Langsung ke konten utama

Pos

Berubah

Kami berkerumun didekat tungku api kecil. Memasak air panas sembari memotong botol-botol plastik hingga menjadi dua gelas berukuran besar. Membawa gelas yang sebenarnya terasa terlalu memberati tas punggung yang sudah terisi penuh dengan bahan makanan dan baju-kain tahan dingin. Lalu, kami terduduk disebuah rumah makan yang menyajikan minuman dengan harga dua kali lipat dari uang saku kami dulu. Tidak ada lagi tungku api kecil dan gelas artifisial dari plastik. Berubah.
Ia selalu datang dihari yang sama dan jam yang sama. Memesan satu cangkir gelas kopi yang sama. Duduk dipojok yang sama, sibuk membuka berbagai halaman sosial media. Humor yang tak selalu lucu dan kikuk yang membayangi gerak tubuhnya. Senyum masih sering mengembang diwajahnya. Lalu, Ia banyak menghindar, terdiam dan sendiri sibuk menghisap tembakau murah. Tidak lagi memegang telepon genggamnya, kadang bisa berhari-hari. Akhirnya ia sadar, manusia bisa merasa kesepian ditengah keramaian. Lebih baik benar-benar hidup s…
Pos terbaru

Berubah

Banjir 'Cinta'

Menuju 25 tahun,
Unggahan sosial media mulai penuh dengan berbagai foto-foto pernikahan, kelahiran, dan sejenisnya. Terkadang saya hanya menatap foto-foto itu dengan sebuah perasaan, "Tidakkah ini semua terlalu cepat?". Kemudian saya juga teringat ibu saya yang sudah memiliki dua orang anak di usia nya yang ke - 27 tahun. Sedangkan beberapa hal yang paling banyak menghantui sudut-sudut pikiran saya adalah pekerjaan, perjalanan ke tempat asing, kopi, novel-novel tak terbaca, dan keingingan untuk menulis sebuah buku.

Singkat cerita, berkeluarga. Tema ini memborbardir di segala percakapan Whatsapp dan Timeline Instagram saya. Pernah suatu kali saya membuka "Search" di Instagram, dan 90% foto yang keluar adalah foto pasangan baru menikah, keluarga muda, perlengkapan pernikahan. Sungguh bagaimana dunia diarahkan oleh konformitas. Semudah meniup lilin ulang tahun. Saya tidak terpengaruh dengan bombardir ini, hanya saja saya harus menemukan syarat berkeluarga. Sebuah kelu…

Indifference

Pernahkah kamu merasakan pada sebuah titik hidupbernama indifference?
Sebuah kata yang juga menggambarkan suatu titik apatis atau ketidakpedulian, tetapi bagi saya kata ini juga bisa mewakili perasaan antara bahagia dan tidak bahagia. Namun, tidak segitu buruknya sehingga bisa dikatakan "So-So".

Seorang teman saya pernah menganjurkan saya untuk berhenti membaca buku-buku tentang perjalanan atau psikologi kehidupan. Katanya, terlalu banyak membaca hal-hal seperti itu dapat membuat otak kita "sakit". Namun sepertinya saya adalah seorang ekstrimis sejati. Karena saya tidak puas hanya membaca, tetapi saya orang yang tergila-gila pada pengalaman. Membaca saja tidak cukup, dan saya menjadikan hidup saya sebagai sebuah percobaan tiada henti. Disatu sisi, orang lain akan mengatakan bahwa "Itulah hidup!" perjalanan tanpa hidup. Namun terlalu banyak percobaan ternyata membawa saya pada suatu titik bernama indifference. 

Dulu saya mungkin adalah orang arogan yang gi…

Pencuri

Kehidupan mendadak jadi sangat menarik dua bulan terakhir ini. Tuhan, selalu, dan selalu mendengarkan bisikan-bisikan malam saya. Orang-orang terdekat saya mempertanyakan kepada saya, "Apakah kamu masih shalat?", setelah mendengar saya berbicara tentang dunia dan takdir, kata mereka saya menjadi orang golongan 'liberal'. Entah kata liberal itu menggambarkan positif atau negatif. Saya selalu mengatakan bahwa, "Saya butuh shalat, dan saya melakukannya ketika saya butuh, tetapi kapan sih orang seperti saya dengan iman yang dangkal tidak butuh shalat?" jawab saya. Orang-orang mungkin melakukan hal yang sama, tetapi yang harus dipertanyakan adalah alasan melakukan perbuatan tertentu. Bisa jadi alasan saya melakukan Sholat bukan karena saya percaya bahwa Nabi Muhammad melakukan Isra Miraj, tetapi ya...karena saya butuh. Di suatu titik dalam hidup saya, saya menemukan kebutuhan saya akan shalat dan definisi shalat dalam hidup saya. Saya percaya pada agama saya, le…

Tuhan Yang Sedang Bergurau (2)

Selamat Malam, Dunia
Melanjutkan tulisan saya kemarin. Hari ini pun saya kembali di kejutkan oleh beberapa hal yang ''kebetulan'', entah sebenarnya kebeulan itu ada atau tidak. Saya sendiri tidak menyakini kebetulan, saya lebih menganut kata-kata "Ada alasan dibalik setiap hal yang terjadi.". Baiklah saya akan melanjutkan kembali tulisan saya kemarin.

---
Orang-Orang Yang Berlalu-lalang. 
Begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini. Salah satu sampul majalah terkenal pernah mengangkat populasi manusia yang mencapai tujuh miliar sebagai tema besar yang patut dibahas tahun lalu. Oh, tenang saja, saya tidak akan membahas teori konspirasi, genosida, pertumbuhan penduduk dalam deret geometri, dan sebagainya, saya tidak akan membahas hal-hal terlalu ilmiah itu disini -apalagi sekarang. Saya hanya ingin menambah efek dramatis yang namanya "takdir". Terkadang saya berpikir, dari tujuh miliar manusia di muka bumi ini kenapa saya harus dipertemukan oleh …

Tuhan Yang Sedang Bergurau (1)

Selamat Malam, Dunia.
Bulan April sudah hampir berakhir, waktu berjalan dengan cepat belakangan ini. Saya merasa tidak diberikan ruang untuk sejenak bernapas sedikit pun, seperti diburu-buru oleh sesuatu yang saya tidak lihat. Saya setengah berharap tulisan-tulisan saya dalam blog ini tidak dilihat siapapun lagi, karena saya akan berbicara tentang banyak hal malam ini. Hal-hal yang terlalu aneh untuk diputar di kepala saya sendirian. 
---Waktu Yang Singkat  Jika waktu berjalan seperti ini terus bagi saya, waktu yang berputar cepat, tidak lama lagi saya akan berada dibawah tanah dimakan cacing. Seseorang pernah mengatakan dengan gamblang kepada saya sambil tertawa. "Nih ya, waktu gw hidup itu udah ga lama lagi, paling banyak juga dua puluh tahun lagi. Ya, mau ngapain lagi selain buat yang baik-baik?". Seandainya saya bisa semudah itu menertawakan waktu yang singkat ini. Belakangan saya sering bangun pagi dengan perasaan tidak nyaman karena bermimpi buruk: berlari-lari, terjatu…