Langsung ke konten utama

Pos

Tentang Dia

Tentang Dia.

Dia tampak tak banyak bicara, sesekali melempar lelucon tidak lucu dan tertawa sendiri. Orang aneh pikirku. Kami saling berbalas pesan. Ia mengirimiku potongan-potongan lagu dari band indie yang asing ditelinga. Aku tidak pernah menjadi pendengar musik yang setia. Dari lirik lagu itu, ia menjadi bagian dari kehidupan ku yang belum seberapa lama ini. Dia ada di tempat yang jauh. Awal-awal yang tak peduli mulai tergantikan perasaan senang akan perhatian berlebih saat ia berada lebih dekat. Ia yang lebih sering tidur di rumah ku daripada dirumahnya saat kembali dari kerja di tempat yang jauh. Ia yang mencoba memberikan buket bunga, walaupun aku tak pernah bilang suka bunga, dan kemudian tau bahwa aku lebih suka bunga lili dibandingkan mawar. Ia yang selalu membangunkan ku setiap pagi saat di rumah dan kemudian melanjutkan tidurnya sendiri saat mataku sudah tidak bisa lagi mengantuk. Ia yang sering terdiam mendengarku bercerita panjang lebar tentang filosofis aneh dan keingin…
Pos terbaru

Truth

Selamat malam,
Ditengah kepala saya yang berputar karena gejala flu dan kesedihan yang bercampur aduk, saya memutuskan untuk menyapa dunia maya melalui blog pada malam ini. Kakak saya bilang, saya sedang banyak hal yang dipikirkan, berhentilah berpikir terlalu rumit dan jalani apa adanya. Entahlah, saya juga ingin demikian, namun hal-hal dikepala saya terus bersautan sama lain, berteriak dan bertanya kenapa hal ini begini dan hal itu begitu.

Saya sedang membaca sebuah buku yang sangat membuka perspektif baru saya tentang hidup dan agama. Banyak hal tentang agama yang selama ini saya pertanyakan dan terjawab. Ah, tetapi saya tidak mau membahas hal itu disini, terutama pada malam ini. Terlalu rumit dan sedih untuk dibaca orang yang tak sengaja melintas untuk membaca tulisan ini. Saya hanya ingin bicara tentang kejujuran pada malam ini.

Dalam buku itu, Osho, berkata:
"An individual is bound to be rebel. An individual is nonconformist, he cannot conform. He can say yes only to things …

Tua dan Dangkal

Usia terkadang menjadi hal yang mengerikan bagi sebagian besar orang. Ketika mencapai suatu usia tertentu, menyebut angka usia menjadi suatu hal yang tabu dan sensitif. Kenapa ya? Apakah orang-orang sebegitu takutnya dinilai dari usia? Apakah salah saya selalu menebak-nebak usia seseorang di saat pertama bertemu? Mungkin kepercayaan terbesar umat manusia tentang usia adalah usia menunjukan tingkat kematangan yang seharusnya. Sebuah takhayul. Setidaknya bagi saya.

Dulu sekali, seorang teman pernah melakukan penelitian kecil-kecilan di kampus saya. Mencari seorang sosok anak muda yang kita anggap "Dewasa". Dari hasil penelitian itu, seorang teman saya, yang kala itu berusia 19 tahun dinilai memiliki tingkat kedewasaan jauh dari usia biologisnya. Lalu masih percaya usia mencerminkan kedewasaan? Pada sebagian besar kasus iya, tetapi tidak untuk orang-orang yang senang berpikir. Mereka tidak menyianyiakan waktu sedikitpun untuk belajar dari kehidupan.

