akhirnya, segala tatapan, senyuman dan kata-kata kamu tidak sanggup lagi menahan saya.
Saya ingin mengakhiri ini, ini bisa saja dimulai sebagai permainan kamu.
Tetapi saya lelah, dan saya tidak lagi ingin bermain.
Permainan ini akan berakhir dan kita berdua akan kalah.

Saya akan meninggalkan pertanyaan bagi kamu. Memastikan kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.
Sebagaimana pertanyaan kamu yang menghantui saya hingga kini.

Tetapi sekarang pun saya lelah, menahan jawabannya.
Bagaimanapun kamu hanya imajinasi saya. Seperti hantu yang menunggui sudut kecil kepala saya.
Saya sudah memberikan jawaban satu persatu, sedikit demi sedikit. Kamu pun tidak lagi bertanya.
Tanpa diduga, saya mendapatkan segala jawaban tentang kamu. Seperti membaca sebuah buku sampai usai, saya sudah tau bagaimana ini akan berakhir. 
Permainan ini sungguh akan berakhir.

Kamu marah.
Saya pun tidak bisa berkata apa-apa. 
Kita berdua berandai-andai.
Seandainya kita berdua memilih jalan lain dulu.
Seandainya takdir tidak mempermainkan kita seperti ini.
Seandainya....
Seandainya....
Seandainya kejujuran ada disana pertama kali.

Kita berdua sudah tau ini akan berakhir demikian, hanya saja kita tidak pernah tau kita berdua akan sama-sama kalah. Sungguh berbahaya membangun asumsi dari ilusi-ilusi di dalam kepala. Kita akan lupa mana kenyataan dan ilusi.

---
Pada waktunya kita akan kembali lagi bertemu. Saat itu datang tidak ada lagi pertanyaan, jawaban, dan permainan. Saat itu hanya akan ada secangkir kopi hangat dan obrolan ringan tentang takdir.


Rabu, 30 Maret 2016

Memilih.



Selamat Malam, Dunia.
Malam ini saya ingin menuliskan hal-hal dalam kepala saya, entah kenapa begitu banyak suara dan saya tidak tau harus mulai dari mana. Saya punya banyak utang menulis yang tertumpuk dari tahun kemarin. Saya ingin menulis tentang sosok petani kopi di jawa timur, tentang menjadi pengusaha, tentang perjalanan saya yang akan datang dan juga tulisan tentang cinta. Entah saya harus memulai dari mana.
---
Tiga bulan terakhir waktu berjalan dengan cepat. Kata sebagian besar orang, ketika waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari, itu merupakan pertanda kita sedang menikmati hidup kita. Katanya “Kalau semua cepet berarti lo enjoy.” Itu kata sebagian besar orang belakangan ini ketika saya mengeluh tentang betapa cepatnya waktu berlalu. Ini sudah bulan Maret, seperempat tahun hampir berlalu.
Sudah genap dua bulan sejak saya membuka kedai kopi di perbatasan Jakarta dan Depok. Sudah dua bulan saya menjalani hari-hari di kedai kopi saya. Selama dua bulan kedai saya buka, beberapa teman saya datang dan menanyakan bagaimana kelanjutan hidup saya setelah memutuskan berhenti dari perusahaan besar dan ‘pindah’ haluan ke kedai kopi kecil di daerah industri pinggiran Jakarta. Ibarat sebuah film yang belum selesai, mungkin teman-teman saya penasaran dengan ‘akhir’ film saya. Satu hal yang pasti, selama empat bulan terakhir saya tidak pernah lagi menunggu jam-jam berakhir. Saya tidak bisa mengatakan ini adalah akhir yang bahagia. Terlalu dini bagi saya untuk mengatakan demikian. Bagi saya sendiri konsep bahagia itu sendiri lama-lama menjadi kabur, kenapa orang terobsesi dengan kata “bahagia”, seperti bahagia itu adalah sebuah titik capai. Seperti semua orang berlomba-lomba menjadi bahagia. Sedangkan bagi saya, bahagia adalah sesuatu yang personal dan saya tidak perlu orang lain untuk menyatakan bahwa saya orang yang berbahagia. Lagi pula, omong-omong soal akhir yang bahagia, pada akhirnya semua orang mati bukan? Seperti kata seorang ekonom terkenal,   

“In the long run, we are all dead.” – Adam Smith
Kembali pada menikmati hidup. Menikmati hidup erat dengan kebahagian. Saya bisa berasumsi bahwa orang yang menikmati hidupnya adalah orang yang berbahagia. Apakah saya menikmati hidup saya sekarang? Bicara tentang menikmati hidup, saya berpikir tentang bagaimana uang bisa sangat membantu saya menikmati hidup. Dengan uang yang lebih banyak saya bisa makan di restaurant mahal dan saya bisa melakukan hal yang paling saya nikmati dalam hidup: Scuba Diving! Dengan uang, saya bisa membeli tiket pesawat ke beberapa tempat yang sudah sejak lama saya ingin kunjungi, seperti Flores atau bahkan Nepal.
Salah satu kru saya di kedai bertanya, “Ka, kalau misalnya lo dikasih kesempatan pergi ke tempat manapun yang lo mau. Lo mau kemana?”
“Gw mau ke Nepal, ke Pokhara. Gw mau nginep disana, terus kanoan di danaunya sambil liat puncak gunung Himalaya.” Jawab saya saat itu tanpa ragu.

Dengan pendapatan saya dulu, bukan perkara sulit untuk membeli tiket ke Nepal dan berlibur disana setidaknya seminggu. Kenyataannya, selama empat bulan terakhir pendapatan saya menurun drastis, saya tidak lagi digaji, kini saya harus berpikir untuk memutar roda usaha saya sendiri. Tidak ada bos yang bisa disalahkan kalau usaha gagal dan saya tidak bisa membayar sewa mendatang. Tidak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri. Usaha saya baru saja merangkak, untuk berdiri saja belum bisa, usianya baru menginjak dua bulan. Rasa-rasanya tidak bijak menghamburkan-hamburkan tabungan dan pendapatan saya yang belum ada apa-apanya ini untuk ‘menikmati hidup’ sebagaimana dulu. 

Lalu, apakah saya masih bisa dibilang menikmati hidup?

Saya pernah menonton sebuah video di Youtube tentang seorang nenek yang mendapatkan skor sempurna saat diukur tingkat kebahagiannya dibandingkan partisipan yang lain. Saat ditanya apa yang membuatnya bahagia setiap hari, nenek itu hanya tertawa lebar dan berkata “Setiap pagi, ketika bangun tidur lalu menyikat gigi, saya bersyukur saya masih punya air dan pasta gigi yang penuh.”.
Jelas, saya tidak pernah berpikir hingga ke pasta gigi di pagi hari, hal yang saya syukuri setiap hari adalah saya bisa memilih. Memilih makanan pagi saya, walaupun pilihannya antara mie instan goreng atau rebus sekalipun, saya masih punya pilihan. Memilih pemandangan apa yang mau saya lihat saat berangkat ke kedai. Memilih pakaian yang mau saya pakai. Memilih kopi yang ingin saya minum. Memilih jam istirahat. Memilih buku yang mau saya baca. Banyak pilihan yang saya buat setiap hari. Seperti, memilih untuk menulis tulisan kurang penting ini hingga pagi dan tidak peduli besok saya bangun siang. Tidak bisa dipungkiri, saya bisa memilih karena uang. Walaupun dibandingkan dulu, pilihan saya jadi jauh lebih menyempit. 
Namun disisi lain, saya bisa memilih bagaimana saya menghabiskan waktu saya jauh lebih banyak dibandingkan dulu. Uang dan waktu, entah bagaimana tidak pernah bisa akur dalam hidup saya. Dulu saat saya punya uang lebih banyak, rasanya waktu saya habis percuma, habis menunggu jam pulang kantor, habis tertidur di dalam bus kota, habis menunggu timeline social media saya berubah. Sekarang, saya bisa membaca dua buku dalam satu minggu, bertemu dan berdiskusi dengan orang baru hampir setiap hari, membaca kembali jurnal-jurnal penelitian, melatih anak-anak muda yang belajar kopi di kedai saya, dan kembali menulis. Menikmati? Bagaimana saya tidak bisa menikmati hidup saya sekarang? Setiap hari saya belajar hal baru, setiap kali tidur saya puas dengan apa yang saya lakukan dengan waktu saya. Pertanyaannya adalah, sampai kapan? Sampai kapan saya bisa menikmati hal ini? Hidup akan terus berubah. Terkadang saya lelah berasumsi dan memikirkan kata ‘selanjutnya’. 
Saya mungkin bukan orang yang mementingkan segalanya harus mewah, seperti harus punya mobil baru,  dan rumah minimalis di suatu cluster –dengan harga yang kurang masuk akal. Saya hanya mengejar kebebasan waktu. Kebebasan untuk berada disuatu tempat untuk melakukan sesuatu karena saya mau, bukan karena suatu keharusan. Mungkin dulu saya terlalu mendalami buku Robert T Kiyosaki tentang Kebebasan. Kebebasan memilih. Sepertinya makna “kebebasan” meracuni pikiran saya sejak kecil. 
Saya pun tidak naïf untuk mengakui perlu uang untuk terus hidup. Kalau kata orang, harus punya uang untuk mempertahankan gaya hidup. Gaya hidup saya yang sedikit banyak melenceng dari sebagian besar orang. Saya memang tidak suka belanja baju, sepatu, kosmetik yang pada umumnya disukai wanita, atau bahkan makan secara rutin di restoran mahal di daerah prestis lalu mengunggahnya di social media. Mungkin orang melihat saya pelit dan tidak mau bergaul karena sering kali saya menolak diajak kumpul di restoran-restoran mahal. Saya hanya punya prioritas lain dan itu bukan pertemanan yang dibeli dengan makanan mahal. Bagi saya, menghabiskan setengah juta rupiah untuk menikmati 35 menit di dalam laut, jauh lebih berharga dibandingkan makan direstoran mahal berjam-jam dengan orang-orang yang sibuk dengan ponselnya sendiri. Lain ceritanya jika bicara soal kopi, seratus ribu untuk secangkir kopi berkulitas bagus lebih baik dibandingkan seratus ribu menu makan utama di restoran mahal yang saya tidak paham rasanya. Sebagian besar gaji saya dulu, saya habiskan untuk sepeda, tiket pesawat, scuba diving, peralatan kopi, dan buku-buku. Orang bilang,  

 “Hobi mah ga ada harganya.”

Hobi saya mungkin terlalu banyak, dan simply, saya terlalu aneh untuk ukuran orang Indonesia yang cenderung risk averse. Dalam hidup saya, saya mau membuat pilihan dengan mudah. Salah satunya tentang pengalaman.  I always, always, always choose experience rather than material. Pengalaman yang membuat hidup saya berharga dan membentuk saya hingga menjadi diri saya sekarang, dan sejauh ini, saya tidak pernah menyesal selalu memilih pengalaman. Jika karena uang, saya tidak akan ada di balik bar dan membuatkan kopi bagi orang lain. Jika karena uang, saya tidak akan memilih membuka kedai kopi kecil di daerah antah berantah di pinggiran Jakarta.      
Apakah saya sudah mendapatkan apa yang saya mau dengan membangun kedai kopi?
Perjalanan saya masih jauh, tetapi perlahan-lahan jalan itu mulai jelas. Hal-hal kecil yang membuat saya yakin tentang jalan yang saya pilih (huh, lagi-lagi soal pilihan). Hal-hal yang dulu hanya ada di kepala saya, kini mulai benar-benar menjadi kenyataan. Entahlah, pada akhirnya…

Jalan yang saya pilih ini,

Mulai semakin sulit.

Walaupun demikian, 
Saya ingat, 

Sesuatu yang benar,
tidak pernah didapat dengan mudah.

Dan Setelah kesulitan,
pasti ada kemudahan.
Ya kan?

A little touched by god:
Tulisan ini, dibuat tidak teratur, sampai-sampai saya tidak mengerti apa yang saya tulis. Seperti suara-suara di kepala saya yang sibuk meneriakan berbagai hal. Berbagai hal lampau, sekarang, dan kerisauan saya tentang masa depan. Ingatan-ingatan acak yang bermunculan di kepala saya. Ingatan tentang seseorang yang saya tunggu dan saya tau tak akan pernah datang, atau seseorang lainnya yang saya harap tidak pernah muncul kembali dalam hidup saya (mengingatnya saja sudah buat saya menyesal!). Saya benci ketidakteraturan seperti ini. Semua hal-hal tidak penting ini harus segera berhenti. Berhenti, Ya Tuhan.