Ada alasan kenapa saya men…

In one fine afternoon

"I have nothing left."
"No, You haven't. I'm here, just right here."
"Oh gosh, don't say that. You know I'm not talking about you."
"So, what are you talking about?"
"I think I have to go."
"Why?"
"I want to.."
"Listen, You got everything here...."
"No, I don't."
"Please....isn't it enough? you travel enough?"
"Sometimes, it's tiring.."
"Then you can stop."
"I can't."
"You're running away, aren't you?"
"I think I am."
"What for?"
"Attachment is horrible feeling."
*sighing* "So, when will you be back?"
"I don't know. I really don't know. There is always place after place."
"it isn't about finding destinations and vacation anymore right?"
"You know me better than anyone else."
"Then you know...just send me some news.&qu…

Berubah

Kami berkerumun didekat tungku api kecil. Memasak air panas sembari memotong botol-botol plastik hingga menjadi dua gelas berukuran besar. Membawa gelas yang sebenarnya terasa terlalu memberati tas punggung yang sudah terisi penuh dengan bahan makanan dan baju-kain tahan dingin. Lalu, kami terduduk disebuah rumah makan yang menyajikan minuman dengan harga dua kali lipat dari uang saku kami dulu. Tidak ada lagi tungku api kecil dan gelas artifisial dari plastik. Berubah.
Ia selalu datang dihari yang sama dan jam yang sama. Memesan satu cangkir gelas kopi yang sama. Duduk dipojok yang sama, sibuk membuka berbagai halaman sosial media. Humor yang tak selalu lucu dan kikuk yang membayangi gerak tubuhnya. Senyum masih sering mengembang diwajahnya. Lalu, Ia banyak menghindar, terdiam dan sendiri sibuk menghisap tembakau murah. Tidak lagi memegang telepon genggamnya, kadang bisa berhari-hari. Akhirnya ia sadar, manusia bisa merasa kesepian ditengah keramaian. Lebih baik benar-benar hidup s…

Banjir 'Cinta'

Menuju 25 tahun,
Unggahan sosial media mulai penuh dengan berbagai foto-foto pernikahan, kelahiran, dan sejenisnya. Terkadang saya hanya menatap foto-foto itu dengan sebuah perasaan, "Tidakkah ini semua terlalu cepat?". Kemudian saya juga teringat ibu saya yang sudah memiliki dua orang anak di usia nya yang ke - 27 tahun. Sedangkan beberapa hal yang paling banyak menghantui sudut-sudut pikiran saya adalah pekerjaan, perjalanan ke tempat asing, kopi, novel-novel tak terbaca, dan keingingan untuk menulis sebuah buku.

Singkat cerita, berkeluarga. Tema ini memborbardir di segala percakapan Whatsapp dan Timeline Instagram saya. Pernah suatu kali saya membuka "Search" di Instagram, dan 90% foto yang keluar adalah foto pasangan baru menikah, keluarga muda, perlengkapan pernikahan. Sungguh bagaimana dunia diarahkan oleh konformitas. Semudah meniup lilin ulang tahun. Saya tidak terpengaruh dengan bombardir ini, hanya saja saya harus menemukan syarat berkeluarga. Sebuah kelu…

Indifference

Pernahkah kamu merasakan pada sebuah titik hidupbernama indifference?
Sebuah kata yang juga menggambarkan suatu titik apatis atau ketidakpedulian, tetapi bagi saya kata ini juga bisa mewakili perasaan antara bahagia dan tidak bahagia. Namun, tidak segitu buruknya sehingga bisa dikatakan "So-So".

Seorang teman saya pernah menganjurkan saya untuk berhenti membaca buku-buku tentang perjalanan atau psikologi kehidupan. Katanya, terlalu banyak membaca hal-hal seperti itu dapat membuat otak kita "sakit". Namun sepertinya saya adalah seorang ekstrimis sejati. Karena saya tidak puas hanya membaca, tetapi saya orang yang tergila-gila pada pengalaman. Membaca saja tidak cukup, dan saya menjadikan hidup saya sebagai sebuah percobaan tiada henti. Disatu sisi, orang lain akan mengatakan bahwa "Itulah hidup!" perjalanan tanpa hidup. Namun terlalu banyak percobaan ternyata membawa saya pada suatu titik bernama indifference. 

Dulu saya mungkin adalah orang arogan yang gi…