Selasa, 15 Desember 2015

Milestones

"There will be up and down, but mostly... it's just a so-so year." - MS. 

Tahun 2015 sudah hampir berakhir, dua belas bulan hampir berlalu.
Bagi saya, tahun ini adalah tahun roller-coaster. Jika mantan atasan saya dulu pernah mengucapkan kata-kata diatas, jelas sekali tahun ini bukan tahun yang "so-so" saja. Saya banyak kehilangan, tetapi disaat yang sama saya juga menemukan hal-hal yang baru.  

Desember 2014
Di bulan yang sama tahun lalu, saya ingat jelas saya sedang menerawang keluar ruangan dari lantai 3 sebuah gedung kantoran di Jakarta. Saya melihat hiruk-pikuk jalanan ibu kota dan kemacetan yang melanda sebuah jembatan layang. Akhirnya setelah empat bulan mencari pekerjaan, saya mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan. "Inginkan" dengan berbagai alasan dan perencaan dalam kepala saya. Pada bulan ini saya berpikir bahwa "this is the end of my glory life. Welcome to Corporate Slave's life."


Januari 2015
Ini adalah bulan pertama saya merasakan bekerja dalam sebuah tim dan 'benar-benar' memiliki atasan. Segala hal yang dulu saya bayangkan tentang dunia kantoran akhirnya akan saya alami. Pada bulan-bulan ini saya memikirkan tentang karir ke depan saya, saya sering membandingkan apa yang saya miliki dan teman-teman sekelas saya waktu masih kuliah. Saya merasa sangat beruntung karena masuk ke dalam lingkungan kerja yang menurut saya sangat nyaman. Power distance yang cukup rendah antara saya dan bos saya, terutama manajer diatas saya yang lebih memperlakukan  saya sebagai seorang partner. Saya suka pekerjaan dan kantor saya, walaupun terkadang saya juga mendengar orang-orang mengeluhkan pekerjaan mereka yang "Ya, gini-gini aja lah".

Maret 2015 
Di bulan ini saya mendapat kesempatan untuk mempresentasikan topik tentang "happiness" kepada teman-teman sekantor saya. Bagi saya beberapa bulan ini, saya mencari cari buku tentang "kebahagian", mungkin di bulan ketiga saya bekerja saya mulai mempertanyakan kebahagiaan saya sendiri. Selama tiga bulan terakhir, setiap harinya saya menghabiskan waktu 4 jam diperjalanan pulang dan pergi ke kantor. Saya tidak benci pekerjaan saya, tapi saya benci "ke" kantor. Jika "waktu" adalah komoditas termahal yang tidak bisa dibeli dengan uang, maka saya sudah menyianyiakan 'waktu' begitu banyak di bis dalam kota. Inilah yang akhirnya membuat saya jadi rajin mengurus social media saya di "instagram", untuk setidaknya membuat saya berpikir selama diperjalanan untuk mengunggah konten ke dunia maya dan melihat perubahan hidup saya dari postingan yang saya unggah.

April 2015 
Bali. Still, Heaven on Earth.
Bulan ini saya melakukan sebuah kesalahan besar dan disaat yang sama juga mengalami pengalaman diving paling menyenangkan yang pernah saya alami. Bad News first, Sebelum saya ke Bali, hubungan saya dengan pasangan saya sedang pada titik yang buruk. Saya memutuskan untuk tetap berteman setelah kami putus, ini adalah keputusan yang saya sesali tiga bulan kemudian. Seharusnya saya mendengarkan kata-kata teman saya ketika kami pergi ke Bali bulan ini, seharusnya saya meninggalkan semua, memutuskan hubungan dengan orang itu sedini mungkin, selagi saya bisa. Karena jelas, orang itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang harus saya pelajari dan ingat sekarang.


Bali, never disappoint me.  Saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya dalam dunia scuba diving, karena setelah dipikir banyak spot di Indonesia yang cukup dalam dan membutuhkan advanced license untuk bisa menyelam disitu. Lagipula saya perlu ketenangan dari dunia bawah laut.
Ini pertama kalinya saya menyelam pada malam hari dan juga melakukan dive di kapal karam. Breath taking view adalah saat instruktur saya meminta saya untuk duduk di pasir di kedalaman 12 meter, menutup cahaya senter ke dada, dan dia melambaikan tangannya di dalam laut. Awalnya semua hanya ada kegelapan, saya bahkan tidak bisa melihat wajah instruktur saya, namun perlahan muncul cahaya-cahaya kerlip kecil dari plankton. Hanya ada suara-suara gelembung udara dari masker oksigen dan keheningan. Saya hampir lupa untuk bernafas dan lupa bahwa saya sedang berada di bawah laut. Karena saya seperti melihat ribuan bintang disekeliling saya. *oke mungkin ini sedikit berlebihan* Saya cinta laut, dan laut tidak pernah berhenti mengejutkan saya. Walaupun saat saya diving kondisi saya sedang tidak fit, karena tekanan darah rendah, saya selalu merasa nyaman di dalam air. There's something hypnotizing about the underwater world.

Namun bulan ini adalah bulan dimana semua hal mulai menjadi buruk, karena saya mulai membenci pekerjaan saya dan itu memperburuk semuanya. Selama tiga bulan saya bertahan dalam sebuah departemen yang saya tau "tidak membutuhkan" saya. Saya mencoba untuk pelajari apapun yang bisa saya pelajari, but everyone's has their own business, there's a limit when you can intervere their job or not. But, at least I learn something, I know I'm incapable of lying or faking. My face will clearly stated that I dislike something, and I don't bother to cover it up. 

Mei 2015
Saya kembali ke pulau itu, Pulau Peucang, kali ini bersama banyak orang. Pecinta alam yang dulu saya rintis bersama teman-teman seangkatan saya kini sudah memiliki jauh lebih banyak anggota. Dulu sekali waktu tahun 2011 saya ke Peucang, saya hanya mendapatkan 5 orang dari pecinta alam saya dan 3 orang dari luar kampus, namun kali ini saya pergi bersama 23 orang lainnya yang semuanya adalah anggota Pecinta Alam saya dulu. Di perjalanan ini saya mungkin adalah orang yang menyebalkan karena sering men'ceramah'i junior-junior saya itu. Namun saya sangat senang melihat bagaimana organisasi yang dulu saya rintis dan hampir ditinggalkan kini tumbuh menjadi jauh lebih ramai orang.  Di Peucang, saya pun masih sama jatuh cintanya pada tempat itu, harmonis.

Juni 2015 
Rumah Baru.
Akhirnya saya dan keluarga pindah ke rumah baru. Rumah baru yang memiliki halaman rumput yang cukup luas. Dulu sebelum saya masuk kerja kantoran, saya mencoba untuk melakukan urban farming namun gagal karena semua tunas yang saya tanam dimakan tikus. Kali ini saya sangat senang karena saya pikir saya bisa kembali mencoba bercocok tanam. Namun...kondisi saya masih tidak membaik. life's like standing still, I can't cope with boredom. Alih-alih mulai kembali bercocok tanam, saya menyibukan diri saya dengan membeli buku-buku dan mencoba membacanya. Walaupun pada akhirnya saya tidak benar-benar paham yang saya baca, saya hanya butuh distraksi atas segala masalah yang saya punya belakangan ini.  Saya juga sempat pergi dua hari satu malam ke pulau seribu bersama dua orang sahabat saya. Saya masih ingat sepulangnya saya dari Pulau itu, saya berteriak dan marah-marah pada awak kapal karena kapal tidak jalan sesuai waktunya. Saya sempat melihat wajah sahabat saya yang mungkin shocked karena melihat saya yang tiba-tiba berteriak pada orang-orang itu. Entah kenapa, saya seperti tidak bisa lagi menahan marah saya, amarah yang sepertinya terkumpul dari lama dan jelas bukan karena awak kapal penyebabnya.  Traveling doesn't do the magic anymore,  I have problem, I can't keep running away. 

Juli 2015. 
Dia pergi. 
Saya masih ingat sekitar tiga hari sebelum hari raya idul fitri, akhirnya Dia memutuskan untuk pergi. Kali ini saya menolak untuk tetap berteman. "Hanya keledai, yang jatuh di lubang yang sama dua kali.", sudah seharusnya dari bulan April dia pergi dari hidup saya. Itu adalah pikiran saya saat bulan ini.

Lalu, kembali pada dunia kerja, saya pindah ke departemen yang baru, dengan lingkungan yang menurut saya lebih cocok dibandingkan yang sebelumnya, mungkin karena nature dari pekerjaannya juga berbeda. Saya harus menyesuaikan banyak hal pada bulan ini. Tidak ada lagi orang yang secara rutin menghubungi saya, dan saya harus beradaptasi dengan departemen yang baru. Pada akhir bulan ini, akhirnya saya memutuskan untuk menyewa kamar dekat kantor. "I'm not happy. The thought that I'm wasting my 4 hour time every single day, make it worse." Jelas saya pada salah seorang sahabat saya tentang keputusan saya menyewa kamar dekat kantor. Ini adalah upaya saya mengurangi depresi yang saya hadapi. Saya butuh waktu sendiri dan tidak diganggu dengan pandangan ini-itu oleh keluarga saya. Saya butuh ruang. 

Halo, Ambon! 
Di bulan ini juga dengan sangat implusif saya membeli tiket ke ambon. Karena merasa sangat kesepian di hari libur panjang tahun ini.  Keluarga saya batal pergi liburan bersama dan masing-masing punya agenda sendiri.  Dengan nekat saya membeli tiket pesawat ke ambon dan menghubungi teman lama yang sudah setahun tidak pernah saya temui. Di Ambon, lucunya saya bertemu dengan orang-orang yang ternyata juga sedang bermasalah dengan hubungan mereka. Ada yang baru putus, ada yang sedang menuju putus, dan ada yang diputusin saat saya sedang jalan-jalan bersama mereka.  Entah, sepertinya Tuhan sedang ingin membuat saya menertawai diri saya sendiri. Saya bahagia bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan di Maluku.
Yang jelas, di Ambon saya bertemu salah satu orang yang menurut saya sangat inspirasional. Seorang laki-laki yang berniat meningkatkan sektor pariwisata di Ambon. Idealis, adalah satu kata yang bisa menggambarkan orang ini. Dia pernah berkeliling Jawa dengan sepedanya dan mendaki setiap gunung yang dia lewati. Orang yang sulit dimengerti, Dia bercerita pada saya, banyak orang yang menanyakan pada dia, "Apa sih yang kamu cari dari perjalanan kamu?", saya hanya terdiam dan memperhatikan baik-baik mimik wajahnya ketika dia bercerita sedikit tentang hidupnya, karena saya sama penasaran dengan orang-orang itu, seakan-akan jika dia menjawab maka pertanyaan hidup saya juga terjawab. "Nggak ada, aku nggak cari apa-apa. Ya, aku cuma 'jalan'. Tapi kalau kepala nih udah pusing, aku selalu balik kesini." ujar laki-laki itu pada saya di Desa Saleman, Pulau Seram. "Paling nggak kamu punya rumah. Kamu punya tempat pulang." kata saya malam itu. Saya iri.
Life is giving him a hard lesson, just like me, otherwise we wouldn't be a man like we are today. Saya buat janji untuk kembali kesana dan menyelam, saya harap pada waktu itu kita bisa bicara lebih banyak tentang hidup, dan tentang pencarian saya tentang rumah.

Agustus 2015 
It's Time. 
Setelah pulang dari Ambon dan kembali bekerja. Saya masih terus menerus mempertanyakan tentang hidup saya. Banyak orang yang bilang untuk, "Stop Questioning life, just let it go." Jalani hidup apa adanya, seperti 'orang-orang', lulus kuliah, bekerja, menikah dan berusaha sebaik-baiknya untuk mendapatkan pensiun yang baik. Apakah ini yang dimaksud dengan "jadi orang"? Inilah saat saya sadar, saya berada pada tahap 'A quarter life crisis'. Saya mungkin bisa dibilang orang yang kurang bersyukur, karena saya tidak puas dengan apa yang saya punya saat itu. Pagi ini saya baru saja membaca sebuah artikel berjudul "You're Only 23. Stop Rushing Your Life". Dengan segala kemajuan teknologi dan informasi, setiap hari saya seperti mendengar kisah-kisah orang yang mencapai suksesnya di usia muda. Seperti dalam artikel itu dikatakan, "It feels like I'm falling behind." . Saya mempertanyakan apa yang bisa saya lakukan diusia saya yang akan segera menginjak 23 tahun. Lalu saya memikirkan kemungkinan untuk bekerja di start-up, sebagaimana bayangan saya sebelum saya masuk ke dunia kerja. Di start-up akan lebih banyak orang-orang berusia muda, orang-orang bergerak lebih dinamis dan kesempatan untuk tumbuh jauh lebih besar. Lagipula, saya sudah mendapatkan apa yang saya ''inginkan'' selama 9 bulan terakhir ini.  Ini adalah waktunya untuk mengurus "resign". Saya akan memulai segalanya dari nol kembali. 

Kopi.  
Dihari yang sama saya memutuskan untuk resign, seorang teman lama menghubungi saya dan mengajak saya untuk bertemu. Walupun hari itu saya sudah sangat lelah karena segala masalah di tempat kerja, saya pikir tidak apalah bertemu 1-2 jam lagipula dekat dari kos.an saya. Teman saya bercerita tentang kopi dan kursus kopi yang baru saja ia ikuti. Ia masih ingat, dua tahun yang lalu saya bilang ingin memiliki kedai kopi saya sendiri. Sebuah tempat kecil yang hangat dan nyaman untuk bekerja. Singkat cerita, ia menawarkan sejumlah dana untuk saya belajar tentang kopi. "You should travel to many coffee plantation in Indonesia." Katanya pada waktu itu. Hal inilah yang akhirnya membuat saya terjun di dunia kopi setelah resign. Banyak orang berpikir bahwa saya resign karena seseorang entah dari mana membiayai saya untuk belajar tentang kopi. Padahal saya lebih dulu memutuskan itu sebelum saya bertemu dengan teman saya itu. Sebelum ia pergi, saya bertanya berkali-kali pada teman saya, 'Kenapa saya? kenapa sekarang? Saya tidak tau apa-apa tentang kopi, kenapa bukan barista dikedai kopi yang kamu kenal yang kamu berikan kesempatan ini?' Dia hanya bilang, "Karena saya ingat kamu, dan kamu teman saya."  Setelah diskusi panjang dan beberapa kali penolakan dari saya, beberapa hari sebelum teman saya pergi, saya setuju dengan penawarannya.
Ini adalah salah satu hal ajaib yang terjadi ditahun ini. Menimbulkan kembali pertanyaan bagi saya, "Kenapa ini terjadi?" Segala sesuatu pasti punya alasan, saya yakin teman saya punya alasan yang tidak ia katakan pada saya, entah apa. Yang jelas saya ingat kata-kata dia tentang motto hidupnya, "Hidup itu harus belajar puas, puas dalam segala keadaan. Kamu akan bahagia kalau kamu belajar untuk berpuas diri."

you should know, when enough is enough. 

Semarang 
Tiga hari setelah saya putus, saya membeli tiket pesawat ke Semarang untuk satu bulan setelahnya. Mengunjungi seorang sahabat baik saya. Sesuatu yang tidak bisa saya lakukan saat saya masih bersama orang itu. Tujuan saya ke Semarang hanya untuk mengobrol, walaupun saya memaksa teman saya untuk mencari info tempat wisata dan menyeretnya untuk trekking, pada akhirnya tujuan saya hanya ingin mengobrol. Saya tahu ini akan menjadi jalan-jalan ''fancy" terakhir saya, sebelum akhirnya saya tidak menerima gaji lagi. Kami menertawakan banyak hal, di hari yang sama saya juga mengatakan bahwa saya ingin menangis, karena tidak mudah untuk tidak marah pada laki-laki itu dan juga keluar dari pekerjaan saya sekarang. Tidak mudah menjelaskan itu pada semua orang. Tidak mudah menghadapi judgment dari semua orang. Walaupun saya mencoba untuk tidak peduli dan menjadi orang yang keras kepala, pada akhirnya semua proses kehilangan ini tidak mudah. Teman saya yang satu ini, bagi saya, sudah seperti seorang kakak yang tidak pernah saya miliki. Kami bisa duduk di kafe selama 5 jam lamanya dan terus bicara, walaupun lebih banyak saya yang bicara. Di hari terakhir saya di Semarang dia sering kali hanya diam mendengar saya bercerita tentang sisa-sisa hidup korporat saya atau tentang hidup yang harus terus maju. Saya bilang, "There's nothing worse than life's standing still. kita harus tetap bergerak, ingetkan cerita ikan hiu dan ikan salmon yang lo ceritain?". Sebelum saya kembali ke Jakarta dia bilang, "li, thanks for coming here. you make me think a lot about my life.".  Tanpa saya tahu, satu bulan kemudian saya juga harus 'kehilangan' dia, orang-orang berubah, entah untuk berapa lama.  

September 2015
Ini menjadi bulan terakhir saya bekerja kantoran, sekaligus menjadi bulan yang sangat penting selama saya bekerja. Karena suatu hal, saya dilibatkan dalam suatu acara sebagai dokumentasi. Dalam acara ini saya bertemu dengan beberapa orang yang cukup 'menarik'. Salah satunya adalah seorang wanita yang menjadi manajer sementara saya dalam acara ini. Dia menceritakan kisah hidupnya tentang perjalanan-perjalanan yang pernah ia lakukan, tentang keputusan gila dalam hidupnya (seperti pindah kerja ke sebuah negara dalam waktu 3 hari tanpa seorang pun yang ia kenal.), pada intinya dia mengatakan bahwa "Kebebasan" adalah kebahagian tersendiri bagi hidupnya. Saat saya bilang bahwa ini adalah minggu terakhir saya di perusahaan itu dia cuma bilang, "Oh, that's a tough one. But you're still young! You can go back any time to corporate life. Don't worry too much. Take your opportunity." lalu saya juga ingat hal yang dia katakan sebelumnya tentang posisi dan jabatan, "Somehow a higher rank and position don't necessarily make you happy."  
Good-Bye
Saya tidak pernah membenci perusahaan dulu saya bekerja. Saya menemukan sosok pemimpin yang saya suka disana dan lingkungan kerja yang baik, sulit bagi saya untuk keluar dari sana. It's kind a comfort zone. Seseorang berkali-kali menanyakan keyakinan saya untuk keluar, memberikan saya pesan-pesan sebelum akhirnya saya keluar dari sana. Ia meyakinkan saya bahwa menjalankan bisnis bukan hanya masalah passion, tetapi juga tentang uang, tanpa uang passion tidak akan berjalan. That's a reality that I keep in my mind every single day.  Mengingatkan saya bahwa mungkin jalan yang saya ambil sekarang salah, bahwa saya menolak mendengar the good omens yang ada dan seharusnya saya tetap disana. Di hari terakhir saya, kami berdiskusi cukup lama, membahas hal-hal yang membuat kepala saya pusing disaat yang sama membuat saya merasa ''Kaya". I just listen and I feel rich already. My brain is starving all this day. I feel stupid and overwhelmed at the same time. Why can't I have this discussion 3 months ago? It probably changes everything. Terakhir saya berdiskusi selama dan semenarik ini adalah bersama seorang yang 'seharusnya' menjadi CEO saya sekarang, tepat satu tahun yang lalu di sebuah kedai kopi di Jakarta. Such a rare experience! 

But Well, I hate to say that, "It's time, I'm saying goodbye. Let's meet again somehow." 



Oktober 2015
Back to Square 1
Cukup singkat, bulan ini saya bertekad untuk belajar. Sebagai awal, saya memulai dengan mengikuti sebuah kelas barista di sebuah sekolah kopi di Jakarta. Disana saya pertama kali benar-benar belajar "sulitnya" menjadi barista. Saya mendatangi setiap acara kopi yang digelar di Jakarta. Bagi saya acara kopi adalah wahana gratis bagi saya untuk belajar dan mencari teman baru. Karena ini adalah dunia yang baru bagi saya, dan saya memulai semuanya dari nol. Disini saya juga menyalurkan salah satu hal yang sangat sukai yaitu menulis. Saya sempat bekerja freelance menjadi jurnalis dan mewawancara orang-orang yang berwirausaha. Hal ini memberikan saya harapan karena banyak orang yang memulai usaha di usia yang tidak lagi muda dan mereka masih bersemangat!

Mencari Tempat Usaha
Di bulan ini juga saya memulai usaha dengan mencari tempat usaha. yang ternyata sangat sulit. Harga sewa jauh melampaui harga yang saya perkirakan. Tempat yang saya pikir bisa saya sewa ternyata tidak bisa disewa. Dalam masa transisi ini saya juga mengalami ''jet-lag". Namanya juga Indonesia, kalau dirumah dan ketak-ketik depan laptop dipikir saya hanya 'pengangguran', padahal kepala saya penuh dengan segala "to-do list".

Harapan Baru.  
Sahabat dekat saya kebetulan baru pulang dari US. Dia belum tahu bahwa saya sudah keluar dari pekerjaan saya dan memutuskan untuk menjalani usaha di kopi. Saat bertemu dengan saya dan mendengar cerita saya, dia bilang, "Akhirnyaaa! Gila, seneng gw liat lo gini. Pantesan beda sama yang terakhir ketemu.". Namun bagian terbaiknya adalah dari diskusi kami tentang kopi, lahirlah sebuah ide untuk 'melakukan sesuatu' tentang kopi. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan ke perkebunan kopi di Jawa Timur. Seperti mengulang masa-masa dikuliah dulu, kami 'melakukan' sesuatu, walaupun hanya sekedar berkunjung dan berkenalan dengan petani kopi. Di bulan ini juga saya diberikan kesempatan untuk berbagi cerita tentang kopi di kantor teman saya, walaupun tanpa bayaran, it's such a good thing share!
  

November 2015
Jalan-Jalan Kopi 

Awal bulan ini diawali oleh saya yang pergi bersama teman saya selama 9 hari ke Jawa Timur. Kami sempat singgah sebentar ke Bromo untuk sekedar bersenang-senang, lalu mulai ''bekerja'' ke perkebunan kopi di Dampit dan Sidomulyo. Jika ditanya satu hal yang saya dapat selama perjalanan itu, perjalanan yang menyibukan pikiran masing-masing dari kami, saya belajar bahwa ''Jangan pernah berhenti belajar." itu adalah yang diajarkan petani-petani sukses yang saya temui. Seorang petani di Sidomulyo ditengah-tengah ceritanya tentang kebun kopi selalu bilang, "Saya tuh penasaran mbak, jadi saya cari tau.Ternyata..." Entah ia sadar atau tidak, rasa penasasarn dan sikapnya yang tidak pernah berhenti untuk bertanya "kenapa" menjadikan kebun kopi dan kelompok tani di daerah itu maju. Saya sibuk berpikir, apakah Indonesia akan jauh lebih maju jika setiap anak muda berpikir demikian?

Sore itu, di depan rumah petani kopi, Pak Sunari, saya dan teman saya duduk di teras sambil menunggu matahari terbenam. Kami sibuk membuka bungkus makanan ringan murahan penuh MSG yang kami beli dekat rumah. Melihat kehidupan petani dan segala hal yang saya baca, saya sibuk memikirkan suatu hal, "tek, akan datang suatu masa..." saya memulai opening line sengaja dengan nada dramatis.
"Akan datang suatu masa, dimana jadi petani will be the coolest job ever. Semacam di interstellar gitu." Ujar saya.
"iya. Akan ada masanya, anak-anak muda dari berbagai bidang tiap malem kumpul untuk diskusi soal agrikultur, teknologi terbaru gitu-gitu lah." tambah teman saya.

Entah apa yang akan kami lakukan tentang jalan-jalan kopi ini, kami masih belum berdiskusi lebih lanjut. Kami masih sibuk merapihkan hidup kami di akhir tahun ini. Yang pasti satu, kami sama-sama punya tujuan. Kami sama-sama ingin berguna bagi orang lain, secepat yang kami bisa. Semoga alam semesta bersama kami kali ini. Karena kami tidak lagi berada pada sebuah lomba kuliahan untuk merebutkan sebuah tropi, kali ini kami berlomba dengan waktu untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Maaf yang Belum Waktunya
Bulan ini saya memutuskan untuk menghubungi laki-laki itu kembali, sekedar untuk menarik kata-kata saya tentang memutuskan tali silaturahmi. Karena saya ingat, saya harus belajar 'memaafkan'.  Lagipula, saat ini saya punya banyak hal yang harus saya pikirkan dibandingkan memendam kesal dan benci pada seseorang. I have to face the fear. Namun ternyata tidak semudah itu, orang itu menolak untuk bertemu atau bahkan berbicara via telepon. Dia bilang belum waktunya. Entah apa yang ada dikepalanya, hanya Tuhan yang tau. Yang jelas, kali ini saya benar-benar menguras habis rasa marah itu, saya butuh energi untuk memikirkan hal lainnya. Memaafkan dan meminta maaf bukan perkara mudah, but I do it! and I do it first! Saya percaya memaafkan dan silaturahmi itu membuka pintu rezeki,
 lucunya selang beberapa jam kemudian seseorang lainnya mengirimkan pesan singkat di Facebook...

The Surprise
Om saya yang tinggal di US, sudah sejak lama tidak pulang ke Indonesia, mengirimkan saya pesan di Facebook. Terakhir beberapa bulan yang lalu, dia meminta saya untuk menghitung biaya perjalanan ke Bali dan Jogja untuk tahun depan. namun hari itu dia menanyakan apakah saya bisa ke bandara beberapa hari lagi, karena dia mengirimkan sebuah barang bagi saya.  Singkat cerita, akhirnya saya datang ke Bandara Soekarno-Hatta untuk bertemu seorang teman om saya yang tiba di Indonesia hari itu. Lucunya, saya yang menuliskan nama saya besar-besar di kertas HVS, sedangkan saya tidak tau nama orang yang akan saya temui.  Sekitar 45 menit saya menunggu, seorang wanita separuh baya mendatangi saya sambil tersenyum,

"Nah ini dia orangnya. Jadi boksnya nggak bisa aku bawa karena diambil sama imigrasi Amerika, mereka takut aku jualan. Jadi ini Handphonenya, Charger dan Headsetnya." ujar ibu itu sambil mengeluarkan sebuah handphone dari sebuah amplop putih. 

Saya hanya mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih. Ibu itu pun pergi meninggalkan saya, saya yang masih bingung dengan sebuah Iphone ditangan saya, sebuah Iphone keluaran terbaru yang harganya lebih mahal daripada motor yang saya gunakan sehari-hari. Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya saya menggunakan Iphone,
hmm .... saya mengetikan pesan pada teman saya sore itu,
"Bro, tombol on iphone belah mana sih? kok ga ada stripnya."
"li, Iphonenya buat gw aja lah." Canda teman saya sore itu. 

Sekali lagi, saya tidak tau kenapa om saya memberikan saya Iphone ini pada saya. Seiingat saya, ulang tahun saya sudah beberapa bulan yang lalu. Disaat yang sama, saya sedang terpikir untuk mengganti kamera saya keukuran yang lebih kecil untuk keperluan jurnalistik. Sebuah pekerjaan yang mungkin akan saya tekuni.  Namun kali ini, saya tidak perlu menjual kamera lama saya, karena Tuhan telah menjawab doa saya dengan cara yang aneh : memberikan saya seri Iphone yang terkenal dengan kecanggihannya kameranya.


Desember 2015
It's getting real! 
Akhirnya saya mendapatkan tempat untuk membuka kedai kopi saya. Sebuah tempat yang sangat unik karena terbagi dalam dua area provinsi. dua meter kedai saya masuk ke wilayah Jakarta dan 2 meter sisanya masuk ke wilayah jawa barat. Lucu memang, mengingat saya ingin membuka kedai kopi di kedua wilayah itu. Setelah balada mencari tukang sudah terpecahkan kini saya setiap hari berhubungan dengan material bangunan, disaat yang sama mengerjakan proyeksi keuangan, produk, merekrut karyawan, dan lain sebagainya.

Kedai kopi saya sudah hampir jadi, tapi.... resep yang sudah saya coba masih nol.
Saya cukup pusing, karena sepertinya saya bergerak terlalu lamban.
Mungkin memang benar apa yang dibilang oleh John Richardson dalam bukunya.
"These people, even though they generally do pass the passion test, are usually the least likely to succeed. That’s not to say they cannot on occasion actually do very well, but it will nearly always be too huge a learning curve and the dream will be quickly shattered."
is my learning curve too big?  

Saya percaya kata-kata dibawah ini: 
It's not only passion that keeps a business live, it's ambition. 
Ditengah-tengah kebingungan saya tentang membangun bisnis ini, saya tidak sendirian sepenuhnya. Beberapa teman datang dan membantu saya disana dan disini. Terkadang disini saya merasa jadi orang paling beruntung di dunia. Saya harus membuat ini berhasil bagaimana pun caranya, dan sekalipun saya gagal....saya harus memperbaikinya secepat mungkin.
---
Saya menulis panjang hari ini ditengah-tengah rasa lelah bekerja sendirian.
Saya hampir tidak punya waktu luang, walaupun banyak orang melihat demikian.
Saya sakit dan saya tetap pergi ke toko saya untuk sekedar membeli bahan material dan melihat perkembangan bangunan toko saya. Kedai kopi kecil saya.
lalu kenapa saya menyempatkan diri untuk menulis?
Tahun baru sebentar lagi dan saya tidak ingin melewatkan menulis tentang hidup saya tahun ini.
Agar saya tahu, tahun depan apakah "the up" years  atau 'the down' atau tahun yang "so-so" saja. Menulis juga menjadi tiket bagi saya untuk kembali masa lalu.
Membandingkan diri dan sudut pandang saya berpikir.
Apakah saya menjadi orang yang lebih baik atau buruk?
Yang terakhir, menulis juga mengingatkan saya tentang hal-hal baik yang saya alami di tahun sebelumnya dan harus saya syukuri.

A little touched by God:
Tahun ini jelas adalah "Up" bagi saya, bertemu  dan berdiskusi dengan orang-orang luar biasa, baik itu teman, atasan, atau mantan #eh,  adalah pengalaman berharga bagi saya. Tahun ini adalah tahun penuh kejutan dan hal-hal yang harus saya syukuri. Good people are surrounding me, what can I ask for more?



Minggu, 11 Oktober 2015

Catalyst

Selamat Malam,

Semenjak saya memasuki dunia kerja, saya jarang sekali menulis di blog ini. Entah karena saya tidak punya cerita, atau saya tidak berniat untuk menceritakan cerita dalam hidup saya ke dalam blog ini. Walaupun saya masih punya banyak hutang menulis mengenai beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, pada malam ini saya lebih ingin menulis tentang hidup saya.

September lalu saya genap berusia 23 tahun. Sebagian besar orang mungkin akan bilang saya masih sangat muda, umur saya belum ada seperempat abad. Saya baru lulus kuliah tahun lalu dan meniti karir di salah satu perusahaan multinasional.

Begini ceritanya...
Bulan itu seseorang yang sangat saya percayai memutuskan untuk pergi dari hidup saya, "Somehow, I don't understand how you think about something, it seems coming out of no where, then suddenly you do it. You'll be better off without me." begitu katanya pada hari itu. Pada saat itu, saya kecewa karena ternyata saya harus kehilangan teman seperjalanan saya. Bulan-bulan itu, saya sering kali bertanya-tanya tentang hidup saya, apakah saya akan menjadi seseorang yang sukses? lalu apakah definisi sukses itu sendiri bagi saya? Mungkin dengan segala suara yang berteriak di kepala saya dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab, perasaan merasa diasingkan dari lingkungan, dan perasaan tidak didengarkan, a quarter life crisis finally reaches me.  I don't have time dealing with this loving-and-caring thing, I let you go my friend, Go find your happiness, I will recommend you to start  finding your vision first. 

"Something always happens for a reason."

Hari-hari berikutnya, setelah kejadian itu saya sering kali menghubung-hubungkan segala hal. Segala hal yang semuanya selalu saya mulai dengan kata "Kenapa?". Setiap hari, setiap saya datang ke kantor, saya kembali mengingat tujuan saya bekerja disitu, kenapa itu jalan yang saya pilih tahun lalu padahal tahun lalu saya mendapatkan tawaran yang lebih menarik dari CEO sebuah perusahaan Start-Up di Indonesia. Saya menuliskan tujuan-tujuan itu dalam secarik kertas, mengevaluasi apakah saya sudah pada taraf mendapatkan hal yang saya inginkan, apakah ada lagi hal lain yang ingin saya dapatkan dari bertahan pada pekerjaan itu? Saya tidak ingin bertahan jika alasan saya adalah alasan material. Lalu saya mengerti, mungkin, teman saya itu pergi dari hidup saya karena saya akan membuat sebuah keputusan yang tidak akan pernah saya ambil jika dia ada disamping saya. Seseorang mengirimkan saya pesan singkat pada bulan Maret tahun ini:

 "life's too short to not doing something exciting and meaningful." - NM

Kalimat diatas terngiang-ngiang di kepala saya, saya tidak benci pekerjaan saya, pada kenyataannya, banyak hal yang saya sukai dari pekerjaan saya. Namun saya merasa ada hal yang kurang, seperti quarter life crisis pada kebanyakan orang, ada sebuah ruang kosong yang perlu diisi dan ini sudah waktunya untuk mencari hal yang bisa mengisi ruang kosong itu.  Singkat cerita, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan dan membuat perjalanan saya sendiri. Menulis ulang semuanya dari nol. Saya akan terjun ke sebuah industri yang benar-benar baru bagi saya, dimana segala prestasi yang pernah saya capai tidak akan berlaku.

Seseorang mengatakan hal yang hingga kini saya ingat hampir setiap harinya, "Jalan Tuhan itu tidak pernah mudah dan instan. Jika jalan yang kamu ambil ini benar, it's going to be really really hard.". Dan saat dia mengatakan 'Really Hard' saya tau bahwa ini semua akan berat, sangat berat. Saya sangat sadar posisi saya dalam usaha yang ingin saya jalani, saya punya sejuta alasan bahwa saya akan gagal, tapi saya tidak mau menjalani hidup saya dengan kata-kata "seandainya..."
 Sekarang ini, saat saya sadar posisi saya yang sulit dan lubang kegagalan sepertinya sudah ada di depan mata,  sering kali saya merasa konyol karena mengambil keputusan itu, tapi detik berikutnya saya kembali mengingatkan diri saya sendiri, "If it's not hard, everyone would do it. then if  it's hard, I am already in the correct path, right?" 

Sebulan terakhir saya bekerja, adalah bulan dimana saya mengalami banyak hal yang mungkin menjadi bagian terbaik dari bekerja pada perusahaan itu. Saya banyak berdiskusi dengan orang-orang yang jauh diatas saya dan berpengalaman dalam bidangnya. Banyak orang mempertanyakan keputusan saya, sebuah keputusan yang sepertinya dibuat tergesa-gesa. Beberapa diantaranya menganggap saya masih terlalu muda untuk mengakhiri karir saya secepat ini, dan melihat saya sebagai seseorang yang tidak memiliki komitmen. "Kenapa saya melakukan ini" adalah pertanyaan yang orang-orang lain ajukan kepada saya. The "Why". Sebuah proses diskusi panjang yang membuat saya semakin mengenal diri saya sendiri dan tujuan saya. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya ingin membangun sebuah bisnis sendiri dan saya sudah ingin melakukannya sejak lama. Namun saya tau, itu hanya jawaban cliche yang bisa saya berikan kepada orang-orang yang menuntut penjelasan pada saat itu. Ada hal lain yang ingin saya capai: 
because life's too short, 
Mark Zuckerberg found facebook at twenty
Shi*, I passed that. 
and Einstein found relativity theory at twenty-five. 
I got less than 2 years.   
Are You Laughing now? 
Say, "Yes, I am." 
Cause,
Gandhi said You will laugh at me,
Fight me, then I win. 

 Anyway...
The "Why", My Why Answer is, catalyst.